Hikayat Uang

Dulu….
Manusia tak pandai berniaga
mereka cukup dengan segala apa yang ada, apa yang diburu, dicari, ditanam atau digembala…
Manusia mengembara, bertemu lain bangsa beraneka rupa, adat dan bahasa
Mereka saling sapa kenal mengenal
Kebutuhan dan keinginan kian berkembang
Manusia sadar tak mungkin penuhi sendiri semuanya
Maka bermulalah tukar menukar
Lahirlah pasar
Pasar kian ramai dan padat
Kabilah dari negeri jauh dan dekat
Pergi pulang sarat muatan yang ditukar
Betapa berat dan sukar
Tapi Allah ciptakan logam mulia
Emas dan perak
Kecil wujudnya, besar nilainya
Idaman manusia kaya dan papa
Apapun boleh ditukar dengannya
Harta boleh disimpan didalamnya
Ia kekar nilainya tiada banyak susut kembangnya
Tabiat manusia senantiasa
Mencari mudahnya saja
Logam mulia kecil dan berharga
Dirasa berat dan menyusahkan saja
Mereka titipkan pada pandai emas terpercaya
Yang menerbitkan nota dibawa kemana saja
Nota tanda orang berpunya harta
Nota menjadi mulia
boleh ditukar dengan apa saja
Pandai emas terpercaya menyimpan harta nyatanya
Yang tiada susut kembangnya
Nota kian mulia
Berpindah tangan dari siapa ke siapa
Tiada yang bertanya
Apatah emasnya ada dimana
Karena pandai emas terpercaya
Berganti masa, berbilang bangsa
Tabiat manusia sama saja
Hendak mudahnya senantiasa
Malas melawat pandai emas terpercaya 
Walau sekedar bertanya
Apatah emasnya ada dimana
Eureka!
Sang pandai emas bercahaya matanya
Karena ilham bijaksana melintas dikepala
Betapa kian lama kian sedikit yang tiba Melawat meminta emas atau sekedar bertanya
Apatah emas ada dimana
Karena nota kian mulia
Bila demikian adanya
Beta boleh menulis lebih banyak nota
Meski emasnya tiada pernah ada
Bukankah yang datang meminta hanya segelintir saja
Timbunan emas senantiasa cukup karenanya
Itulah sejarah uang kertas awal mulanya
Dibeli semua apa saja dengannya
Berpindah tangan dari siapa ke siapa
Uang kertas kian mulia
Melebihi Tuhan Maha Mulia
Ia paksa raga, kuasai hati, tundukkan jiwa
Semua dikuras untuk persembahan padanya
Bekerja keras untuk mendapatkan uang, insan merasa
Padahal bekerja keras untuk uang, sejatinya
Mula cerita, uang kertas merajalela adalah sebanyak emas yang ada
Yang dipunya dan dijaga oleh Diraja
Namun ilham pandai emas terkenang jua
Hanya segelintir saja yang tiba untuk meminta
Atau sekedar bertanya
Apatah emasnya ada dimana
Tak apalah Diraja mencetak banyak 
Uang kertas sebagai nota
Melebihi emas yang ada
Toh emas kan cukup saja tiada binasa
Waktu berlalu terus begitu
Uang melimpah emas terbatas
Tapi semua baik-baik sahaja
Seolah uang dan emas tiada sangkut pautnya
Lalu mengapa pula kita mengaitkannya
Ceraikan sajalah keduanya
Uang tidak lagi dijamin emas mulia
Cukup janji oleh Diraja bahwasanya 
Uang kertas dapat ditukar apa saja
Termasuk untuk emas logam mulia
Padahal sejatinya uang disebut uang
Bila tercukupkan tiga perkara
Rukun uang yang tiga perkara
Adalah alat tukar yang pertama
Dengan boleh dibeli apa pun jua dengannya
Yang keduanya penyimpan harta
Ketiganya alat pengukur dan pembanding harga
Bila satu saja tak tercukupkan
Tiada bisa disebut uang namanya
Kini…
Sungguh inilah ilham terbesar umat manusia
Yang mengilhami bank masa semasa
Yang mencetak uang dengan mengutangkan saja
Yang menciptakan ada dari tiada
Kun fayakun
Kuasa yang mestinya milik Allah Maha Pencipta sahaja…
Negara bangsa turut serta
Memaksa rakyat menyerahkan segala emas yang ada
Ditukar uang kertas sebagai nota
Yang boleh ditukar apa saja
Sementara logam mulia
biarlah negara yang punya dan menjaga
Sekolah dan universitas menyesatkan pula
Mengajarkan bahwasanya bank hanya meneruskan yang ia terima, bukan mencipta
Ianya orang tengah semata, jembatan yang ada berpunya dengan yang tiada
Padahal sungguh tak demikian adanya
Bank sejatinya mesin pencetak uang utama
Melalui hutang piutang yang ditebar merata-rata
Dan pencatatan angka-angka dikedua muka neraca
Untuk itu mestilah dikenakan bunga
Atas nama kesempatan lain yang tersia-sia
Tak kisah apapun jua, berlalu masa, nilai bertambah, karena bunga terus berbunga
Menciptakan ada dari tiada
Sebagaimana kuasa Allah semata
Tetapi
Apatah benar adanya 
manusia kuasa mencipta 
ada dari tiada
sebagaimana Tuhan Yang Maha Kuasa
Sungguh tak demikian adanya
Sekali-kali pun tidak
Karena Tuhan Maha Esa
Satu saja dan satu-satunya
Tiada duanya apalagi tiga
Lalu dari mana datangnya semua bunga
Apatah benar dari yang tiada
Sungguh tak demikian adanya
Sekali-kali pun tidak
Yang ada datang dari sebelumnya ada atau dari yang diada-ada
Bunga dibayar dengan setiap tetes peluh pekerja
Kian lama kian kuasa
Karena bunga terus berbunga
Peluh diperas kian ketatnya
Hingga habis sari dari patinya
Hingga tiada apa yang tersisa
Hingga binasa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s