Ramadan tempo doeloe (8): Tarawih Asmara dan Asmara Subuh

Ramadan demikian hidup dan semarak, dengan tarawih dan tadarus dimalam hari. Dini hari anak-anak muda berkeliling kampung, memukul-mukul apapun yang mengeluarkan suara gaduh untuk membangunkan sahur.  Masjid dan surau kembali ramai oleh jamaah shalat shubuh selepas waktu sahur.  Dibanyak masjid dan surau, shalat subuh berjamaah dilanjutkan dengan ceramah hingga matahari terbit. Kemudian sebagian jamaah tegak shalat sunnah syuruq. Banyak pula yang baru pulang selepas shalat dhuha, terutama diakhir pekan atau hari libur. Diantara shalat-shalat itu orang-orang memperbanyak tilawah Al Quran mengejar target khatam. Waktu shalat zhuhur dan asar pun begitu, masjid dan surau lebih ramai. Menjelang maghrib, ramai yang menghantar pabukoan ke masjid atau surau, untuk mereka yang memilih berbuka di sana.

Namun selalu saja ada yang memanfaatkan kemeriahan Ramadan untuk hal-hal yang justru menodai kesyahduannya.  Telah beberapa tahun ini, semenjak TV-TV swasta bermekaran dan TVRI ditinggalkan, begitu banyak program keagamaan bertema Ramadan dilayar kaca. Mereka berlomba-lomba menarik perhatian penonton, dengan berbagai cara.  Ada tilawah Al Quran dan ceramah agama dari Ustadz-ustadz cendekia.  Namun seiring berjalannya waktu, stasiun TV mulai lebih memprioritaskan popularitas dan rating ketimbang kualitas.  Mulailah bermunculan ceramah dengan Ustadz yang lebih cocok menjadi pelawak slapstick dari pada pembimbing umat.  Bahkan pernah ada stasiun TV yang nekad ‘ustadz’ yang bacaan Al Qurannya saja belepotan.  Semakin lama semakin parah.  TV-TV memperbanyak jam tayang ramadan, non-stop sepanjang malam hingga subuh.  Menemani umat Islam mempersiapkan dan makan sahur, katanya.  Namun yang terjadi adalah program itu diisi dengan mata acara tak berguna, riang canda berlebihan oleh artis-artis yang jingkrak-jingkrak seperti kesurupan berusaha lucu.  Sungguh tak patut ditiru.

Penyalahgunaan Ramadan ini sebenarnya sudah pula terjadi semenjak saya kecil dulu, bukan oleh TV-TV swasta, karena waktu itu TVRI adalah satu-satunya, melainkan oleh oknum-oknum manusia.  Dulu, selama Ramadan dikampung kami ada istilah Tarawih Asmara dan Asmara Subuh.  Ini adalah kelakuan anak-anak muda yang mabuk kepayang dan terlibat jalinan cinta monyet.
Bagi para remaja laki-laki yang rada playboy norak, mereka berdalih bahwa adalah sunnah bagi laki-laki untuk shalat tarawih atau subuh di masjid atau surau-surau yang berbeda sepanjang bulan Ramadan.  Maka mulailah mereka bersafari, bukan untuk meraup pahala (kalau itu memang sunnah), melainkan untuk mengincar remaja-remaja puteri untuk diajak jalan-jalan atau mojok selepas shalat.     
Para jejaka itu berada dalam berbagai tingkatan fase percintaan.  Ada yang belum punya pacar dan berharap menemukan tambatan hati diantara jamaah puteri surau lain. Ada pula yang sudah sedikit maju, berada dalam fase PDKT alias pendekatan.  Dimana surau tempat pujaan hati shalat tarawih atau subuh telah pun teridentifikasi.  Kini saatnya untuk terus meluncurkan sinyal-sinyal yang kuat sambil mencari kesempatan untuk nembak alias mendeklarasikan isi hati.  Boleh jadi hingga bulan puasa berlalu bahkan lebaran pun usai, nembak tak pernah terjadi.  Beragam sebabnya, mungkin butir-butir nyali tak pernah terhimpun cukup, atau sinyal-sinyal yang dikirim tidak pernah direspon atau dibalas sinyal negatif dan sinis.  Lebih parah lagi, bila ternyata ada perjaka lain yang menyalip ditikungan mendaki dan menembak terlebih dahulu, celakanya malah diterima oleh sang bunga.  Sungguh, sakitnya tuh disini….!
Diantara kafilah safari Ramadan itu ada pula playboy kampung yang sesungguhnya sudah punya banyak pacar.  Motivasinya bersafari hanyalah sebagai ajang pembuktian bahwa ia memang flamboyan sejati, lihai memikat hati wanita.
Begitulah…sejoli-sejoli itu berjalanan beriringan selepas tarawih atau subuh.  Sang jejaka mengantar puteri pulang kerumah dengan memilih jalur memutar sejauh mungkin, agar lama waktu bersama.  Hati keduanya berbunga-bunga.  Sang jejaka merasa setampan Onky Alexander dan sang puteri merasa secantik Desy Ratnasari.  Mati karancakan!
  
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s