13. Mensyariahkan Asuransi

Source: BanyanRFP

Diskusi pada dua artikel terakhir Mengapa asuransi konvensional tidak sejalan Syariah? (bagian 1) dan Mengapa asuransi konvensional tidak sejalan Syariah? (bagian 2) telah menghantarkan kita pada kesimpulan bahwa pokok pangkal masalah yang membuat asuransi konvensional tidak diterima Syariah adalah mekanisme pemindahan risiko dari tertanggung ke penanggung.  Adapun persoalan terkait dengan riba, gharar dan maysir merupakan turunan dari masalah utama itu.

Usaha sebelum tawakkal

Namun disisi lain, Syariah tidak menafikan bahwa tujuan dasar dari konsep asuransi sebagai salah satu metode dalam mengelola risiko sesungguhnya sejalan dengan Syariah.  Syariah tidak memerintahkan seseorang untuk sepenuhnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, tanpa melakukan apapun terhadap risiko yang dihadapi.  Berikhtiar maksimal sebatas kemampuan dalam menghindari bahaya adalah bagian dari ajaran Islam. 

Salah satu hadith yang masyur diriwayatkan oleh Ibn Hibban adalah “Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”.

Adapun pagar-pagar berupa persyaratan risiko yang dapat diasuransikan serta prinsip-prinsip dasar asuransi, dimana tujuannya adalah agar asuransi tidak disalahgunakan untuk judi atau spekulasi, pada dasarnya juga tidak berselisih dengan Syariah.

Dengan argumen bahwa asuransi membawa manfaat yang banyak dan telah menjadi komponen yang penting dalam kehidupan modern, maka tentu tidaklah bijaksana untuk melarangnya sama sekali, hanya karena adanya unsur yang tidak sejalan dengan syariah didalamnya.  Pilihan terbaik adalah tetap memiliki sistem pengelolaan risiko yang dapat menjalankan fungsi serupa asuransi konvensional tanpa elemen-elemen yang bertentangan dengan syariah.

Dari risk transfer ke risk sharing

Bagaimana caranya mendapatkan sistem itu?  Ada dua pendekatan.  Pertama, mencari atau menciptakan sesuatu yang sama sekali baru dan berbeda dari asuransi konvensional yang kini ada. Ia mungkin saja dapat digali dari khazanah keilmuan dan peradaban Islam dimasa lampau.

Pendekatan kedua, dan ini mungkin yang paling praktis adalah dengan mengambil mekanisme asuransi konvensional lalu mengganti komponen yang bermasalah dengan alternatif yang sejalan dengan syariah.

Pendekatan terakhir inilah yang menghasilkan apa yang kita kenal saat ini sebagai takaful atau asuransi syariah.  Suatu konsep yang terbilang muda yang lahir dalam dekade 1970-an.  Berawal dari beberapa putaran pembahasan dan resolusi ulama hingga tingkat dunia, maka lahirlah perusahaan asuransi pertama di Sudan pada tahun 1979, bernama Islamic Insurance Company.  Perusahaan ini masih eksis hingga kini.

Sesungguhnya asuransi syariah atau takaful adalah asuransi konvensional yang mana pokok masalah utamanya disisi syariah yaitu elemen transfer risikonya (risk transfer) telah ditanggalkan, lalu diganti dengan berbagi risiko (risk sharing).

Pada konsep risk transfer, risiko yang semula ditahan oleh pemilik aset atau kepentingan dipindahkan kepada pihak lain, dalam hal ini perusahaan asuransi.  Perusahaan asuransi mengenakan harga untuk jasa menerima transferan risiko itu, yang kita kenal sebagai premi.  Oleh sebab itu pemilik risiko atau kepentingan disebut sebagai tertanggung (insured) dan penerima transferan risikonya disebut penanggung (insurer).  Telah kita bahas pada artikel terdahulu bahwa kontrak antara tertanggung dan penanggung pada dasarnya adalah tukar menukar atau jual beli, yang kemudian melahirkan isu-isu syariah seperti gharar, riba dan maysir.

Sementara itu, pada konsep risk sharing, risiko tidak dipindahkan kepada perusahaan asuransi.  Melainkan risiko dikumpulkan dan ditanggung bersama-sama oleh sekumpulan para pemilik risiko.  Skema saling menanggung satu sama lain diimplementasikan dalam bentuk pool of fund atau kumpulan dana atau disebut juga dana tabarru’.  Sembarang klaim yang sah akan dibayarkan dari kumpulan dana tersebut.  Dengan demikian peran perusahaan asuransi tidak lagi sebagai penanggung, melainkan sekedar pengelola skema berbagi risiko.  Para pemilik risiko kini disebut peserta dan perusahaan asuransi disebut operator. Dana yang dikumpulkan untuk membangun dana tabarru’ tadi tidak lagi disebut premi, melainkan kontribusi.  Jelaslah mekanisme risk sharing ini bukanlah kontrak jual beli atau tukar-menukar, melainkan kontrak yang bersifat non-komersil.  Gharar diperbolehkan menjadi subyek kontrak non-komersil dan dengan demikian tidak ada unsur riba dan maysir.

Gambar berikut merangkum perbedaan mekanis antara asuransi konvensional dan asuransi syariah.

Source: Unknown

Risk sharing ini bukanlah ide yang sama sekali baru.  Konsep dimana manusia berusaha mengelola risiko secara financial telah dikenal sejak masa-masa awal perkembangan peradaban Islam.  Bahkan ia telah ada sebelum Nabi Muhammad mensyiarkan Islam.  Namanya Diyat. Pada masa itu manusia hidup berkabilah-kabilah (bersuku-suku). Interaksi antar suku terjadi sepanjang waktu terutama dalam perdagangan. Interaksi itu tidak jarang diwarnai konflik yang dapat memakan korban jiwa. Apabila seseorang didapati membunuh seseorang dari suku lain, maka keluarga korban berhak meminta ganti rugi yang disebut Diyat atau uang darah. Diyat itu sangat besar, sehingga tak kan sanggup dipikul oleh pembunuh seorang diri. Maka telah menjadi adat atau aturan suku bahwa Diyat itu ditanggung bersama-sama oleh seluruh anggota suku mereka. Ini sejatinya adalah mekanisme risk sharing atau saling menanggung.

Jadi, bolehlah kita katakan bahwa takaful atau asuransi syariah yang kini kenal merupakan versi modifikasi dari asuransi konvensional.

Dalam hal ini modifikasi yang dilakukan sesungguhnya cukup besar mengingat yang diganti adalah komponen utama dari suatu sistem, bukan sekedar asesoris pemanis tambahan. Ibarat mobil, yang diganti disini adalah mesinnya, bukan sekedar velg atau audio system.

Demikian besarnya modifikasinya, ia membawa banyak konsekuensi yang pada gilirannya membuat perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah menjadi cukup fundamental dari berbagai aspek.  Kita bahas penjabarannya pada kesempatan berikutnya.

Advertisements

2 thoughts on “13. Mensyariahkan Asuransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s