11. Mengapa asuransi konvensional tak sejalan Syariah? (bagian 1)

Sebagaimana dijanjikan pada artikel sebelumnya Mengapa harus ada asuransi syariah?, mari kini kita diskusikan alasan mengapa asuransi konvensional tidak dapat diterima oleh syariah meski perannya yang sangat mulia serta pagar-pagar yang dibuat untuk memproteksinya jatuh menjadi judi atau spekulasi.

Transfer risiko dan gharar

Mari mulakan dari definisi asuransi, bahwasanya asuransi adalah mekanisme pemindahan risiko (risk transfer). Dalam hal ini, risiko berpindah dari pemiliknya semula ke perusahaan asuransi. Atas kesediaannya menerima pelimpahan risiko itu, perusahaan asuransi menerima pembayaran premi dari pemilik risiko. Definisi ini dengan sangat jelas mengungkapkan karakteristik transaksi antara pemilik risiko dan perusahaan asuransi. Nyata disini telah terjadi pertukaran antara risiko dan uang premi. Dapatlah disimpulkan bahwa pada hakikatnya kontrak antara pemilik risiko dan perusahaan asuransi merupakan kontrak pertukaran (contract of exchange). Dengan kata lain ia merupakan kontrak jual beli (contract of sale) atau al ba’i. Itu sebabnya kita sering menggunakan istilah ‘membeli asuransi’ untuk mengekspresikan aktivitas seseorang yang mengasuransikan harta ataupun jiwanya. Dengan demikian dapat pula kita simpulkan lebih lanjut bahwa perjanjian asuransi (konvensional) merupakan perjanjian yang bersifat komersil atau perdagangan atau business, dimana untung dan rugi merupakan premis utamanya.

Mari kini segarkan ingatan kita pada definisi risiko itu sendiri. Dalam artikel Risiko, apakah itu? telah dijelaskan bahwa Risiko adalah ketidakpastian akan terjadinya kerugian. Mari garis bawahi kata kunci ‘ketidakpastian’.

Kini kita gabungkan kedua bahasan diatas, bahwasanya asuransi adalah kontrak jual beli ketidakpastian alias jual beli dimana yang diperjualbelikan adalah ketidakpastian. Aha… mulai menarik ini, karena disinilah pangkal perkaranya.

Bila mana kontrak jual beli sesuatu apapun mengandung unsur gharar (ketidakpastian), maka kontrak itu tidak sejalan dengan syariah dan dapat menjadi haram apabila gharar itu terlalu signifikan melebihi apa yang dapat ditolerir. Apatah lagi bila gharar atau ketidakpastian itu justru menjadi subject matter atau substansi yang diperjualbelikan, sebagaimana kontrak asuransi, tentulah berlipat-lipat ketidaksesuaiannya dengan syariah, maka haramlah ia.

Mari sejenak kita tinjau bagaimana syarat-syarat subject matter dari suatu transaksi dari dua sumber saja.  

  • Majallah el-Ahkam-I-Adliya (The Mejelle), bab 2, pasal 1, ayat 201 berbunyi “The thing sold becomes known by a description of its qualities and state, which will distinguish it from other things”.
  • Dr.Muhammad Yusuf Saleem dalam bukunya “A Handbook on Fiqh Mu’amalah in Banking and Finance” memaparkan bahwa “The subject matter of a sale contract is a well-defined, particularized and a specific thing”.
    Sungguh persyaratan-persyaratan yang tidak akan mungkin dipenuhi oleh ketidakpastian.

Kembali ke gharar.  Sesungguhnya gharar memiliki banyak konotasi negatif, diantaranya ketidakpastian, deception, risiko, hazard, ketidakpedulian dan sebagainya. Berikut adalah definisi gharar menurut beberapa ulama:

  • Ibn Hazm berkata bahwa gharar adalah manakala pembeli tidak tahu apa yang dibelinya, atau penjual tidak tahu apa yang dijualnya.
  • Al-Shirazi berkata gharar adalah sesuatu yang sifat dan konsekuensinya tersembunyi.
  • Al-Qarafi berkata bahwa gharar adalah apa yang tidak ketahui keberadaannya (eksistensinya) dimasa depan.

Adanya gharar dapat menyebabkan para pihak tidak berada dalam posisi tawar yang seimbang, sehingga tidak mampu membuat keputusan berlandaskan informasi yang valid (informed decision) karena mereka tidak memahami karakteristik (attribute) atau konsekuensi dari perjanjian.

Uraian diatas telah mengarahkan kita pada persoalan asuransi dari sisi syariah. Dalam syariah sangat jelas bahwa jual beli haruslah dilakukan atas ridha alias suka sama suka dari kedua belah pihak yang hanya dapat dicapai dengan tranparansi dari kedua belah pihak sehingga tidak ada lagi keraguan atau ketidakpastian. Singkatnya, jangan ada dusta diantara kita. Namun dalam kontrak asuransi transparansi itu tidak mungkin dicapai karena zat yang diperjualbelikan itu sendiri adalah ketidakpastian. Meski kedua belah pihak tulus tak hendak berdusta, tetap mereka tidak mampu memberikan deskripsi atau fakta yang pasti atas subject matter, karena mereka memang tidak mengetahui rahasia dibalik ketidakpastian itu.

Lalu, bagaimana dengan riba dan maysir?  Kita lanjutkan pada bahasan berikutnya.

Advertisements

2 thoughts on “11. Mengapa asuransi konvensional tak sejalan Syariah? (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s