Ayam sakti mandraguna

Ini adalah kejadian nyata, tidak ingat aku bila pastinya, tapi mestilah ditahun-tahun awal dekade 1980-an.  Esok adalah hari libur, almanak merah, tidak pula aku ingat karena hari besar apa.  Malam itu ibu berkata bahwa besok ia akan memasak gulai ayam untuk kami.  Makan dengan lauk ayam bagi kami adalah hari istimewa, kami menyambutnya seperti hari raya, karena ia tak datang setiap hari.
 
Malam itu aku terlelap dengan bayangan indah esok hari.  Aku tahu apa yang akan terjadi, seperti biasanya bila hari istimewa makan dengan lauk ayam tiba.  Tugasku jelas, aku bertanggung jawab menangkap ayam malang itu, Abak yang menyembelih, aku pula yang mencabuti bulu-bulunya, setelah direbus.  Selanjutnya terserah Ibu.  Kami anak-anaknya akan merasa waktu tiba-tiba berputar sangat lambat, menanti hingga gulai ayam siap disantap.  Bergantian kami ‘mencogok’ ke dapur dan bertanya, “alah masak, Bu?”.  Kalaulah aku bermimpi dalam tidur malam itu, pastilah mimpiku indah.
 
Pagipun tiba.  Ibu telah sibuk didapur.  Aku menyelinap masuk ke kandang ayam.  Itu dia, mataku cepat menemukan ayam yang akan menjemput takdirnya hari itu.  Tadi malam kami telah memutuskan ayam mana yang akan disembelih.  Ayam-ayam kami tidaklah banyak, kami mengidentifikasi mereka melalui ciri-ciri fisik seperti warna-warni bulu dan bentuk jambul.  Mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami akan daging dan telur.  Kadang-kadang ada tetangga yang membeli ayam kami, dengan harga bersahabat tentunya.
 
Setelah kejar-kejaran beberapa saat, ayam itu jatuh ketangan ku, pasrah.  Aku keluar kandang sembari membuka lebar pintu kandang, ayam-ayam lain menghambur keluar menikmati hari baru dan menjemput rezeki Allah.
 
Abak telah siap dibelakang rumah dekat dapur, berdiri dengan pisau terhunus, yang baru saja diasahnya.  Abah selalu berkata bahwa pisau untuk menyembelihkan hewan hendaklah setajam mungkin agar tidak lama ia menderita.
 
Prosesi eksekusipun dimulailah.  Ujung sayap kanan ayam itu aku tempelkan pada kaki kanannya, begitu pula ujung sayap kiri pada kaki kiri.  Lalu, semuanya aku genggam dengan tangan kiriku.  Tangan kananku menjepit kulit leher tidak jauh dari dagu ayam itu dengan ibu jari dan telunjuk.  Bagian leher antara dagu dan jariku itulah dimana pisau akan bekerja.  Tangan kiri Abak memegang kepala ayam itu.  Kemudian kami berdua mengatur posisi berdiri sehingga posisi ayam itu seolah tidur miring menghadap kiblat.  Seperti biasa, sepanjang prosesi itu ayam akan rileks saja, pasrah tiada meronta.
 
Mulut Abak mulai komat-kamit, melafazkan Bismillah dan doa.  Penyembelihanpun dilakukan dengan cepat.  Aku menurunkan ayam itu ke tanah, biasanya ia akan menggelepar sebentar, lalu diam.
 
Ternyata hari itu bukan hari biasa.  Ayam itu memang menggelapar, sebentar saja, tapi setelahnya ia tak diam.  Melainkan, tiba-tiba ia tegak berdiri lalu berlari kencang.  Ia bergabung dengan teman-temannya yang baru saja lepas dari kandang, mematuk-matuk tanah mencari makan.  Aku melihat dari jauh, menanti ia rebah ke tanah.  Beberapa menit berlalu, tak ada tanda-tanda ayam itu melemah, terhuyung atau pingsan.  Ia terlihat segar seperti ayam lain meski pembuluh darah besar menjuntai-juntai dilehernya. 
 
Aku mengambil inisiatif untuk mengejarnya, tapi ia berkelit dengan lincahnya.  Abak dan adikku turut membantu, kami kepung ia, tapi lepas juga.  Berbagai trik kami coba, tidak juga berhasil.  Akhirnya kami memutuskan untuk membiarkan saja.  Aku ditugaskan untuk terus memantau pergerakannya, bila ia melemah dan rebah, mungkin Abak perlu menyempurnakan penyembelihan.
 
Tapi sang ayam memang sakti, seharian kami menunggu, dari matahari pagi meninggi hingga Dzuhur, lalu turun hingga waktu Asar, ia tetap bugar.  Ia beraktivitas seperti biasa, bersama-sama dengan teman-temannya.  Menjelang Maghrib, senja meremang, sepertinya penglihatannya mulai kabur, mungkin itu yang disebut rabun ayam.  Ia tidak lagi gesit, dan aku akhirnya berhasil menangkapnya.  Abak kembali menyembelihnya.  Aku letakkan ia ditanah, menggelepar, lalu diam, tak bergerak lagi.  Ia telah pergi.
 
Akhirnya, kami dapat juga menikmati gulai ayam masakan Ibu yang sedapnya juara dunia itu, meski sangat terlambat dari rencana semula.  Biasanya seluruh bagian ayam itu habis kami makan, kecuali bulu, patuk dan kuku cakarnya.  Tapi kali ini, entah dapat ilham dari mana, Abak menitahkan untuk tidak memasak kedua kakinya.  Melainkan menggantungnya didinding dapur kami, diatas tungku.  Entahlah…mungkin untuk sekedar mengenang kesaktian ayam itu.  
 
             

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s