Ramadan tempo doeloe (3): Nasi dulu, baru kolak

Sebab sirup ABC rasa jeruk hadir setiap hari saat berbuka puasa, makanan berbuka lainnya menjadi kurang penting bagi keluarga kami. Bila diperingkat dari segi tingkat penting tidaknya, maka urutannya adalah sirup ABC rasa jeruk, nasi dan lauk seadanya, barulah penganan khas berbuka.

Hal ini juga didorong oleh kebiasaan unik mendiang Abak, yang tidak menyukai makanan manis. Baginya berbuka dengan makanan manis sebangsa kolak dan kawan-kawan bukanlah ide yang masuk akal. Bila bedug Maghrib ditabuh, Abak hanya berbuka dengan sirup ABC rasa jeruk yang encer dan kurang manis seduhan Ibu, lalu menunaikan shalat maghrib. Selanjutnya langsung menyantap makanan utama berupa nasi dan lauk-pauk apapun yang ada. Adapun kolak atau penganan special apapun yang dibuat Ibu dan sepatutnya menjadi pembuka puasa, barulah disentuh selepas shalat Isya dan tarawih.

Keluarga Ibu sebenarnya tidak menganut mazhab Abak dalam hal berbuka puasa, mereka seperti kebanyakan orang Indonesia, berbuka dengan kurma bila ada, disambung kolak, lalu rehat Shalat maghrib. Kembali ke meja makan menyantap menu utama nasi dan kawan-kawan. Perut boleh jadi lapar selepas tarawih yang panjang, maka menyantap sisa kolak adalah ritual sesampai dirumah, bila kolak masih tersisa tentunya. Namun hidup bertahun-tahun dengan Abak telah mengubah Ibu, yang nyaman mengikuti pola berbuka Abak. Demikian halnya pula kami anak-anak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s