Ramadan tempo doeloe (25): Guru digugat

Ramai kabar belakangan ini, dimedia mainstream maupun media sosial, tentang guru yang digugat. Seorang guru dilaporkan ke polisi karena mencubit muridnya. Ada ibu guru yang masuk bui karena memukul muridnya.

Saya tidak pernah memukul anak-anak saya. Saya tidak mendukung guru menggunakan kekerasan terhadap anak muridnya. Namun, guru juga manusia, yang kesabarannya tidak tak berbatas. Banyak faktor yang bermain dalam satu waktu sehingga tanggul pembendung amarah itu jebol juga. Tidak selalu dari para murid didik yang entah kerasukan setan dari alas mana hingga kadang terlewat menjengkelkan. Bisa jadi ada sesuatu yang berasal dari diri guru itu sendiri. Bahkan mungkin juga ada sesuatu yang diluar keduanya.

Tapi saya tak hendak berpanjang lebar membahas hal ini, saya bukan ahlinya. Saya hanya mau bercerita sedikit kisah tentang guru dimasa lalu. Kisah-kisah ini kejadian sehari-hari yang biasa saja, tidaklah penting dan dramatis sangat. Namun paling tidak dapat menggambarkan bahwa mungkin pandangan kita terhadap guru dan hubungan kita dengan mereka tidak lagi sama. Waktu telah mengubahnya.

Ibu saya seorang guru SMP didusun kami. Mendiang Tek Da, adik Ibu yang saya menumpang tinggal dengannya selama beberapa tahun adalah seorang guru SD. Dua adik Ibu lainnya menikah dengan guru. Ibu dan Bapak mertua saya, keduanya guru. Kakak istri saya juga guru. Seorang adik perempuan saya menikah dengan guru. Seorang kakak perempuan saya guru. Kakak perempuan yang lain dan adik bungsu saya berprofesi sebagai dosen, guru juga hakikatnya. Saya sendiri, dimasa kuliah nyambi mengajar matematika dan fisika di bimbingan belajar Primagama, agar tak terlalu bergantung pada wesel yang kadang terlambat tiba. Saya dibayar enam hingga tujuh ribu rupiah untuk satu jam. Setelah bekerja di Jakarta, saya nyambi lagi mengajar manajemen resiko dan asuransi.

Saya hampir jadi dosen dikampus saya, lalu mengundurkan diri karena gaji dosen dimasa itu menurut saya teramat kecil. Saya khawatir tidak mampu membantu Abak dan Ibu membiayai sekolah adik-adik. Keputusan yang membuat saya tak berani bertemu muka dengan Prof. Khairil Anwar Notodiputro, guru besar IPB yang waktu itu menjadi Ketua Jurusan Statistika. Pernah satu kali saya disindirnya disebuah acara alumni. Masih teringat jelas ketika saya menghadap beliau menyatakan pengunduran diri. Ekspresinya datar tidak terkejut, seakan faham bahwa profesi dosen bukanlah impian banyak orang dan dosen muda menyerah kalah tidaklah kejadian istimewa. Ironisnya, saat usia merangkak naik, saya katakan pada istri saya bahwa saya mau menghabiskan hari tua sebagai guru, bila Allah berkenan memberi umur panjang. Dua paragraf ini sekedar untuk meyakinkan pembaca betapa saya dekat dengan dunia guru, sehingga apa yang saya paparkan berikut ini tidak dianggap rekaan semata.

Ibu bercerita bahwa ia mulai menjadi guru bahasa Inggris ditahun 1967 dan langsung ditempatkan didusun kami yang saat itu terasa sangat jauh dari ibu kota kabupaten yang jaraknya hanya tiga puluh lima kilometer. Jarak itu harus ditempuh seharian karena kondisi jalan yang sangat buruk. Satu-satunya alat transportasi yang tersedia adalah jeep. Dimusim penghujan, mereka kadang harus menginap dijalan karena jeep terperangkap kubangan lumpur.

Dusun kami waktu itu baru saja memiliki SMP dan baru ada dua atau tiga kelas. Gedung sekolahnya sederhana sekali, semi permanen, temboknya hanya setinggi satu meter, selebihnya papan dan atapnya seng. Begitu yang saya lihat dari foto lama hitam putih. Disitu sudah ada guru matematika yang tiba dua tahun sebelum Ibu. Ibu Nurlela namanya, namun lebih dikenal dengan sapaan Ibu Lela. Sementara Ibu lebih dikenal oleh orang dusun kami dengan panggilan Ibu Lin. Keduanya kemudian menjadi sahabat dekat selama puluhan tahun hingga Ibu Lela wafat. Karena sama-sama belum berkeluarga, mereka berdua mengontrak ditempat yang sama, dilantai tiga sebuah rumah panggung yang sepenuhnya terbuat dari kayu, ditepi sungai yang jernih airnya, di dusun Baru Lempur, tak jauh dari sekolah.

Keduanya menikah ditahun yang sama, tentu tak lagi mungkin tinggal bersama. Bersama suami masing-masing, mereka pindah kesebuah rumah kayu berlantai dua di dusun Lempur Mudik. Ibu menyewa lantai bawah dan Ibu Lela lantai atas. Rumah yang sangat bersejarah bagi keluarga kami. Ketiga anak Ibu dilahirkan dirumah itu, dibantu oleh bidan desa yang sama, bidan Dahniar namanya. Abak membuka usaha menjahitnya ‘Teliti tailor’ dan usaha pangkas rambut dibagian depan rumah itu, yang memang dirancang untuk sebuah toko.

Beberapa bulan setelah adik bungsuku lahir, kami pindah ke sudung palupuh agar dekat dengan sekolah tempat Ibu mengajar. Klik ‘Hijrah ke Sudung Palupuh’ http://kabacarito.blogspot.com/2015/11/hijrah-ke-sudung-palupuh.html untuk kisah lengkapnya. Ibu Lela dan Ibu Lin sepertinya memang tak bisa saling berjauhan. Selang dua bulan kemudian, Ibu Lela menyusul pindah mendekat sekolah, menyewa faviliun rumah penduduk, seratus lima puluh meter saja jauhnya dari rumah bambu kami.

Beberapa tahun kemudian sekolah membangun beberapa unit rumah sederhana semi permanen, setengah tembok setengah papan dan beratap seng. Keduanya pindah kesana dan kembali menjadi jiran.

Ibu bercerita, ketika masih tinggal dilantai tiga rumah kayu besar, mereka sering kali ditemani banyak murid-muridnya yang datang untuk mendapat pelajaran tambahan untuk dua mata pelajaran yang dianggap paling sulit, matematika dan bahasa Inggris. Semua itu gratis, tapi bukan itu alasan anak-anak itu datang. Mereka datang didorong kesadaran untuk menjadi lebih berpengetahuan karena yakin pendidikan yang menentukan masa depan. Anak-anak perempuan bahkan kadang menginap.

Saling berbagi adalah jalan hidup yang mendarah daging. Kebahagian, kesenangan atau kenikmatan, sekecil apapun itu, mestilah ditebar dan sebar ke lingkungan terdekat, apakah itu tetangga, keluarga atau kerabat, dan para guru.

Bila Ramadan tiba, kami sering menerima hantaran pabukoan atau rendang dari murid-murid Ibu. Di hari raya, mereka menghantarkan kue-kue raya dan galamai (dodol), sambil bersilaturahmi. Anak-anak itu, terutama yang perempuan, merasa tak patut bertamu dihari raya tanpa membawa buah tangan.

Menjelang kenduri sko (kenduri negeri selepas panen padi), kami menerima banyak sekali lemang. Kami tidak turut memasak lemang, karena kami tidak punya sawah, jadi tak pernah memanen padi. Dihari-hari itu kami biasanya membuat tapai ketan hitam, yang konon pembuatnya tidak boleh kentut selama proses mempersiapkan pemeraman (Ramadan tempo doeloe (4): Dilarang kentut http://kabacarito.blogspot.com/2016/06/ramadan-tempo-doeloe-4-dilarang-kentut.html untuk kisa lengkapnya). Begitu lemang-lemang itu tiba, kami menikmati lamang-tapai istimewa.

Jalan hidup kedua adalah tolong menolong dan bergotong royong. Masyarakat bergotong royong menyediakan daging dihari mambantai, membersihkan jalan ke ladang, membangun masjid dan sebagainya. Gotong royong paling istimewa yang kuingat adalah menegak rumah. Rumah-rumah penduduk waktu itu umumnya berangka kayu, meski batu bata menjadi dindingnya. Langkah pertama membangun rumah adalah membuat rangkanya, yang dilakukan oleh para tukang kayu profesional. Selepas itu adalah tahapan paling krusial dan memerlukan banyak tenaga, yaitu menegak rumah, yang intinya adalah menegakkan rangka-rangka kayu itu hingga rangka atapnya. Seluruh laki-laki dewasa libur keladang atau kesawah hari itu dan bergotong royong menegak rumah kerabat mereka. Sebelum kerja keras menegakkan kayu-kayu berat itu, dilakukan sedikit upacara, sambutan-sambutan dan pembacaan doa. Pemilik rumah juga menyediakan makan siang untuk semua orang hari itu.

Para gurupun kecipratan manfaat budaya ini. Saya masih ingat bahwa murid-murid Ibu datang kerumah kalau kami punya pekerjaan agak besar. Mengganti pagar rumah misalnya. Pagar rumah kami adalah bilah-bilah bambu vertikal setinggi satu hingga satu seperempat meter yang dipaku pada dua bilah bambu panjang melintang sejajar. Bilah bambu melintang itu dipaku pada tiang dari batang kayu manis yang ditanam ketanah sedalam tiga puluh hingga empat puluh sentimeter. Pagar itu diwarnai putih dengan kapur. Setelah dua tahunan, pagar itu lapuk dan harus diganti. Pekerjaan yang cukup memakan tenaga dan waktu karena dimulai dari menebang bambu dan memotong batang kayu manis yang besar. Namun dengan bantuan beberapa murid laki-laki yang juga merupakan tetangga kami, semua bisa diselesaikan hingga pengapuran dalam sehari saja. Mereka tidak dibayar tentu, Ibu cuma perlu memasak makan siang istimewa untuk mereka.

Seingatku ada juga beberapa murid perempuan yang datang membantu bila Ibu sibuk membuat kue raya. Mereka pulang membawa sedikit kue buatan mereka sendiri.

Ketika adik-adikku lahir, murid-murid Ibu juga datang berkunjung, dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka tidak membawa parsel mahal sebagaimana kebiasaan orang kota masa kini. Buah tangan yang paling banyak mereka bawa adalah sabun cuci batangan berwarna hijau atau biru muda. Setiap satu anak lahir, Ibu punya stok sabun batangan yang cukup untuk mencuci setahun.

Mungkin ada yang bertanya bukankah kebaikan-kebaikan itu bisa disalahgunakan? Jawabannya, ya. Dan memang ada satu dua oknum guru yang melihat celah penghargaan murid itu dan memperlakukan mereka seolah tenaga kerja gratis. Kasus didusun kami adalah membawa murid-murid itu untuk menggarap sawah atau ladang. Namun masyarakat memiliki sistem sendiri untuk membatasi itu. Ketika sesuatu telah melampaui batas norma, ia segera menjadi buah bibir dan menyebar cepat dan tentu saja dapat lahir beberapa versi dengan berbagai variasi. Ini biasanya cukup untuk menyadarkan oknum itu dan menghentikan tindakan tak terpujinya. Bila tak juga jera, orang-orang tua dan pemuka kampung harus turun tangan.

Kami dapat merasakan betapa masyarakat berusaha menghargai guru yang berjasa membuka pintu pengetahuan dengan memberikan beberapa hak kecil istimewa, paling tidak yang aku rasakan adalah kami begitu sering didahulukan dalam banyak hal. Misalnya, dihari membantai, kami duluan yang mendapat daging wajib. Demikian pula dipasar atau ketika mengantri berobat di puskesmas. Tidak hanya Ibu yang merasakannya, Abak dan kami anak-anak Ibu pun demikian. Tidak banyak yang peduli dengan nama kami, Abak lebih dikenal sebagai suami Ibu Lin dan kami bertiga sebagai anak Ibu Lin.

Hingga kini, setelah lama pensiun, Ibu masih menikmati privilege itu. Ibu tak perlu antri untuk pembuatan e-ktp dikantor kecamatan, karena Camat dan kebanyakan pegawainya adalah murid Ibu. Ibu tidak perlu ke kantor pos mengambil uang pensiun, setiap bulan diantar oleh pegawai kantor pos yang dulunya murid Ibu. Dokter Puskesmas dan mantri kesehatan tak mau dibayar jasanya, kecuali untuk pembelian obat saja. Bila Ibu bepergian, sering diberi tempat dimuka disamping pak supir, tempat duduk yang dianggap paling nyaman, karena sang supir dulunya juga murid Ibu. Tempat duduk terhormat disamping pak supir disebut bangku CC. Entah dari mana asal nama itu. Sering aku menyaksikan penumpang yang telah terlebih dahulu duduk dibangku CC, memberikan kenyamanannya untuk Ibu dan ia pindah ke belakang.

Ada pula yang menganggap guru adalah tempat bertanya segala hal. Adalah Nasrun namanya, penjual sate Padang keliling. Tiada angin tiada hujan, sore itu sepulang berkeliling menjajakan satenya, gerobaknya ia parkir tepat didepan rumah kami, lalu mengetuk pintu. “Ibu Lin ada?”, tanyanya pada. Aku jawab dengan teriakan, “Ibuuu…ada Mamak tukang sate..!” Ibu bergegas datang dari dapur. “Ba’a kaba?”, sapanya. Ibu tampak kaget, belum pernah Nasrun bertamu sebelumnya. Rupanya Nasrun sedang punya banyak uang dan kebingungan dimana menyimpannya. Ia baru saja memanen kayu manisnya. Ia mendengar uang bisa disimpan di bank, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ibu lalu menjelaskan panjang lebar apa itu bank, bagaimana cara membuka rekening tabungan, jenis-jenis tabungan, bagaimana nanti menarik uangnya dan sebagainya. Waktu itu, di BRI unit desa didusun kami, hanya ada dua jenis tabungan, Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional) dan Taska (Tabungan Berjangka). Nasrun kadang tampak bingung, ibu mengulang penjelasan dengan bahasa lebih disederhanakan. Ibu juga meyakinkan Nasrun, bahwa tidak akan ada masalah, pegawai bank BRI unit desa didusun kami pasti akan membantu. Kalau ada masalah, Nasrun diminta untuk memberitahu Ibu, semua pegawai bank itu dulunya adalah murid-murid Ibu.

Dua puluh lima tahun sudah aku tinggalkan kampung kami, entahlah kini bagaimana mereka memperlakukan para guru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s