15. Asuransi Konvensional vs Syariah: Peran, Hak dan Kewajiban para Pihak

Telah kita diskusikan dalam artikel sebelumnya Asuransi Konvensional vs Syariah: Perikatan antara para pihak bahwa asuransi konvensional dan syariah memiliki perbedaan mendasar dalam hal bentuk perjanjian antara para pihak yang terlibat didalamnya.  Pada asuransi konvensional hanya ada satu perjanjian atau akad yaitu jual beli, dimana tertanggung adalah pembeli dan penanggung adalah penjual.  Sedangkan pada asuransi syariah ada setidaknya dua perjanjian yang berjalan simultan yaitu perjanjian antar sesama pemilik risiko atau peserta untuk saling menolong atau saling menanggung satu sama lain serta perjanjian antara peserta dengan perusahaan asuransi dimana peserta memberi mandat kepada perusahaan asuransi untuk mengelola skema risk sharing.

Perbedaan jenis perjanjian ini selanjutnya membawa perbedaan dalam peran, hak dan kewajiban para pihak, yang akan kita uraikan disini.

Pada asuransi konvensional yang struktur perjanjiannya lebih sederhana, maka peran, hak dan kewajiban itu juga lebih jelas terlihat.  Pemilik risiko berperan sebagai tertanggung atau yang mentransfer risiko.  Sedangkan perusahaan asuransi berperan sebagai penanggung atau yang menerima transferan risiko. 

Source: wiki.c2.com

Tertanggung berkewajiban membayar premi sebesar dan dalam jangka waktu yang disepakati, yang merupakan hak bagi penanggung.  Sebaliknya, mana kala terjadi klaim yang sahih, adalah kewajiban perusahaan asuransi untuk membayar ganti rugi yang merupakan hak tertanggung.  Dapat dilihat disini bahwa risiko asuransi atau underwriting sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan asuransi.  Bahkan bila tak terjadi klaim sekalipun sepanjang periode pertanggungan, janji penanggung untuk membayar ganti rugi bila klaim terjadi dalam ruang lingkup polis, dianggap sudah merupakan implementasi melaksanakan kewajiban.

Situasinya tidak sesederhana itu pada asuransi syariah, mengingat ada paling tidak dua perjanjian atau akad yang bekerja bersamaan.

Perjanjian pertama yaitu antara para peserta untuk saling menolong atau saling menanggung satu sama lain.  Jadi, tertanggung dan penanggung ada pada pihak yang sama.  Para peserta adalah tertanggung dan sekaligus penanggung.  Bah, macam mana pula ini? 

Demikianlah, bila ada diantara mereka mengalami kerugian yang sahih, maka kerugian akan ditanggung bersama.  Dengan kata lain, seorang peserta adalah tertanggung dalam kapasitasnya sebagai individu dan penanggung secara kolektif bersama para peserta yang lain. 

Hak dan kewajiban sebagai tertanggung dan penanggung sebagaimana pada asuransi konvensional berlaku pula disini.  Sebagai tertanggung, seorang peserta berkewajiban untuk membayar kontribusi kedalam dana tabarru‘ sesuai dengan tingkat risiko yang dibawanya.  Demikian pula, bila ada peserta yang mengalami kerugian yang sahih didalam ruang lingkup pertanggungan, maka wajib bagi para peserta lainnya melalui dana tabarru’ untuk memberikan haknya berupa ganti rugi atau pembayaran klaim.  Dapat dilihat disini bahwa risiko asuransi atau risiko underwriting ditahan oleh para peserta secara kolektif melalui dana tabarru‘.

Karena skema berbagi risiko asuransi syariah ini merupakan upaya bersama para peserta dalam mengelola risiko, maka sejatinya segala aktivitas operasional skema itu merupakan tanggung mereka juga secara kolektif.  Namun, lagi-lagi kita dihadapkan pada persoalan practicality.  Skema asuransi tidaklah sederhana dan ia melibatkan aktivitas-aktivitas yang memerlukan keahlian khusus, seperti underwriting, administrasi, akuntansi, keuangan dan klaim.  Oleh sebab itu pilihan yang paling masuk akal adalah dengan meng-outsource aktivitas-aktivitas ini kepada pihak lain, dalam hal ini perusahaan asuransi syariah.

Inilah yang melahirkan akad kedua yaitu kontrak antara peserta dan perusahaan asuransi dengan mana para peserta memberi mandat kepada perusahaan asuransi untuk mengoperasionalkan skema risk sharing itu termasuk pemasaran, pengembangan produk, underwriting, administrasi, penagihan kontribusi, reasuransi, penyelesaian klaim, pembayaran, pencatatan, pelaporan dan seterusnya.

Sampai disini mestinya kita dapat melihat perbedaan yang sangat terang terkait peran perusahaan asuransi pada asuransi konvensional dan syariah.  Pada asuransi konvensional, peran perusahaan asuransi demikian besarnya meliputi seluruh aktivitas risk transfer dan ia menanggung segala macam risiko baik risiko asuransi (underwriting) maupun yang bukan.  Itulah sebabnya ia berhak menerima keseluruhan premi yang dibayar oleh nasabah.

Sedangkan pada asuransi syariah, peran perusahaan asuransi telah direduksi hingga hanya terkait dengan mengoperasionalkan skema berbagi risiko.  Adapun risiko asuransi bukan lagi menjadi bebannya karena ditanggung oleh para peserta secara bersama-sama melalui dana tabarru‘.  Dengan demikian kontribusi yang dibayar oleh peserta perlulah dibelah dua antara dana tabarru‘ dan perusahaan asuransi sebagai operator.

Advertisements

One thought on “15. Asuransi Konvensional vs Syariah: Peran, Hak dan Kewajiban para Pihak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s