Ramadan tempo doeloe (14) : Matine show

Di era 1980-an, ada tiga bioskop di Sungai Penuh, yaitu bioskop Karya, bioskop Purnama dan bioskop Candra.  Belakangan bioskop Karya terbakar habis dan tidak pernah beroperasi kembali.  Hingga saya meninggalkan Kerinci ditahun 1993, duo Purnama dan Candra memonopoli dunia perbioskopan kabupaten kami.  Tak ada lawan.  Entah kenapa nama keduanya terkait dengan rembulan.  Jaringan bioskop 21 tidak laku dikampung kami.

Sepanjang pengamatanku, kedua bioskop inipun sebenarnya berjalan terengah-engah.  Ibarat pepatah, bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.  Hampir tidak pernah tayangan film mereka mampu menarik ramai penonton hingga penuh.  
Menurutku, paling tidak ada dua penyebabnya.  Satu, film-film yang diputar kedua bioskop itu tidaklah terlalu baru.  Wajar, bioskop kecil di pelosok rimba Sumatera seperti mereka tentulah diantara yang mendapat giliran paling buncit menerima rol film, setelah Jakarta dan kota-kota di pulau Jawa dan ibukota propinsi disekitar kami, yaitu Padang, Jambi dan Bengkulu.  Sudah begitu, Kerinci masih pula harus bersaing dengan kabupaten-kabupaten lain yang lebih dekat dengan kota-kota itu dan mungkin lebih ramai penduduknya.  Penduduk Kerinci saat itu sekitar tiga ratus ribu jiwa saja.  Apa hendak dikata, Allah menyembunyikan Kerinci yang indah permai bak Syurga itu jauh didalam lembah Bukit Barisan, dipelosok pulau Sumatera.  Dari ketiga kota itu, Kerinci adalah kabupaten yang terjauh dengan jalan menujunya terjal dan berliku, meliuk-liuk dipunggung pegunungan Bukit Barisan.  Namun, memang demikianlah hakikat Syurga bukan? Keindahannya tiada tara tapi tidaklah mudah untuk menggapainya.
Kedua, sebagian besar penduduk Kerinci adalah petani, selebihnya pedagang dan pegawai negeri.  Tiket bioskop masih terasa mahal bagi kami.  Kalau saya tak salah ingat, tiket bioskop diawal 1990-an berkisar antara Rp 1,500 hingga Rp 2,500.  Waktu itu nasi sebungkus dengan lauk rendang atau ayam hanya seharga Rp 700 sampai Rp 800 saja.  Itupun kalau dibeli di Rumah Makan Minang Soto atau Haslin Baru, dua rumah makan paling keren se kabupaten kami.  Sementara kalau anda beli nasi ramas yang sama di Rumah Makan yang lebih kecil dipasar atau di los ayam, paling-paling merobek kantong selebar Rp 500 saja.  Hitung punya hitung, haruskah kami melewatkan hingga lima kali makan hanya untuk duduk selama dua jam didalam ruangan besar yang pengap?  Alhasil, hanya orang-orang dengan sakaw tingkat dewa saja yang memaksakan diri menonton film di bioskop.  Kemungkinan lain, seorang istri yang sedang ngidam, terpaksalah pula sang suami menemani. 
Nah, ditengah suramnya industri hiburan itu bioskop Purnama melakukan suatu terobosan.  Mereka meluncurkan matine show atau pertunjukan tengah hari disetiap hari Ahad.  Pertunjukan dimulai pukul 12 siang.  Film-film yang diputar adalah film Hollywood atau Hong kong yang lebih usang dari pada jadwal normal.  Yang paling penting, harga tiketnya sungguh bersahabat, setara dengan sebungkus nasi ramas dari rumah makan di los ayam alias Rp 500 saja.
Ternyata ini memang taktik jitu, setiap sesi matine show selalu penuh.  Bahkan aku yakin, pemilik bioskop yang terletak di kaki Bukit Sentiong itu mulai tamak, ia jual tiket melebihi jumlah tempat duduk.  Akibatnya yang terlambat masuk terpaksa duduk di lorong tengah dan kiri kanan.

Source: gubuakkopi.wordpress.com

Janganlah bayangkan bioskop ini senyaman bioskop masa kini yang bertebaran di mal-mal. Tidak tahu aku kapasitas tempat duduknya, mungkin diantara 200 hingga 300 orang.  Kursinya dari triplex tebal, baik dudukan maupun sandarannya, tidak ada busa empuk sama sekali.  Tidak ada AC, hanya kipas angin.  Kemiringan lantainya tidak memadai, sehingga orang pendek sepertiku terpaksa rajin menggerak-gerakkan kepala kekiri dan kekanan untuk mencari celah diantara kepala-kepala yang duduk didepan.  
Khusus untuk matine show, tidak ada nomor tempat duduk.  Siapa cepat dia dapat.  Begitu pintu dibuka, penonton menghambur masuk seperti air bah, berpacu berebut tempat duduk terbaik.  Disetiap pertunjukan, ada saja satu dua kuciang aia tak punya otak menyelinap masuk dan merokok disalah satu pojok.  Maka sempurnalah kepengapannya.
Kombinasi film usang, tiket gopek dan ketidaknyamanan itu ternyata sangat menarik bagi orang-orang kurang hiburan, termasuk aku dan kawan-kawan sekolahku.
Dibulan puasa apalagi, matine show semakin diminati.  Ia menjadi wahana baru bagi aktifis tarawih asmara dan asmara subuh (kabacarito: Ramadan tempo doeloe (8): Tarawih Asmara dan Asmara Subuh).  Ia menjadi alternatif bagi yang penat malala naik motor ke bukit Sentiong atau dusun-dusun seputar Sungai Penuh (kabacarito: Ramadan tempo doeloe (13): Malala).  Tentu ia menjadi tempat menarik juga bagi pengunjung golongan tiga yang lelah berdesak-desakan di lorong-lorong pasa mambo (kabacarito: Ramadan tempo doeloe (10): Pasa Mambo).   
Advertisements

One thought on “Ramadan tempo doeloe (14) : Matine show

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s