TV Pertama Kami (bagian 3)

Setelah mengandalkan radio sebagai sumber informasi dan hiburan selama bertahun-tahun, akhirnya kami punya TV.  Waktu itu TVRI (Televisi Republik Indonesia) adalah satu-satunya stasiun TV yang bisa kami tangkap.  Belum ada TV swasta yang glamor, belum ada antenna parabola, apalagi TV kabel.
Siaran TVRI bermula pukul 4.30 petang.  Sekitar lima belas menit sebelum siaran dimulai sebenarnya dilayar kaca sudah ada gambar statis berbentuk lingkaran dengan motif kotak-kotak didalamnya.  Didalam lingkaran itu pula ada penunjuk waktu dengan format hh:mm:ss.  Lima menit menjelang pukul 4.30, lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai penanda bahwa stasiun TV kebanggaan Indonesia itu mulai mengudara.  Selanjutnya seorang penyiar cantik menyapa penonton dan membacakan susunan acara hingga lewat tengah malam nanti.
Acara pertama selama tiga puluh menit biasanya bernuansa pendidikan dengan target penonton anak-anak TK hingga sekolah dasar, diantara yang saya ingat Cerdas Cermat, Bina Vokalia oleh Pranadjaja, Taman Indria bersama sang legenda Ibu Kasur yang selalu ditemani oleh pianis-nya yang setia Ibu Meinar.  Taman Indria ini sesungguhnya memindahkan kelas taman kanak-kanak ke studio TV, jadi acaranya seru dan meriah oleh berbagai polah alami anak-anak.
Legenda lainnya adalah Pak Tino Sidin dengan acaranya Gemar Menggambar.  Menggambar ala Pak Tino Sidin yang selalu tampil dengan baretnya sungguh asyik dan terlihat begitu mudah.  Diakhir acara, Pak Tino akan menampilkan gambar yang dikirim oleh anak-anak seluruh Indonesia dan setiap gambar pasti akan mendapatkan komentar khas dan terkenal dari sang maestro, “Bagus!”.  Kadang-kadang, acara Gemar Menggambar juga diasuh oleh guru lukis lain yaitu Kak Alex.
Cerdas cermat adalah acara adu ketangkasan pelajaran sekolah untuk tingkat SD, sementara acara sejenis untuk anak-anak SMP/SMA bernama Cepat Tepat.  Formatnya keduanya sama. Ada tiga group dari sekolah berbeda yang masing-masing beranggota tiga orang; juru bicara yang duduk ditengah dan pendamping kiri dan kanan.  Selain ada seorang pembawa acara yang sekaligus melemparkan pertanyaan, ada juga dewan juri yang juga terdiri dari tiga orang.  Selebihnya adalah penonton yang sebagian besar adalah pendukung dari ketiga sekolah yang bertanding.  Pertandingan umumnya terdiri dari dua babak.  Pada babak pertama, setiap grup akan mendapat pertanyaan yang telah dialokasikan untuk mereka.  Tapi grup lain berkesempatan meraih angka bila grup yang kebagian pertanyaan tidak mampu menjawab.  Babak kedua, yang paling seru adalah babak rebutan, siapa cepat dia dapat.  Semua peserta, tidak hanya juru bicara boleh menjawab pertanyaan dengan terlebih dahulu memencet bel yang bunyinya cempreng ‘Teett….’.  Tapi, peserta juga harus hati-hati karena setiap jawaban salah berari pengurangan nilai.    
Cerdas cermat dan cepat tepat ini barangkali cikal bakal segala macam kuis yang datang setelahnya.  Demamnya mewabah di seluruh Indonesia pada masa itu, ada cerdas cermat disegala tingkatan, RT sampai propinsi untuk segala macam acara atau kesempatan.  Ada cerdas cermat agama, bahkan cerdas cermat P4.
Untuk para petani juga ada cerdas cermat antar Kelompencapir (Kelompok Pendengar, pembaca dan pirsawan).
Selepas itu bermunculan acara-acara kuis yang lebih menghibur seperti Berpacu Dalam Melodi yang dibawakan oleh Koes Hendratmo, Gita Remaja oleh Tantowi Yahya dan ada juga Kuis Siapa Dia oleh Aom Koesman, yang pentolan grup lawak komedi Sunda, D’bodor.  Hebatnya, semua kuis kreatif itu didesain oleh Ani Sumadi, yang dijuluki master kuis Indonesia.
Selain acara-acara edukatif, tentu ada juga acara hiburan untuk anak-anak, biasanya tayang pukul 5.30 petang, selepas Berita Daerah.  Selama setengah jam, anak-anak biasanya disuguhi berbagai film kartun impor seperti Mickey Mouse, Donald Duck, Tom and Jerry, Flash Gordon, Hulk dan sebagainya.  Kami menyebut film-film kartun ini sebagai film mancik-mancik.  Mancik adalah kata bahasa Minang untuk tikus.
Untuk warta berita, ada empat sesi setiap harinya.  Pukul 5 petang ada Berita Daerah, pukul 7 malam untuk Berita Nasional, Dunia Dalam Berita yang melegenda dimulai pukul 9 malam, sebelum tutup siaran ada Berita Terakhir.  Kecuali Berita Terakhir yang sangat singkat (5 hingga 10 menitsaja ), berita-berita itu berdurasi 30 menit.  Sesuai namanya, Berita Daerah banyak mengabarkan kejadian-kejadian atau kegiatan pemerintahan daerah.  Beritanya banyak disumbang oleh stasiun TVRI daerah.  Di paruh kedua Berita Daerah biasanya ada segment Daerah Membangun berupa program dokumenter tentang pembangunan di daerah tertentu yang layak dikupas lebih lama.  Berita Nasional lebih banyak menampilkan kejadian di ibukota negara, terutama kegiatan presiden dan kabinet pembangunan-nya, juga aktivitas DPR/MPR dan lembaga tinggi negara lainnya.  Sementara itu kejadian seantero dunia dapat dinikmati melalui Dunia Dalam Berita yang juga punya segmen olah raga dibagian akhirnya.  Masa itu, Dunia Dalam Berita adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu.
Program warta berita TVRI diawaki oleh pembaca berita dan reporter yang mumpuni.  Bagi saya, mereka jauh lebih berkualitas dan cerdas dibanding para news host masa kini yang bertebaran di TV-TV swasta Indonesia.  Bagi anda yang tidak berkesempatan merasakan era 80-an, sebagai pembanding, kualitas mereka setara dengan news anchor BBC, Al Jazeera atau CNN.  Beberapa nama pembaca berita yang saya ingat adalah Toeti Adhitama yang Bahasa Inggrisnya jago banget, Pungki Rungkat yang selalu tampil dengan rambut bersasak rapi, Anita Rachman, Yasir Denhas, Hasan Azhari Oramahi, Herman Zuhdi, Sadzli Rais dan Sambas Mangundikarta.  Mereka juga aktif sebagai pembaca berita RRI.
Dua nama terakhir adalah favorit saya.  Suara bariton Sadzli Rais paling enak didengar dan dia juga pelaku sejarah Pemberontakan G-30S-PKI tahun 1965, ketika dia dipaksa membaca berita melalui radio dibawah todongan senapan tentara pemberontak.  Sementara Sambas, selain suaranya enak didengar dia juga sangat khas ketika menjadi host siaran langsung olah raga terutama bulu tangkis dan sepak bola.  Dia tak henti mengajak pemirsa untuk berdoa demi kejayaan pahlawan olah raga Indonesia.  Dia begitu fenomenal ketika melaporkan kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia atas China tahun 1984.  Penonton terbawa arus emosi dan ketegangan yang diciptakannya. (Bersambung)
           
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s