26. Hati yang luka

Tidak lama selepas saya posting artikel 24. Makelar Asuransi, yang mengulas tentang agen dan pialang asuransi, tiba respon dari salah satu whatsapp group. Seorang kawan mendeklarasikan diri sebagai anti asuransi. Baginya asuransi adalah riba dan bertentangan dengan Syariah, tak terkecuali asuransi syariah.

Namun sisi menarik dari kisahnya adalah bahwa ia pernah dikecewakan dan merasa ditipu oleh seorang agen asuransi jiwa dari sebuah perusahaan asuransi ternama.

Seorang agen berhasil meyakinkan sang istri untuk membeli produk asuransi jiwa yang ia tawarkan. Dari ceritanya, ini adalah produk jangka panjang dengan unsur investasi, yang preminya dibayarkan secara reguler dalam interval tertentu.

Singkat cerita, mereka kemudian memutuskan untuk membatalkan polis itu. Ternyata, dengan pembatalan itu, mereka akan mendapatkan pengembalian yang lebih kecil dari pada jumlah yang telah disetor selama itu. Mereka sepakat untuk mengikhlaskan itu.

Akan tetapi, pengembalian premi itu baru akan cair enam bulan selepas pengajuan pembatalan. Lagi-lagi pasangan ini kecewa, telah lewat enam bulan, pengembalian yang dijanjikan tak kunjung tiba. Setiap kali sang agen dihubungi, ia seolah berlepas tangan dengan mengatakan bahwa pencairan sudah diluar tanggung jawab dan kuasanya. Bahkan ia berkilah, entah benar entah tidak, bahwa itu merupakan wewenang BI (Bank Indonesia).

Perangai buruk sebahagian agen asuransi ini memang menjadi beban tersendiri bagi industri asuransi yang citranya dimata masyarakat tidaklah terlalu cemerlang. Bagi anggota masyarakat yang menjadi korban, ia merupakan pengalaman yang melukai hati dan sulit terlupakan. Membuat mereka kian tak percaya asuransi. Benar kata pepatah, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Source: http://www.uprint.id

Cuplikan kisah nyata ini sesungguhnya menceritakan banyak hal tentang asuransi dan masyarakat Indonesia.

Pertama, tak dipungkiri bahwa agen asuransi ‘nakal’ memang ada, dengan tingkat dan ragam kenakalan bermacam-macam. Bentuk kenakalan paling jamak adalah apa yang disebut “misselling“. Sang agen terlalu fokus pada penjualan dan gagal memberikan informasi dan pemahaman yang akurat dan berimbang tentang produk yang dijualnya. Bahkan saking ngototnya, sang agen memberikan bumbu-bumbu informasi yang menimbulkan pemahaman yang salah pada tertanggung. Demikian pekatnya bumbu-bumbu ini, apa yang disampaikan bahkan sudah dapat dikategorikan sebagai penipuan.

Misselling pada dasarnya adalah salah satu konsekuensi negatif dari persaingan yang semakin ketat dan semakin agresifnya perusahaan asuransi mengumpulkan premi melalui berbagai kanal termasuk agen. Untuk itu agen diiming-imingi insentif menggiurkan atas pencapaian penjualan.

Kenakalan agen yang parah bahkan terhitung kriminal adalah penggelapan uang premi. Ini banyak terjadi di masa lampau saat teknologi pembayaran belum secanggih hari ini. Saat itu tidak jarang premi dititipkan kepada agen berupa uang tunai. Agen bahkan mendatangi rumah atau tempat kerja nasabah menjemput premi. Ternyata kemudian premi itu tidak disetorkan kepada perusahaan asuransi. Kini, bentuk penyelewengan ini hampir tidak ada karena agen asuransi tidak lagi memegang uang sama sekali, semua pembayaran dilakukan melalui transfer dana langsung ke rekening perusahaan asuransi.

Kedua, tidak sedikit kasus dimana tertanggung akhirnya memutuskan untuk membeli asuransi tanpa memiliki pemahaman yang cukup akan fitur, syarat dan ketentuan produk tersebut. Keputusan diambil tanpa keyakinan bahwa ia memang dibutuhkan dan sesuai dengan kebutuhan. Keputusan sepenting itu dan mengikat dalam jangka panjang dilandaskan pada rasa tidak enak terus menerus dikejar oleh agen yang memang tak kenal kata menyerah. Insentif menggiurkan atas pencapaian penjualan telah merubah agen menjadi demikian militan.

Apalagi bila agen itu masih kerabat atau kawan dekat, keinginan berbuat baik menjadi faktor pendorong pula.

Lepas dari itu, para agen memang piawai dan terlatih dalam memasarkan sesuatu. Dalam hal asuransi jiwa, mereka biasa mendekati sang istri dan mulai melancarkan jurus jitu “Coba ibu bayangkan kalau tiba-tiba esok hari Bapak mendadak tidak ada?”. Siapapun istri, apalagi yang tak bekerja dan suami merupakan satu-satunya pencari nafkah keluarga, sedikit banyak akan tersentak dan mulai berfikir. Inilah pintu masuk paling efektif dalam penjualan produk asuransi jiwa.

Ketiga, secara umum pengetahuan dan pemahaman masyarakat Indonesia akan asuransi memang masih rendah. Pernyataan kekecewaan kawan saya itu ketika mengetahui bahwa pengembalian premi atas pembatalan polis lebih kecil dari jumlah yang telah disetorkan selama ini adalah salah satu indikasinya. Padahal, hal itu mungkin terjadi, terutama bila masa pertanggungan berjalan belum lama. Saat itu hasil investasi belum cukup untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat diambil kembali. Biaya yang tidak dapat direcover itu paling tidak adalah premi untuk proteksi, komisi untuk agen serta biaya administrasi perusahaan. Diatas itu, kadang ada produk yang mengenakan penalti bila terjadi pembatalan polis atas permintaan tertanggung, terlebih pembatalan terlalu awal.

Keempat, satu lagi indikasi lemahnya pemahaman masyarakat akan asuransi adalah anggapan bahwa asuransi jiwa merupakan instrumen investasi yang ada bonusnya berupa proteksi asuransi. Ini jelas pemahaman yang keliru.

Yang benar adalah justru sebaliknya produk asuransi jiwa bermuatan investasi itu sesungguhnya adalah proteksi asuransi yang ditambahkan fiturnya dengan investasi. Dengan demikian perusahaan asuransi dapat memungut premi lebih besar dan berarti produksi yang lebih besar.

Dalam produk asuransi jiwa (konvensional) dengan investasi, meski ditampilkan dalan satu angka, premi yang dibayar oleh tertanggung sesungguhnya dibagi dua, sebagian untuk biaya proteksi dan sebahagian lagi untuk disalurkan ke berbagai instrumen investasi.

Memang benar argumen yang mengatakan bahwa produk seperti itu sangat tepat bagi nasabah yang tak faham investasi atau tidak punya waktu untuk melakukannya sendiri. Namun perlu dicatat bahwa hasil investasi dari produk asuransi jiwa hampir selalu lebih rendah dari pada investasi yang dilakukan sendiri, mengingat perusahaan asuransi turut menikmati sebagian dari hasil investasi itu.

Jadi, kombinasi yang paling menguntungkan bagi nasabah sebenarnya adalah beli asuransi proteksi saja seperti term life lalu investasi dilakukan terpisah, baik sendiri atau dengan bantuan manajer investasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s