Sebenarnya, apakah uang itu?

A. Catatan muka


Artikel ini adalah terjemahan bebas dari artikel berbahasa Inggris yang berjudul asli “Money in the modern economy: an introduction” yang ditulis oleh Michael Mcleay, Amar Radia dan Ryland Thomas dari Bank’s Monetary Analysis Directorate, Bank of England. 

Upaya penterjemahan ini dilakukan semata-mata untuk sedikit berkonstribusi pada peningkatan pengetahuan finansial bangsa Indonesia.  Bangsa – sebagaimana bangsa-bangsa lain – yang kian terobsesi pada uang, tanpa memahami apa uang itu sebenarnya, bagaimana ia tercipta dan mengapa kita harus menanggung derita karena nilainya yang terus merosot seiring berjalannya waktu.

Bagi yang lebih tertarik untuk membaca artikel aslinya, anda boleh berhenti disini dan meluncur ke tautan ini http://www.bankofengland.co.uk/publications/Documents/quarterlybulletin/2014/qb14q1prereleasemoneyintro.pdf

B. Pendahuluan

Uang telah menjadi sesuatu yang teramat penting dalam hidup kita, tapi adakah kita pahami apa hakikat uang sesungguhnya?

Hakikat uang telah berubah seiring berjalannya waktu.  Uang hari ini merupakan suatu bentuk IOU (“I Owe yoU”) atau hutang atau janji suatu pihak untuk membayar atau menggantinya dengan sesuatu barang yang diperlukan oleh pihak lain.  Ia adalah IOU yang istimewa karena semua orang mempercayai bahwa setiap saat uang dapat ditukar dengan barang atau jasa yang diperlukan.

Ada tiga jenis uang yaitu uang tunai (uang kertas dan uang logam), bank deposit (simpanan di bank komersil) dan cadangan bank sentral.  Masing-masingnya merepresentasikan IOU dari suatu sektor ekonomi kepada sektor ekonomi yang lain. 

Simpanan di bank komersil merupakan jenis uang yang paling banyak jumlahnya.  Ia merupakan uang yang diciptakan oleh bank-bank komersil.

B.1. Apa syarat suatu benda dapat dikategorikan sebagai Uang?

Cara yang paling umum dalam mendefinisikan uang adalah melalui fungsi yang dapat ia lakukan. Sesuatu dapat dikatakan sebagai uang apabila ia dapat menjalankan tiga peran berikut ini dengan baik, yaitu:

  1. Sebagai penyimpan nilai (store of value).  Ia harus mampu mempertahankan nilainya dalam jangka waktu yang panjang.  Emas dan perak merupakan penyimpan nilai yang baik karena emas dan perak yang digali ratusan tahun lalu masih memilki nilai yang kurang lebih sama hingga hari ini.  Lain halnya dengan bahan makanan, yang nilainya langsung jatuh ketika ia menjadi basi dan tidak dapat dikonsumsi lagi.
  2. Sebagai penyata nilai (unit of account).  Ia haruslah dapat dipakai untuk menyatakan nilai suatu benda sehingga kita dapat membandingkan nilai benda itu dengan benda lainnya secara konsisten.  Dengan demikian kita bisa dengan segera mengatakan bahwa barang ori lebih mahal dari pada KW.
  3. Sebagai alat tukar (medium of exchange).  Fungsi ini yang memotivasi kita menyimpan uang karena kita tahu bahwa ia dapat ditukar untuk mendapatkan barang atau jasa yang kita butuhkan dimasa depan.  Secara historis, fungsi ini dianggap sebagai yang paling penting.  Adam Smith berpendapat bahwa uang sebagai alat tukar merupakan komponen yang paling esensial dalam peralihan dari subsistence economy menuju exchange economy.  Dalam subsistence economy setiap orang hanya mengkonsumsi  apa yang ia produksi.  Padahal jauh lebih efisien bila seseorang menjadi spesialis dalam memproduksi barang tertentu dan menukarkannya dengan orang lain yang spesialis memproduksi barang lain. 

Ketiga fungsi uang ini sesungguhnya saling terkait satu sama lain.  Benda yang bukan penyimpan nilai yang stabil akan menjadi alat tukar yang tidak berguna.  Itulah sebabnya, dinegara yang tingkat inflasinya tinggi dan nilai mata uangnya merosot tajam dalam waktu singkat, publik akan kehilangan kepercayaan pada mata uang sendiri dan beralih menggunakan mata uang asing yang lebih stabil.  Bahkan pemerintah mungkin harus menyatakan bahwa mata uang mereka telah mati, tidak digunakan lagi dan ditukar dengan mata uang baru.

Meski alat tukar mestinya penyimpan nilai yang baik, tidak semua benda yang dapat menyimpan nilai bisa dijadikan alat tukar.  Rumah misalnya, nilainya stabil bahkan terus meningkat seiring berjalannya waktu, tetapi tidak dapat dipakai sebagai alat tukar untuk mendapatkan jasa atau barang lain.

Demikian pula, alat tukar suatu negara mestinya juga merupakan penyata nilai yang umum dinegara itu.  Jual beli di Indonesia menjadi mudah dan efisien karena harga barang-barang ditoko dinyatakan dalam rupiah dan mayoritas pembeli memiliki rupiah dalam dompet mereka yang kemudian digunakan untuk mendapatkan barang-barang.  Bayangkan, betapa ribetnya kalau kita digaji Rupiah tapi makan di warteg kudu bayar pake US Dollar.  Setiap mau makan kita mesti ke kios penukar uang dulu.  Dimasa Rupiah terus melemah terhadap dollar, kita pusing karena semangkuk sayur asem sudah tak terbeli.     

B.2. Uang adalah IOU atau aset finansial

Uang dalam sistem ekonomi modern adalah IOU yang spesial, atau dalam bahasa ekonomi, uang adalah aset finansial (financial asset).

Gambar 1. Uang dan berbagai aset dan liability

Aset finansial adalah tuntutan atau klaim seseorang terhadap orang lain di dalam ekonomi, dengan kata lain, IOU kepada seseorang, bank atau pemerintah.  Aset finansial sesungguhnya bisa diciptakan oleh pemilik aset non-finansial.  Sebagai contoh, pemilik sebidang tanah (aset non-finansial) memutuskan untuk menyewakan sebagian lahannya kepada seorang petani dengan imbalan ia akan mendapat sebahagian dari hasil panen dimasa depan.  Pemilik tanah akan memiliki lahan lebih sedikit dibanding sebelumnya, tetapi ia kini memiliki aset finansial, yaitu tuntutan atau klaim terhadap sebagian dari hasil panen yang diproduksi oleh petani dari lahan yang disewakan.  

Namun demikian, didunia nyata hari ini, sebagian besar aset finansial adalah tuntutan atau klaim terhadap aset finansial yang lain.  Investor yang membeli bond (sertifikat hutang) yang diterbitkan sebuah perusahaan pertanian, tidak akan mendapat imbalan berupa hasil panen.  Akan tetapi, perjanjian bond biasanya menyatakan bahwa pemegang bond (investor) memiliki piutang berupa uang, dan ia akan mendapat imbalan berupa uang juga yang diperoleh oleh perusahaan pertanian dengan menjual hasil panennya kepada pihak lain.

Karena aset finansial merupakan tuntutan seseorang terhadap orang lain dalam suatu ekonomi, maka ia juga merupakan kewajiban finansial (financial liability).  Dengan kata lain, aset seseorang merupakan kewajiban orang lain. Ada piutang, ada hutang.    Dalam ekonomi yang tertutup (closed economy), liabilitas finansial sama jumlahnya dengan aset finansial.  Indah bukan, segala sesuatu dialam semesta ternyata memang berpasangan?   

Bila seseorang meminjam uang dari bank untuk membeli rumah, ia sesungguhnya bersedia menanggung beban untuk membayar bank sejumlah uang dalam jangka waktu tertentu (kewajiban).  Disisi lain, bank mendapatkan hak untuk menerima pembayaran tersebut (aset).  

Lain halnya dengan aset non-finansial, ia bukanlah tuntutan terhadap pihak lain.  Jika seseorang memiliki sebatang emas, tidak ada orang lain yang berhutang padanya senilai emas itu, jadi kita tidak mengenal adanya liabilitas (kewajiban) non-finansial.

Jika semua orang didalam suatu ekonomi mengumpulkan seluruh aset finansial dan kewajiban finansial yang mereka miliki, maka aset-aset dan kewajiban-kewajiban itu akan saling meniadakan satu sama lain.  Sehingga yang tersisa adalah aset non-finansial saja.  Jadi, aset finansial (uang) itu sesungguhnya imajiner, tidak nyata? Apakah uang dan sektor keuangan yang kita puja-puji selama ini adalah ilusi semata? Jadi, yang nyata atau real hanyalah sektor non-finansial?  Mari kita lanjutkan, siapa tahu semua atau sebagian pertanyaan kita ini menemukan jawabannya.

B.3. Mengapa uang begitu spesial?

Pada prinsipnya, untuk menelusuri siapa yang memiliki piutang dan utang akan barang dan jasa dalam suatu ekonomi, uang sebagai aset finansial khusus tidaklah diperlukan.  Semua orang dalam suatu ekonomi dapat menciptakan aset dan liabilitas finansial sendiri dengan menerbitkan IOU setiap saat mereka ingin membeli sesuatu dan kemudian mencatatnya disebuah buku besar (ledger).  Sesungguhnya para pedagang abad pertengahan Eropa telah melaksanakan praktek ini dimana mereka berniaga satu sama lain dengan menerbitkan IOU.  Selanjutnya pusat perdagangan (merchant house) secara periodik akan menyelesaikan atau off-set semua tuntutan.

Persoalannya adalah sistem seperti ini hanya akan berjalan bila semua orang yang terlibat berkeyakinan bahwa orang lain sepenuhnya dapat dipercaya (trustworthy).  Kalau tidak, mereka akan khawatir bahwa beberapa IOU yang mereka pegang mungkin berasal dari orang-orang yang tidak akan membayarnya ketika mereka menebusnya.    

Nah, sesungguhnya uang hadir sebagai institusi sosial yang memberi solusi pada persoalan “saling tidak percaya” ini.  Ia memainkan peranan dalam exchange atau perdagangan karena uang adalah suatu bentuk khusus dari IOU, dimana uang dalam ekonomi modern merupakan IOU yang dipercayai oleh semua orang di dalam suatu ekonomi.  Karena semua orang mempercayai uang, mereka akan menerimanya dengan senang hati sebagai pengganti barang atau jasa yang mereka berikan kepada pihak lain.  Jadi uang dapat diterima secara umum sebagai alat tukar.    


C. Jenis-jenis Uang

Di atas telah kita bahas bahwa meski banyak barang dan jasa memiliki kemampuan menjalankan fungsi uang, uang hari ini merupakan IOU yang spesial.  Untuk memahami konsep ini lebih lanjut, ada baiknya kita membahas jenis-jenis uang yang beredar didalam ekonomi modern – yang mana setiap jenisnya merupakan IOU dari kelompok pelaku ekonomi yang berbeda.

Dalam pembahasan ini, pelaku ekonomi dipecah menjadi 3 (tiga) kelompok utama yaitu Bank Sentral, Bank komersil dan sektor swasta yang terdiri dari rumah tangga dan perusahaan, yang sering pula disebut sebagai konsumen.

Berangkat dari pengelompokan pelaku ekonomi ini, uang pun selanjutnya dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

  1. Currency (uang tunai) berupa uang kertas dan uang logam.  Ia merupakan IOU dari Bank Sentral kepada sektor swasta atau konsumen.
  2. Bank deposits (tabungan di bank umum). Ia adalah IOU dari bank umum kepada sektor swasta atau konsumen.
  3. Central Bank Reserve (Cadangan Bank Sentral). Ia adalah IOU dari bank sentral kepada bank umum.

Dari ketiga jenis uang diatas, selanjutnya tercipta dua definisi turunan dari uang yaitu   

  • Broad money yaitu uang yang tersedia bagi atau dikuasai oleh sektor swasta/konsumen untuk bertransaksi.  Pada dasarnya Broad money = Currency + Bank deposit.
  • Base money atau Central bank money yaitu IOU dari bank sentral kepada dua pelaku ekonomi lainnya.  Jadi, Base money = Currency + Central bank reserve.  Konsep base money ini penting karena dengannya Bank sentral dapat mengimplementasikan kebijakan moneter.


C.1. Siapa berhutang kepada siapa?

Cara paling mudah untuk memetakan IOU yang melibatkan pihak-pihak berbeda adalah melalui menggambarkan neraca para pelaku ekonomi.  Sebagaimana disebutkan sebelumnya, setiap IOU adalah liabilitas atau kewajiban finansial bagi seseorang, yang mana besarannya tepat sama dengan aset finansial yang dimiliki orang lain.  Maka, untuk setiap individu, neracanya dibentuk oleh, disatu sisi penjumlahan dari semua asetnya (IOU dari orang lain dan aset non-finansial); dan disisi lain, penjumlahan semua kewajibannya (atau hutang – berupa IOU yang ia terbitkan untuk orang lain).
Gambar 2. Neraca berbagai kelompok pelaku ekonomi sebagai pemegang dann pencipta uang

Bila setiap neraca individu disetiap kelompok pelaku ekonomi dijumlahkan, akan didapatkan neraca konsolidasi yang menunjukkan IOU dari suatu kelompok kepada kelompok lain (lihat ilustrasi pada gambar 2 diatas).  Broad money diwakili oleh gabungan aset merah dan biru yang dikuasai oleh konsumen, sedangkan base money direpresentasikan oleh gabungan biru dan hijau.  Perlu dicatat bahwa ilustrasi ini tidak digambar dengan skala yang akurat – pada kenyataannya broad money lebih besar jumlahnya dari pada base money.

Dapat dilihat pula bahwa setiap jenis uang ada pada sekurangnya dua neraca, karena aset bagi suatu kelompok merupakan liabilitas bagi yang lain.  Ada banyak aset dan liabilitas lain yang tidak memenuhi syarat-syarat fungsi uang (segala sesuatu diluar lingkaran ungu pada gambar 1; sebagian diperlihatkan didalam kotak putih pada gambar 2.  Contohnya, hutang konsumen seperti mortgage; yang merupakan kewajiban konsumen dan aset bagi bank umum).   


C.2. Fiat Currency (Uang Tunai)

Sebagian besar uang tunai adalah berupa uang kertas (94% dari total nilai bulan Desember 2013 di England), yang sebagian besarnya berupa IOU dari Bank of England (Bank Sentral) kepada keseluruhan ekonomi.  Sebagian besar uang tunai dipegang oleh konsumen (rumah tangga dan perusahaan), meski bank komersil juga menguasai dalam jumlah relatif kecil untuk memenuhi kebutuhan penarikan tabungan oleh nasabah.  Uang tunai merupakan “janji” bank sentral untuk membayar si pemegang uang tersebut, atas permintaan si pemegang, senilai yang tertera pada uang itu.  Dengan demikian, uang merupakan kewajiban (hutang) bagi bank sentral dan merupakan aset bagi pemegangnya.

Pada saat Bank of England didirikan pada tahun 1694, uang tunai yang diterbitkannya dapat lasngsung dialihkan kedalam bentuk emas.  Proses menerbitkan ‘uang kertas’ yang dapat dialihkan menjadi emas sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum Bank of England didirikan, yakni ketika pengrajin emas mulai memberi layanan menyimpan koin emas bagi para pelanggan mereka. Pengrajin emas ini akan menerbitkan sebuah nota untuk koin yang disimpan padanya dan nota-nota ini segera beredar sebagaimana layaknya uang.  Dengan demikian, si pengrajin emas telah merangkap peran sebagai bank juga.

Bank of England sesungguhnya mempertukarkan uang kertas dan emas dengan cara yang sama dengan tukang emas abad pertengahan – dimana bank sentral siap setiap saat menukar uang kertas dari seseorang, atas permintaan orang tersebut, dengan emas yang ada dalam simpanan bank sentral.  Konsep uang seperti ini, disebut ‘the gold standard’ bertahan hingga 250 tahun berikutnya, sampai saat Bank of England berhenti menawarkan penukaran uang kertas dengan emas pada tahun 1931, agar Inggris dapat mengelola ekonominya dengan lebih baik (fleksibel) selama Great Depression.

Dengan begitu, sedari tahun 1931, uang yang diterbitkan oleh Bank of England telah menjadi fiat money.  Fiat atau ‘paper’ money adalah uang yang tidak dapat dialihkan atau ditukarkan ke aset yang lain (seperti emas atau komoditi lainnya). 

Dikarenakan fiat money diterima oleh semua orang dalam sebuah ekonomi sebagai alat tukar, meskipun Bank of England sesungguhnya berhutang kepada pemegang uang itu, hutang itu hanya dapat dibayar dengan fiat money juga.  Bank of England berjanji akan membayar hutangnya dengan menukarkan uang kertas dengan uang kertas, termasuk untuk uang kertas yang tidak lagi dipakai sebagai alat tukar atau secara resmi telah ditarik dari peredaran, dengan nominal yang sama sepanjang masa.


C.2.1. Mengapa orang-orang menggunakan fiat money?

Dalam hal mengelola ekonomi suatu negara, fiat money menawarkan keuntungan atau fleksibilitas dibandingkan the gold standard (mengaitkan uang dengan emas).  Dengan menghapuskan the gold standard pada tahun 1931, Inggris mendapatkan kontrol yang lebih atas uang didalam ekonominya.  Mereka mampu menurunkan nilai mata uang mereka relatif terhadap negara-negara lain yang masih mengaitkan mata uang kepada emas (dan ini disertai dengan peningkatan jumlah uang beredar), walapun banyak ahli sejarah meragukan langkah ini benar-benar telah membantu Inggris keluar dari resesi tahun 1930-an.

Meski menggunakan fiat money menguntungkan dalam mengelola ekonomi, ia hanya akan berdampak apabila semua individu memutuskan untuk menggunakannya sebagai alat tukar.  Tapi, anda mungkin bertanya-tanya, jika uang kertas tidak dikaitkan secara langsung dengan sesuatu yang riil, lalu apa yang akan membuatnya diterima secara universal sebagai alat tukar?  Salah satu jawabannya adalah bahwa alat tukar terpercaya muncul sebagai hasil dari konvensi (kesepakatan) sosial atau historis.  Ada banyak konvensi semacam itu muncul didalam masyarakat. Sebagai contoh, pengendara kendaraan bermotor berkendara disisi kiri jalan, dan konvensi ini bermula ketika cukup banyak pengendara yakin bahwa sebagian besar pengendara lain juga akan melakukan hal yang sama.

Namun dalam hal uang, konvensi semacam itu tidaklah efektif, negara harus memainkan peran dalam evolusinya.  Untuk dapat memegang uang tunai dengan tenang, rakyat perlu diyakinkan bahwa pada titik tertentu akan ada seseorang yang siap menukar uang yang dipegangnya dengan barang atau jasa yang riil, dimana negara dapat membantu dengan memberikan jaminan bahwa hal itu akan terjadi.  Salah satu cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk memastikan bahwa akan selalu ada permintaan atas mata uangnya adalah dengan menerimanya sebagai pembayar pajak.  Pemerintah dapat pula mempengaruhi permintaan uang dengan menyatakan bahwa mata uangnya merepresentasikan ‘legal tender’.    

Bahkan jika negara berusaha ‘memaksakan’ penggunaan mata uang dengan cara ini, ia tidak dengan sendirinya memastikan bahwa rakyat akan (atau terikat secara hukum) menggunakannya.  Mereka perlu diyakinkan bahwa uang kertas mereka benar-benar bernilai, yang berarti bahwa menjadi sangat penting uang kertas itu tidak mudah dipalsukan.  Rakyat juga perlu memiliki kepercayaan bahwa nilai uang kertas mereka akan tetap stabil seiring berjalannya waktu, jika mereka memutuskan untuk memegangnya sebagai penyimpan nilai sekaligus alat tukar.  Ini berarti pemerintah haruslah memastikan tingkat inflasi yang rendah dan stabil.

Sejak the gold standard ditinggalkan pada tahun 1931, banyak cara untuk mempertahankan nilai mata uang telah dicoba, dengan tingkat keberhasilan yang beragam.  Sebagai contoh, di tahun 1980-an, ada kebijakan yang bertujuan mempertahankan pertumbuhan jumlah broad money dalam ekonomi agar selalu stabil seiring berjalannya waktu.  Sejak 1992, Bank of England memasang target inflasi untuk consumer prices.  Melalui target inflasi berarti Bank sentral berkomitmen untuk menjaga nilai uang stabil terhadap banyaknya barang atau jasa yang dapat dibeli dengannya.  Jadi, dari pada mempercayai bahwa mata uang mereka bernilai sama dengan emas dengan berat tertentu, rakyat diharap meyakini bahwa ia akan bernilai stabil terhadap produk-produk riil dari tahun ke tahun.


   

C.2.2 Bagaimana uang tunai tercipta?

Bank of England (dan bank sentral lainnya) memastikan bahwa ia menerbitkan uang tunai dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan publik.  Pertama-tama Bank sentral mengatur pencetakan uang kertas oleh perusahaan pencetakan uang.  Bank sentral kemudian menukarkan uang kertas baru cetak itu dengan uang kertas lama yang ada pada bank-bank komersil – yang mana uang lama itu mungkin sudah terlalu rusak untuk diedarkan atau berasal dari seri yang sudah ditarik secara resmi dari peredaran.  Uang-uang kertas usang itu kemudian dihancurkan oleh bank sentral.

Permintaan akan uang kertas pada umumnya meningkat sepanjang waktu.  Untuk memenuhi permintaan extra ini, bank sentral perlu menerbitkan sejumlah uang tubai melebihi kebutuhan untuk mengganti uang kertas usang.  Uang kertas baru tambahan ini kemudian dibeli oleh bank-bank komersil dari bank sentral.  Bank-bank komersil itu membayar uang-uang kertas tersebut (IOU dari bank sentral) dengan IOU elektronik yaitu central bank reserve.  Besaran neracanya tidak berubah tetapi perbandingan antara komponen hijau dan biru pada grafik menjadi berubah.

C.3. Bank Deposits (Tabungan di Bank Umum)

C.3.1. Apakah Bank Deposits itu?

Uang tunai sesungguhnya hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan uang yang dikuasai masyarakat dan perusahaan dalam suatu ekonomi.  Selebihnya merupakan simpanan di Bank.  Untuk alasan keamanan, konsumen umumnya menghindari menyimpan semua aset mereka dalam bentuk uang tunai.  Lagi pula uang tunai tidak menghasilkan bunga, membuatnya tidak attraktif untuk ditumpuk.  Karena itu, konsumen cenderung menyimpannya dalam alat tukar alternatif yaitu simpanan di bank umum.  Bank deposit bisa dalam banyak bentuk, seperti rekening koran, rekening tabungan, deposito, bond yang diterbitkan bank dan lain-lain.  Dalam ekonomi modern deposit-deposit ini umumnya dicatat secara elektronik.

C.3.2. Mengapa publik menggunakan bank deposit?

Ketika seseorang menyimpan uang pada sebuah bank komersil, mereka pada dasarnya menukarkan IOB dari bank sentral dengan IOU dari bank komersil.  Bank komersil mendapatkan uang kertas tambahan, tetapi untuk itu ia harus mengkreditkan nilai yang disimpan itu kedalam rekening nasabah.  Nasabah hanya menukar mata uang mereka dengan deposit bank karena mereka yakin bahwa mereka akan selalu dibayar kembali.  Oleh karena itu bank harus memastikan bahwa mereka dapat senantiasa memenuhi permintaan uang tunai dari penabung atau penyimpan sebagai pembayaran atas IOU yang mereka terbitkan.  Untuk sebagian besar penabung perorangan (rumah tangga), simpanan mereka dijamin atau digaransi hingga besaran tertentu, untuk memastikan bahwa konsumen tetap percaya pada mereka.  Di Indonesia penjaminan ini dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).  Hal ini memastikan bahwa simpanan di bank dapat dengan mudah dicairkan (ditukarkan dengan uang tunai) dan dapat digunakan sebagai alat tukar.

Dalam ekonomi modern, bank deposit semakin dipandang sebagai jenis uang yang standard (the default type of money).  Kebanyakan orang sekarang menerima gaji dalam rekening mereka, bukan lagi uang tunai.  Dan, daripada menukarkan tabungan itu dengan uang kertas, banyak konsumen menggunakannya sebagai penyimpan nilai dan alat tukar.  Sebagai contoh, ketika konsumen berbelanja dengan kartu debit, sektor perbankan mengurangi yang mereka pinjam kepada konsumen – tabungan konsumen pun berkurang – sementara bank menaikkan besaran hutangnya kepada toko – tabungan toko meningkat. Dengan demikian, konsumen telah menggunakan tabungan secara langsung sebagai alat tukar tanpa harus melakukan penarikan uang tunai terlebih dahulu.

C.3.3. Bagaimana bank deposit tercipta?

Berbeda dengan uang tunai, yang diciptakan oleh bank sentral, bank deposit pada umumnya diciptakan oleh bank-bank komersil.  Cadangan deposit bank meningkat setiap kali seseorang menyetorkan uang tunainya kedalam rekeningnya, dan akan berkurang setiap saat seseorang melakukan penarikan.

Lebih jauh, sebagaimana ditunjukkan oleh grafik, jumlah uang kertas sangat kecil dibandingkan bank deposit.  Yang jauh lebih signifikan dampaknya bagi penciptaan bank deposit (penciptaan uang) adalah aksi penyaluran pinjaman oleh bank komersil ke konsumen (rumah tangga maupun perusahaan).  Pada saat sebuah bank mengucurkan pinjaman kepada salah seorang nasabahnya, bank sebenarnya hanya mengkredit rekening simpanan nasabah sejumlah yang dipinjamkan.  Tepat pada detik itulah, uang baru telah diciptakan.

Bank diperbolehkan menciptakan uang baru karena bank deposit sebenarnya hanyalah IOU dari bank komersil; Kemampuan bank menciptakan IOU tidak berbeda dengan orang lain dalam sebuah ekonomi.  Ketika bank mengucurkan pinjaman, peminjam sesungguhnya telah menciptakan IOU kepada bank.  Bedanya, IOU dari bank (bank deposit) diterima secara luas sebagai alat tukar – yaitu uang.
  
Namun demikian, kemampuan bank umum dalam menciptakan uang bukanlah tanpa batas.  Besaran uang yang bisa mereka ciptakan dipengaruhi oleh banyak faktor, setidaknya kebijakan bank sentral dalam hal moneter, stabilitas keuangan dan regulasi.



C.4. Cadangan Bank Sentral

Bank umum perlu memiliki sejumlah uang tunai untuk memenuhi penarikan tabungan oleh nasabah dan aliran keluar lainnya.  Tapi, menggunakan uang tunai secara fisik untuk volume transaksi yang besar yang mereka lakukan setiap hari satu sama lain (sesama bank komersil) akan sangat merepotkan.  Oleh karena itu, bank umum diizinkan untuk memegang IOU dalam bentuk lain dari bank sentral (selain uang tunai) yang dikenal sebagai cadangan bank sentral.  Ia sesungguhnya hanya berupa catatan elektronik mengenai berapa jumlah hutang bank sentral kepada setiap bank komersil.

Cadangan ini merupakan alat tukar yang sangat berguna bagi bank komersil, persis seperti tabungan bagi rumah tangga dan perusahaan.  Memang benar, bagi bank komersil, rekening cadangannya di bank sentral memainkan peran yang serupa dengan tabungan individu di bank komersil.  Bila sebuah bank komersil hendak melakukan pembayaran kepada bank komersil lainnya (karena mereka lakukan ini setiap hari, dalam skala besar, akibat dari berbagai transaksi yang dilakukan oleh para nasabah), mereka akan meminta bank sentral untuk melakukan perubahan catatan (adjustment) pada rekening cadangan mereka.  Proses ini yang di Indonesia kita kenal sebagai kliring. 

Bank sentral juga menjamin bahwa cadangan bank sentrak ini dapat ditukar dengan uang tunai bila  bank komersil membutuhkannya.  Sebagai contoh, jika begitu banyak individu yang ingin mencairkan tabungannya, bank komersil dapat menukar cadangannya dengan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan nasabah.  Sebagai penerbit uang tunai, bank sentral dapat memastikan bahwa akan selalu tersedia cukup uang untuk memenuhi permintaan tersebut.

D. Kesimpulan

Artikel ini telah memperkenalkan hakikat uang dan berbagai jenis uang yang eksis didalam sebuah ekonomi.  Uang hari ini adalah sejenis hutang, tapi hutang yang spesial karena ia diterima sebagai alat tukar dalam ekonomi.  Sebagian besar uang adalah dalam bentuk bank deposit, yang diciptakan oleh bank komersil itu sendiri.


Barangkali belum semua pertanyaan kita tentang uang telah terjawab, tapi mudah-mudahan artikel ini bermanfaat meningkatkan pemahaman kita dan menjadikan kita lebih bijak ketika berinteraksi dengan uang.

Advertisements

One thought on “Sebenarnya, apakah uang itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s