Ramadan tempo doeloe (12): Filsuf jomblo dan jeans pertamaku

Adalah Bang Ismet, bujang lapuk penggila filosofi, sahabat semua anak asrama mahasiswa.  Ia bekerja serabutan, apa saja yang menghasilkan uang halal.

Waktu itu umurnya paling tidak tiga puluh lima tahun.  Ia lebih tua dari semua penghuni asrama.  Pada awalnya Bang Ismet adalah sahabat dari salah seorang penghuni angkatan lama yang sudah beberapa tahun meninggalkan asrama karena kuliahnya telah selesai dan bekerja dikota lain.  Namun Bang Ismet tak berhenti melawat, paling tidak seminggu sekali.  Itu sebabnya ia menjadi sahabat penghuni asrama lintas generasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari asrama kami.  Bila lebih dari seminggu Bang Ismet tak menampakkan mukanya, kami mulai bertanya-tanya, “Bang Ismet mana, ya?”.  Serasa ada yang hilang.
Bang Ismet yang berperawakan kecil dan berambut ikal itu adalah orang ceria, tidak pernah marah, easy going dan mudah berkawan dengan semua orang.  Setiap kali berjumpa, ia selalu yang pertama mengucap salam dan menanyakan kabar dengan hangat, seolah kita sudah lama tak bertemu.  Padahal baru lima hari lalu ia numpang tidur dikamar saya, setelah nongkrong hingga larut diteras depan sambil nonton anak-anak asrama main karambol.
Bang Ismet mengerti seluk beluk asrama melebihi penghuni lain termasuk dalam perkara kisah kontroversi makhluk dunia lain yang menunggu gedung tua peninggalan Belanda itu.  Lengkap dengan kisah-kisah penghuni lama yang menyertainya.
Di asrama Bang Ismet nimbrung dimana saja, diteras depan bersama para pemain karambol, diruang tengah depan TV bersama para mahasiswa stress yang sedang bermain kartu, didapur menemani anak asrama yang sedang merebus mie instan atau di halaman belakang sambil menonton anak-anak asrama memamerkan kemampuan akrobatik dengan bermain sepak takraw.  Bila lelah, ia tergeletak dimana saja, di tikar di salah satu kamar, dikarpet depan TV atau di mushalla. Pribadi yang menyenangkan dan seolah hidupnya tanpa beban.

Namun, dibalik keceriaan itu, Bang Ismet adalah sosok yang antik dan cenderung nyeleneh.  Ia telah menyelesaikan S1 ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi di Jakarta dan ia punya ketertarikan teramat kuat terhadap apapun yang berbau filosofi.  Ia bisa bertahan-tahan berjam-jam mendiskusikan segala macam topik filosofis mengenai makna hidup ini.  Kalau sudah demikian, seolah-olah seluruh dunia ada dalam genggamannya dan semua persoalan dunia dapat ia selesaikan.  Entahlah karena itu, semua orang mungkin melihatnya sebagai orang aneh, sehingga sulit baginya mendapatkan jodoh.

Suatu hari di bulan puasaku yang pertama di Bogor, Bang Ismet datang dengan menenteng sebuah tas pakaian yang besar.  Aku sedang duduk-duduk dikursi tamu teras depan, dengan beberapa penghuni lain.  Seperti biasa, dari jauh senyum Bang Ismet sudah mengembang.  Sesampai diteras, ia mengucap salam sambil melepaskan kedua sepatu dengan menginjak bagian tumitnya.  Lalu meletakkan tas besarnya dilantai dan menyalami kami satu per satu.  Mulailah obrolan hangat mengalir dan sejurus kemudian teras depan asrama sudah pecah dengan canda dan tawa terpingkal.
Rupanya Bang Ismet baru tiba dari Bandung.  Ia kemudian membuka tas pakaian besar itu, ternyata isinya dua lusin blue jeans baru yang masing-masing terlipat rapi dan terbungkus plastik.  Ia baru mengambilnya dari pengrajin jeans di Cihampelas.  Bang Ismet segera menggelar dagangannya di meja.  Tanpa diperintah, anak-anak asrama mulai mengacak-ngacak, mengeluarkannya dari plastik dan mematut-matut.  
“Yang tahu…yang tahu…”, teriak salah satu dari mereka.  Itulah kode standard untuk memanggil seluruh warga asrama, disudut manapun ia berada, untuk bergegas ke teras depan karena ada sesuatu yang penting, umumnya makanan.  Segera terdengar bunyi pintu-pintu dibuka dan sekejap kemudian tiba-tiba dagangan Bang Ismet dikerubungi begitu banyak orang.
Singkat cerita sepertiga dagangan Bang Ismet terjual.  Dengan harga yang miring dan boleh dicicil beberapa bulan setiap kali kami menerima wesel dari kampung.
Aku ikut mengambil satu celana jeans.  Ialah celana jeans paling bersejarah.  Ialah jeans pertamaku.  Ianya aku beli dibulan Ramadan, dengan mencicil bulanan, dari Bang Ismet sang filsuf jomblo.  Semakin bermakna ia, karena ia lambang runtuhnya sebuah tradisi bahwa lelaki tulen tidak sepatutnya membeli pakaian yang sudah jadi. (Catatan: Bila paragraf terakhir ini membingungkan anda, cobalah kaji kembali kabacarito: Ramadan tempo doeloe (11): Baju rayo).

Sembilan belas tahun sudah kutinggalkan asrama.  Selama itu aku tak pernah bertemu Bang Ismet lagi.  Semoga ia sehat dan baik-baik saja.  Dan, mudah-mudahan ia telah menikah dan bahagia bersama keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s