12. Mengapa asuransi konvensional tak sejalan Syariah? (bagian 2)

Riba

Riba pada dasarnya terbagi dua yaitu riba fadl dan riba nasi’ah. Riba fadl adalah riba yang dapat timbul manakala terjadi pertukaran antara dua benda (misalnya uang dengan uang, emas dengan emas, perak dengan perak, dan sebagainya). Sedangkan riba nasi’ah terjadi akibat adanya penundaan delivery atau pembayaran. Dengan demikian dengan mudah dapat dilihat bahwa bunga bank merupakan riba nasi’ah.

Source: kaskus

Kontrak asuransi konvensional sebenarnya mengandung riba fadl. Apa yang sebenarnya dipertukarkan dalam kontrak asuransi? Sebagaimana telah kita bahas pada artikel sebelumnya Mengapa asuransi konvensional tak sejalan Syariah? (bagian 1), bahwa yang dipertukarkan dalam kontrak asuransi adalah premi dengan pembayaran klaim. Dengan kata lain uang dengan uang. Aturannya sudah sangat jelas dalam syariah bahwa bila kita mempertukarkan dua benda yang sama, apalagi uang, maka ukuran atau kuantitas, bahkan kualitas keduanya haruslah sama. Bila ada kelebihan yang diberikan salah satu pihak dan diterima oleh pihak lain maka kelebihan itu adalah riba.

Kenyataannya yang terjadi pada asuransi adalah pembayaran klaim selalu lebih besar dari pada premi. Selisihnya inilah yang merupakan riba. Sekali lagi ia menjadi riba karena terjadi pertukaran dua benda sebagai konsekuensi menghukumkan asuransi konvensional sebagai kontrak pertukaran atau exchange atau jual beli.

Selain itu, layak pula disinggung bahwa dalam mengoperasikan asuransi konvensional, perusahaan asuransi mengumpulkan premi dari para tertanggung lalu menginvestasikannya dalam instrumen-instrumen berbasis bunga baik melalui perbankan maupun pasar modal. Ini adalah sumber riba yang lain dari mekanisme asuransi konvensional.

Maysir

Ada yang menjelaskan maysir (judi atau spekulasi) dari sisi tertanggung yang membeli asuransi dengan harapan mendapatkan kompensasi atau ganti rugi yang lebih besar dari pada premi. Jadi, seperti orang berjudi atau pasang lotere, yang memasang taruhan kecil, tapi berharap menang besar.

Anda dapat mendebat logika ini karena motivasi judi dan asuransi jelas berbeda. Asuransi didorong oleh kekhawatiran terjadinya bencana yang membawa kerugian finansial, sementara judi dimotivasi oleh angan-angan terjadinya sesuatu yang membawa pada kemenangan finansial yang besar. Namun demikian, bila dilihat dari modus operandinya, memang dapatlah dikatakan bahwa judi sama saja dengan asuransi.

Kita boleh pula memandang kehadiran maysir dalam asuransi dari pihak penanggung atau perusahaan asuransi. Dalam kontrak asuransi, sebagai lembaga komersil, perusahaan asuransi tentu bermaksud untuk mendapatkan keuntungan dari ketidakpastian yang inherent didalam kontrak. Perusahaan asuransi berharap tidak terjadi bencana sehingga uang premi yang telah diterimanya melebihi jumlah klaim yang harus dibayar, sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan. Lagi-lagi, perusahaan asuransi menyandarkan kesejahteraannya atas terjadi atau tidak terjadinya sesuatu yang merupakan ketidakpastian. Bukankah itu sama dengan berspekulasi atau berjudi? Itulah sebabnya kontrak asuransi adalah ilegal dimata syariah.

Jadi…

Dari pembahasan diatas dan artikel sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya pokok pangkal persoalan yang membuat asuransi konvensional tidak dapat diterima syariah terletak pada mekanisme transfer risiko (risk transfer) dalam mengelola risiko. Sedangkan riba, gharar dan maysir adalah turunannya yang muncul karena asuransi konvensional berbasis transfer risiko itu dihukumkan sebagai kontrak pertukaran atau exchange atau jual beli.

Itulah sebabnya, untuk mendapatkan asuransi yang sejalan dengan syariah, pokok pangkal masalah inilah harus di buang. Maka mekanisme transfer risiko ini diganti menjadi berbagi resiko (risk sharing). Resiko tidak lagi dipindahkan oleh tertanggung ke perusahaan asuransi, melainkan ditanggung bersama oleh semua pemilik resiko (tertanggung). Risk sharing ini tidak dihukumkan sebagai kontrak komersil (jual beli), tetapi kontrak non-profit. Dengan demikian, trio riba, gharar dan maysir pun tidak wujud lagi.

Advertisements

One thought on “12. Mengapa asuransi konvensional tak sejalan Syariah? (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s