Kuih Gandus

Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah Pasar Dato’ Keramat, Kuala Lumpur, pada Sabtu, 24 Nopember 2012.

Sebagai ‘weekend driver’, saya dengan setia mengantar mantan pacar tercinta belanja keperluan dapur ke Pasar Dato’ Keramat.  Parkir adalah persoalan abadi disini.  Bagusnya, selalu ada petugas parkir di pasar kecil ini.  Saya arahkan mobil memasuki jalan tengah pasar dan ternyata memang tidak ada tempat parkir tersedia dikiri kanan.  Sebagaimana prosedur biasa dipasar ini, saya berhenti di tengah jalan, menghalangi kendaraan lain, sambil menunggu tersedianya parkir.  Istri saya segera turun untuk memulai gerilyanya.

Kedai Kuih Gandus di Pasar Dato’ Keramat, Kuala Lumpur

Tidak sampai lima menit menunggu, ada pembeli yang selesai urusannya dan sebuah mobil terlihat bergerak mundur disisi kanan, sekitar lima belas meter dari tempat saya berhenti.  Setelah mobil itu berlalu, tukang parkir memberi tanda agar saya mengambil alih tempat yang tersedia.  Saya pun bergerak lurus lalu berbelok kekanan, mengikuti aba-aba si abang tukang parkir.

Ternyata mobil saya berhenti tepat di depan sebuah gerobak jualan yang dijaga sepasang Pak Cik dan Mak Cik.  Dibagian depan atas gerobak itu tertulis “Kuih Gandus. 1 Keping – RM. 0.40”.  Kuih adalah kue dalam bahasa melayu.

Memanggang Kuih Gandus

Tidak punya kegiatan lain, saya menunggu istri didalam mobil sambil memperhatikan kegiatan sepasang penjual kue itu.  Sang suami sibuk memanggang kuih gandus.  Alat pemanggang kuih gandus adalah sebuah nampan besar berdiameter kurang lebih 60cm yang diletakkan diatas sebuah kompor gas.  Kuih gandus dipanggang menggunakan cetakan logam berbentuk cincin dengan diameter kurang lebih 6cm dan tebal 2cm. Sebelum mulai memanggang, Pak Cik menuangkan sedikit minyak goreng ke atas nampan, lalu cetakan berbentuk cincin itu disusun sehingga memenuhi nampan.  Tangan kirinya lalu menjangkau sebuah ember kecil berisi adonan berwarna putih dan menuangkannya ke bagian tengah setiap cetakan cincin.  Selanjutnya ia mengambil ember kecil yang lain dan menuangkan adonan berwarna coklat, dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada adonan putih.  Terakhir, kembali dia menuangkan adonan putih menutupi adonan coklat.  Setelah beberapa saat, cetakan di balik.

Kuih gandus matang sebelum dilepas dari cetakannya

Apabila kedua sisi telah berwarna coklat muda, kuih gandus dan cetakannya ia angkat dengan sebuah penjepit dan dipindahkan ke wadah yang lain berupa keranjang plastik. Selanjutnya, tugas istrinya melepaskan kuih gandus yang telah matang dari cetakannya.  Dengan cetakan berbentuk cincin, hasilnya adalah kuih gandus yang meyerupai koin, berdiameter 6cm dan tebal 2cm.

Banyak pengunjung pasar yang  selesai berbelanja mampir ke gerobak Pak Cik Mak Cik.  Saya pun jadi penasaran.  “Kayaknya enak, nih”, pikir saya. Saya pun turun dari mobil.
“Bagi lima, Mak Cik”?
“Boleh Dek.  Nak makan sini ke atau nak bawa balik?”, Mak Cik bertanya.
“Bawa balik, Mak Cik”.

Mak Cik pun mengambil lima kuih gandus yang telah dilepas dari cetakannya, menyusunnya sehingga berbentuk silinder, lalu membungkusnya dengan plastik dan koran bekas.  Kemudian dimasukkan ke kantong plastik kecil.  Saya pun membayar RM 2 sambil menerima bungkusan kuih gandus.

Melepas kuih gandus dari cetakannya

Sesampai dirumah, tak sabar, saya buka bungkusan itu dan langsung mencoba kuih gandus dengan harap-harap cemas, tak sabar mengetahui sensasi rasanya.

Mau tau, rasanya? Seperti kue pancong, kalau ditanah air.  Bedanya, kue gandus punya adonan gula kelapa ditengahnya, seperti klepon. (Kuala Lumpur, 26.11.2012)  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s