Bagaimana Uang diciptakan dalam Ekonomi Moderen

‘Buku-buku teks ekonomi telah menyesatkan kita.  Dalam hal uang, bank sejatinya bukan perantara semata, melainkan ia adalah pencipta…’

Catatan Muka

Artikel ini adalah terjemahan bebas dari artikel berbahasa Inggris yang berjudul asli “Money creation in the modern economy” yang ditulis oleh Michael Mcleay, Amar Radia dan Ryland Thomas dari Bank’s Monetary Analysis Directorate, Bank of England. 
Sebelum melanjutkan membaca artikel ini, sangat disarankan untuk membaca artikel lain di blog ini yang berjudul “Sebenarnya, Apakah Uang Itu?” (Silakan klik http://ifexplorer.blogspot.com/2015/09/apakah-uang-itu-sebenarnya.html), yang menjelaskan definisi dan bentuk-bentuk uang dalam ekonomi moderen.  Pemahaman yang baik akan definisi dan bentuk-bentuk uang akan sangat mempermudah dalam memahami bagaimana uang diciptakan yang akan diuraikan oleh artikel ini.  
Upaya penterjemahan ini dilakukan semata-mata untuk sedikit berkonstribusi pada peningkatan pengetahuan finansial bangsa Indonesia.  Bangsa – sebagaimana bangsa-bangsa lain – yang kian terobsesi pada uang, tanpa memahami apa uang itu sebenarnya, bagaimana ia tercipta dan mengapa kita harus menanggung derita karena nilainya yang terus merosot seiring berjalannya waktu.  Ibarat pepatah Cina ‘fish is the last to know water’.
Artikel ini relatif lebih panjang dari rata-rata tulisan blog, menyediakan secangkir kopi atau teh hangat bersama cemilan bisa jadi ide yang bijak.
Bagi yang lebih tertarik untuk membaca artikel aslinya, anda boleh berhenti disini dan meluncur ke tautan ini http://www.bankofengland.co.uk/publications/Documents/quarterlybulletin/2014/qb14q1prereleasemoneycreation.pdf.
Artikel ini menguraikan betapa sebagian besar uang dalam system ekonomi moderen sesungguhnya diciptakan oleh bank-bank komersil melalui penyaluran pinjaman atau kredit kepada nasabah.
Penciptaan uang dalam prakteknya berbeda dari apa yang ada dalam persepsi kebanyakan orang selama ini. Pada kenyataannya bank tidak menjalankan fungsi sebagai perantara (intermediary) semata dalam arti kata meminjamkan uang yang disimpan oleh nasabah (penabung) kepada nasabah lain (peminjam). Bank sebenarnya tidak pula menggandakan uang milik bank sentral untuk menciptakan pinjaman dan simpanan baru.
Kuantitas uang yang diciptakan dalam suatu ekonomi pada dasarnya bergantung pada kebijakan moneter dari bank sentral. Dalam situasi normal, hal ini dilakukan dengan menetapkan tingkat suku bunga. Bank sentral dapat pula mempengaruhi kuantitas uang secara langsung dengan melakukan pembelian aset atau dikenal sebagai quantitative easing (QE).

Overview

Dalam ekonomi moderen, sebagian besar uang berada dalam bentuk bank deposit atau simpanan di bank-bank komersil. Akan tetapi bagaimana bank deposit diciptakan, yang merupakan prinsip dasar bagaimana bank menyalurkan pinjaman, masih sering disalahpahami. Setiap saat bank menyalurkan pinjaman, secara simultan sesungguhnya ia menciptakan a matching deposit (deposit yang bersesuaian) didalam rekening bank peminjam, dengan demikian terciptalah uang baru.
Fakta bagaimana uang diciptakan hari ini ternyata berbeda dengan apa yang digambarkan dalam kebanyakan buku-buku teks ekonomi:
  • Bank sesungguhnya tidak menerima simpanan dari individual/perusahaan lalu meminjamkannya kepada pihak lain, melainkan ketika menyalurkan pinjaman bank justru menciptakan uang baru.
  • Dalam situasi normal, bank sentral tidak menetapkan kuantitas uang beredar, tidak pula uang bank sentral dilipatgandakan untuk menciptakan pinjaman dan simpanan.
Meski bank-bank komersil menciptakan uang melalui penyaluran hutang, mereka tidak melakukannya tanpa batas. Bank komersil dibatasi dalam hal berapa banyak mereka dapat berpiutang (menyalurkan hutang) agar mereka tetap mencatat keuntungan dalam sistem perbankan yang kompetitif.  Regulasi prudensial (kehati-hatian) juga memainkan peran sebagai pembatas aktivitas bank dalam rangka mempertahankan keliatan atau ketahanan sistem keuangan. Sementara itu, rumah tangga dan perusahaan swasta yang menerima uang baru yang diciptakan melalui hutang itu, dapat pula melakukan aksi yang mempengaruhi jumlah agregat uang – mereka bisa dengan cepat ‘memusnahkan’ uang dengan melunasi hutang, misalnya.
Kebijakan moneter bertindak sebagai batasan sesungguhnya (ultimate) dalam penciptaan uang. Bank sentral bertujuan untuk memastikan bahwa jumlah uang baru yang diciptakan konsisten dengan tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Dalam situasi normal, bank sentral menerapkan kebijakan moneter dengan menetapkan tingkat suku bunga atas cadangan bank sentral. Ini kemudian akan mempengaruhi berbagai suku bunga dalam ekonomi, termasuk suku bunga pinjaman bank komersil kepada nasabah.
Dalam situasi yang tidak normal, pada saat suku bunga berada pada tingkat efektif yang rendah, penciptaan uang dan belanja dalam ekonomi mungkin masih terlalu rendah untuk konsisten dengan sasaran-sasaran kebijakan moneter bank sentral. Salah satu respon yang mungkin dilakukan oleh bank sentral adalah dengan mengambil alih atau membeli berbagai aset. Inilah yang dinamakan Quantitative Easing (QE) yang ditujukan untuk memperbesar jumlah uang di dalam ekonomi secara langsung dengan membeli aset-aset finansial, umumnya dari perusahaan-perusahaan keuangan non-bank.  Dengan cara itu bank sentral secara langsung mengucurkan uang kedalam ekonomi.
Pada awalnya QE meningkatkan jumlah bank deposit (tabungan) yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang menjual aset-aset itu.  Perusahaan-perusahaan itu kemudian akan menyeimbangkan portfolio aset mereka dengan melakukan pembelian aset-aset yang menawarkan hasil yang tinggi. Ini kemudian akan meningkatkan harga aset-aset itu dan menstimulasi belanja dalam ekonomi.
Sebagai konsekuensi lain dari QE, terciptalah cadangan bank sentral baru.  Namun ia bukanlah bagian yang penting dalan mekanisme transmisi. Artikel ini menjelaskan bagaimana, dalam situasi normal, cadangan ini tidak dapat dilipatgandakan kedalam bentuk hutang dan simpanan serta betapa cadangan ini tidak merepresentasikan ‘free money’ bagi bank-bank komersil. 

Pengenalan

‘Money in the Modern Economy: an Introduction’, adalah bacaan pendamping bagi artikel ini, memberikan gambaran besar dari apa yang dimaksud dengan uang dan berbagai jenis uang yang terdapat didalam suatu ekonomi modern, secara singkat menyentuh bagaimana setiap jenis uang diciptakan. Artikel ini mengeksplorasi penciptaan uang dalam ekonomi moderen secara lebih detail.
Artikel ini bermula dengan menggambarkan secara garis besar dua pemahaman yang salah tentang penciptaan uang dan menjelaskan betapa sejatinya sebagian besar uang diciptakan oleh bank-bank komersil melalui penyaluran hutang.  Artikel ini lalu membahas batasan-batasan yang diterapkan pada sistem perbankan dalam menciptakan uang dan peranan penting dari kebijakan bank sentral dalam memastikan bahwa credit (pinjaman) dan pertumbuhan uang sejalan dengan stabilitas keuangan dan moneter dalam ekonomi.  Bagian terakhir mendiskusikan peran uang dalam mekanisme transmisi moneter selama periode quantitative easing (QE) dan membantah beberapa mitos seputar penciptaan uang dan QE. Sebuah video pendek menjelaskan beberapa topik kunci yang di bahas oleh artikel ini.

Dua kesalahpahaman tentang penciptaan uang

Sebagian besar uang yang dikuasai publik berada dalam bentuk bank deposit (simpanan di bank). Akan tetapi, dari mana stok bank deposit berasal sering disalah mengerti. Salah satu kesalahpahaman paling lazim adalah bahwa bank bertindak semata-mata sebagai perantara (intermediary) atau penengah, yaitu menyalurkan uang deposit (simpanan) yang ia terima melalui pemberian pinjaman. Dalam pandangan ini, simpanan atau deposit pada dasarnya ‘diciptakan’ oleh keputusan rumah tangga tentang simpanan, dan bank kemudian meminjamkan deposit yang ada itu kepada peminjam, misalnya perusahaan yang mencari investasi keuangan atau individu yang ingin membeli rumah. 
Dalam kenyataannya, ketika rumah tangga memilih untuk menyimpan uangnya didalam rekening bank, simpanan itu datang sebagai biaya simpanan yang bagaimanapun akan berpindah ke perusahaan untuk pembayaran atas barang dan jasa. Simpanan tidak dengan sendirinya meningkatkan deposit atau ‘dana tersedia’ bagi bank komersil untuk disalurkan sebagai pinjaman. Sesungguhnya, memandang bank hanya sebagai intermediary atau penengah mengabaikan fakta bahwa dalam kenyataannya dalam ekonomi moderen, bank komersil tidak lain merupakan ‘pencipta’ uang (dalam bentuk simpanan). Artikel ini menjelaskan bagaimana, alih-alih bank meminjamkan uang simpanan yang dititipkan padanya, kegiatan menyalurkan hutang sebenarnya menciptakan simpanan – kebalikan 180 derajat dari apa yang biasa digambarkan oleh buku-buku teks ekonomi. 
Kesalahpahaman yang lain adalah bahwa bank sentral menetapkan kuantitas pinjaman dan simpanan dalam ekonomi dengan mengontrol kuantitas uang bank sentral – lazim disebut sebagai pendekatan ‘money multiplier’. Dalam pandangan ini, bank sentral menerapkan kebijakan moneter dengan menetapkan kuantitas cadangan.  Dan, karena ada asumsi bahwa rasio antara broad money terhadap base money adalah konstan, cadangan-cadangan ini kemudian ‘dilipatgandakan’ secara signifikan oleh simpanan dan pinjaman di bank-bank komersil.  Agar teori ini benar, besaran cadangan bank sentral mestilah menjadi batasan yang mengikat dalam penyaluran pinjaman, dan bank sentral haruslah secara langsung menentukan besaran cadangan. Disaat teori money multiplier berguna dalam memperkenalkan uang dan perbankan dalam buku-buku teks ekonomi, sayangnya ia bukanlah gambaran yang akurat dalam menjelaskan bagaimana uang sesungguhnya diciptakan dalam dunia nyata. Alih-alih mengontrol kuantitas cadangan, bank sentral hari ini pada dasarnya menerapkan kebijakan moneter dengan menetapkan harga – tidak lain tidak bukan, suku bunga.
Dalam kenyataannya, tidaklah cadangan merupakan batasan dalam menyalurkan pinjaman (kredit), tidak pula bank sentral mematok besaran cadangan yang harus tersedia.  Sebagaimana hubungan antara simpanan dan pinjaman, hubungan antara cadangan dan pinjaman pada dasarnya bekerja dalam mekanisme yang berkebalikan dari apa yang biasa digambarkan oleh buku-buku teks ekonomi. Pertama-tama, bank komersil memutuskan berapa banyak ia akan menyalurkan pinjaman berdasarkan peluang-peluang penyaluran pinjaman yang tersedia bagi mereka – yang kemudian akan, secara krusial, tergantung pada suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral.  Keputusan penyaluran pinjaman inilah sesungguhnya yang menentukan berapa banyak simpanan bank yang diciptakan dalam sistem perbankan. Besaran simpanan di bank-bank komersil pada gilirannya mempengaruhi berapa banyak uang bank sentral yang oleh bank-bank komersil ingin ditahan dalam bentuk cadangan (untuk memenuhi kebutuhan penarikan tunai oleh publik, pembayaran kepada bank lain, atau memenuhi regulasi likuiditas), yang kemudian, dalam masa-masa normal, disuplai berdasarkan permintaan oleh bank sentral.  Selebihnya artikel ini mendiskusikan praktek-praktek ini secara detail. 

Penciptaan uang dalam realita

Penyaluran pinjaman (kredit) menciptakan simpanan – penetapan broad money pada level agregat

Sebagaimana dijelaskan dalam ‘Money in the modern economy: an introduction’, broad money adalah ukuran banyaknya uang yang dipegang oleh rumah tangga dan perusahaan di dalam ekonomi.  Broad money terdiri dari simpanan di bank komersil (yang pada dasarnya merupakan IOU dari bank komersil kepada rumah tangga dan perusahaan) dan uang tunai (yang sebagian besar merupakan IOU dari bank sentral). Dari dua bentuk broad money itu, simpanan di bank merupakan mayoritas yaitu 97% dari jumlah dalam yang beredar (data di United Kingdom).  Dan di dalam ekonomi moderen, sebagian besar dari simpanan di bank itu dibuat oleh bank komersil itu sendiri.
Bank komersil menciptakan uang, dalam bentuk simpanan di bank (bank deposit), dengan menyalurkan pinjaman (kredit) baru.   Ketika bank menyalurkan pinjaman baru, sebagai contoh kepada seseorang yang membeli rumah, ia sesungguhnya tidak memberikannya uang kertas.  Melainkan, bank akan mengkredit rekening bank peminjam dengan sejumlah pinjaman yang disetujui.  Tepat pada saat itu, uang baru telah tercipta. Untuk alasan inilah, beberapa ahli ekonomi telah menyebut bank deposit sebagai ‘fountain pen money’ (uang dari pena air mancur, karena ia tercipta melalui goresan pena bankir pada saat mereka menyetujui suatu pinjaman. 
Proses ini sebagaimana diilustrasikan dalam gambar 1, yang memperlihatkan bagaimana pinjaman baru mempengaruhi neraca dari sektor-sektor berbeda dalam ekonomi (neraca yang sama sebagaimana diperkenalkan dalam ‘Money in the modern economy: an introduction’.  Sebagaimana diperlihatkan dalam baris ketiga dari gambar 1, simpanan baru meningkatkan aset dari konsumen (dalam hal ini mewakili rumah tangga dan perusahaan) – berupa tambahan balok merah – dan pinjaman baru meningkatkan liabilitas (kewajiban) mereka – berupa tambahan balok putih. Broad money baru telah tercipta.


Gambar 1. Penciptaan uang oleh sektor perbankan yang secara agregat menyalurkan pinjaman tambahan.

Demikian pula halnya, kedua sisi dari neraca bank komersil mengembang karena uang yang baru dan pinjaman yang baru telah tercipta.  Penting untuk dicatat bahwa meski diagram yang disederhanakan pada gambar 1 memperlihatkan jumlah uang tercipta identik dengan jumlah pinjaman baru, dalam prakteknya akan ada beberapa faktor yang secara berurutan dapat menyebabkan jumlah simpanan menjadi berbeda dari jumlah pinjaman.  Ini akan didiskusikan dengan detail dalam seksi berikutnya.
Ketika broad money baru telah tercipta pada neraca konsumen, baris pertama dari gambar 1 memperlihatkan ini tanpa – pada kesempatan pertama, paling tidak – perubahan apapun dalam besaran uang bank sentral atau ‘base money’.  Sebagaimana didiskusikan sebelumnya, stok simpanan yang lebih tinggi dapat berarti bahwa bank menginginkan, atau diharuskan, untuk menahan lebih banyak uang bank sentral untuk memenuhi kebutuhan penarikan publik atau pembayaran kepada bank lain.  Kebalikannya adalah, dalam situasi normal, stok simpanan dipasok ‘atas permintaan/on demand’ oleh bank sentral kepada bank komersil dengan imbalan aset lainnya dalam neraca mereka. Tidak ada ceritanya kuantitas agregat cadangan secara langsung membatasi jumlah pinjaman yang disalurkan atau penciptaan simpanan. 
Deskripsi tentang penciptaan uang ini bertentangan dengan pandangan bahwa bank hanya dapat menciptakan uang yang sudah ada sebelumnya, sebagaimana diuraikan dalam bagian sebelumnya. Simpanan di bank sesusungguhnya hanyalah catatan seberapa banyak bank berhutang kepada nasabahnya. Jadi, simpanan kita di bank adalah kewajiban (liability) bank, bukan aset yang dapat dipinjamkan kepada pihak lain. Sementara itu, cadangan hanya dapat dipinjamkan antar bank, karena nasabah tidak memiliki akses ke rekening cadangan di bank sentral.

Cara-cara lain dalam menciptakan dan memusnahkan simpanan

Karena mengambil hutang baru berarti menciptakan uang, melunasi hutang sesungguhnya memusnahkan uang.  Sebagai contoh, katakanlah seorang nasabah telah membelanjakan uangnya di super market sepanjang bulan menggunakan kartu kredit.  Setiap pembelian dengan kartu kredit akan meningkatkan jumlah hutang (outstanding loan) dalam neraca nasabah dan meningkatkan deposit dalam neraca supermarket (dengan mekanisme yang sama sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1).  Jika nasabah kemudian membayar lunas tagihan kartu kreditnya secara penuh (hingga saldonya nol) pada akhir bulan, bank akan mengurangi jumlah deposit dalam rekening nasabah sebesar tagihan kartu kredit itu, sesungguhnya ia telah memusnahkan seluruh uang yang diciptakannya melalui belanja dengan kartu kredit sebelumnya. 
Bank menyalurkan pinjaman dan nasabah melunasi hutangnya sesungguhnya merupakan cara paling signifikan dengan mana simpanan bank (uang) diciptakan dan dimusnahkan dalam ekonomi moderen. Akan tetapi, ia bukanlah satu-satunya cara.  Penciptaan deposit dan pemusnahannya juga akan terjadi setiap saat bila sektor perbankan (termasuk bank sentral) membeli atau menjual aset dari atau kepada nasabah, atau lebih seringnya dari perusahaan atau pemerintah.
Pembelian dan penjualan surat hutang pemerintah (government bond) oleh bank-bank komersil adalah salah satu cara yang sangat penting dalam menciptakan atau memusnahkan uang.  Bank pada umumnya membeli dan menahan surat hutang pemerintah sebagai bagian dari portfolio aset lancar yang dapat segera dijual atau ditukar dengan uang bank sentral jika, sebagai contoh, para nasabah penabung melakukan penarikan besar-besaran.  Pada saat bank membeli surat hutang pemerintah dari sektor swasta non-bank, mereka meng-kredit (mencatat sebagai simpanan) rekening penjual. Dan, sebagaimana didiskusikan selanjutnya dalam artikel ini, pembelian aset oleh bank sentral, dikenal sebagai quantitative easing (QE), sesungguhnya memiliki implikasi yang sama dengan penciptaan uang.
Uang dapat pula dimusnahkan melalui penerbitan instrumen hutang dan ekuitas jangka panjang oleh bank-bank komersil.  Sebagai tambahan atas deposit, bank menahan kewajiban lain dalam neraca mereka.  Bank mengelola kewajiban-kewajiban mereka untuk memastikan bahwa mereka memiliki setidaknya kapital dan kewajiban hutang jangka panjang untuk memitigasi risiko-risiko tertentu dan untuk memenuhi ketentuan regulasi.  Karena kewajiban-kewajiban ‘non-deposit’ ini merepresentasikan investasi jangka panjang dalam sistem perbankan oleh rumah tangga dan perusahaan, mereka tidak dapat ditukarkan dengan uang tunai semudah deposito bank, dan oleh karena itu ia meningkatkan keliatan bank.  Ketika bank menerbitkan instrumen-instrumen hutang dan equitas jangka panjang ini kepada perusahaan keuangan non-bank, perusahaan-perusahaan itu membayarnya dengan simpanan di bank (bank deposit).  Hal itu mengurangi kuantitas simpanan, atau uang atau kewajiban pada neraca sektor perbankan dan meningkatkan kewajiban-kewajiban non-deposit mereka.
Pembelian dan penjualan aset serta penerbitan kewajiban jangka panjang dapat membawa ke jurang antara penyaluran pinjaman dan deposit dalam ekonomi tertutup.  Lagi pula, di dalam ekonomi terbuka seperti UK, deposit (simpanan) dapat beralih dari penduduk domestik ke penduduk luar negeri, atau deposit sterling dapat dikonversikan ke deposit dalam mata uang asing. Transaksi-transaksi ini tidak memusnahkan uang per se, namun deposit penduduk luar negeri dan deposit dalam mata uang asing tidak selalu dihitung sebagai bagian dari pasokan uang suatu negara. 

Batasan-batasan Penciptaan Broad Money

Meski bank-bank komersil menciptakan uang melalui penyaluran pinjaman atau kredit, mereka tidak melakukannya tanpa batasan.  Terutama, harga dari pinjaman atau hutang itu – yaitu suku bunga (ditambah berbagai biaya) yang dikenakan oleh bank – menentukan jumlah yang rumah tangga dan perusahaan akan pinjam.  Sejumlah faktor mempengaruhi harga dari hutang baru, tidak kurang dari kebijakan moneter dari bank sentral, yang mempengaruhi tingkat berbagai suku bunga di dalam ekonomi. 
Pembatasan penciptaan uang oleh sistem perbankan di bahas dalam sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ekonom pemenang hadiah Nobel, James Tobin, dan topik ini kini telah menjadi pokok perdebatan diantara sejumlah komentator ekonomi dan bloggers.
Di dalam ekonomi modern ada tiga kendala yang membatasi jumlah uang yang dapat diciptakan oleh bank-bank komersil:
(i). Bank-bank sendiri menghadapi batasan dalam hal berapa banyak yang mereka dapat pinjamkan. Terutama: 
  • Kekuatan pasar membatasi penyaluran pinjaman karena bank secara individual harus mampu menghasilkan keuntungan dari kegiatan meminjamkan atau menghutangkan uang dalam pasar yang kompetitif.
  • Penyaluran hutang juga dibatasi karena bank-bank harus mengambil langkah-langkah untuk memitigasi risiko-risiko yang berkaitan dengan penambahan penyaluran hutang.
  • Kebijakan regulator juga bertindak sebagai batasan dalam kegiatan-kegiatan bank untuk memitigasi terbangunnya atau menumpuknya risiko-risiko yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan.

(ii) Penciptaan uang juga dibatasi oleh tingkah laku pemegang uang, baik rumah tangga ataupun bisnis.  Rumah tangga dan perusahaan yang menerima uang yang baru diciptakan mungkin merespon dengan melakukan transaksi yang serta merta memusnahkan uang itu, contohnya dengan membayar lunas hutang yang lain.

(iii) Pembatas sejati (ultimate) dari penciptaan uang sesungguhnya adalah kebijakan moneter dari bank sentral.  Dengan mempengaruhi tingkat suku bunga dalam ekonomi, kebijakan moneter bank sentral mempengaruhi berapa banyak uang yang rumah tangga dan perusahaan akan pinjam.  Hal ini terjadi baik secara langsung, melalui suku bunga pinjaman yang dikenakan oleh bank, tapi juga secara tidak langsung melalui efek menyeluruh dari kebijakan moneter dalam aktivitas ekonomi. Alhasil, bank sentral mampu memastikan bahwa pertumbuhan uang konsisten dengan tujuannya dalam menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil.
Bagian ini selanjutnya menjelaskan bagaimana masing-masing mekanisme bekerja dalam prakteknya.  

(i) Batasan-batasan dalam hal berapa banya bank dapat meminjamkan atau menghutangkan

Kekuatan pasar yang dihadapi oleh bank-bank

Gambar 1 memperlihatkan bahwa, untuk sektor perbankan secara agregat, pinjaman-pinjaman pada mulanya diciptakan melalui matching deposits.  Akan tetapi ia tidak berarti bahwa setiap bank secara individu dapat dengan bebas menyalurkan pinjaman dan menciptakan uang tanpa batas.  Hal ini karena bank-bank komersil haruslah mampu menghasilkan keuntungan dalam pasar yang kompetitif, dan memastikan bahwa mereka mengelola risiko-risiko yang terkait dengan penyaluran pinjaman tersebut.
Bank menerima pembayaran bunga atas aset-asetnya, piutang-piutang sebagai contoh, tetapi mereka pada umumnya juga harus membayar bunga atas liabilitas-liabilitas mereka, seperti rekening-rekening tabungan.  Model bisnis sebuah bank pada dasarnya adalah menerima bunga yang lebih tinggi atas pinjaman yang disalurkan (atau aset-aset lainnya) daripada bunga yang ia harus bayar atas tabungan nasabah (atau liabilitas lainnya).  Tingkat suku bunga atas aset dan liabilitas bank bergantung pada kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral, yang bertindak sebagai pembatas sejati dari penciptaan uang.  Bank-bank komersil menggunakan selisih (the spread) antara hasil yang diharapkan (expected return) dari aset-aset dan liabilitas-liabilitas untuk menutup biaya operasional dan mendapatkan keuntungan.
Untuk menyalurkan lebih banyak pinjaman, pada umumnya bank harus menurunkan tingkat suku bunga pinjaman relatif terhadap pesaing untuk menarik rumah tangga dan perusahaan untuk meminjam lebih banyak lagi.  Dan begitu bank menciptakan hutang, ia ‘kehilangan’ deposit yang telah ia buat kepada bank pesaing. Kedua faktor ini mempengaruhi tingkat keuntungan dari penciptaan hutang oleh suatu bank and mempengaruhi berapa banyak hutang yang terjadi atau tercipta. 
Sebagai contoh, misalkan sebuah bank menurunkan suku bunya yang ia kenakan pada pinjamannya, dan itu menarik rumah tangga untuk mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) untuk membeli rumah.  Pada saat KPR dibuat, rekening rumah tangga dikreditkan dengan simpanan atau deposit yang baru.  Dan begitu mereka membeli rumah, mereka meneruskan simpanan baru itu kepada penjual rumah.  Situasi ini diperlihatkan oleh baris pertama dari Gambar 2.  Pembeli dengan demikian akan memiliki aset baru dalam bentuk rumah serta kewajiban (liabilitas) baru berupa hutang baru.  Penjual rumah akhirnya memiliki uang dalam bentuk simpanan di Bank, bukan lagi sebuah rumah.  Besar kemungkinan rekening penjual berada pada bank yang berlainan dengan bank pembeli.  Sehingga, ketika transaksi terjadi, simpanan baru akan ditransfer ke bank penjual, sebagaimana digambarkan oleh baris kedua Gambar 2. Bank pembeli kemudian akan memiliki deposit atau simpanan yang lebih sedikit dari pada aset. Pada kesempatan pertama, bank pembeli akan menyelesaikan hutang piutang dengan bank penjual melalui pemindahan cadangan.  Akan tetapi itu akan membuat bank pembeli memiliki cadangan yang lebih sedikit dan lebih banyak pinjaman relatif terhadap simpanan dari pada sebelumnya.  Hal ini kemungkinan besar akan menjadi problema bagi bank karena meningkatnya risiko bahwa ia tidak mampu memenuhi semua pengeluaran.  Dan, dalam prakteknya, bank menyalurkan banyak pinjaman seperti itu setiap hari. Jadi, jika bank tertentu membiayai semua pinjaman barunya melalui cara ini, segeralah ia akan kehabisan cadangan.


Gambar 2. Penciptaan uang bagi bank komersil yang menyalurkan pinjaman tambahan

Oleh sebab itu, bank mencoba menarik atau menahan liabilitas tambahan untuk menemani piutang baru mereka.  Dalam prakteknya bank-bank lain juga akan menyalurkan pinjaman-pinjaman baru dan juga menciptakan simpanan-simpanan baru, jadi salah satu cara yang dapat mereka lakukan adalah mencoba menarik simpanan-simpanan yang baru diciptakan oleh bank-bank lain itu.  Dalam sektor perbankan yang kompetitif, hal itu mungkin melibatkan perang suku bunga yang mereka tawarkan kepada rumah tangga atau perusahaan untuk rekening tabungan atau deposito mereka. Dengan menarik deposito baru, bank dapat meningkatkan pinjaman tanpa menurunkan cadangan, seperti yang ditunjukkan di baris ketiga dari Gambar 2.  Atau, bank dapat meminjam dari bank lain atau menarik kewajiban dalam bentuk lain, setidaknya untuk sementara.  Tapi baik melalui deposito atau kewajiban lainnya, bank perlu memastikan bahwa hal itu menarik dan mempertahankan beberapa jenis dana agar dapat terus memperluas pinjaman.  Dan biaya yang harus diukur terhadap bunga yang diharapkan oleh bank akan ia dapatkan dari pinjaman yang disalurkan, yang pada gilirannya tergantung pada tingkat Bank Rate yang ditetapkan oleh Bank of England atau bank sentral.  Sebagai contoh, jika sebuah bank terus menarik peminjam baru dan meningkatkan penyaluran pinjaman dengan mengurangi suku bunga KPR, dan berusaha untuk menarik deposit baru dengan meningkatkan suku bunga yang dibayarkan kepada nasabah, ia mungkin segera mendapatkan bahwa terus mengembangkan pinjaman sebenarnya tidak menguntungkan. Jadi, kompetisi untuk pinjaman dan deposit, dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan, sesungguhnya membatasi penciptaan uang oleh bank-bank.

Mengelola risiko yang terkait dengan penciptaan pinjaman atau hutang
Bank perlu pula mengelola resiko yang terkait dengan penciptaan pinjaman baru.  Salah satu cara dengan mana mereka melakukan ini adalah dengan memastikan bahwa mereka menarik deposit yang relatif stabil untuk menyeimbangkan pinjaman baru yang mereka buat, yaitu, deposit yang kemungkinannya kecil untuk atau tidak dapat ditarik dalam jumlah besar.  Hal ini dapat berperan sebagai batas tambahan atas berapa banyak bank dapat meminjamkan.  Misalnya, jika semua deposit yang bank kuasai adalah dalam bentuk rekening akses cepat, seperti rekening koran atau giro, maka bank akan menghadapi risiko banyaknya deposit yang ditarik dalam waktu singkat.  Karena bank cenderung meminjamkan uang untuk periode beberapa bulan atau tahun, bank mungkin tidak mampu membayar semua uang deposit itu – maka bank akan menghadapi resiko likuiditas yang serius.  Untuk mengurangi resiko likuiditas, bank mencoba untuk memastikan bahwa sebagian deposit mereka bersifat tetap (fixed) untuk jangka waktu tertentu.  Namun demikian, nasabah cenderung memerlukan kompensasi atas ketidaknyamanan memegang deposito jangka panjang, jadi cara ini cenderung lebih mahal bagi bank sehingga membatasi jumlah pinjaman yang ingin disalurkan oleh bank.  Dan seperti yang dibahas sebelumnya, jika bank berjaga-jaga terhadap resiko likuiditas dengan menerbitkan kewajiban jangka panjang, hal ini dapat memusnahkan uang secara langsung ketika perusahaan membayarnya menggunakan deposit.
Penyaluran kredit masing-masing bank juga dibatasi oleh pertimbangan akan resiko kredit. Ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh bank bila ia meminjamkan kepada peminjam yang akhirnya tidak mampu membayar hutangnya. Secara parsial, bank dapat membentengi diri terhadap resiko kredit dengan memiliki modal yang cukup untuk menyerap kerugian yang tidak diharapkan dari piutang mereka.  Akan tetapi pemberian pinjaman akan selalu melibatkan resiko tertentu yang membuat bank harus menanggung kerugian, biaya kerugian-kerugian ini akan diperhitungkan ketika melakukan pricing (penetapan suku bunga) terhadap suatu pinjaman.  Ketika bank menyalurkan pinjaman, suku bunga yang dikenakan akan termasuk kompensasi untuk level rata-rata dari kerugian kredit yang menurut perhitungan bank akan ia derita.  Besaran komponen resiko kredit dari suku bunga akan lebih besar mana kala bank memperkirakan bahwa mereka akan menderita kerugian yang lebih besar, contohnya ketika bank memberikan pinjaman kepada pembeli rumah dengan ratio pinjaman terhadap aset yang tinggi.  Pada saat bank melakukan ekspansi pinjaman, rata-rata nilai harapan (expected value) kerugian per pinjaman cenderung meningkat, membuat penyaluran kredit menjadi kurang menguntungkan. Hal ini semakin membatasi besaran penyaluran pinjaman yang dapat lakukan oleh bank secara mengnutungkan, dan pada gilirannya membatasi uang yang kemudian dapat mereka ciptakan. 
Kekuatan pasar tidak selalu membuat bank secara individu melindungi mereka sendiri secara memadai terhadap resiko likuiditas and kredit.  Oleh karena itu, regulasi kehati-hatian bertujuan untuk memastikan bahwa bank-bank tidak mengambil resiko secara berlebihan ketika menyalurkan pinjaman-pinjaman baru, termasuk melalui ketentuan mengenai modal bank dan posisi likuiditas. Dengan demikian ketentuan-ketentuan ini dapat berperan sebagai rem tambahan atas seberapa banyak uang yang dapat diciptakan oleh bank-bank komersil melalui penyaluran hutang atau kredit. Kerangka regulasi kehati-hatian, bersama dengan detail lebih lanjut atas modal dan likuiditas, digambarkan dalam Farag, Harland dan Nixon (2013). 
Sejauh ini, bagian ini telah mendiskusikan kasus dimana sebuah bank menyalurkan pinjaman tambahan dengan menawarkan suku bunga yang kompetitif – baik atas pinjaman maupun deposit (simpanan).  Akan tetapi apabila semua bank secara simultan memutuskan untuk mencoba menyalurkan lebih banyak pinjaman, pertumbuhan uang mungkin tidak dibatasi dalam mekanisme yang sama.  Meskipun sebuah bank secara individu dapat kehilangan deposit karena direbut bank-bank lain, ia sendiri cenderung akan mendapatkan deposit-deposit baru sebagai hasil dari bank-bank lain menyalurkan kredit atau pinjamannya.
Ada sejumlah alasan mengapa banyak bank mungkin memilih untuk meningkatkan pinjaman secara signifikan pada waktu yang bersamaan.  Sebagai contoh, keuntungan dari suatu penyaluran pinjaman pada tingkat suku bunga tertentu dapat saja meningkat karena peningkatan umum dari kondisi ekonomi. Atau, bank-bank mungkin memutuskan untuk meminjamkan lebih banyak jika mereka beranggapan bahwa resiko-resiko yang terkait dengan penyaluran kredit kepada rumah tangga dan perusahaan telah turun.  Perkembangan seperti ini sering dianggap sebagai salah satu alasan mengapa pinjaman bank diperluas atau ditingkatkan sedemikian banyaknya sehingga menuntun ekonomi memasuki krisis keuangan.  Akan tetapi jika persepsi bahwa keadaan ekonomi memiliki resiko yang rendah tidak dapat dijamin atau dipertahankan, hasilnya justru sistem keuangan menjadi lebih rapuh. Salah satu respon terhadap krisis keuangan di United Kingdom adalah pembuatan sebuah otoritas kehati-hatian pada skala makro (macroprudential authority), yaitu the Financial Policy Committee (Komite Kebijakan Keuangan), untuk mengidentifikasi, memonitor dan mengambil tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko-risiko yang mengancam keliatan sistem keuangan secara menyeluruh. 

(ii) Batasan-batasan yang muncul dari respon rumah tangga dan perusahaan.

Sebagai tambahan atas serangkaian batasan-batasan yang berperan membatasi penciptaan uang oleh sektor perbankan, perilaku rumah tangga dan perusahaan dalam merespon penciptaan uang merupakan faktor yang penting, sebagaimana dijelaskan oleh Tobin.  Perilaku sektor swasta non-bank mempengaruhi dampak sesungguhnya (ultimate) dari penciptaan pinjaman oleh sektor perbankan terhadap stok uang, karena kuantitas uang yang mungkin tercipta ternyata melebihi atau kurang dari pada apa yang mereka ingin untuk menahannya, relatif terhadap aset-aset lain (seperti properti atau saham).  Oleh karena rumah tangga dan perusahaan yang berhutang kepada bank melakukan hal itu sebab mereka ingin membelanjakan uang lebih banyak, mereka secepatnya akan meneruskan kepada pihak lain.  Bagaimana rumah tangga dan perusahaan itu kemudian merespon akan menentukan ketersediaan uang di dalam ekonomi, dan memiliki potensi dampak terhadap belanja dan inflasi.
Ada dua kemungkinan akan apa yang mungkin terjadi pada deposit (simpanan) yang baru tercipta. Pertama, sebagaimana disarankan oleh Tobin, uang mungkin dimusnahkan dengan cepat jika rumah tangga atau perusahaan yang menerima uang pinjaman membelanjakannya untuk melunasi hutang-hutang yang sudah ada sebelumnya. Ini yang kadang-kadang disebut sebagai “reflux theory”.
Sebagai contoh, pasangan muda yang membeli rumah untuk pertama kalinya mungkin akan mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) untuk membeli rumah dari orang yang lebih tua, yang pada gilirannya, melunasi KPR-nya dan tinggal bersama anak dan cucunya.  Sebagaimana didiskusikan sebelumnya, melunasi pinjaman kepada bank sesungguhnya memusnahkan uang, sementara mengambil hutang adalah menciptakan uang.  Jadi,dalam kasus ini, neraca nasabah di dalam ekonomi akan dikembalikan ke posisi semula sebelum mengambil pinjaman.
Kemungkinan kedua adalah uang tambahan yang diciptakan oleh bank dapat mengarahkan pada peningkatan belanja yang lebih banyak di dalam ekonomi.  Agar uang yang baru tercipta musnah, ia harus diteruskan ke rumah tangga dan perusahaan yang memiliki hutang yang sudah ada sebelumnya dan ingin melunasinya. Akan tetapi, sebenarnya tidak selalu demikian, karena penguasan aset dan hutang cenderung berbeda secara signifikan antar individu di dalam ekonomi.  Pada kenyataannya, uang mungkin berpindah ke rumah tangga atau perusahaan dengan penguasaan aset finansial yang positif: orang tua tadi mungkin sudah melunasi hutang KPR-nya sebelumnya, atau perusahaan menerima uang sebagai pembayaran mungkin telah memiliki aset lancar yang mencukupi untuk menutup pengeluaran-pengeluaran.  Mereka kemudian mungkin harus memegang lebih banyak uang dari pada yang diinginkan, dan mencoba mengurangi kelebihan uang dengan meningkatkan belanja barang dan jasa. (Dalam hal perusahaan, ia mungkin membeli aset lain dengan pengembalian yang lebih tinggi).
Dua skenario tentang apa yang terjadi dengan uang yang baru tercipta ini – musnah dengan segera atau berpindah melalui belanja – memiliki implikasi yang sangat berbeda bagi aktivitas ekonomi. Dalam hal yang kedua, uang mungkin akan terus berpindah antar rumah tangga dan perusahaan yang berbeda yang mana masing-masingnya, pada gilirannya, meningkatkan belanja mereka. Proses ini – sering disebut sebagai ‘efek kentang panas’ (hot potato effect) – dapat menyebabkan, bila semua hal lainnya tetap, peningkatan tekanan inflasi pada ekonomi.  Sebaliknya, jika uang dimusnahkan dengan segera sebagaimana skenario pertama, tidak ada efek lanjutan pada ekonomi.
Bagian ini sejauh ini telah membahas bagaimana tindakan bank, rumah tangga dan perusahaan dapat mempengaruhi jumlah uang di dalam ekonomi, sehingga melahirkan tekanan inflasi,  tetapi, penentu sesungguhnya dari keadaan moneter di dalam ekonomi adalah kebijakan moneter dari bank sentral.

(iii) Kebijakan Moneter – pembatas penciptaan uang yang sesungguhnya

Salah satu tujuan utama dari Bank of England adalah untuk memastikan stabilitas moneter dengan menjaga tingkat inflasi harga konsumer pada jalurnya yaitu target 2% yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dan dalam periode waktu tertentu, berbagai ukuran atau parameter uang telah tumbuh pada tingkat yang hampir sama dengan belanja nominal, yang menentukan tekanan inflasi di dalam ekonomi dalam jangka waktu menengah. Jadi, menetapkan kebijakan moneter yang sesuai untuk mencapai target inflasi pada dasarnya memastikan tingkat penciptaan kredit dan uang yang stabil sejalan dengan pencapaian target itu.  Bagian ini menjelaskan hubungan antara kebijakan moneter dan berbagai tipe uang.
Dalam keadaan normal, the Monetary Policy Committee (MPC), sebagaimana komite sejenis di negara lain, menerapkan kebijakan moneter dengan menetapkan tingkat suku bunga jangka pendek, khususnya dengan menetapkan suku bunga yang harus dibayar pada cadangan bank sentral yang ditahan oleh bank-bank komersil.  Bank sentral mampu melakukan itu karena posisinya sebagai monopoli penyedia uang bank sentral.  Dan juga karena ada permintaan terhadap uang bank sentral (sebagai alat sesungguhnya untuk pembayaran antar bank-bank komersil, pencipta broad money) maka harga dari cadangan memiliki dampak yang berarti pada tingkat suku bunga lainnya di dalam ekonomi.
Tingkat suku bunga yang bank-bank komersil peroleh pada uang yang ditempatkan pada bank sentral mempengaruhi tingkat suku bunga yang mereka inginkan untuk meminjam di pasar uang – pasar dimana bank sentral dan bank-bank komersil saling meminjamkan satu sama lain dan dengan lembaga keuangan lainnya.  Detail yang sesungguhnya bagaimana bank sentral menggunakan operasi pasar uang untuk menerapkan kebijakan moneter bervariasi dari waktu ke waktu, dan prosedur operasi bank sentral dewasa ini berbeda dari satu negara ke negara lainnya, sebagaimana dibahas dalam Clews, Salmon dan Weeken (2010).  Perubahan tingkat suku bunga antar bank kemudian mengalir ke berbagai macam suku bunga di dalam berbagai pasar dan pada tingkat maturity yang berbeda-beda, termasuk suku bunga yang dikenakan bank kepada nasabah peminjam dan dibayarkan kepada penabung.  Dengan mempengaruhi harga hutang melalui cara ini, kebijakan moneter mempengaruhi penciptaan broad money.
Deskripsi tentang hubungan antara kebijakan moneter dan uang ini berbeda dengan deskripsi dibanyak buku-buku teks pengantar ekonomi, dimana bank sentral menetapkan kuantitas broad money melalui ‘money multiplier’ dengan secara aktif mengubah-ubah kuantitas cadangan.  Dalam pandangan itu bank sentral menyederhanakan kebijakan moneter dengan menetapkan kuantitas cadangan.  Dan, karena diasumsikan bahwa ratio broad money terhadap base money adalah stabil, cadangan-cadangan ini kemudian ‘berlipat ganda’ menjadi perubahan yang jauh lebih besar dalam bank deposit karena bank-bank komersil meningkatkan penyaluran kredit dan deposit.
Tidak ada tahapan dalam cerita itu yang menggambarkan deskripsi yang akurat dari hubungan antara uang dan kebijakan moneter di dalam ekonomi moderen.  Bank sentral pada dasarnya tidak menetapkan kuantitas cadangan untuk mencapai tingkat sukuu bunga jangka pendek yang diinginkan. Sebenarnya, mereka fokus pada penetapan tingkat suku bunga, seperti pedagang menetapkan harga.  Bank sentral mengontrol tingkat suku bunga dengan memasok dan meremunerasi cadangan pada tingkat yang ia tentukan.  Pemasokan cadangan dan mata uang (yang secara bersama-sama membentuk base money) ditentukan oleh permintaan bank-bank komersil akan cadangan baik untuk penyelesaian pembayaran maupun untuk memenuhi permintaan uang dari nasabah – permintaan yang pada umumnya akan diakomodasi oleh bank sentral.
Permintaan atas base money ini yang sebenarnya kemungkinan besar sebagai akibat (daripada sebab) bank-bank menyalurkan kredit dan menciptakan broad money.  Hal ini karena keputusan bank-bank untuk menyalurkan ktredit didasarkan pada keterseediaan peluang menyalurkan pinjaman yang memberi keuntungan pada waktu tertentu.  Tingkat keuntungan dari penyaluran pinjaman akan bergantung pada sejumlah faktor, sebagaimana dibahas sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah harga atau biaya dari dana yang dihadapi oleh bank-bank, yang berhubungan erat dengan tingkat suku bunga yang dibayarkan atas cadangan, yaitu tingkat suku bunga kebijakan (bank sentral).
Sebaliknya, kuantitas cadangan yang sudah ada di dalam sistem tidak membatasi penciptaan broad money melalui aksi penyaluran pinjaman.  Sisi ini dari money multiplier sering dimotivasi oleh persyaratan cadangan bank sentral, dimana bank-bank komersil diwajibkan untuk menahan sejumlah minimum cadangan dalam proporsi yang tetap dari deposit yang ditahannya. Tetapi persyaratan cadangan bukanlah suatu aspek yang penting dalam kerangka kebijakan moneter dalam kebanyakan ekonomi dewasa ini.
Kebijakan moneter yang longgar kemungkinan akan meningkatkan stok broad money dengan mengurangi tingkat suku bunga hutang dan meningkatkan volume hutang.  Dan stok broad money yang lebih besar, disertai dengan kenaikan tingkat belanja didalam ekonomi, dapat menyebabkan bank dan konsumen meminta lebih banyak cadangan dan uang.  Jadi, dalam kenyaataannya, teori money multiplier beroperasi dalam arah yang berlawanan dengan yang biasanya digambarkan.

QE (Quantitative Easing) — Menciptakan broad money secara langsung melalui kebijakan moneter

Bagian sebelumnya membahas bagaimana kebijakan moneter dapat dipandang sebagai batasan yang sesungguhnya (ultimate limit) dari penciptaan uang oleh bank-bank komersil.  Akan tetapi, bank-bank komersil disisi lain kadang menciptakan uang dalam jumlah yang terlalu kecil agar konsisten dengan ekonomi dalam mencapai target inflasi.  Dalam situasi normal, MPC bisa merespon dengan menurunkan suku bunga kebijakan (policy rate) untuk merangsang lebih banyak penyaluran pinjaman sehingga lebih banyak uang yang tercipta.  Tetapi, sebagai respon atas krisis keuangan, MPC memangkas suku bunga bank sentral ke level 0.5% – disebut batas bawah efektif.
Begitu tingkat suku bunga jangka pendek mencapai batas bawah efektif, menjadi tidak mungkin bagi bank sentral untuk memberikan stimulus lanjutan bagi ekonomi dengan menurunkan suku bunga yang dengannya cadangan bank sentral diremunerasi.  Salah satu cara yang memungkinkan dalam memberikan stimulus moneter lanjutan adalah melalui program pembelian aset (Quantitative Easing – QE).  Sebagaimana pengurangan tingkat suku bunga bank sentral, pembelian aset adalah cara dimana MPC dapat melonggarkan posisi kebijakan moneter dalam rangka menstimulasi aktivitas ekonomi dan mencapai target inflasi.  Akan tetapi peran uang didalam kedua kebijakan ini tidaklah sama.
QE melibatkan perpindahan fokus dari kebijakan moneter menuju kuantitas uang; bank sentral melakukan pembelian sejumlah aset finansial, dibiayai dengan penciptaan broad money dan kenaikan jumlah cadangan bank sentral yang terkait dengannya.  Para penjual aset-aset kemudian akan memegang deposit yang baru diciptakan sebagai ganti surat utang pemerintah.  Mereka kemungkinan besar memegang lebih banyak uang dari pada yang mereka inginkan, relatif terhadap aset-aset lain yang mereka ingin miliki.  Oleh karena itu mereka akan menyeimbangkan portofolio mereka, sebagai contoh menggunakan deposit yang baru untuk membeli aset-aset yang memberikan hasil lebih tinggi seperti bond (surat hutang) dan saham yang diterbitkan ooleh perusahaan-perusahaan – Ini membawa kita ke efek ‘kentang panas’ yang dibahas sebelumnya. 
Hal ini akan meningkatkan nilai aset-aset itu dan menurunkan biaya bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan dana dalam pasar ini.  Hal itu, pada gilirannya, akan membawa pada belanja yang lebih tinggi di dalam ekonomi.
Jadi, cara dengan mana QE bekerja sesungguhnya berbeda dari dua kesalahpahaman tentang pembelian aset oleh bank sentral; bahwa QE melibatkan pemberian ‘free money’ (uang gratis) kepada bank-bank komersil; dan bahwa tujuan kunci dari QE adalah untuk meningkatkan penyaluran pinjaman oleh bank dengan pemberian cadangan yang lebih banyak kedalam sistem perbankan, sebagaimana mungkin digambarkan oleh teori money multiplier.  Bagian ini menjelaskan hubungan antara uang dan QE serta menolak kerancuan ini. 

Kaitan antara QE dan kuantitas Uang

QE memiliki efek langsung terhadap kuantitas base money maupun broad money karena cara dengan mana bank sentral melakukan pembelian aset-aset.  Kebijakan ini bertujuan untuk membeli aset-aset, surat utang pemerintah, umumnya dari perusahaan-perusahaan keuangan bukan bank, seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi. Pertimbangkan contoh berikut ini, pembelian GBP 1 milyar surat utang pemerintah dari sebuah dana pensiun.  Salah satu cara yang dapat dilakukan bank sentral untuk melakukan pembelian adalah dengan mencetak GBP 1 milyar uang kertas dan menukarkannya secara langsung dengan dana pensiun.  Tetapi transaksi uang kertas sebesar ini tidaklah praktis.  Maka transaksi jenis ini dilakukan dengan menggunakan uang dalam bentuk elektronik. 
Dikarenakan dana pensiun tidak memiliki rekening cadangan di bank sentral, bank komersil dimana mereka memiliki rekening digunakan sebagai perantara (intermediary).  Bank komersil dimana dana pensiun memiliki rekening akan mengkredit rekening dana pensiun dengan tambahan deposit sebesar GBP 1 milyar sebagai pengganti surat utang pemerintah.  Hal ini diperlihatkan pada panel pertama dari Gambar 3.  Bank sentral membiayai pembelian dengan mengkreditkan cadangan kepada bank dimana dana pensiun memiliki rekening – bank sentral memberikan IOU kepada bank komersil (baris kedua). Dengan demikian, neraca bank komersil mengembang; kewajiban simpanan baru setara dengan asset dalam bentuk cadangan baru (baris ketiga).

Gambar 3. Dampak QE pada neraca

Dua Kesalahpahaman tentang bagaimana QE bekerja

Mengapa cadangan tambahan bukan merupakan ‘free money’ bagi bank-bank komersil

Ketika pembelian aset-aset oleh bank central melibatkan – dan mempengaruhi – neraca bank-bank komersil, peran utama yang dijalankan oleh bank-bank itu adalah sebagai perantara (intermediary) untuk memfasilitasi transaksi antara bank sentral dan dana pensiun.  Cadangan tambahan yang ditunjukkan dalam Gambar 3 secara sederhana merupakan hasil sampingan dari transaksi ini.  Kadang-kadang diperdebatkan bahwa karena mereka merupakan aset-aset yang dikuasai oleh bank-bank komersil yang menghasilkan bunga, cadangan ini merepresentasikan ‘free money’ bagi bank-bank.  Sementara bank-bank komersil sebenarnya menerima bunga atas cadangan yang baru diciptakan, QE juga menciptakan kewajiban yang bersesuaian bagi bank dalam bentuk simpanan atau deposit yang dimiliki oleh dana pensiun, atas mana bank tersebut harus membayar bunga.  Dengan kata lain, QE menghasilkan dua IOU bagi bank-bank komersil yaitu IOU baru dari Bank Sentral dan juga IOU baru yang sama besarnya kepada nasabah (dalam kasus ini, dana pensiun), dan suku bunga atas keduanya bergantung pada Bank Rate (suku bunga bank sentral). 

Mengapa cadangan tambahan tidak dilipatgandakan kedalam bentuk pinjaman baru dan broad money

Sebagaimana dibahas sebelumnya, mekanisme transmisi QE bergantung pada efek dari broad money (bukan base money) yang baru diciptakan.  Permulaan dari transmisi adalah penciptaan simpanan (bank deposit) pada neraca pemegang aset sebagai pengganti hutang pemerintah (Gambar 3, baris pertama).  Yang lebih penting untuk dicatat bahwa cadangan yang terbentuk di dalam sektor perbankan (Gambar 3, baris ketiga) tidaklah memainkan peran utama.  Hal ini karena, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bank tidak dapat menyalurkan cadangannya menjadi pinjaman.  Cadangan adalah IOU dari bank sentral kepada bank komersil.  Bank-bank komersil tersebut dapat menggunakannya untuk melakukan pembayaran diantara sesama bank komersil, akan tetapi tidak dapat meminjamkannya kepada nasabah didalam ekonomi, yang tidak memegang rekening cadangan di bank sentral sebagaimana bank komersil.  Pada saat bank menyalurkan pinjaman tambahan, ia diseimbangkan dengan simpanan tambahan – maka nilai cadangan sesungguhnya tidak berubah. 
Lagi pula, cadangan baru tidak secara mekanis dilipatgandakan menjadi pinjaman baru dan simpanan baru sebagaimana diprediksi oleh teori money multiplier.  QE meningkatkan broad money tanpa secara langsung mengakibatkan atau memerlukan kenaikan volume pinjaman.  Meski sisi pertama dari teori money multiplier tidak terbukti kebenarannya selama QE – posisi moneter secara mekanis menentukan kuantitas cadangan – namun cadangan yang baru terbentuk tidak dengan sendirinya mengubah secara berarti insentif bagi bank-bank komersil untuk menciptakan broad money yang baru melalui penyaluran pinjaman.  Adalah mungkin bahwa QE secara tidak langsung mempengaruhi insentif bagi bank untuk menyalurkan kredit baru, sebagai contoh dengan mengurangi biaya pembiayaan mereka (suku bunga pinjaman), atau dengan meningkatkan kuanttitas kredit dengan meningkatkan aktifitas pemasaran kredit.  Akan tetapi, QE dapat pula membuat perusahaan-perusahaan melunasi hutang-hutang mereka, jika mereka hendak menerbitkan lebih banyak bond atau ekuitas dan menggunakan dana-dana itu untuk melunasi hutang-hutang mereka kepada bank.  Sebagai penyeimbang, maka adalah memungkinkan bagi QE untuk meningkatkan atau mengurangi nilai kredit yang disalurkan oleh bank-bank komersil di dalam ekonomi.  Akan tetapi, saluran-saluran ini bukanlah bagian kunci dalam transmisinya; melainkan, QE bekerja dengan mengitari (circumventing) sektor perbankan, bertujuan untuk meningkatkan belanja sektor swasta secara langsung. 

Kesimpulan

Artikel ini telah membahas bagaimana uang diciptakan di dalam ekonomi moderen.  Sebagian besar uang beredar sesungguhnya diciptakan, tidak oleh percetakan uang bank sentral, melainkan oleh bank-bank komersil itu sendiri: bank-bank komeril menciptakan uang setiap saat mereka menyalurkan pinjaman kepada seseorang di dalam ekonomi atau membeli aset dari nasabah.  Dan bertentangan dengan deskripsi yang dijumpai dalam banyak buku-buku teks ekonomi, bank sentral tidaklah secara langsung mengkontrol kuantitas base money maupun broad money.  Namun demikian bank sentral tetap mampu mempengaruhi jumlah uang di dalam ekonomi.  Ia melakukan itu dalam keadaan normal melalui penetapan kebijakan moneter – melalui tingkat suku bunga yang ia bayarkan atas cadangan milik bank-bank komersil yang ditempatkan pada bank sentral.  Namun, perkembangan yang yang lebih baru, dengan dibatasinya Bank Rate oleh Batas Bawah Efektif, program pembelian aset-aset oleh Bank of England telah meningkatkan kuantitas broad money beredar. Hal ini pada gilirannya mempengaruhi harga dan kuantitas sejumlah aset didalam ekonomi, termasuk uang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s