Abak

Kami memanggilnya Abak, panggilan untuk ayah dalam bahasa Minang.  Ia multi profesi.  Sepanjang hayatnya, ia pernah jadi tukang jahit, tukang pangkas rambut, tukang patri, tukang reparasi sepeda, tukang reparasi lampu petromax, pembuat serbuk kopi, pembuat kue sangko, petani kopi, petani kayu manis, petani sekaligus tauke tembakau hingga menjadi penyelundup antar negara.  Bahkan,teman-teman lamanya memanggilnya dengan panggilan khas, ‘tukang’. Ia adalah tukang segala macam.

Ia adalah pembelajar sejati, sekaligus pembosan tingkat tinggi.  Kombinasi ini yang membuatnya memiliki banyak kepandaian tapi tidak pernah benar-benar ahli disalah satunya.  Meski tak satupun profesi-profesi itu membawanya kesuksesan finansial, ia sangat bangga dengan kekayaan pengalaman itu.  Tak bosan ia bercerita kepada anak-anaknya tentang apa saja mengenai pekerjaan-pekerjaannya itu.  Berulang-ulang, ia tidak pernah bosan dan kami juga bersabar dan berusaha agar tidak terlihat bosan.

Dari sekian banyak profesi, menjadi tukang jahit adalah yang paling lama ditekuninya.  Disini pula ia mencapai tingkat keahlian relatif lebih tinggi dibandingkan bidang lain.  Ia bahkan telah mencapai ‘maqam’ tertinggi sebagai tukang jahit yaitu mampu menjahit jas.

Usaha menjahitnya dijalankan dengan membuka kios kecil. ‘Teliti’ adalah nama kios itu, berada dilantai dasar sebuah rumah bertingkat.  Dibagian belakang kios itu pula kami sekeluarga tinggal.  Uniknya, dikios itu terdapat pula sebuah kursi khusus untuk memangkas rambut.  Pada saat yang sama dan ditempat yang sama, Abak menjalankan dua profesi yang tidak berhubungan langsung, tukang jahit dan tukang cukur.  Disamping itu ia juga berkeliling dari pasar ke pasar dengan sepeda, membuka lapak kecil dengan kain spanduk bertuliskan “Teliti Taylor”.  Dengan demikian dia dapat menjangkau pelanggan yang tinggal didesa-desa lain.  

Sebagaimana kebanyakan orang tua, Abak juga ingin kedelapan anak-anaknya seperti dirinya, senang mempelajari hal baru dan bisa mengerjakan banyak hal.  Untungnya ia cukup realistis. Ia tidak ngotot agar semua anaknya bisa melakukan semua yang ia pernah lakukan.  Ia hanya mencoba menurunkan satu atau dua ilmu kesetiap anaknya.  Tapi baginya menjahit adalah yang terpenting, ia mensyaratkan setiap anaknya untuk bisa menjahit.  Dan ini harga mati.

Abak sungguh tak pernah kehabisan energi dan semangat untuk menurunkan ilmu menjahit kepada anak-anaknya, sedini mungkin.  Aku mulai belajar menjahit sebelum masuk SD dengan menyambung-nyambung perca-perca menjadi lembaran kain yang lebar, setiap hari.  Saat itu kakiku belum dapat menjangkau pengungkit mesin jahit Singer tua kebanggaan Abak.  Aku harus duduk diujung kursi atau malah berdiri agar pengungkit besi persegi panjang itu bergerak naik turun sehingga memutar roda mesin jahit.  

(Photo: smg.photobucket.com)

Ketika aku mulai belajar menjahit, Abak tidak lagi berprofesi sebagai penjahit. Ia telah menutup kios “Teliti Taylor”-nya dan banting setir menjadi peladang kopi, tembakau dan kayu manis.  Ladang kami jauh dari dusun, sekitar dua jam berjalan kaki.  Tidak mungkin abak bolak-balik setiap hari, sehingga ia harus menginap di ‘sudung’.  Sudung adalah pondok kecil berdinding bambu, beratap rumbia atau seng, yang dibangun ditengah sawah atau ladang untuk berteduh atau bermalam.   Biasanya Abak berangkat hari Minggu dan kembali kerumah Kamis petang.  Begitu terus setiap pekan.  Satu-satunya yang mampu menunda keberangkatannya ke ladang adalah siaran langsung pertandingan Mike Tyson, yang biasanya tayang Senin pagi WIB, Minggu malam waktu Las Vegas.         

Keputusan pindah profesi dari tukang jahit menjadi peladang penuh waktu adalah keputusan besar.  Yang tersisa dari ‘Teliti Taylor’ hanyalah sebuah mesin jahit tua bermerk Singer dan berkarung-karung perca kain.  Perca-perca yang ia kumpulkan selama menjadi tukang jahit, yang sejak awal sudah diniatkan untuk anak-anaknya belajar menjahit. 

Setiap hari aku menyambung perca-perca menjadi lembaran-lembaran yang semakin lebar.  Oleh Ibu, kain-kain lebar itu dipotong-potong lagi, diisi kapuk, dijahit pinggirnya, jadilah bantal atau guling. 
Menyambung perca-perca itu sebenarnya menjemukan, tapi terbukti sangat ampuh mengasah keahlian mengendalikan mesin jahit dalam waktu relatif singkat, mungkin satu dua bulan saja.  Selain hasil jahitan menjadi rapi, gaya aksi tukang jahit ‘pro’ juga ‘dapet’.  Diantara gaya-gaya ‘pro’ itu adalah menggerakkan jarum bolak-balik sepenuhnya dengan menjungkat-jungkitkan besi pijakan, tanpa tangan kanan menyentuh roda atas.  Atau, cara asyik memotong benang dengan memegang ujung gunting, bukan pegangannya.  
Setelah mesin jahit dapat aku taklukkan barulah aku mulai dipercaya menjahit baju sendiri dibawah supervisi ketat Abak.  Sementara mengambil ukuran dan menggunting kain masih dilakukan Abak, anak sekecil aku belum mampu menyerap rumus-rumus yang diperlukan.  Mungkin baru kelas lima atau enam SD aku mulai diajarkan mengambil ukuran dan menggunting kain.
Untuk baju kemeja, yang paling susah adalah menjahit kerah dan menyambung lengan ke bagian badan.  Sementara untuk celana, yang paling sulit adalah membuat kantong belakang.
Selama SD, aku hanya menjahit untuk pakaian sendiri, keluarga, saudara-saudara dekat atau tetangga.  Ketika aku sudah sekolah SMP, untuk meningkatkan jam terbang, aku dititipkan disebuah kios tukang jahit di kampung kami.  Setiap hari selepas sekolah, aku menjadi karyawan magang sebuah taylor.  Kalau tidak salah, aku diupah lima ratus rupiah untuk setiap baju yang dijahit.  Lumayan, terutama masa liburan panjang sekolah menuju tahun ajaran baru, orderan mencapai puncaknya dan anak magang pun harus lembur.
Alhasil, hingga tamat SMA aku tidak pernah membeli pakaian jadi, kecuali kaos oblong.  Celana jean pertamaku aku beli ketika kuliah di Bogor, karena ditempat kos tidak ada mesin jahit.  Ketika mudik liburan semester, aku masih terima order menjahit kecil-kecilan dari saudara atau tetangga.  Aku yakin bukan karena jahitanku begitu bagusnya, tapi mereka pengin ‘ngirit’ hahaha…
Tapi, sungguh sayang hingga akhir hayatnya Abak tidak sempat menurunkan ilmu tertingginya, yaitu membuat jas.  Beberapa hari setelah Abak wafat di tahun 2003, ketika kami memilah-milah barang-barang pribadi beliau untuk disumbangkan, aku menemukan gulungan kertas berwarna coklat bekas pembungkus semen.  Ternyata gulungan kumal itu adalah pola setelan jas, yang tak sempat ia ajarkan kepadaku.  
   
       
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s