Hijrah ke Sudung Palupuh

Dua puluh tiga Oktober seribu sembilan ratus delapan puluh, adik bungsuku lahir. Ibu mengajar di SMP yang jaraknya dua kilo meter dari rumah.  Abak mulai sering menginap di ladang, setelah beberapa anak ladang (peladang penggarap yang bekerja sama dengan pemilik ladang melalui skema bagi hasil) tidak ada yang becus.  Abak marabo (marah besar) dan memutuskan untuk menggarap sendiri ladangnya.
Waktu itu usiaku lima tahun dan adik perempuan dibawahku tiga tahun.  Tiga orang anak yang masih kecil dan jarak yang relatif jauh ke tempat kerja menimbulkan kerepotan bagi Abak dan Ibu.  Kami tidak punya pembantu rumah.
Satu-satunya kendaraan yang kami punya adalah sepeda tua yang biasa dipakai Abak berkelana dari pekan (pasar) ke pekan ketika ia masih menjadi penjahit keliling.  Tidak ada yang tahu bila sepeda itu dibuat, tapi kuat dugaanku tidak lama setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, atau bahkan sebelumnya.  Persoalannya, sepeda itu adalah sepeda tinggi model lama dengan batang pipa besi melintang dari depan dibawah stang ke belakang bawah tempat duduk.  Ibu yang sehari-hari menggunakan rok atau baju kurung tidak akan bisa mengendarainya.  Di kampung kami sepeda ini biasa disebut sepeda laki-laki, gara-gara besi melintang itu.
Singkat cerita, Abak dan Ibu memutuskan bahwa kami sekeluarga harus pindah rumah, mendekat ke sekolah tempat Ibu mengajar.  Bahkan sangat dekat, karena Kepala Sekolah mengizinkan kami tinggal di tanah kosong disisi kanan bangunan sekolah.  Tanah itu masih milik sekolah, tapi tidak digunakan untuk apa-apa, ditumbuhi semak saja. 
Sebenarnya dibagian depan tanah itu telah berdiri sebuah rumah semi permanen, setengah tembok cor dan setengah papan, bercat warna hijau dan beratap seng.  Disisi kanan belakang rumah itu ada sumur.  Rumah itu milik Koramil (Komando Rayon Militer) yang markasnya sekitar empat ratus meter ke utara.  Biasa ditempati oleh prajurit selevel Sersan Kepala atau Sersan Mayor beserta keluarganya.  Sementara Danramil yang biasanya berpangkat Letnan Dua tinggal disebelah markas Koramil. Entah bagaimana ceritanya rumah itu bisa tercampak cukup jauh dari markas dan perumahan prajurit lainnya.
Disisi paling belakang tanah milik sekolah itu berdiri kantor kecil permanen yang merupakan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kecamatan kami.  Kami biasa menyebutnya kantor Kadep (Kepala Departemen) sebagaimana kami memanggil kepala kantor kecil itu dengan sebutan Pak Kadep.
Kami diizinkan untuk menggunakan lahan kosong ditengah diantara rumah tentara dan kantor Kadep.  Tiada bangunan diatasnya, maka kami harus membangun rumah sendiri.  Rasanya tak patut dinamakan rumah, ia lebih tepat disebut Sudung Palupuh.  Sudung adalah bahasa setempat untuk bangunan kecil seadanya untuk berteduh atau bermalam ditengah ladang atau sawah.  Kata Bahasa Indonesia yang paling dekat maknanya barangkali adalah ‘gubuk’.  Sedangkan Palupuh adalah dinding yang terbuat dari sebatang betung atau bambu besar yang dihamparkan menjadi lembaran persegi panjang.
Pekerjaan menghamparkan tabung bambu menjadi lembaran itu terlihat sederhana, hanya dengan mencabik-cabik daging bambu itu secara memanjang, menjadi belahan-belahan tak terputus yang saling berdampingan, serta dengan menghilangkan bagian tengah yang terdapat disetiap bukunya.  Tapi sesungguhnya ia memerlukan keahlian khusus dan tidak semua orang dapat melakukannya.  Ia juga pekerjaan yang beresiko tinggi karena tajamnya sembilu.
   
Buku disini bukanlah tumpukan kertas untuk dibaca, melainkan bagian yang keras dan sedikit menonjol dari pohon bambu.  Buku memisahkan satu ruas dengan lainnya.  Buku pula tempat tumbuhnya tunas. Bila dibalik setiap ruas adalah ruang kosong, namun dibalik setiap buku ada bagian yang tersambung and menutup.  Dapat dibayangkan, bila dipotong, bambu bisa difungsikan sebagai gelas, dimana bagian buku menjadi dasarnya.  Buku juga berfungsi memperkokoh tegaknya batang bambu agar tidak mudah patah tertiup angin atau gangguan lain.
  
Mak Uman, Usman nama aslinya, orang Pariaman, adalah pembuat palupuh paling piawai dikampung kami. Istrinya berjualan beraneka jajanan dan permen dengan gerobak putih yang diparkir di Simpang Tiga, pusat keramaian kampung kami.  Dilambung gerobak itu tertulis ‘PARIS’, singkatan dari ‘Pariaman dan Sekitarnya’.  Mak Uman lah yang masuk hutan, memilih bambu yang tepat tua dan besarnya, menebangnya lalu memikulnya menuruni bukit.  Bermodalkan kapak besar yang tajam mulailah ia mencacah batang bambu itu secara memanjang, membentuk bilah-bilah yang tak terputus, saling tersangkut satu sama lain.  Hingga mana kala sekujur tubuh betung habis dicacah maka menghamparlah bambu itu menjadi palupuh.  Mak Uman dibantu Abak dan beberapa orang lain membangun sudung palupuh kami.
Rangka rumah kami adalah pohon-pohon kayu manis (casia vera) yang cukup besarnya.  Kayu-kayu bulat itu tidak ditarah menjadi balok persegi empat, hanya dibersihkan dari ranting-ranting. 
Rumah utama berukuran kurang lebih 8mx5m, menghadap ke utara dan lantainya berada kurang lebih 1m diatas permukaan tanah.  Jadi gubuk kami adalah rumah panggung. Disebelah kiri bangunan utama (sisi barat) ditambahkan sayap untuk ruang tidur utama berukuran 5mx3m, tapi lantainya tidak setinggi bangunan utama, mungkin sekitar 60cm saja.  Dibagian belakang bangunan utama (sisi selatan) ditambahkan bangunan sayap lainnya berukuran sekitar 8x3m yang selanjutnya dipotong menjadi dua bagian.  Bagian pertama sekitar dua pertiganya diberi lantai palupuh kurang lebih 60cm dan sepertiga lainnya dibiarkan berlantai tanah.
Dilantai tanah itu, disusun enam batu besar membentuk dua tungku untuk memasak dengan kayu bakar.  Tiga batu untuk satu tungku, bak pepatah ‘tigo tungku sajarangan’.  Sementara bagian yang berlantai bambu dibelah dua lagi, sebagian untuk menyimpan barang pecah belah dan alat-alat memasak Ibu dan sebagian lagi diujung yang lain sebagai kamar tidur kecil.
Disisi depan dari rumah utama ada palanta (beranda) menjorok keluar, berukuran sekitar 2mx2m, berlantai palupuh 1m dari permukaan tanah, sama tingginya dengan lantai rumah utama.  
Disisi timur dari palanta itu ada tangga yang merupakan akses utama naik ke rumah.  Tangga itupun seadanya, seluruhnya terbuat dari kayu kulit manis, termasuk anak tangganya yang hanya ada tiga.  Sisi atas dari anak-anak tangga itu diratakan untuk tempat berpijak.  Bagaimanapun, setiap orang harus berhati-hati naik turun tangga itu, salah langkah sedikit berarti tergelincir dan jatuh.  Sisi-sisi lain dari palanta itu, selain sisi yang menempel ke badan rumah utama, diberi pagar pelindung dan bambu yang ditelungkupkan melintang untuk duduk-duduk melepas penat.
Seluruh dinding dan lantai rumah itu adalah palupuh.  Untuk dinding, bagian dalam palupuh dihadapkan keluar dan untuk lantai bagian dalam itu dihadapkan kebawah.  Intinya permukaan palupuh paling mulus menghadap kebagian dalam rumah.  Lembar-lembar palupuh itu dilekatkan dengan memakunya ke kayu-kayu rangka.  Agar melekat kuat, diatas palupuh ditempelkan bilah-bilah bambu selebar 6cm sampai 8cm dimana paku akan ditancapkan.  Akan tetapi paku tidak bisa langsung ditancapkan diatas bilah-bilah bambu begitu saja karena itu akan memecah atau membelahnya sehingga tujuan untuk memperkuat cengkeraman palupuh ke rangka tidak akan tercapai.  Untuk menghindarinya, titik dimana paku hendak dihujamkan harus dilukai terlebih dahulu demi mengelupaskan kulit bambu yang getas itu.
Dinding palupuh yang telah terpasang tentu sarat celah-celah memanjang hasil cacahan Mak Uman, sang maestro palupuh.  Malam akan dingin menggigit bila celah-celah itu dibiarkan menganga.  Untuk menutupnya, kami menggunakan kertas bekas kantong Semen Padang yang ditempelkan diseluruh permukaan dinding bagian dalam.  Bubur tepung kanji menjadi perekatnya. 
Sedangkan lantai bambu kami tutupi dengan tikar untuk melindungi telapak dari tajamnya sembilu.  Seluruh sisi dinding luar dilumuri kapur, sehingga gubuk kami berwarna putih.
Sementara itu atap rumah bambu itu seluruhnya atap seng, yang bila hujan turun berisiknya minta ampun.  Orang yang sedang asyik bercakap-cakap sambil minum kopi tiba-tiba harus saling berteriak seakan-akan bertengkar, demi mengalahkan deru hujan.
Adapun daun pintu dan jendela sudung kami terbuat dari kayu.  Tidak ada kaca sama sekali.  Ruang utama punya dua jendela, satu disisi utara dan satu disisi timur. Tiap kamar tidur juga punya satu jendela kecil.  Sementara dapur tidak berjendela, tapi ibu selalu membuka pintu lebar-lebar bila sedang memasak.
Demikianlah, beberapa hari sebelum cuti melahirkan Ibu berakhir, kami sekeluarga pindah ke rumah baru.  Dekat dengan sekolah dan kantor-kantor pemerintahan yang bermartabat, namun jauh dari keramaian dusun yang hangat.  Menjenuhkan.  Tapi Tuhan yang Maha Penyayang mendengar doa kami.  Tidak lama kemudian kesunyian berganti keriuhan gerombolan simpai (monyet berwarna jingga cerah) menyerbu ladang cabai dan dentuman kaki-kaki babi hutan yang berlomba membongkar umbi singkong.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s