10. Mengapa harus ada asuransi syariah?

Source: Smith Family Photography

Dalam sembilan artikel sebelum ini telah diperkenalkan apa itu risiko, bagaimana ia dikategorikan berdasarkan kekerapan (frequency) dan keparahan (severity), sekilas dibahas bagaimana asuransi menangani risiko melalui penggalangan risiko (pooling of risks) dan hukum bilangan besar (law of large number).

Telah pula kita definisikan asuransi (konvensional) serta memperkenalkan pagar-pagar demi menjauhkan asuransi dari judi atau taruhan dan mencegah penyalahgunaan asuransi oleh spekulator atau pihak yang menginginkan hasil cepat. Pagar-pagar itu berupa syarat-syarat agar suatu resiko yang dapat diasuransikan beserta prinsip-prinsip dasar asuransi.

Asuransi (konvensional) didefinisikan sebagai mekanisme pemindahan resiko (risk transfer) dari pemilik resiko yang selanjutnya disebut tertanggung (insured) kepada pihak kedua dalam hal ini perusahaan asuransi yang selanjutnya disebut sebagai penanggung (insurer). Dalam perjanjian asuransi ini penanggung menyetujui untuk mengganti kerugian finansial yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh resiko-resiko tertentu (tunduk pada pengecualian serta syarat dan ketentuan). Disisi lain tertanggung menyetujui untuk membayar sejumlah uang yang disebut premi (premium) sebagai imbalan atas kesediaan penanggung menanggung resiko yang dipindahkan itu.

Barangkali banyak yang bertanya-tanya, kenapa asuransi (konvensional) ditolak oleh syariah? Padahal ia merupakan konsep yang sangat mulia karena membawa ketentraman jiwa (peace of mind) kepada para pemilik resiko. Dengan adanya ganti rugi dari asuransi maka keterpurukan yang dalam bagi suatu keluarga pasca musibah dapat dihindari.  Roda perekonomian juga dapat berputar lebih cepat dan lebih efisien karena ganti rugi asuransi menghindari alokasi sumber daya ekonomi untuk pemulihan pasca bencana, sehingga ia dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya yang lebih produktif.

Tidak kurang mulianya adalah fakta bahwa perusahaan asuransi bersedia menjadi penanggung dengan imbalan premi yang relatif kecil dibandingkan potensi kerugian. Asuransi pula pada gilirannya menekan pemborosan uang negara yang berasal dari pajak rakyat untuk penanggulangan bencana dan ianya dapat dialokasikan bagi program lain demi kesejahteraan rakyat. Bukankah semua ini sudah sejalan dengan Syariah? Dimana lagi letak tidak halalnya?

Banyak sebenarnya buku dan artikel yang telah menjelaskan mengapa asuransi konvensional tidak sejalan dengan syariah karena adanya tiga unsur yaitu riba, gharar (ketidakpastian) dan judi (maysir). Baiklah saudara-saudara, mari kita coba pula untuk mengurai dan mendudukkan persoalan ini perlahan-lahan, menggunakan logika dan bahasa sederhana yang mudah dicerna.  Kita akan mulai pada edisi berikutnya.

So, stay tune, lah!

In the mean time, Gong Xi Fa Cai for those who celebrate Chinese New Year…!

One thought on “10. Mengapa harus ada asuransi syariah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s