4. Bagaimana Risiko Berubah Menjadi Bencana?

Pada artikel pertama dari serial Mengerti Asuransi Risiko, Apakah Itu? telah kita definisikan risiko sebagai ketidakpastian akan terjadinya kerugian (uncertainty of loss).  Dalam konteks asuransi, kerugian adalah setiap kejadian yang buruk atau tidak menyenangkan yang dapat diukur secara finansial.

Risiko pada dasarnya status atau keadaan yang mengandung dua kemungkinan yaitu terjadi kerugian atau tidak terjadi apa-apa, di satu titik di masa depan, jauh atau dekat.

Lalu, apa yang membuat risiko bertransformasi menjadi kerugian dan bagaimana kejadiannya?

Dalam proses berubahnya risiko menjadi kerugian, ada keterlibatan dua faktor yaitu peril dan hazard.

Peril

Peril adalah suatu kejadian yang membawa atau mengakibatkan kerugian.  Kebakaran pada sebuah rumah, kecelakaan jalan raya, tenggelamnya kapal, tersayatnya jari oleh benda tajam, hingga kecopetan merupakan contoh-contoh peril.  Meninggal dunia adalah peril dalam asuransi jiwa. Adanya peril yang bekerja, paling tidak satu saja, merupakan faktor wajib dan utama untuk timbulnya kerugian. Dengan kata lain, tidak ada kerugian bila tidak ada peril. Orang bule bilang, it can’t come out of the blue.  Dalam kebanyakan kerugian, ada lebih dari satu yang bekerja secara berurutan.  Contoh paling sederhana, meninggal dunia dapat didahului oleh kecelakaan lalu lintas.

Hazard

Adapun hazard merupakan suatu keadaan atau faktor atau fitur atau karakteristik yang mempengaruhi peluang berubahnya risiko menjadi kerugian.  Mempengaruhi disini bisa positif atau negatif. Ia dapat berarti mengurangi atau memperkecil, namun dapat pula berarti meningkatkan.  Hazard yang meningkatkan peluang terjadinya kerugian disebut poor hazard.  Sebaliknya, yang justru menurunkan peluang terjadinya kerugian disebut good hazard.

Sampai disini anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana pula ada good hazard? Bukankah hazard itu selalu buruk? Anda tidak salah, istilah good hazard memang terasa janggal dalam kontek sehari-hari. Hazard atau hazardous selalu memiliki konotasi negatif dan buruk. Namun, demikianlah, dalam kontek risiko dan asuransi ada konsep good hazard karena hazard tidak melulu negatif. Bila kita baca lagi definisi hazard pada awal paragraf diatas, hazard didefinisikan lebih luas dan netral, ia bisa baik dan buruk.

Peluang berubahnya suatu risiko menjadi kerugian dapat ditinjau dari dua perspektif, yaitu frequency dan severity.  Maka hazard pun dapat dikaitkan dengan konsep ini. Ada hazard yang mempengaruhi frequency dan ada yang mempengaruhi severity.  Tidak adanya larangan merokok di suatu gedung atau premis dapat meningkatkan peluang frequency terjadinya kebakaran, namun belum tentu meningkatkan severity.  Bangunan yang terbuat dari bambu atau kayu merupakan contoh poor hazard yang meningkatkan peluang severity.  Bila ada percikan api, kemungkinan besar seluruh bangunan terbakar habis, total loss.

Sementara itu, pengendara muda kaya raya menunggangi mobil sport dapat dilihat sebagai poor hazard yang meningkatkan peluang keduanya, baik frequency dan severity.

Akhirnya, proses transformasi risiko menjadi kerugian yang telah kita uraikan diatas, dapat kita rangkum dalam gambar dibawah ini.

Gambar 1. Transformasi dari risiko menjadi kerugian (bencana)

Advertisements

One thought on “4. Bagaimana Risiko Berubah Menjadi Bencana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s