Apa Guna Sekolah Tinggi Tapi Tak Pandai Mengaji

Selagi masih dalam suasana Ramadan dan Idul Fitri, kisah kali ini sedikit religius.  Pernah aku ceritakan bahwa aku tidak pernah mengenyam pendidikan pra-sekolah, Taman Kanak-Kanak.  Begitu menginjak 6 tahun aku langsung masuk SD dan untuk pertama kalinya mulai belajar berhitung, membaca dan menulis.  Engkau mungkin masih ingat kawan, betapa kejam angka dua telah menyiksaku.
Yanto, Sanusi dan Nilai Merah
Sekolah kami adalah SD kampung, nama resminya SD No 88/III, Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci.  Akan tetapi karena SD ini adalah sekolah yang ketiga didirikan dikampungku, maka penduduk kampung menyebutnya sebagai SD 3.  Ia bukanlah SD terbaik dari keseluruhan 6 SD yang ada dikampung kami, tapi jelas yang terdekat dari rumahku, kurang lebih dua ratus meter saja ke utara.  Tiap angkatan muridnya hanya ada belasan.  Aku tak lagi ingat siapa saja kawan-kawan SD ku, kecuali dua orang, Yanto dan Sanusi.
Yanto adalah anak Sersan polisi yang tulisannya paling bagus, dia sudah belajar menulis sebelum masuk sekolah. Di kelas satu, Yanto adalah teman sebangkuku.  Tak mungkin aku bisa lupa jasanya padaku, dialah yang membantuku belajar menulis termasuk ketika bertempur dengan angka 2.  Seingatku, kami berpisah saat kelas 2 atau kelas 3, dia mengikuti bapaknya yang pindah tugas.  Tak tahu aku apa kabarnya dan dimana dia sekarang.
Adapun Sanusi adalah anak yatim yang badannya paling tinggi dan besar dikelas.  Dia juga lebih tua barang dua tiga tahun dari anak-anak lain dikelas.  Sebelum pindah ke dusun (perkampungan), Sanusi dan adiknya tinggal di sudung (gubuk bambu) ditengah ladang mengikuti ibunya yang buruh tani.  Tidak adanya sekolah ditengah peladangan membuatnya terlambat masuk SD.
Yang membuat Sanusi tak terlupakan adalah kepandaiannya menggambar.  Maka pelajaran menggambar selalu dinantikannya dan dia juga selalu mendapat nilai paling tinggi.  Untuk mata pelajaran lain dia biasa-biasa saja.
Sebaliknya bagiku, aku benci mata pelajaran yang ada hubungannya dengan seni.  Celakanya, mata pelajaran seperti itu tidak hanya satu, tapi tiga!  Ada Menggambar, Kesenian (sebenarnya hanya menyanyi) dan Kerajinan Tangan.  Untuk ketiga mata pelajaran ini, nilai 7 saja bagiku sudah merupakan anugerah terindah, nilai 6 aku terima dengan tabah. Bahkan, aku pernah mendapat nilai merah, 5, untuk pelajaran menyanyi ketika kelas 4.  Ini adalah satu-satunya warna merah dalam raporku sepanjang sejarah.  Benar-benar aib paling memalukan.  Lama aku menangis hingga tersedan begitu melihat warna merah itu, hatiku hancur.  Dan guru yang lancang itu adalah Pak Mansyur, sang kepala sekolah yang mendadak mengajar menyanyi untuk menyiasati kekurangan jumlah guru.  Mungkin sakit telinganya karena setiap kali diminta menyanyi kemuka kelas, aku selalu mempersembahkankan lagu Garuda Pancasila atau Dari Sabang Sampai Merauke, dengan nada sumbang tentunya.
Sebagaimana Yanto, Sanusi senang mambantu teman-teman sekelas.  Paling tidak ia mempersilahkan anak lain mencontek gambar atau idenya. Mungkin dia yakin, anak-anak lain tidak pernah mampu menggambar sebagus dia.
Cerita Pak Anwar dan Pengkhianatan
Selain noda merah angka lima itu, sebenarnya aku tidak bodoh-bodoh amat.  Dikelas satu, aku ranking dua selanjutnya selalu ranking satu.  Aku bintang kelas SD kampung.  Namun, sepertinya itu belum membahagiakan Abak dan Ibu.  Ketika aku kelas lima, Abak dan Ibu sering terlibat pembicaraan serius yang aku tidak terlalu pahami.  Rupanya mereka mendiskusikan untuk memindahkan sekolahku ke Sungai Penuh, ibu kota kabupaten kami.  Alasan utamanya ternyata sama sekali tidak terkait dengan sekolah.  Abak dan Ibu ternyata gundah karena kualitas baca Al Quran ku yang masih sangat buruk.  Bagi mereka itu jauh lebih penting dari pada sekolah.  Tidak ada gunanya sekolah dan berilmu tinggi kalau tidak bisa mengaji, begitu keyakinan mereka.
Sebenarnya saat itu aku sudah bisa membaca Al Quran dengan lancar tanpa tersendat, tetapi dengan lafadz dan tajwid kacau balau tak karuan.  Panjang pendeknya bacaan terbolak-balik.  Lafadz Tsa, Sin, Syin dan shad semua terdengar sama dari mulutku, demikian pula Qaf dan Ka, atau Dza dan Za. Ini bahaya karena dapat memutar balik makna.  Sebatas itu saja yang telah kudapat dengan belajar sendiri dirumah bersama Abak dan Ibu.
Aku sebenarnya juga masuk madrasah sore hari sepulang sekolah, tiga kali sepekan.  Tempatnya agak jauh dari rumah sehingga aku harus mengayuh sepeda miniku pulang pergi.  Sayangnya, madrasah swadaya masyarakat ini menghadapi masalah klasik, terlalu sedikit guru untuk terlalu banyak murid.  Jadilah pelajaran mengaji menjadi tidak efektif.
Sering kali hanya ada satu guru untuk tiga kelas.  Kalau sudah begini, sang guru yang setia itu, Pak Anwar Arifin, akan memerintahkan untuk membuka batas antar kelas dan dia segera memulai cerita Nabi-nabi dan cerita lain yang bermuatan pesan moral untuk anak-anak.  Pak Anwar, yang juga penggagas madrasah ini, adalah pencerita yang hebat.  Cerita biasa bisa menjadi demikian hidup melalui tuturnya yang mengaduk emosi anak-anak, dibumbui kata-kata dan ekspresi lucu, lebih dari cukup untuk membuat kami terpingkal.
Cerita Pak Anwar menjadi solusi sementara persoalan kekurangan guru.  Dampak negatifnya, dalam waktu singkat cerita Pak Anwar menjadi favorit anak-anak Madrasah.  Motivasi kami datang ke Madrasah tiga kali sepekan lebih karena ingin menikmati cerita baru dari Pak Anwar, belajar mengaji bukan lagi menjadi tujuan utama.
Bercerita tentang madrasah itu tidak lengkap tanpa satu episode dimana aku menjadi korban kenakalan teman-teman sendiri.  Seperti biasa sore itu aku datang naik sepeda mini biruku,  dari kejauhan aku sudah melihat teman-teman sedang bermain bola, kukayuh sepedaku lebih cepat.  Ketika memasuki gerbang madrasah, aku tahu mereka sedang adu tendangan penalti.  Beberapa kawan mendekatiku dan bilang bahwa kiper yang sedang menjaga gawang itu tangguh sekali, belum ada yang berhasil menembus gawangnya.  Seorang dari mereka menyanjungku bahwa dia yakin hanya aku yang mampu menaklukkannya dan memberinya pelajaran.  Kepalaku mengembang termakan sanjungan itu, segera kusandarkan sepeda dan melangkah pasti menuju bola yang sudah berada di titik putih, diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai teman-teman yang tadi menjemputku.
Aku merasa seperti sedang berada ditengah stadion besar, sebagai algojo yang siap mengeksekusi penalti, betapa heroiknya.  Aku hentikan langkah beberapa meter sebelum bola itu.  Kutatap kiper yang sudah bersiaga membungkukkan badan dan membentangkan kedua tangannya, siap mengantisipasi arah datangnya bola.  Dia tak nampak seperti kiper hebat dimataku, tapi kenapa tak ada yang bisa mengalahkannya?  Sungguh tak berguna teman-temanku ini, soraknya saja yang ramai memekakkan telinga, tapi tak becus bermain bola.
Akupun lalu menundukkan badan, mengambil ancang-ancang untuk berlari kearah bola itu.  Aku berlari kencang, pada saat dan posisi yang tepat, aku ayunkan kaki kananku kebelakang lalu melayang kedepan, aku tendang bola itu dengan tendangan terbaikku, sekuat tenagaku.  Tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh tak kuduga, bola itu tak bergeming sama sekali, ia tetap ditempat semula.  Justru aku merasakan sensasi lain yang tak biasa, kakiku terasa sakit sekali dan semakin sakit.  Aku meringis.  Sorak-sorai penyemangat dari kawan-kawanku seketika berubah menjadi gelak tawa puas dan penuh ejekan.  Aku segera membaca gelagat tak baik.  Seisi stadion telah berkonspirasi melawanku dan aku telah masuk perangkap mulut manis mereka.  Ternyata bola itu tak berisi angin, tapi diisi penuh dengan pasir.  Bodohnya aku terlalu lemah terhadap puja puji.  Aku meringis menahan sakit dikakiku, mukaku merah menyala menahan malu dan aku menangis.
Hari itu mereka jelas menang telak, dan sayangnya tak mungkin aku membalaskan dendam karena kini tak satupun dari mereka yang kuingat, termasuk siapa biang keroknya.  Satu pelajaran penting yang kudapat, ternyata kawan-kawan itu tidak sekedar besar soraknya dan tidak becus main bolanya, tapi mereka juga pengkhianat. Patutlah lama sekali bangsa ini dijajah Belanda, terlalu banyak pengkhianat diantara kita ditambah orang dungu besar kepala karena puja-puja. Hahaha…Waspadalah kawan, skenario seperti ini dengan para pemeran serupa sungguh banyak terjadi didunia nyata dan suatu hari kau mungkin jadi korbannya.  Langkah pengamanan pertama, hati-hati dengan orang yang sering memujimu dan yang paling penting berusahalah untuk tidak dungu.
Tigapuluh tahun lebih setelah kejadian kelam itu, datang petunjuk melalui kesaksian dari kawan sekampung sekaligus salah seorang korban bernama Rubens Anum melalui Facebook, tentang siapa biang keroknya.  Menurutnya, bola itu milik si Udin anak Pak Kamba, yang kalau tidak salah membuka lepau nasi dikampung kami.  Kebiasaan dikampung kami, seorang bapak tidak dipanggil namanya melainkan nama anak tertuanya.  Jadi, Pak Kamba adalah bapak yang anak tertuanya bernama Kamba.  Dengan demikian si Udin jahil ini adalah adiknya Kamba.  Adapun nama sebenarnya dari bapaknya Kamba, tidak banyak yang tahu, mungkin hanya Kepala Dusun dan petugas pembuat KTP di kantor camat.
Hijrah
Kembali ke persoalan rencana Abak dan Ibu memindahkan sekolahku.  Ternyata Abak dan Ibu sudah melakukan banyak persiapan.  Ide ini sudah dibicarakan dengan Tek Da dan suaminya.  Tek Da adalah adik Ibu dimana nanti aku akan dititipkan.  Tek Da dan Pak Etek (begitu kami memanggil suaminya) telah pula melakukan survey tempat mengaji dan SD dekat rumah mereka yang dapat menerima murid pindahan.  Setelah urusan sekolah dan tempat mengaji dipastikan beres, keputusanpun ditetapkan bahwa  setelah ujian catur wulan pertama kelas lima aku akan pindah sekolah ke Sungai Penuh, tinggal bersama Tek Da dan setiap malam aku akan belajar mengaji.
Hari Minggu aku diantar ibu ke Sungai Penuh dengan membawa semua pakaianku yang tak seberapa banyak itu.  Kami menumpang bis ukuran tiga perempat yang entah bagaimana sejarahnya disebut mobil ‘Engkel’, menuju Terminal Sungai Penuh.  Selanjutnya kami naik bendi (delman) menuju rumah Tek Da.    Ibu tak lama dirumah Tek Da karena harus mengejar bis pulang ke kampung.
Rumah Tek Da adalah rumah panggung berdinding papan.  Dibagian depan kanan ada area yang sebelumnya dipakai untuk warung, disebelah kiri area makan.  Ditengah ada tangga kayu menuju ruang tengah utama lantai atas.  Disitu ada satu set kursi tamu yang terbuat dari rotan, satu meja kayu yang biasa dipakai anak-anak belajar, satu mesin jahit tua dan satu TV hitam putih 17 inchi, Sharp mereknya, berkaki empat dan bila sedang tidak ditonton layarnya bisa ditutup dengan pintu geser (sliding door) seperti pintu toko.
Disisi ruang utama itu, ada dua kamar tidur, kamar depan ditempati Tek Da sekeluarga dan yang belakang untukku.  Tek Da punya tiga anak perempuan yang lebih kecil dariku. Sebenarnya, kamar belakang itu tidak aku pakai sendiri, setiap malam ada seorang keponakan suami Tek Da yang numpang tidur disitu.  Nama lengkapnya Alriadi, kami sering memanggilnya Uda Al, tapi nama paling populernya adalah Ta’a.  Dia baru saja lulus STM (Sekolah Teknik Menengah) dan belum bekerja.
Malamnya selepas Magrib, Tek Da mengantarku ketempat belajar mengaji dirumah Uni Nun yang tidak jauh dari rumah Tek Da, cukup dengan menyeberang jalan depan rumah Tek Da lalu menyeberang sungai melalui jembatan kayu kecil yang hanya dapat dilalui pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor.  Uni Nun adalah janda beranak sepasang.  Siang hari ia bekerja di pabrik es dan malam hari mengajar mengaji dirumah kontrakannya yang sederhana.  Uni Nun adalah guru ngaji pertama yang meperbaiki bacaan Al Quranku dibawah cahaya remang lampu togok (lampu teplok), karena tidak ada aliran listrik dirumahnya.  Murid Uni Nun tidak terlalu banyak, enam sampai tujuh orang saja.  Itupun termasuk si Ujang, murid ngaji paling bebal dan bandel, yang sekaligus anak laki-laki Uni Nun.
Tidak lama aku belajar mengaji dengan Uni Nun, sekitar dua atau tiga bulan saja.  Ia memilih untuk tidak melanjutkan kegiatan mengajar mengaji karena kesibukannya dari pagi hingga sore hari di pabrik es cukup menguras tenaganya.  Ia juga perlu waktu mengurus dua anaknya.
Untungnya, tidak berapa lama pelajaran mengaji Uni Nun berhenti, surau Madaniatul Islamiyah yang letaknya paling dekat dari rumah Tek Da membuka kelas pelajaran mengaji setiap malam selepas Magrib.  Kelas ini dikelola oleh dua orang anak muda, kami memanggilnya Uda Acang dan Uda Jamang, aku lupa nama asli mereka.  Keduanya mengelola pelajaran mengaji dengan lebih terstruktur.  Muridnya cukup banyak dan dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca Al Quran.  Murid senior yang tinggal memperbaiki bacaan ditugaskan sebagai asisten mereka untuk mengajar kelompok bawah yang baru mengenal huruf atau menyambung-nyambung huruf menjadi kalimat sederhana.  Selain itu, para murid juga dibekali pengetahuan tata acara ibadah seperti shalat, berdo’a, puasa dan sebagainya.  Dibulan Ramadan, murid-murid yang sudah lancar bacaannya berkeliling dari rumah-ke rumah untuk bertadarus selepas shalat tarawih.  Paling tidak satu tahun sekali, dalam rangka hari besar Islam seperti Isra’Mi’raj atau Maulid Nabi, ada kompetisi antar murid untuk berbagai perlombaan seperti membaca Al Quran, hafalan Al Quran, shalat, azan dan sebagainya.  Hadiah bagi para pemenang umumnya alat-alat tulis, hasil sumbangan masyarakat sekitar dan juga dari uang kas surau.
(On-board AK348 & Gaden – August 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s