9. Judi vs Asuransi: Prinsip-prinsip Dasar Asuransi (bagian 2)

Artikel sebelumnya Judi vs Asuransi: Prinsip-prinsip Dasar Asuransi (bagian 1) telah  mendiskusikan secara ringkas tiga butir pertama dari prinsip-prinsip dasar asuransi, yaitu insurable interest, utmost good faith dan proximate cause.  Kali ini kita lanjutkan dengan pembahasan tiga prinsip lainnya yaitu indemnity, subrogation dan contribution.

4. Indemnity

Prinsip ini menegaskan bahwa asuransi hanya akan membayar klaim sebesar nilai kerugian yang benar -benar diderita oleh tertanggung, tidak boleh lebih tapi mungkin saja kurang.  Dengan demikian tertanggung tidak dibenarkan memperoleh keuntungan atau profit dari pembayaran ganti rugi asuransi, misalnya apabila nilai ganti rugi yang dibayar oleh penanggung melebihi dari nilai kerugian sebenarnya.

Akan tetapi bisa saja pembayaran klaim dari perusahaan asuransi lebih kecil dari pada nilai kerugian sebenarnya.  Hal ini dapat terjadi diantaranya apabila perjanjian asuransi mensyaratkan deductible atau resiko sendiri. Bisa juga karena diterapkannya average.  Dedubtible atau resiko sendiri merupakan bagian dari kerugian yang tidak ditanggung asuransi melainkan ditahan sendiri oleh tertanggung.  Jadi ia menjadi pengurang dari pembayaran klaim dari perusahaan asuransi.  

Sementara itu, average adalah situasi bilamana penanggung hanya mengganti sebagian kerugian secara prorata dari nilai pertanggungan terhadap nilai sebenarnya dari subyek asuransi.  Average adalah konsekuensi langsung dari underinsurance, dimana tertanggung mengasuransikan propertynya dengan nilai pertanggungan yang lebih rendah dari pada nilai sebenarnya.  Misalnya, sebuah rumah nilainya Rp. 1 milyar rupiah, namun pemilik rumah hanya mengasuransikan dengan nilai pertanggungan Rp 600 juta (60% dari nilai sebenarnya).  Maka, untuk setiap klaim berapapun besarnya, perusahaan asuransi hanya akan membayar sebesar 60% dari besarnya kerugian. 

Dapat dilihat bahwa prinsip indemnity ini mencegah seseorang mendapatkan keuntungan dari asuransi karena pada dasarnya tujuan asuransi adalah untuk mengganti kerugian semata.  Prinsip ini mencoba menutup peluang atau paling tidak menekan niat buruk seseorang untuk mencoba menyalahgunakan mekanisme asuransi dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi. 

Demikian pentingnya prinsip indemnity ini, ia memiliki dua prinsip turunan yang mendukung terjaganya prinsip indemnity ini.  Keduanya adalah subrogation dan contribution.

5. Subrogation

Menurut prinsip subrogation, apabila perusahaan asuransi dapat membuktikan bahwa kerugian yang menimpa tertanggungnya adalah akibat perbuatan sengaja atau kelalaian oleh pihak ketiga, maka perusahaan asuransi dapat menuntut ganti rugi kepada pihak ketiga yang bersalah tersebut.  Namun penting untuk dicatat bahwa perusahaan asuransi baru dapat menuntut pihak ketiga apabila ia telah menunaikan pembayaran klaim secara penuh kepada tertanggung.  Dengan demikian perusahaan asuransi tidak dibenarkan menunda-nunda pembayaran klaim dengan alasan belum mendapatkan ganti rugi dari pihak ketiga yang bersalah.  Dapat dilihat bahwa prinsip subrogation ini mendukung prinsip indemnity dalam hal mencegah seseorang mendapat keuntungan dari suatu kerugian.  Dalam hal ini mencegah seseorang yang bersalah atas suatu kejadian yang membawa kerugian untuk melenggang begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya.   

Source: Turtlemint.com

6. Contribution

Prinsip contribution diterapkan dalam situasi dimana sebuah subyek asuransi ditanggung oleh dua atau lebih polis yang berbeda.  Misalkan seseorang memiliki sebuah rumah senilai Rp. 1 milyar.  Ia mengasuransikan rumahnya kepada dua perusahaan asuransi berbeda dengan harga pertanggungan masing-masing Rp. 1 milyar.  Ia berharap bila terjadi apa-apa terhadap rumahnya maka ia akan mendapat ganti rugi dua kali lipat.  Pada kenyataannya, katakanlah terjadi kebakaran dirumahnya yang membawa kerugian sebesar Rp 200 juta.  Alih-alih mendapat ganti rugi total sebesar Rp 400 juta, ia hanya akan menerima tepat sebesar nilai kerugiannya karena masing-masing penanggung hanya membayar setengah dari kerugian (prorata atas nilai pertanggungan).  Lagi-lagi terlihat jelas contribution mendukung prinsip indemnity dalam mencegah seseorang mengeruk keuntungan dari suatu musibah. 

Sangat penting untuk dicatat bahwa prinsip indemnity beserta kedua pendukungnya, subrogation dan contribution, hanya berlaku pada asuransi umum, tapi tidak pada asuransi jiwa.  Asuransi jiwa hanya terikat pada tiga prinsip pertama yaitu insurable interest, utmost good faith dan proximate cause.  

Akan tetapi

Dapat dilihat dari pembahasan syarat-syarat insurable risks dan basic principles of insurance betapa untuk melindungi asuransi dari praktek-praktek penyalahgunaan termasuk perjudian atau spekulasi, telah dibuatlah pagar-pagar hukum sebagaimana diuraikan diatas.  Ini berangkat dari kesadaran bahwa fungsi asuransi sangatlah vital demi memberikan ketentraman hidup bagi rakyat serta mengairahkan jalannya roda perekonomian. Bila ditelaah lebih lanjut, pagar-pagar diatas sesungguhnya menggiring asuransi konvensional mendekat ke prinsip-prinsip syariah, namun tetap belum bisa dikatakan asuransi konvensional sepenuhnya sejalan dengan syariah, terutama terkait dengan konsep transfer resikonya yang pada gilirannya tetap menyisakan unsur spekulasi.

Kita bahas pada kesempatan berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s