Ramadan tempo doeloe (24): Mudik menghantar nyawa

Terjebak macet dan tak dapat keluar dari jalan bebas hambatan berbayar hingga lebih dari sehari semalam adalah sesuatu yang luar biasa dan tak bisa dimaklumi sekedar sebagai akibat terlalu banyaknya pemudik dan terbatasnya prasarana.  Lebih memilukan karena setidaknya dua belas jiwa melayang. Saya berani menyatakan pastilah ada kegagalan pengaturan, koordinasi dan pengambilan keputusan dari otoritas-otoritas berkuasa.  Lepas tangan dan sibuk mencari kambing hitam adalah pengecut dan memalukan.  Menyatakan bahwa penyelenggaraan arus mudik tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya adalah terlalu menyakitkan, seolah dua belas nyawa itu tiada harganya.  Meski akhirnya permohonan maaf itu keluar dari mulut Menteri Dalam Negeri.  Datang terlambat namun tak hendak kita menghakimi ketulusannya, yang terpenting diikuti tindak lanjut perbaikan yang nyata.

Hingga sepuluh tahun lalu, keluarga kecil kami termasuk jutaan penduduk Jabotabek yang mudik ke Jawa saat lebaran.  Destinasi kami adalah Klaten, kabupaten kecil yang tenggelam oleh nama besar dua kota pengapitnya, Yogyakarta dan Solo.

Saat itu kemacetan parah dititik-titik sepanjang jalur pantai utara (pantura) Jawa telah menjadi topik utama setiap jelang lebaran.  Untungnya kami tidak menyukai jalur pantura.  Bagi kami pantura membosankan.  Ia lurus, datar, berdebu, rumah dan pasar dikiri-kanan, bis-bis besar ugal-ugalan dengan suara klakson yang memekakkan.  Satu lagi, ini sangat subyektif, tak ada makanan enak sepanjang pantura.  Namun begitu, biasanya kami gunakan pantura untuk kembali ke Jakarta disaat arus balik tak lagi padat, karena waktu tempuh yang lebih singkat.

Harus diakui bahwa terjebak kemacetan atau tidak selama arus mudik memang seperti teka-teki, meski tetap bisa disiasati hingga peluang terjebak menjadi kecil.  Pada dasarnya tergantung pada pemilihan waktu dan jalur.  Kami sedapat mungkin berusaha menghindari waktu puncak arus mudik, yang sering terjadi pada akhir pekan terakhir sebelum hari raya.  Biasanya kami bergerak sebelum perkiraan puncak arus mudik atau bahkan setelahnya meski harus mengorbankan berhari raya di perjalanan.

Adapun jalur mudik, kami tak pernah memilih pantura.  Lebih sering mengambil jalur selatan.  Meninggalkan Bekasi selepas Subuh, meluncur di jalan tol Jakarta-Cikampek dilanjutkan tol Purbaleunyi hingga ujung di Cileunyi.  Terus naik ke Nagreg, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Wangon, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Jogja dan tiba di Klaten.

Selain itu kami tak pernah memasang target tiba dikampung halaman.  Perjalanan mestilah dibuat menyenangkan layaknya tamasya, mengingat kami bepergian dengan dua bocah kecil.  Bila salah satu atau keduanya mulai merasa jenuh, kami segera mencari tempat berhenti, apakah di Masjid atau rumah makan.  Perhentian itu bisa menjadi lama, terutama bila ditempat itu ada tempat bermain anak-anak. 

Bekasi-Klaten yang hanya sekitar enam ratus kilometer saja tidak pernah kami selesaikan non-stop.  Kami selalu menginap di Purwokerto.  Esok harinya melanjutkan perjalanan itupun setelah anak-anak puas berenang.  Sampai di Klaten jelang maghrib bahkan bisa lebih malam bila main-main dulu di Jogja.

Kadang perjalanan mudik bisa terjadi spontan.  Tahun itu kami rencanakan untuk tidak mudik karena istri yang sedang hamil anak kedua.  Putra pertama kami tetap mudik naik kereta api dengan tantenya.  Dihari terakhir Ramadan, tiba-tiba sepi menyergap dan terbayang betapa tidak indahnya berlebaran berdua saja.  Komplekpun telah sepi.  Akhirnya keputusan diambil, kita mudik!  Saat itu kami sudah yakin pastilah shalat ied diperjalanan.  Kami susuri jalan tol Jakarta Cikampek sambil terus memantau laporan mudik terkini dari radio.  Ternyata hari itu masih puncak arus mudik.  Jalur pantura macet dibanyak dititik.  Demikian pula jalur selatan.  Penyiar radio menyarankan jalur alternatif yang disebutnya jalur tengah melewati Subang, Jatiwangi, Majalengka terus ke Selatan via Kawali akhirnya bertemu jalur mudik utama Selatan di Banjar. 

Meski belum pernah menempuh jalur itu, namun kami turuti saran itu bermodalkan update dari radio dan peta jalur mudik yang kami peroleh disalah satu posko mudik. Jalur itu ternyata relatif sepi, kecuali kemacetan-kemacetan normal disekitar pasar.  Malam takbiran itu kami menginap di Purwokerto dan shalat Ied di Masjid samping hotel.

Seingat kami, hari-hari selama arus mudik dan arus balik sungguh hari-hari sibuk bagi berbagai unsur yang terlibat seperti Polri, TNI, Hansip, Polisi bantuan, Dinas Perhubungan, Pemda hingga anak-anak Pramuka.  Mereka mudah dijumpai mengatur lalu lintas disepanjang jalan terutama di persimpangan atau tempat rawan tersendat lainnya.  Ditambah bagian pendukung lainnya seperti ambulance dan petugas kesehatan serta para relawan yang bertugas di posko-posko mudik.  Bisnispun terlibat dengan menyediakan posko-posko, meski tak dapat dilepaskan dari konten iklannya.

Tampak sekali bahwa pengaturan lalu lintas selama musim mudik dan balik merupakan proyek besar tahunan yang di rencanakan dan dieksekusi secara serius.  Bila terjadi penumpukan tak wajar dititik-titik tertentu, mereka dengan cepat melakukan perubahan rute, kendaraan pemudikpun dialihkan jalurnya agar tak menambah beban titik-titik macet.

Belum ada GPS, google maps apalagi waze.  Andalan utama pemudik adalah peta jalur mudik.  Namun pemudik tak tersesat berkat begitu banyaknya petugas berbagai elemen bekerja, disetiap persimpangan.  Banyak pula marka-marka jalan, terutama petunjuk arah, yang terlihat baru atau sementara, memang khusus untuk membantu pemudik agar tidak kebingungan.

Macet masih terjadi, terutama disimpul-simpul tertentu, namun tidaklah sampai mengurung pemudik hingga dua tiga hari lamanya.  Setiap tahun cukup banyak yang meninggal dunia, umumnya akibat kecelakaan lalu lintas, bukan karena terjebak didalam jalan tol dan tak dapat bergerak kemana-mana bahkan bantuan pun kesulitan menjangkau mereka.

Sebab itu, jika dua belas orang meninggal dunia disaat terjebak kemacetan hingga lebih dari dua hari dua malam, sulit untuk dipahami bila dinyatakan tidak ada kegagalan fatal dalam pengaturan, koordinasi dan pengambilan keputusan.  Sesuatu yang dapat dilakukan secara efektif dimasa lampau. Wallahu’alam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s