TV Pertama Kami (bagian 2)

Sebelum TV pertama kami tiba, radio telah menjadi andalan hiburan kami.  Kami punya dua, yang satu radio tape dan yang lain radio transistor saja, berukuran lebih kecil, tidak ada tape player-nya.  Radio transistor kecil ini bisa dibilang milik Abak, karena radio itu dibawa ke ladang.  Ia menjadi teman Abak bila bermalam di sudung (pondok) bambu di tengah ladang.  Baginya, kurang lebih radio itu seperti laptop jaman sekarang, dibawa kemana-mana.  Satu lagi, mereknya juga National.  Mau tahu seperti apa wujudnya?  Tidak persis, tapi kurang lebih seperti ini
Radio seperti ini memiliki tiga band (kisaran) gelombang, dua band untuk SW (Short Wafe) and satu untuk MW (Medium Wave) atau AM (Amplitud Modulation).  Gelombang AM biasanya digunakan oleh radio-radio lokal, karena jangkauan pancarnya yang tidak terlalu jauh.  Pada masa itu, masjid besar biasanya punya stasiun radio sendiri dan dipancarkan melalui gelombang AM, tak terkecuali di kampung kami.  Mata acara tetapnya tentu saja suara azan shalat lima waktu, tilawah al Quran dari Qari/Qoriah terbaik dunia, rekaman ceramah Buya Hamka dan belakangan KH Zainudin MZ.  Acara musiknya di dominasi dangdut Elvi Sukaesih, Muchsin Alatas, Hamdan ATT, Meggy Z dan tentu saja Bang Haji Rhoma Irama.
Sementara itu band SW dipakai untuk menangkap siaran dari stasiun-stasiun jauh seperti RRI dari berbagai kota, RTM (Radio Televisi Malaysia) dan BBC London, stasiun favorit Abak.  Sudah seperti wajib hukumnya bagi Abak untuk mendengarkan warta berita BBC tiga kali sehari, pagi, sore dan malam.  Satu kali saja luput apapun alasannya, kami akan mendengar omelan Abak, menyesali ketertinggalannya.  Kata Abak, cuma BBC yang terpercaya dengan berita-beritanya.  Semua radio lain beritanya sudah disaring atau bahkan dilencongkan.  Warta berita BBC pula lah yang menjadi alasan utama Abak harus punya radio sendiri dan dibawa ke ladang bila harus menginap.
Uniknya, ketika saya berkesempatan tinggal di London selama 18 bulan di tahun 2001-2002, saya bertemu dan bersahabat dengan beberapa penyiar BBC edisi Bahasa Indonesia yang suaranya memenuhi rumah sederhana kami selama puluhan tahun, antara lain Bang Asyari Usman, Ahmad Marzooq, Asep Setiawan dan Muhammad Susilo.  Saya selalu memulai perkenalan dengan mereka dengan berkata, ” kita baru pertama kali bertemu, tapi saya sudah mengenal suara anda sejak bertahun-tahun lalu”.  Suatu pagi saat pulang kampung diujung 2002, ketika Abak sedang mendengarkan BBC dengan seksama, saya katakan bahwa saya kenal orang yang sedang membaca berita itu bahkan sering ke rumahnya, Abak begitu sumringah.
RRI yang sering kami pantau karena jernih suaranya adalah RRI Padang, Pekan Baru, Jambi dan Jakarta.  Biasanya selain warta berita, stasiun-stasiun ini juga menyiarkan berbagai serial sandiwara radio yang begitu fenomenal dijamannya dan panjaaang sekali, bertahun-tahun diputar, sambung-menyambung tak ada habisnya.  Beberapa yang saya ingat, Saur sepuh, Butir-butir pasir di laut dan Tutur Tinular.  Pengisi suara sandiwara radio yang paling terkenal adalah Ferry Fadli dan Maria Ontoe.
Kami biasanya rajin menyetel RRI Pekanbaru selama bulan Ramadhan, untuk mendengarkan waktu berbuka dan shubuh.  Konon, waktu shalat Pekanbaru sama dengan Kerinci.  Rumah kami agak jauh dari Masjid, jadi suara tabuh (bedug) atau azan tidak selalu terdengar.
Radio zaman itu juga banyak menyiarkan program promosi keluarga berencana dan pertanian.  Setiap selepas warta berita pukul tujuh pagi selalu diikuti dengan informasi harga sayur-sayuran dari berbagai sentra produksi sayur seperti Alahan Panjang dan Lembang.  Setiap pagi minggu, selepas warta berita dan informasi harga sayur-mayur, selalu ada suara khas berlogat Jawa kental dari Tejo Sumarsono SH dengan ‘Forum Negara Pancasila’.
Tahun 70-an sampai 80-an juga sudah banyak iklan diradio, sebagian besar dari berbagai produk obat-obatan, mulai dari obat sakit kepala, encok, sakit perut, obat kuat, dan obat panu.  tentu saja selalu ada iklan rokok dan sekali-sekali iklan pupuk dan obat pembasmi hama.
Diparuh kedua tahun 80-an, Abak punya profesi baru sebagai produsen bubuk kopi.  Biji kopinya biasanya berasal dari ladang kopi sendiri dan diolah sendiri.  Mulai dari menumbuk biji kopi basah, menjemur dibawah terik matahari, memisahkan biji dari sisa-sisa kulit kering, merendang kopi, menggiling kopi hingga menjadi bubuk, mengemas hingga memasarkan, semua dilakukan sendiri.  Abak mengayuh sepedanya menelusuri dusun-dusun dikecamatan kami untuk mengantarkan kopi-kopi yang sudah dikemas dalam berbagai ukuran dan juga memungut uang dari kopi yang sudah terjual.  Merek kopi kami adalah Rangkiang (lumbung padi dalam bahasa Minang).  Hebatnya, kami juga sudah pasang iklan, di radio masjid di kampung kami.  Materi iklannya tidak direkam, cukup berupa scripts yang dibaca berulang-ulang oleh penyiarnya. Jadi, iklannya tidak standar, lain penyiar lain pula gaya membacanya.  Dan, mereka semua amatiran.
Sementara itu, Ibu hampir tiap hari mendengar siaran RTM (Radio Televisyen Malaysia), biasanya untuk warta berita dan sandiwara berbahasa Melayu.
Sementara itu, radio tape selalu berada dirumah, tidak mobile, kurang lebih seperti PC jaman sekarang, hehehe…..Mereknya Sanyo, perak warnanya.  Sayang sekali Google tidak punya contoh yang berwarna perak, jadi saya tampilkan saja contoh berwarna hitam.  Satu hal unik yang saya ingat tentang radio tape kami ini adalah display penunjuk gelombangnya yang berbentuk bundar, tidak segi empat memanjang sebagaimana kebanyakan radio tape pada zamannya.
Meski punya radio tape, koleksi kaset kami tidaklah banyak.  Paling-paling kaset tilawah Quran KH Muammar ZA dan beberapa kaset berbahasa Minang, mulai dari lagu Minang, Sandiwara Minang dan komedi Minang.  Dangdut dan lagu pop merengek-rengek ala Pance Pondaag, Rinto Harahap dan Obbie Messakh, bukanlah selera kami.   Koleksi lagu-lagu Minang didominasi oleh para legenda seperti Elly Kasim, Tiar Ramon dan Syamsi Hasan.  Dan, semua kasetnya diproduksi oleh Tanama record.  Sandiwara Minang yang tenar adalah kisah Tan Baro, sedangkan komedi Minang-nya bertajuk “Rapek Mancik”.  Tan Baro adalah urang Minang totok yang menjadi sangat lucu ketika melawat ke Jakarta, TAXI dibacanya “TA kali Ciek”.  Rapek Mancik bercerita tentang rapat yang tak jelas ujung pangkalnya, semua orang berebut bicara tapi tidak ada yang mau bekerja.  Salah satu joke rapek mancik yang saya masih ingat adalah bahwa sesungguhnya Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja adalah orang Minang, nama aslinya adalah ‘Nurdin anak Sianok’. (bersambung)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s