Kedai dan lapak yang terlupakan

Bagiku hikmah yang paling menampar-nampar dari kejadian-kejadian ditanah air belakangan ini adalah betapa kita telah melupakan warung-warung kecil milik para tetangga kita.
Kita kini memang lebih suka berbelanja ke supermarket atau bahkan hypermarket -karena saking besarnya- yang dimiliki perusahaan multinasional bermodal raksasa. Banyak memang kelebihan yang ditawarkan, harga murah, kenyamanan gedung besar berhawa sejuk, pelayanan terbaik dari pelayan-pelayan berseragam yang selalu tersenyum dengan salam dan tutur kata terlatih. Tanpa sadar kita penuhi gerobak besi belanja kita, bahkan dengan barang-barang yang tak kita perlukan. Penat berbelanja, kita menelusuri lorong-lorong arcade mewah merek-merek global, lalu mencari tempat makan atau sekedar minum pelepas dahaga.  Kita berakhir terhenyak kekenyangan di restoran mewah yang gerainya merata-rata diseluruh dunia. Oh…kapan terakhir kali kita makan siang diwarung nasi kecil diujung gang?
Tamparan ini mengembalikan ingatan pada tahun-tahun di abad lalu, lebih dari tiga dekade silam. Saat kami bertumbuh dari masakan sederhana racikan dapur Ibu, yang sebagian bahannya disediakan alam sekitar rumah kami dengan cuma-cuma. (Klik http://ifexplorer.blogspot.ca/2016/01/generasi-yang-tersesatkan.html untuk kisah lebih lengkap).

Kedai Safar

Supermarket kami waktu itu adalah Kedai Safar.  Kedai kelontong diseberang Masjid Raya, disamping jembatan yang membentang diatas sungai kecil yang jernih airnya.  Kedai itu tak punya nama sebenarnya, tapi karena yang punya bernama Safar, jadilah dia disebut Kedai Safar.  Pak Safar dan keluarganya tinggal dilantai dua rumah kayu itu, sementara lantai satu dipakai untuk kedai, kecuali dapur dibagian belakang.  Kedai itu kecil saja, tapi segala ada, layaknya supermarket.  Paling tidak semua kebutuhan sehari-hari orang dusun seperti kami ada disitu seperti sembako (tidak termasuk bahan makanan segar), aneka bumbu masakan, kelapa, minyak goreng, minyak tanah, spiritus untuk menyalakan petromax, kaos lampu petromax, semprong lampu tempel dan alat-alat tulis sederhana untuk anak-anak sekolah.
Keluarga kami adalah prime customer kedai Safar sehingga transaksi kami tidak lagi tunai, tapi kredit.  Kalaulah waktu itu Pak Safar sudah mengenal konsep loyalty program,  pastilah point yang kami kumpulkan tinggi sekali.  Tentu banyak hadiah-hadiah menarik yang telah kami tebus dari point-point itu.

Berdasarkan pembagian kerja dirumah, belanja ke kedai Safar adalah tanggung jawabku. Berangkat naik sepeda mini warna biru yang ada keranjang dibagian depannya, aku membawa secarik kertas dari Ibu berisi daftar belanjaan lengkap dengan kuantitasnya.  Sesampai di kedai Safar, kertas itu aku serahkan pada Pak Safar atau istrinya yang kemudian mengambil barang-barang itu dan menuliskan harga-harganya dikertas dari Ibu itu.  Mereka akan mencatat pula dibuku besar milik mereka.  Aku biasanya hanya duduk saja menunggu.  Komunikasi terjadi hanya bila Pak Safar kesulitan membaca tulisan tangan Ibu, ia mungkin bertanya untuk mengklarifikasi. 

Begitu Pak Safar atau istrinya menyerahkan kantong-kantong plastik berisi belanjaan serta mengembalikan kertas daftar belanjaan yang sudah ada harganya, aku biasanya langsung cabut, tanpa memeriksa.  Aku percaya saja pada Pak Safar dan istrinya.  Sekali dua Ibu mendapatkan bahwa belanjaan kami tidak lengkap atau kelebihan atau ada barang yang tidak kami minta, itu artinya aku harus mengayuh sepeda biru lagi, kembali ke kedai Pak Safar menyelesaikan ketidakcermatan itu.
Adalah Pak Bastian, orang yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan, paling tidak satu kali dalam sebulan.  Ia adalah bendaharawan SMP tempat Ibu mengajar.  Masa itu gaji guru tidak ditransfer ke rekening bank, tetapi dibayar tunai.  Seingatku waktu itu Ibu dan Abak tidak memiliki rekening bank.  Pak Bastian mengambil uang gaji semua guru di sekolah Ibu di Kantor Perbendaharaan Negara di Sungai penuh, lalu memacu sepeda motor Honda CG warna merahnya kembali ke sekolah.  Maka pada tanggal satu setiap bulannya, derum sepeda motor Pak Bastian pastilah terdengar sangat merdu bagi seluruh guru.  
Begitu Ibu menerima gaji dari Pak Bastian, Ibu atau Abak akan segera ke kedai Pak Safar membawa kertas-kertas catatan belanja sebulan terakhir, untuk melakukan rekonsiliasi dan membayar hutang. Begitu seterusnya, dari bulan ke bulan.

Lapak Balai

Disamping kedai Safar, kami juga berbelanja ke balai.  Balai adalah pasar di dusun kami yang buka sekali saja dalam sepekan, setiap hari Jumat.  Balai dibuka setengah hari saja, dari pagi hingga menjelang shalat Jumat.  Selain bahan makanan segar, sayur mayur, daging dan ikan, banyak barang lain yang dijual di balai. Ada pakaian, sepatu, alat-alat pertanian, barang pecah belah, alat-alat dapur, obat dan sebagainya.
Pasar itu sangat sederhana, tidak ada bangunan permanen disana.  Hanya deretan lapak-lapak yang terbuat dari kayu dan bambu, beratap seng.  Lantainya palupuh (bambu yang dibelah memanjang) yang ditinggikan sekira setengah meter dari tanah.  Kalau tidak salah ada tiga deretan lapak-lapak dibalai kami.  Pada hari balai, pengunjung pasar berjejal memenuhi lorong-lorong pasar itu.  Dihari lain, pasar itu lengang.    
Penjual obat membawa warna tersendiri pada pasar dimasa itu.  Biasanya mereka membawa serta pengeras suara yang tak jarang cempreng memekakkan telinga.  Sang pedagang tak henti bercuap-cuap mengajak orang-orang membeli obat yang konon mujarabnya juara dunia dan menyembuhkan segala jenis penyakit.  Sebagian penjual obat bahkan mendirikan tenda khusus yang agak berjarak dari keramaian pasar. Dibawah tenda itu mereka biasanya melakukan pertunjukan-pertunjukan untuk menarik perhatian khalayak pengunjung balai. Biasanya trik-trik tukang sulap. Dalam sekejap yang terlihat hanya punggung-punggung penonton yang berjejalan melingkar.  Tukang obat tinggal terdengar suaranya saja dari toa tua yang cempreng itu dan kadang tiba-tiba mengeluarkan suara berdenging tinggi yang memekakkan telinga.  
Trik tukang obat dengan melakukan berbagai pertunjukan sangat efektif pada masa itu.  Sebagian besar pengunjung balai adalah para petani yang haus hiburan.  Sesetengah mereka tinggal di sudung (gubuk bambu) ditengah ladang yang jauh dari keramaian.  Tidak ada TV, sebagian mungkin punya radio transistor.  Mereka turun ke dusun seminggu sekali untuk mengunjungi balai dan sembahyang Jumat.      
Penjual obat dan kebanyakan pedagang dibalai itu adalah orang-orang yang biasa kami sebut ‘orang belok balai’.  Artinya para pedagang yang berkeliling dari satu balai ke balai lain di daerah kami. Umumnya mereka tinggal di Sungai Penuh, ibu kota kabupaten kami yang posisinya ditengah-tengah. Setiap hari selama sepekan ada balai-balai di berbagai dusun dan kampung kami kebagian hari Jumat.
Mereka tak selalu bisa pulang kerumah, diantara satu balai ke balai lain mereka kadang harus menginap di rumah makan. Itu sebabnya hampir disemua rumah makan dimasa itu selalu ada bagian lesehan berupa lantai kayu atau tembok yang ditinggikan.  Selain sebagai tempat untuk makan bersila, ia juga dipakai untuk tidur bagi para pedagang itu atau siapa saja yang kemalaman.
Abak dan ibu mengenal baik sebagian besar pedagang belok balai itu, buah dari interaksi rutin mingguan selama bertahun-tahun.  Bahkan ibu telah mengenal sebagian mereka jauh sebelumnya, sejak masa kecil Ibu di Sungai Penuh. Ada yang dulu tetangga Ibu, teman bermain atau teman sekolah.  Abak dan Ibu punya pedagang belok balai favorit untuk setiap jenis barang kebutuhan kami, apakah itu baju, sarung, sepatu, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian.  Kadang mereka tidak selalu punya apa yang kami cari, mereka menjanjikan akan membawanya dibalai berikutnya.  Kami harus sabar seminggu menunggu.
Berbelanja ke pasar lebih sering dilakukan Abak, bukan Ibu.  Ibu tidak mungkin meninggalkan kewajiban mengajarnya disekolah.  Sekolah bubar lebih awal di hari Jumat, tapi pasarpun sudah berkemas.  Abak juga mengandalkan daftar belanjaan dari Ibu.  Karena sudah punya pedagang langganan untuk semua jenis keperluan, proses belanja ke pasar berlangsung sangat cepat dan efisien.
Abak tidak melupakan oleh-oleh untuk anak-anaknya, berbagai macam jajanan pasar.  Ada dua yang pasti dibeli untuk kami setiap pekan, ialah martabak manis dan sate Padang.  Martabak manis dijual oleh salah seorang pedagang belok balai.  Sedangkan penjual sate Padang adalah Pak Nasrun, yang tinggal dirumah bambu ditepi ladangnya, tidak jauh dari rumah kami.  Setelah panen kayu manis dari ladangnya, Pak Nasrun pernah kebingungan, apa yang harus dilakukan dengan uang yang ‘banyak’ itu.  Ia datang kerumah untuk bertanya kepada Ibu yang kemudian menyarankan ia menyimpan uangnya di BRI unit desa di kampung kami. (Klik http://kabacarito.blogspot.my/2016/07/ramadan-tempo-doeloe-25-guru-digugat.html untuk kisah lebih lengkap)  
Kami tentu tidak selalu membeli barang setiap pekan, namun interaksi itu terus terjalin melalui saling sapa ketika melewati lapak mereka.  Kadang Abak atau Ibu berhenti sebentar dilapak tertentu untuk obrolan ringan dengan pedagang, sambil ia melayani pembeli.  Ada saja cerita yang dapat dibagi, tentang anak-anak, tentang orang yang mereka kenal dan sebagainya.  Abak adalah mantan pedagang belok balai, ketika ia masih menjalankan usaha menjahit bernama ‘Teliti Tailor’, sebelum ia memutuskan menjadi petani full-time.  Maka makin banyak saja topik yang bisa diangkat dengan sahabat-sahabatnya itu.  
Interaksi kemanusiaan ini yang telah hilang sama sekali ketika kita berbelanja ke minimarket, supermarket dan hypermarket modern.  Kita memang disapa oleh karyawan berseragam dengan senyum manis dan kata-kata sopan yang terlatih.  Tapi semuanya terasa garing, hambar dan dibuat-buat, mungkin karena tidak ada ikatan hati hadir disitu.

Namun yang tak kalah pentingnya, lihatlah betapa bergairahnya pergerakan ekonomi rakyat dimasa itu.  Para pemilik kedai kelontong, para pedagang kecil dilapak-lapak pasar tradisional, penjaja makanan bergerobak, petani sayur-mayur, rumah makan dan warung nasi, supir angkutan pedesaan, para kuli angkat dipasar-pasar, dan seterusnya.  Pada gairah itu bergantung kehidupan dan impian keluarga-keluarga mereka.  Kini putaran roda-roda kecil itu dimatikan oleh raksasa jaringan minimarket, supermarket dan hypermarket.  Mudah-mudahan kita kembali memiliki kesadaran dan kekuatan untuk turut memutar kembali roda-roda kecil itu.  Akan berat terasa diawalnya dan terdengar suara derit memilukan, sebab terlalu lama roda itu diam hingga melekat pada sumbunya.  Tapi mestinya itu sebentar saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s