8. Judi vs Asuransi: Prinsip-prinsip Dasar Asuransi (bagian 1)

Apabila asuransi diibaratkan sebagai suatu proses memproduksi sesuatu, lima butir persyaratan resiko yang dapat diasuransikan yang dibahas dalam artikel Judi vs Asuransi: Syarat-syarat agar Risiko dapat diasuransikan adalah penyaringan atas bahan baku. 

Adapun butir-butir yang akan kita diskusikan selanjutnya merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi oleh proses produksi asuransi sebagai suatu mekanisme pemindahan resiko.  Butir-butir ini dikenal sebagai Prinsip-prinsip dasar asuransi (basic principles of insurance).  Sama dengan syarat-syarat risiko yang dapat diasuransikan, prinsip-prinsip dasar ini berperan sangat penting dalam memagari praktek asuransi agar terjauh dari judi atau bentuk spekulasi lainnya.

Ada empat prinsip paling mendasar asuransi, yaitu: insurable interest, utmost good faith, proximate cause dan indemnity.  Untuk asuransi yang memenuhi prinsip dasar indeminty, ada dua prinsip dasar turunan yang juga harus diikuti, yang dikenal sebagai prinsip subrogation dan contribution.

Tanpa membuang masa, mari kita bahas satu persatu.

1. Insurable interest (Kepentingan yang dapat diasuransikan)  

Prinsip ini mensyaratkan agar tertanggung memiliki kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest) terhadap subyek asuransi.  Insurable interest adalah kepentingan (interest) yang dimiliki oleh tertanggung terhadap subyek asuransi yang mana kepentingan ini dapat diukur dengan ukuran finansial serta tak kalah pentingnya ia haruslah sah dan diakui oleh undang-undang atau hukum.  Anda berhak mengasuransikan rumah atau mobil milik anda karena anda memiliki insurable interest atas rumah atau mobil itu.  Dalam contoh ini, insurable interest timbul dari hubungan kepemilikan antara anda dan rumah atau mobil.  Hubungan kepemilikan ini sah dimata hukum (dibuktikan oleh sertifikat atau BPKB) dan dapat dinilai dengan uang yaitu sebesar nilai rumah atau mobil tersebut.  Prinsip ini pula yang mencegah seorang istri mengasuransikan jiwa suami tetangganya.

Sumber: iedunote.com

2. Utmost good faith (Kejujuran tertinggi)  

Prinsip ini mensyaratkan kedua belah pihak (tertanggung dan penanggung) untuk memiliki kejujuranan tertinggi dalam mengeksekusi perjanjian asuransi.  Bentuk kejujuran tertinggi yang paling penting dalam kontrak asuransi adalah kewajiban kedua pihak sejujurnya mengungkap dan mendeklarasikan semua fakta-fakta material yang terkait dengan asuransi, baik diminta maupun tidak oleh pihak lain.  Fakta-fakta material adalah fakta-fakta yang mempengaruhi pengambilan keputusan oleh kedua belah pihak.  Dengan kata lain, fakta material akan menentukan apakah calon tertanggung pada akhirnya memutuskan untuk membeli asuransi atau tidak.  Fakta material yang lain akan menentukan apakah perusahaan asuransi bersedia menerima pemindahan resiko dari calon tertanggung tertentu.

Sebagai contoh, untuk asuransi jiwa, calon tertanggung harus berkata jujur bahwa ia sesungguhnya seorang perokok atau ia pernah sekali mengalami stroke ringan.  Dari sisi perusahaan asuransi, sebagai pengejawantahan ketulusan tertinggi, ia diwajibkan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya fakta-fakta tentang produk pertanggungannya seperti apa saja yang ditanggung, apa yang dikecualikan, batasan-batasan pertanggungan, pengecualian, ketentuan pengajuan klaim dan sebagainya.

Prinsip kejujuran tertinggi ini sangat penting dalam kontrak asuransi mengingat subyek asuransi (risiko) yang bersifat intangible (tidak dapat dilihat, diraba dan dirasa), sehingga fakta-fakta yang terkait dengannya tidak dapat dipresentasikan secara fisik dan sangat bergantung pada kejujuran dan ketulusan masing-masing pihak dalam mengungkapkannya.

3. Proximate cause

Proximate cause artinya sebab paling dominan.  Prinsip ini terkait erat dengan situasi bila terjadi kerugian (klaim) sehingga harus ditentukan apakah kerugian itu ditanggung atau tidak oleh polis asuransi.  Dalam kebanyakan kasus, kerugian tidak disebabkan oleh kejadian tunggal, melainkan hasil dari serangkaian kejadian yang terjadi berturut-turut.  Dalam situasi itu, haruslah ditentukan kejadian mana yang merupakan proximate cause yaitu paling dominan perannya dalam menyebabkan kerugian.  Agar perusahaan asuransi bertanggungjawab untuk mengganti kerugian yang timbul, maka proximate cause haruslah resiko atau kejadian yang ditanggung oleh polis asuransi yang telah disepakati.  Demikian pula sebaliknya, untuk dapat menolak suatu klaim, pada dasarnya perusahaan asuransi harus mampu membuktikan bahwa proximate cause kerugian itu sesungguhnya dikecualikan oleh polis.  

Namun demikian, tidaklah berarti hanya proximate cause saja yang dapat dikecualikan.  Apabila dinyatakan dengan jelas didalam polis, suatu kejadian, peril, atau keadaan bisa saja dikecualikan.  Artinya asalkan ia ada dalam rantai kejadian, meski bukan proximate cause, maka klaim tidak dibayarkan.

Penentuan proximate cause ini tidak selalu mudah mengingat setiap kerugian terjadi dengan cara dan proses yang berbeda-beda dalam situasi yang berbeda-beda pula.  Makanya tidak mengherankan bila pertikaian klaim asuransi sering terjadi.

Cukup disini untuk hari ini, kita sambung pada artikel berikutnya dengan diskusi tentang prinsip indemnity beserta turunannya.

Advertisements

One thought on “8. Judi vs Asuransi: Prinsip-prinsip Dasar Asuransi (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s