19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Kita pahami dari bahasan-bahasan sebelumnya bahwa hanya ada satu akad pada asuransi konvensional, yaitu jual beli. Tetapi ada dua akad pada asuransi syariah, yakni tabarru’ dan wakalah bil ujrah. Konsekuensinya ada komponen baru pada asuransi syariah yang tidak pernah ada di konvensional. Namanya ujrah atau wakalah fee.

Kalau begitu, asuransi syariah akan selalu lebih mahal daripada konvensional, dong? Benarkah demikian?

Mari kita jawab pertanyaan ini dengan menjabarkan elemen-elemen pembentuk premi atau kontribusi.

Premi pada dasarnya terdiri dari tiga elemen utama, yaitu loss cost (risk premium), external cost dan internal expenses.

Loss cost atau risk premium adalah bagian premi yang disiapkan untuk membayar klaim. Ia pada dasarnya adalah estimasi besarnya kerugian dimasa depan dari suatu portofolio risiko. Paling tidak ia terdiri dari expected value of loss ditambah buffer untuk mengantisipasi uncertainty atau deviasi. Loss cost ini dapat diturunkan berdasarkan experience (pengalaman dimasa lalu) dan/atau berbagai cara mengkalkulasi exposure, bergantung pada jenis risiko beserta sifat-sifat. Bagian loss cost ini merupakan wilayah para aktuaris yang bermain-main dengan ilmu peluang dan didukung oleh underwriter.

Adapun external cost umumnya merupakan remunerasi intermediary seperti pialang (broker), agen atau konsultan.

Sementara itu internal expenses merupakan komponen biaya internal yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi dalam menjalankan bisnis dan memasarkan produk. Biasanya komponen margin keuntungan bagi perusahaan asuransi disisipkan pula kedalam kategori ini. Lebih detail kelompok internal expenses ini dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Fixed general cost, yang meliputi biaya gaji management dan karyawan, biaya gedung, listrik, Infrastruktur dan peralatan IT, transportasi, komunikasi dan sebagainya. Biaya-biaya ini tidak berkorelasi langsung dengan volume bisnis. Besar atau kecil bisnis dalam suatu waktu tertentu, besaran fixed cost ini akan tetap saja.
  2. Variable cost, yaitu biaya mengadministrasi setiap polis secara individual. Berbeda dengan general cost, biaya ini berkorelasi positif dengan volume bisnis. Ia bergerak sejalan dengan volume bisnis.
  3. Cost of capital. Perusahaan asuransi haruslah menyediakan modal hingga jumlah tertentu untuk memback-up portofolio risiko yang dikelolanya. Investor tentu memiliki pilihan kemana menginvestasikan dananya, apakah diparkir di perusahaan asuransi untuk memback up portofolio risiko atau diinvestasikan ditempat lain. Maka dalam konteks ini, capital cost merupakan opportunity cost bagi investor atas keputusannya menempatkan dananya diperusahaan asuransi. Dengan kata lain ia merupakan peluang investasi lain yang dikorbankan oleh investor karena keputusannya berinvestasi di perusahaan asuransi.
  4. Pajak.
  5. Margin keuntungan.

Sekarang mari kita kembali meninjau ujrah atau wakala fee.

Ketentuan umum fatwa DSN-MUI no. 52 tahun 2006 menegaskan bahwa wakalah bil ujrah boleh dilakukan antara perusahaan asuransi dengan peserta dan ia merupakan pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana peserta dengan imbalan pemberian ujrah (fee).

Sementara itu bab Ketentuan Akad dari fatwa yang sama mengurai objek dari akad wakalah bil ujrah ini, yakni meliputi antara lain kegiatan administrasi, pengelolaan dana, pembayaran klaim, underwriting, pengelolaan portofolio risiko, pemasaran dan investasi.

Dari kedua bab diatas dapat kita simpulkan bahwa ujrah bagi perusahaan asuransi hakikatnya adalah upah dari para peserta kepada operator atas jerih payah dalam mengelola skema berbagi risiko sesuai mandat yang diberikan. Dengan demikian, ujrah adalah untuk menutupi semua biaya yang dikeluarkan operator dalam menjalankan tugasnya (5 item yang diuraikan diatas termasuk margin atau keuntungan yang wajar bagi perusahaan), yang item-itemnya sama saja antara asuransi syariah dan konvensional. Tidak ada tambahan elemen biaya yang baru sama sekali.

Ada dua pendekatan dalam mengambil ujrah atau wakala fee yang dipraktekkan di market. Cara pertama adalah mengambil wakala fee sebagai semua biaya selain biaya risiko (risk premium atau loss cost). Jadi wakala fee disini meliputi external cost dan internal expenses. Pendekatan pertama ini yang umumnya dipakai di Indonesia.

Pendekatan kedua adalah mendefinisikan wakala fee sebagai internal expenses saja, tidak termasuk external cost. Kedua pendekatan ini diringkas dalam gambar dibawah ini.

Sebagaimana terlihat pada gambar diatas, apapun pendekatannya dalam penetapan besaran wakala fee atau ujrah, sebenarnya tidak ada penambahan komponen baru sama sekali pada asuransi syariah. Jadi total biayanya akan sama saja. Adapun wakala fee atau ujrah, memang terminologi baru yang lahir dari model bisnis risk sharing yang diterapkan oleh asuransi syariah, namun ia bukan komponen harga baru. Wakala fee terdiri dari elemen-elemen harga yang sudah ada sebelumnya dan persis sama dengan asuransi konvensional.

Dengan demikian, untuk portofolio risiko yang sama, tidak ada alasan atau bukti bahwa asuransi syariah akan selalu lebih mahal dari pada konvensional karena adanya komponen wakala fee atau ujrah. Maka, pernyataan yang dikutip menjadi judul artikel ini adalah tidak benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s