Sepucuk Surat, Sebaris Pesan, Sebait Rindu

Hari ini Bumi yang kita pijak telah menciut dan terus menciut, karena jarak tak lagi relevan.  Komunikasi dapat dilakukan secara instan dan langsung melalui berbagai media yang menghantar teks, suara, gambar diam dan gambar bergerak secepat kilat.

Dimasa kanak-kanakku dulu, dekade 80-an, benda-benda ajaib itu belum tercipta.  Berikut ini adalah kisah tentang teknologi-teknologi andalan untuk komunikasi jarak jauh masa itu.

1. Surat
Ini tentu metode komunikasi jarak jauh yang sungguh bersejarah panjang, ia telah ada sejak berabad-abad lalu.  Seorang raja menyampaikan pesan kepada raja lain, baik sahabat maupun musuh, melalui gulungan surat yang diantar oleh kurir berkuda.  Sang kurir menjaga gulungan itu dengan nyawanya.

Dimasa kecilku, kurirnya sudah punya kantor dan tidak lagi berkuda, namanya Perum Pos dan Giro.  Kami menyebutnya kantor pos.  Di kecamatan kami waktu hanya ada satu kantor pos.  Bangunannya cukup besar dan keren.  Temboknya bercat kuning gading ditingkahi warna jingga khas kantor pos.  Seingatku karyawannya hanya tiga atau empat orang saja, satu orang Kepala kantor, satu orang pengantar surat dan satu atau dua orang pegawai administrasi di kantor. 

Pegawai kantor pos yang bertugas mengantar surat ke alamat tujuan adalah orang paling penting dan populer se kecamatan.  Aku yakin popularitasnya hanya mungkin dikalahkan oleh bidan desa atau dukun beranak.  Dia jelas lebih penting dari pada Pak Camat sekalipun.  Ia mengelilingi desa-desa di kecamatan kami dengan mengendarai sepeda dan belakangan diganti dengan sepeda motor bebek.  Sepeda motornyapun berwarna jingga  Di tempat duduk belakang sepeda atau sepeda motornya tergantung tas khas Pak Pos.  Tas itu berbahan kulit atau canvas yang kuat, berwarna coklat dan terdiri dari dua bagian yang menggantung disisi kiri dan kanan.  Persis seperti tas cowboy Texas yang digantung diatas kudanya, sebagaimana aku seing lihat di tivi.  

“Kriing…kriing…”, begitulah bunyi lonceng sepeda Pak Pos bila sampai di alamat yang dituju, diiringi teriakan ‘Pos…pos..”.  Itulah suara yang paling menyenangkan yang hampir selalu disambut oleh penghuni rumah dengan bergegas menghampiri Pak Pos.  Bila tak ada orang dirumah, Pak pos biasanya menyelipkan surat melalui celah pintu atau memasukkan ke kotak surat bila ada atau dititipkan pada tetangga.

Ada tiga jenis surat pada masa itu, berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai alamat tujuan yaitu surat biasa, surat kilat dan kilat khusus.  Surat biasa adalah yang paling lelet dan juga paling murah tentunya.  Tergantung pada jarak antara pengirim dan penerima, surat biasa perlu waktu berhari-hari hingga hitungan minggu untuk mencapai alamat tujuan.  Sementara surat kilat khusus adalah yang tercepat dan termahal.

Ongkos kirim surat dinyatakan dengan perangko yang ditempel di sisi muka amplop, biasanya dipojok atas kanan atau kiri.  Sebagaimana uang kertas, perangko-perangko ini memiliki denominasi berbeda-beda.  
Yang repot adalah kalau kita perlu mengirim surat kilat khusus atau paket barang yang ongkos kirimnya lumayan mahal, tapi sialnya kantor pos kehabisan perangko denominasi besar.  Apa boleh buat, sekujur amplop atau sisi muka paket dipenuhi oleh perangko denominasi kecil yang berbaris-baris.
Filateli dan Sahabat Pena
Budaya surat menyurat ini melahirkan dua kegemaran yang populer dimasa itu, yaitu filateli dan sahabat pena. Filateli adalah hobi mengkoleksi berbagai jenis perangko.  Biasanya perangko-perangko itu disusun rapi didalam album seperti album foto.  Filatelis serius bisa memiliki koleksi perangko dari berbagai negara dan dari berbagai zaman.  Biasanya para filatelis ini memiliki komunitas yang aktif, yang memungkinkan  mereka saling bertukar koleksi.  Perangko-perangko tertentu bisa menjadi bernilai finansial tinggi, karena keunikannya, usianya yang tua atau kelangkaannya.
Kantor Pos secara aktif mendukung kegemaran filateli ini.  Biasanya klub-klub filateli ini difasilitasi atau disponsori oleh kantor pos setempat.  Pada waktu-waktu tertentu, kantor pos menerbitkan seri perangko terbatas (limited edition) yang pastinya akan diburu oleh para filatelis, yang akan sangat kecewa bila tidak kebagian karena stok habis.  Biasanya kantor pos akan mengiklankan perangko-perangko khusus ini sebelum diluncurkan, sehingga penggila perangko bisa memesan jauh-jauh hari. Perangko-perangko edisi terbatas ini biasanya memanfaatkan momen-momen tertentu seperti hari kemerdekaan, ulang tahun ASEAN, ulang tahun PBB, PON, SEA Games, Olympiade dan sebagainya.
Sementara itu sahabat pena adalah kegemaran saling berkirim surat dengan sahabat-sahabat di tempat yang jauh, baik didalam negeri hingga luar negeri.  Para sahabat pena ini mungkin tidak pernah bertemu muka langsung, mereka hanya saling bercerita dan bercengkerama melalui surat.  Mereka kadang saling bertukar foto yang diselipkan bersama surat.  Ingat, zaman itu belum ada foto digital atau instagram!  
Hobi sahabat pena juga mendapat perhatian khusus dari kantor pos.  Kalau saya tak salah ingat, kantor pos bahkan memiliki majalah khusus yang didedikasikan bagi para filatelis dan sahabat pena.
Bahkan dimasa itu, majalah-majalah umum, apalagi majalah remaja menyediakan beberapa halaman khusus untuk menampilkan foto, nama dan alamat para sahabat pena.  Siapa saja yang tertarik untuk berkenalan, tinggal menulis surat kepada mereka yang diminati.  Dari situlah semuanya bermula.  Sahabat pena ini bisa jadi jalan pada hubungan yang lebih serius, tidak jarang mereka menemukan jodoh sesama sahabat pena.  Sebagian ada yang menjalani hobi sahabat pena untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing.

Bukan tidak jarang, seorang filatelis adalah juga penggemar sahabat pena, karena kedua hobi ini berkaitan dan saling mendukung.
Saya bukanlah filatelis maupun penggemar sahabat pena.  Seingat saya, dikeluarga kami, hanya adik saya Meli yang gemar mengkoleksi perangko, tapi rasanya dia tidaklah tergolong filatelis militan.   
Pujangga
Demikian pentingnya peran surat di masa itu, mengharuskan kami semua memiliki kemampuan yang baik dalam menulis dengan tangan dan mengarang.  Kemampuan tulis tangan sangat ditekankan ditahun-tahun awal Sekolah Dasar.  Bahkan dulu kami memiliki mata pelajaran yang disebut ‘halus kasar’, yang sesungguhnya melatih murid untuk menulis bersambung dengan indah.  Klasik sekali.  Rumusnya sederhana, bila tangan menarik garis naik, maka ia ditulis halus dan untuk garis turun, pensil lebih ditekan untuk menghasilkan garis yang kasar atau tebal.
Mengarang adalah juga mata pelajaran tersendiri.  Kami diajarkan menyusun kata-kata membentuk kalimat sesuai kaidah Bahasa Indonesia.  Lalu meramu paragraf dari kalimat-kalimat tersebut, setelah sebelumnya menetapkan ide pokok paragraf itu, mana kalimat utama dan mana kalimat penjelas.
Ditingkat yang lebih tinggi, kami juga diperkenalkan dengan karya-karya sastra para pujangga Indonesia berbagai angkatan.  Novel-novel karya Amir Hamzah, Buya Hamka, Marah Rusli, Sutan Takdir Ali Sjahbana, Amin Datuk Majoindo, menjadi bacaan kami.  
Jadi, tak usah lah heran bila angkatan kami yang lahir diera 70-an, memiliki kemampuan bermain kata dan meramu makna jauh diatas generasi yang lahir belakangan.  Kami menulis untuk meluahkan semua rasa.  Galau kami tersalurkan dengan indah.  Mau bukti? Andrea Hirata adalah generasi kami…hehehe….
Ketika kami mulai jatuh cinta, kami menulis surat yang dititipkan kepada kawan terpercaya yang bertindak sebagai mediator yang biasa disebut Mak Comblang.  Balasan darinya juga datang melalui Mak Comblang.  Ada resikonya tentu, alih-alih anda mendapatkan pujaan hati, eh…dia malah jadian dengan Mak Comblang…hahaha…
Untuk janji bertemu, kami selipkan dimejanya pesan singkat dilipatan kertas.  Kami pinjam buku catatannya hanya untuk menuliskan bait-bait puisi disalah satu lembarannya.  
Meski sebagian besar surat-surat dan puisi-puisi itu berkualitas kacangan, tapi semua orang adalah pujangga dimasa itu.      
2. Telegram
Ini adalah penyampai pesan tercepat yang tersedia dikampung kami pada masa itu.  Kami belum punya sambungan telepon, apalagi telepon seluler.  Telegram adalah metode pengiriman pesan tertulis melalui kode morse yang ditansmisikan melalui kawat maupun satelit.  Layanan telegram disediakan oleh PT. Telkom, yang kadang juga bekerja sama dengan kantor pos.  
Untuk mengirim telegram, kami harus mendatangi kantor Telkom satu-satunya di ibu kota kabupaten, Sungai Penuh, tiga puluh lima kilometer jauhnya dari kampung kami.  Disana kita harus mengisi formulir dengan menuliskan detail pengirim, detail penerima dan pesan yang hendak diantar.  Formulir inilah yang akan digunakan oleh operator telegram untuk menghantarkan pesan melalui kode morse.   

Tidak seperti surat, menerima telegram umumnya bukanlah hal yang menyenangkan.  Karena kecepatannya, telegram umumnya dipakai untuk menyampaikan kabar darurat. Seringnya telegram digunakan untuk mengabarkan berita duka, kerabat meninggal atau sakit keras.


Ongkos berkirim pesan melalui telegram dikenakan per kata, dan relatif mahal pada masa itu.  Karena itu, telegram biasanya benar-benar digunakan untuk pesan teramat penting atau perlu reaksi segera dari penerima.  Untuk menghemat ongkos kirim, pesan telegram biasanya sangat singkat dan padat.  Kata-kata tertentu juga tidak jarang dipersingkat.  Ini adalah contoh pesan telegram yang lumrah “Bpk sakit keras, pulang sgr”.
 
Bila anda tinggal di tempat yang tidak jauh dari kantor Telkom, telegram bisa diterima pada hari yang sama, diantar oleh petugas pengantar telegram dari Telkom.  Tapi tidak demikian halnya dengan dusun kami.  Telegram mungkin baru tiba esok hari dan tidak selalu diantar oleh petugas Telkom. Telkom mungkin bekerja sama dengan Kantor Pos yang mengantarnya kerumah.
   

3. Telepon

Sungai Penuh, ibu kota kabupaten kami, adalah satu-satunya tempat anda bisa menemukan pesawat telepon diera 80-an.  
Suatu hari dipenghujung tahun 1985, adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku.  Hari itu, untuk pertama kalinya, telingaku mendengar dering pesawat telepon didunia nyata.  “Kriiing…kriiing….”, begitu bunyinya…nyaring dan berisik.  Sebelumnya, aku hanya mendengar bunyi itu di drama-drama TVRI, melalui pesawat TV pertama kami.
Hari itu adalah hari pertamaku di sekolah baru, SD No. 143/III Sungai Penuh.  Saat kelas 5 Sekolah Dasar, aku pindah ke Sungai Penuh karena Abak dan Ibu ingin aku pandai mengaji.  Dering itu berasal dari pesawat telepon diatas meja kecil di sudut ruang Ibu Nurbani, kepala sekolah kami.
Pesawat telepon itu bentuknya sungguh klasik, sisi kiri dan kanannya berbentuk trapesium.  Berbeda dengan pesawat telepon yang biasa aku lihat di TV, ia tidak memilki bagian disisi depan dimana angka-angka 0 sampai 9 berbaris melingkar, yang biasanya diputar untuk menghubungi nomor telepon tujuan.  Bagian itu ditutup penutup berbentuk lingkaran.  Rupanya telepon di ruang Ibu Nurbani belum secanggih telepon-telepon di TV.  Untuk menghubungi nomor tujuan, kita cukup mengangkat gagang telepon dan akan segera disambut dengan suara operator telepon di kantor Telkom.  Kita tinggal bilang “tolong sambungkan ke nomor ….”, maka operator akan menghubungkan ke nomor tujuan dan pesawat telepon diujung sana akan berdering…nyaring dan berisik.
Konon, kata seorang temanku, operator telkom itu duduk menghadapi sebuah panel dipenuhi oleh kabel-kabel yang centang perenang dan ratusan lubang-lubang kecil yang terhubung kesetiap nomor telepon dikantor-kantor atau rumah-rumah.  Ketika kita minta disambungkan, operator akan menarik kabel dari lubang kecil telepon kita dipanel itu dan akan memasukkan ujungnya ke lubang milik nomor tujuan.  
Nomor telepon di kota kami waktu itu hanya 3 digit, jadi jumlah seluruh pesawat telepon hanya ratusan saja.          
4. Radio Amatir ORARI dan Handy Talkie (HT)
Ini mungkin padanan telepon seluler yang tersedia dimasa itu, karena tidak menggunakan kabel.  Ia adalah komunikasi melalui gelombang radio.  Biasa digunakan oleh lembaga-lembaga tertentu seperti kepolision, tentara, kantor kecamatan dan sebagainya.  Tapi ada juga masyarakat sipil yang menggunakan alat komunikasi ini, umumnya sebagai hobi.  Mereka tentulah golongan berduit yang mampu membeli perlengkapan komunikasi radio ini, yang cukup mahal.  Mereka tergabung dalam organisasi ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia).
Alat komunikasi ini cukup efektif, meski tidak murah dan tidak mudah.  Pesawat penerimanya berukuran cukup besar dengan antena yang tinggi.  Tapi, ada juga versi lebih kecil untuk dipasang dimobil, juga dengan antena.
Versi yang paling kecil adalah handy-talkie yang berbentuk seperti balok kayu berwarna hitam, dengan antena disalah satu ujungnya.  Panjangnya kurang lebih 15cm, sementara lebar dan tebalnya berkisar antara 4 sampai 6 cm.
Sayangnya, menggunakan alat komunikasi ini tidak selalu nyaman.  Hampir mustahil mendapat suara yang jernih, selalu ditingkahi dengan desau yang berisik.  Kadang, desau itu demikian bergemuruh, sehingga suara orang diseberang sana tidak dapat dipahami dengan baik. 
5. Intercom

Intercom pernah jadi hits diera 80-an hingga awal 90-an.  Ini adalah alat komunikasi yang menghantar suara melalui kabel. Ia dapat diibaratkan sebagai versi amatir dari telepon yang dikelola oleh Telkom.  Ia menjadi begitu terkenal karena lebih banyak dipakai oleh kaum muda atau remaja untuk senang-senang.  Karena menggunakan kawat sebagai media, cakupan intercom tidaklah luas, mungkin sebatas satu kampung, satu kawasan atau satu kota kecil.  Komunitas intercom ini dikelola secara sukarela dan tentu rada amatiran.  Kawat-kawat yang menghubungkan dari satu rumah kerumah lainnya ditumpangkan sekenanya pada berbagai benda yang dilalui, bisa pohon, tiang listrik, atap gardu ronda, tiang jemuran dsb.
Dari demam intercom ini maka populerlah istilah ‘mojok’, dimana dua orang anggota komunitas, umumnya sepasang sejoli, asyik berbincang berjam-jam lamanya hingga larut malam bahkan pagi lagi.  Sama halnya dengan sahabat pena, mojok ini bisa menjadi pemula hubungan lebih serius.

6. Radio AM

Kebanyakan radio di era 80-an, paling tidak didaerah kami, menggunakan gelombang AM.  Meski tak sejernih FM, tapi jangkauannya lebih luas, cocok untuk wilayah berpenduduk jarang dan berpencar.  Dan mungkin juga teknologinya lebih murah.
Selain memutar lagu-lagu berbagai genre (meski dangdut lebih mendominasi), sandiwara dan warta berita, radio juga berjasa menyampaikan pengumuman atau kabar segera.
Dulu, kampung kami punya jagoan bola, Basar namanya. Posisinya gelandang kiri.  Gayanya mirip Zinedine Zidane, terkesan kurang bertenaga dan rada malas, tapi kalau sudah menggiring bola, kelihatan lincah dan efisien.  Suatu hari dia harus segera ke ibu kota kabupaten kami untuk masuk Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah) untuk persiapan PORDA (Pekan Olah Raga Daerah) tingkat provinsi.  Sepanjang hari, entah berapa kali Radio Genura (Gema Nugraha), stasiun radio AM termasyur kala itu, mengumumkan nama-nama jago-jago bola yang tersebar di dusun-dusun kabupaten kami untuk segera melapor ke Pelatda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s