Uda Tamrin: potret nyata diaspora Indonesia

Pulang ke Padang siang ini, telah saya pesan taksi online menuju bandara.  Order saya diambil pengemudi bernama Indra bin Tamrin.  Kini saya telah duduk dikursi belakang, taksi mulai bergerak.

“Nak pegi mana, Encik?”, ia buka pembicaraan.

“Saya nak balik Padang,” jawab saya.

“Encik orang awak, ke?”, tanyanya sambil menoleh ke belakang.

“Iya”.

“Encik boleh cakap Minang?, tanyanya lagi.

“Lai”, saya jawab singkat dalam bahasa Minang.

Seketika taksi di rem mendadak.

“Haa…duduak lah dimuko, buliah maota lamak awak”, katanya sumringah sambil badannya meregang kekiri dan tangan membuka pintu depan.

“Ambo Tamrin”, ia memperkenalkan diri sambil kami bersalaman setelah saya duduk disampingnya.

“Jadi namo Uda indak Indra do?”, selidik saya.  Nama yang tertera pada aplikasi taksi online dan kartu pengenal pengemudi yang di pasang diatas dashboard adalah Indra bin Tamrin.  Saya menduga Indra mungkin nama anaknya, tapi foto dikartu pengenal pengemudi persis sama dengan yang sedang duduk disebelah saya.

Mulailah ia bercerita tentang namanya.  Nama lengkapnya sebenarnya adalah Indra Tamrin.  Bapaknya bernama Kamaruzzaman.  Ketika Uda Tamrin hendak membuat IC merah, Identity Card berwarna merah untuk pekerja asing yang legal, namanya sepatutnya tertulis Indra Tamrin bin Kamaruzzaman.  Entah kenapa petugas imigrasi ketika itu merasa nama itu terlalu panjang dan mengusulkan namanya diganti menjadi Indra bin Tamrin saja.  Meski begitu, ia tetap lebih suka dipanggil Tamrin, nama panggilannya sedari kecil dikampung dahulu.  Maka akupun memanggilnya Uda Tamrin.

Uda Tamrin adalah tipikal orang Minang yang merantau ketika masih muda tanpa modal apa-apa, kecuali nekad.  ‘Marantau mambao tulang lapan karek sajo’, ungkapan yang digunakan Uda Tamrin yang artinya ‘Pergi merantau hanya dengan membawa tulang delapan potong’.  Tulang delapan potong sebenarnya mengacu pada dua ruas tulang pada setiap tangan dan kaki.

Aku lihat nomor IC Uda Tamrin di kartu pengenal pengemudi bermula dengan angka 56, artinya ia lahir ditahun 1956.  Enam puluh tahun usianya kini.  Keriput di wajah dan uban dikepala tak berdusta, siratkan perjalanan panjang hidup penuh perjuangan.

Ia dilahirkan di Tilatang Kamang, kabupaten Agam.  Menamatkan SMA tahun 1974, ia tinggalkan kampung halaman dan merantau ke tanah Jawa. Destinasi Jakarta.  Ia menumpang dirumah kerabat sekampung yang dipanggilnya Uni Irda di Cempaka Putih.  Suami Uni Irda adalah perwira Angkatan Darat bernama Kolonel Agus yang saat itu bertugas sebagai ajudan Ali Moertopo, seorang menteri senior dan berpengaruh dalam kabinet Soeharto.  Posisi ini membuat Kolonel Agus berpengaruh kuat pula.

Suatu pagi pergilah Uda Tamrin ke Markas Kodam Jaya untuk melamar pekerjaan, bermodalkan surat rekomendasi dari Uni Irda.  Namun Uni Irda berpesan bahwa surat itu hanya perlu ditunjukkan bila terdesak saja.  Ternyata memang hampir satu jam ia hanya diolok-olok saja dibagian kepegawaian.  Sepertinya mereka merasa lucu mendengar logat Minang Uda Tamrin yang sangat kental itu.  Apa boleh buat, surat sakti itupun terpaksa dikeluarkan.  Petugas yang tadi paling ganas mengolok-olok, berubah pucat.  “Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu saudaranya Kolonel Agus? Ciloko!”, ujarnya panik.  Alhasil Uda Tamrin diterima bekerja sebagai pelayan di kantin Kodam Jaya.

Tiga tahun lamanya ia bekerja di kantin Kodam Jaya.  Ternyata ia memendam rencana untuk merantau ke Malaysia, yang konon merupakan negeri impian.  Gaji kecil dari kantin Kodam Jaya ia sisihkan untuk ongkos pesawat ke Kuala Lumpur dan biaya pembuatan paspor.

Suatu hari ditahun 1977, Uni Irda menitikkan air mata ketika Uda Tamrin menyampaikan niatnya merantau sekaligus berpamitan.  Uni Irda mencoba mencegah, namun tekad Tamrin muda sudah bulat.  Paspor telah ditangan dan tiket kapal terbangpun sudah dipesan, hari berjalanpun telah ditetapkan.

Uda Tamrin mendarat di Bandara Subang, Kuala Lumpur.  Uda Rahim telah menanti dan langsung membawa Uda Tamrin kerumahnya di Seremban, Negeri Sembilan.  Uda Rahim adalah kerabat sekampung Uda Tamrin.  Mereka masih bertalian darah cukup dekat, Nenek Uda Rahim adalah kakak kandung Nenek Uda Tamrin.  Uda Rahim telah sukses dengan usaha kedai jahitnya bernama Rahim Tailor, yang telah terkenal seantero Negeri Sembilan.  Pelanggannya termasuk para petinggi negeri.  Lima tahun lamanya Uda Tamrin bekerja pada kedai jahit Uda Rahim.  Disana pula Uda Tamrin menguasai keterampilan menjahit.

Suatu hari Uda Tamrin menemani Uda Rahim mengunjungi Istana Sultan Yang Dipertuan Negeri Sembilan.  Rupanya Sultan dan keluarga hendak menempah pakaian dan Uda Rahim diminta datang untuk mengambil ukuran.

Kunjungan sebagai asisten Uda Rahim ke Istana itu membawa berkah bagi Uda Tamrin.  Dengan rekomendasi salah seorang pegawai senior istana, dengan cepat Uda Tamrin mendapatkan IC merah dan terjadilah kisah nama diatas.

Setelah lima tahun ikut Uda Rahim, Uda Tamrin memutuskan untuk mandiri.  Selain itu ia telah menemukan jodohnya, dara Minang yang ia boyong ke Malaysia.  Berdua pasangan muda itu bahu membahu memulai kehidupan baru dirantau orang.  Mereka membuka usaha jahit yang bertahan hingga saat ini dan dijalankan oleh sang istri.  Sementara itu Uda Tamrin melakukan berbagai jenis usaha selain menjahit.  Ia juga berdagang kecil-kecilan berbagai macam barang, apa saja yang sedang trend dan membawa keuntungan.  Ia juga menjadi supir taksi.

Tidak ia lupakan jasa Uda Rahim padanya.  Uda Rahim telah lama berpulang, namun Uda Tamrin tetap menjaga silaturahim dengan anak-anak Uda Rahim.  Ia perlakukan mereka seperti anak sendiri.  Mereka semua telah mandiri, namun  tetap memerlukan sosok orang tua, peran yang dimainkan dengan senang hati oleh Uda Tamrin.

Perkawinan Uda Tamrin sendiri menghasilkan tiga putra-putri.  Si sulung telah berusia 34 tahun dan si bungsu 26 tahun.  Dua orang anak mereka telah berkeluarga.  Ia kini sedang menanti cucu pertama.  Ketiga anaknya sudah bekerja dan lepas dari tanggung jawab mereka.  Namun Uda Tamrin tak bisa diam,  “rangkik-rangkik badan kok indak manggarik”, begitu katanya.  Artinya badan terasa pegal-pegal bila tak bergerak. Karena itu usaha menjahit tetap dijalankan sang Istri dikedai kecil dekat rumah di dan Uda Tamrin tetap membawa taksi, meski tidak tiap hari.

Menjelang Pemilihan Raya Malaysia 2012, bersama banyak orang Indonesia pemegang IC merah lainnya, Uda Tamrin dan istrinya memperoleh IC biru.  Maknanya mereka dianugerahi kewarganegaraan Malaysia.  Maka ditahun itu, untuk pertama kalinya mereka berpartisipasi sebagai pemilih dalam Pemilihan Raya Malaysia.

Namun bagaimanapun, Uda Tamrin tetaplah urang Minang yang demikian bangga dan menghayati keminangannya.  Setiap tahun ia pulang ke kampung, entah karena hari raya atau ada alek (kenduri atau pesta).  Baginya menjalin dan memperkokoh silaturahim dan turut serta membangun nagari adalah hal yang paling utama.  Nilai-nilai keminangan ia turunkan kepada ketiga anaknya.  Bahasa Minang adalah bahasa pengantar utama dirumah mereka.  Ketiga anak mereka, meski lahir dan tumbuh di Malaysia dan berkewarganegaraan Malaysia, tetap fasih berbahasa Minang dan memahami makna dan hakikat menjadi orang Minang.  Sungguh merupakan fenomena langka dewasa ini.

Uda Tamrin dan keluarganya memang tak sejenius, sesukses dan setenar Arcandra Tahar.  Merantau merekapun taklah sejauh Arcandra, sepelemparan batu saja dari pantai timur pulau Sumatera.  Namun cinta mereka kepada Indonesia telah tertuntung habis, maksimal mentoknya.  Maka, seberapa pentingkah buku kecil perjalanan bernama paspor itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s