Ngupi Bareng Pakde Bro Djarot Saiful Hidayat

Assalamualaikum Pakde Bro Djarot…
Piye kabare..?

Beberapa ini kulo merasa sangat bersalah
Selama ini tak sekalipun kulo mendedikasikan posting,

artikel, komentar atau tweet untuk Pakde Bro Djarot
Ternyata kulo lebih banyak bercengkerama dengan Pakde Jokowi
Emang sih Pakde Jokowi lebih lucu
Karena itu, sudilah panjenengan memaafkan kulo, Pakde Bro

Mumpung lagi rame gonjang-ganjing soal isu pengusiran Pakde Bro di Masjid Al-Atiq, Tebet
Ini momen terbaik buat kita mulai ngobrol dan bersilaturahim

Monggo Pakde Bro Djarot
Mari seduh kopi tubruk
Berdua bersila kita duduk
Berbincang dari hati ke hati
Between you and me

source:www.fotografer.net

Jadi gini lho Pakde Bro..
Nganu…
Sesaat setelah kabar pengusiran Njenengan merebak
Kulo kecewa berat dan naik pitam sama Jamaah Masjid itu
Masjid adalah rumah Allah
Terbuka bagi semua Muslimin dan Muslimat untuk beribadah, menyembah dan memuja Gusti Allah
Kok ya o… ada Saudara Muslim mau menunaikan kewajiban Shalat Jumat malah diusir
Piye toh iki?

Untunglah belakangan datang berbagai klarifikasi
Sehingga tampak terang duduk perkaranya
Termasuk dari Mas Bro Kapolrestro Jakarta Selatan
Bahwa tidak ada pengusiran
Buktinya Pakde Bro Djarot berada disana hingga Shalat Jumat selesai
Iya toh..?

Fakta-fakta penting dari ‘Insiden Tebet’ itu adalah
Saat sesi pengumuman, Takmir Masjid menyisipkan himbauan untuk tidak memilih pemimpin Non-Muslim
Terus saat berjalan meninggalkan Masjid, Pakde Bro dicegat wartawan dan para penggemar yang minta salaman sama foto bareng
Sementara itu dari dalam Masjid terdengar ada seruan “Pilih nomer telu” beberapa kali
Disambut seruan “Allahu Akbar”

Atas fakta-fakta itu, Pakde Bro Djarot sangat kecewa karena telah terjadi Politisasi Masjid.
Gitu toh, Pakde Bro?

Uji Validitas

Olrait, Pakde Bro…
Saiki mari kita uji validitas kekecewaan panjenengan dikaitkan dengan fakta-fakta diatas.

Perihal pengusiran sudah dapat diabaikan nggih Pakde Bro?
Sama sekali tidak ada pengusiran karena Pakde Bro masuk Masjid tanpa gangguan, duduk manis terkantuk-kantuk mendengar khutbah (woles Pakde Bro, ra sah ja’im, it happens to all of us), tegak berdiri begitu iqamat dikumandangkan lalu shalat berjamaah bersama ribuan makmum lain dengan satu Imam saja.

Sepanjang wudu’ Pakde Bro sebelum masuk Masjid bener dan tidak kentut sampai salam Shalat Jumat, maka Ibadah Shalat Jumat Pakde Bro sah adanya, InsyaAllah.

Pakde Bro baru meninggalkan Masjid setelah seluruh rangkaian Ibadah Shalat Jumat telah selesai.
Jadi artinya Pakde Bro ora pernah diusir.  Berita pengusiran tetap menyebar hanya karena dipelintir media ganjen penjual diri.

So Pakde Bro, pengusiran bukan fakta, tapi kebohongan. Tidak relevan untuk diskusi kita selanjutnya. Kita buang saja ya, Pakde Bro!

Politisasi Masjid

Sebelum dilanjutkan, monggo kita sepakati dulu makna Politisasi Masjid yang njenengan sebutkan tadi secara independen, tanpa mengaitkan dengan kejadian lebih spesifik.
Politisasi Masjid pada dasarnya adalah menggunakan Masjid sebagai tempat aktivitas politik praktis.
Apakah panjenengan setuju?
Pakde Bro mengangguk seraya tersenyum tipis.
Siip.. Pakde Bro. Bungkus!

Walau demikian Pakde Bro…Rasulullah menggunakan Masjid tidak hanya untuk Shalat dan pengajian, tapi juga sebagai sentra kegiatan sosial kemasyarakatan, pendidikan dan ekonomi umat. Bahkan keputusan-keputusan penting tentang negara dan pemerintahan juga lahir di Masjid. Itukan politik, ya Pakde Bro? Jadi, politisasi masjid itu rapopo, toh?

Pakde Bro langsung sengit mendebat, “O..ndak bisa. Republik Indonesia bukan negara agama. Ndak boleh Masjid jadi tempat kegiatan pulitik praktis”

“Yo wis nek ngono Pakde Bro, kulo terima argumennya, Indonesia bukan negara agama meski berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kita sepakati tidak boleh ada kegiatan politik praktis Masjid. Bungkus mneh!

Jadi Pakde Bro, selanjutnya kita tinggal menguji apakah fakta-fakta Insiden Tebet itu merupakan kegiatan politik praktis.

Setuju, Pakde Bro? Siip.

Mikir

Ok…kita lanjut uji validitasnya Pakde Bro, sambil diminum kupi tubruknya, monggo..
Dari fakta-fakta diatas, ada dua yang dapat diduga sebagai kegiatan pulitik praktis:

  • Nomer siji, saat Takmir Masjid bikin pengumuman, disisipkan pesan bahwa Muslim tidak boleh memilih pemimpin Non-Muslim.
  • Nomer loro, saat Njenengan sudah diluar, terdengar teriakan “Pilih nomer telu” dan “Allahu Akbar”

Mari kita uji siji siji Pakde Bro.  Kejadian nomer siji bisa dikategorikan sebagai pulitik praktis, jikalau memenuhi dua unsur berikut:

Pertama, pesan jangan memilih pemimpin Non-Muslim itu berasal dari Partai Politik atau Tim Sukses salah satu kandidat Pilkada.

Sekarang Pakde Bro kulo tanya, Takmir Masjid itu apakah orang Parpol atau Tim Sukses?  Pakde Bro Djarot menggeleng. Jadi sepakat ya, penyampai pesan bukan orang pulitik, posisinya murni sebagai Takmir alias Pengurus Masjid.

Kedua, sekarang kita lihat isi pesan itu sendiri, apakah pesan itu berasal dari Partai politik atau Paslon peserta Pilkada?

Ternyata bukan e Pakde Bro. Pesan tidak boleh memilih pemimpin kafir itu bukan dari partai tapi diambil dari ayat Al Quran. Al Quran itu adalah kalam atau perkataan Allah. Tuhan dan satu-satunya Tuhan. Tuhan kulo dan Tuhan Pakde Bro.

Apa njenengan wani nuduh Allah berpolitik praktis di Pilkada Jakarta dengan mendukung Paslon nomer telu?  Kalau wani, monggo gugat Allah ke Bawaslu.  Njenengan kalau mau protes, monggo temui Gusti Allah sana dan tantang berdebat.

Tak kandani yo Pakde Bro…
Nganu…
Larangan memilih pemimpin Non-Muslim iku paling kurang ada di 15 tempat dalam Al Quran. Semuanya dengan bahasa yang terang, tegas, mudah dipahami dan tanpa basa-basi. Tidaklah Allah akan mengulang-mengulang kalaulah itu bukan sesuatu yang fundamental dan teramat penting.

Pakde Bro, larangan nggak boleh makan babi aja cuman ada di 4 ayat lho Pakde Bro, kita mati-matian mematuhi. Lha.. larangan tegas 15 ayat kok malah dibantah. Mikiir…! (copyright: Cak Lontong)

Munafik Ngawur Blass

Terus Pakde Bro dan poro pendukung njenengan yang Muslim pada mencak-mencak waktu ada yang bilang bahwa Muslim yang memilih pemimpin kafir adalah Munafik. Segala kutukan, kebun binatang dan jamban menghambur keluar. Pendukung njenengan yang punya tingkat intelektualitas lebih tinggi mendebat mati-matian dengan berbagai teori dan logika, Sampai ada yang bilang hanya Gusti Allah yang tahu makna sesungguhnya dari setiap ayat Al Quran, manusia nggak boleh menafsirkan. Ada juga yang bilang Al Quran wis kuno dan maknane dapat ditafsir oleh siapa saja, disesuaikan kontek, selera dan kemajuan jaman.

Padahal, lagi-lagi itu adalah perkataan Allah yang sangat tegas dan benderang. Ora perlu penafsiran blas! Monggo, njenengan buka Al Quran surat An Nisa ayat 138 dan 139. Monggo, PakDe Bro, akankah firman seterang itu njenengan anggap abu-abu dan nafikan? Lalu mencari-cari alasan untuk membelokkan maknanya menjadi bertolak belakang?

Jadi, Pakde Bro, adalah salah alamat kalau njenengan dan para pendukung njenengan yang mengaku beragama Islam melabrak manusia yang menyampaikan ayat-ayat itu. Kalau njenengan semua nggak terima dan mau protes, monggo temui Gusti Allah sana dan protes sekeras-kerasnya.  Kalau perlu tantang gelut sisan wis, monggo…Wani ra?

Takmir Masjid Al-Atiq, Tebet, itu yang menyampaikan pesan untuk tidak memilih pemimpin kafir hanyalah seorang Muslim yang menjalankan kewajibannya terhadap Muslim lainnya untuk menyampaikan firman Allah. Posisinya jelas sebagai seorang Muslim, bukan politisi.

Tiba-tiba Pakde Bro Djarot menyahut sengit, “Lha, tapi topiknya kan politik banget, Mas Bro…!”

“Betul. Topiknya politik, karena begitulah Islam, Pakde Bro. Islam itu kaffah alias menyeluruh alias komprehensif. Lha wong urusan sepele kayak masuk kamar kecil aja diatur adabnya, apatah lagi urusan kemaslahatan umat. Islam itu agama dari Gusti Allah Sang Maha Pencipta, maka ia melingkupi keseluruhan aspek kehidupan makhluk ciptaan-Nya.”

Lagi pula, meski topiknya politik, tapi ayat itu disampaikan oleh seorang Muslim kepada jamaah Muslim lainnya di dalam Masjid, rumah ibadah umat Islam. Maka ia menjadi perkara private umat Islam yang tidak dapat dicampuri atau diintervensi oleh umat agama lain. Ianya persis sama dengan kebaktian gereja yang secara tegas mendukung Ahok menjadi gubernur bahkan selanjutnya untuk menjadi Presiden dengan alasan bahwa telah tiba saatnya anak Tuhan untuk menggembala Indonesia.
Ngono lho…

Kalau njenengan Muslim, tapi tidak mau mematuhi larangan memilih pemimpin Non-Muslim, ya Monggo. Itu hak pribadi njenengan yang akan njenengan pertanggungjawabkan sendiri didunia maupun dihadapan Allah kelak. Tapi ya, njenengan ra sah mencak-mencak kalau ada yang bilang njenengan Munafik. Lha wong itu label dari Gusti Allah kok. Bahkan kalau njenengan memutuskan untuk meninggalkan Islam sekalipun, ya monggo… Bahkan itu mungkin lebih elegan, dari pada setengah-setengah kayak bencong.

Pakde Bro terlihat mengeryitkan dahi.  “Piye Pakde Bro, mumet toh…?  Rilek ndisik, monggo disambi, kupine diseruput….”
Untuk fakta nomer loro, teriakan “Pilih nomer telu” dan “Allahu Akbar” didalam Masjid saat Pakde Bro sudah diluar, pengujian apakah itu politik praktis po ora juga kurang lebih podo dengan nomer siji, bahkan mungkin lebih ringan. Untuk menyebutnya sebagai politik praktis didalam Masjid, njenengan harus mampu membuktikan bahwa teriakan itu dilakukan oleh partai politik atau tim sukses paslon peserta pilkada dalam kegiatan kampanye atau menyerupai kampanye yang terorganisir. Faktanya kan bukan demikian toh, Pakde Bro. Jadi ia hanyalah percakapan private antar pribadi. No problem, it’s Ok aja toh…?!

Jadi. Pakde Bro Djarot…
Nganu…
kesimpulan ngupi ilmiah kita petang ini adalah bahwa pernyataan sampeyan bahwa yang terjadi di Masjid Jami’ Al-Atiq, tebet itu merupakan Politisasi Masjid adalah Ngawur Blass…! Poll sesatnya!

Pakde Bro, ada komentar? Pakde Bro hanya diam membeku.  Bungkus dah!!

Dari hati untuk Pakde Bro Djarot

Pakde Bro Djarot, menutup ngupi imajiner ini, ijinkan kulo menjalankan kewajiban kulo sebagai seorang Muslim kepada Muslim lainnya, yakni panjenengan, untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Pakde Bro, Islam is complete submission, penyerahan diri secara kaffah, menyeluruh nggak setengah-setengah. Mengambil sebagian dan membuang sebahagian lain adalah kemunafikan.

Iman adalah cinta, Pakde Bro
Ia diuji tatkala harus memilih
Demi keutuhan Imanmu, Pakde Bro Djarot

Pilihlah Nomer 3 pada Pilkada 19 April 2017 nanti. Ok Oce?

Pada Imanmu kutitipkan masa depan Jakarta.

Ya Allah, saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan.

(Kuala Lumpur, 16 April 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s