Aku dan Pemilu

1992

Aku masih sekolah kelas dua SMA, di Kerinci. Mencoblos untuk pertama kali. Mendebarkan, seperti jelang malam pertama. Saat itu hanya tiga kontestan, PPP, Golkar dan PDI, tidak berubah sejak 1977.

Ibu yang pegawai negeri menyarankan Golkar, sementara Abak (Ayah) yang multi-profesi, typical urang awak, bersifat netral, terserah aku.

Dibilik TPS yang meminjam ruang kelas Madrasah Tsnawiyah sempat terbersit untuk menyoblos Golkar, seperti orang-orang. Namun batal. Yang beruntung adalah PPP, yang terpilih menjadi cinta pertamaku. Tentu saja waktu itu belum ada Bang Romi “doa yang tertukar”, yang sok millenial itu.

Mengapa aku tak memilih Golkar, padahal beberapa bulan sebelumnya menerima beasiswa dari Golkar? Dua ratus ribu rupiah besarnya sebagaimana tertulis ditanda terima. Tapi yang kubawa pulang hanya 180 ribu. Dua puluh ribu disunat oleh kasir di kantor Golkar kabupaten. Uang administrasi katanya.

Golkar menang telak, seperti biasa. Sidang MPR kembali mengangkat Soeharto sebagai presiden dan Try Sutrisno menjadi Wakil Presiden menggantikan Soedharmono.

Antrian pemilih di TPS SIKL

1997

Aku sudah tinggal di Bogor dan menyoblos di TPS Kelurahan Mantarena. Tak istimewa, Golkar menang besar lagi. PDI pecah selepas tragedi berdarah Diponegoro 1996.

Lagi-lagi Golkar tak kupilih. Kebencianku padanya mencapai ubun-ubun. Pasalnya mereka buat gerakan kuningisasi. Semua permukaan di cat kuning.  Sekolah, rumah sakit, gedung-gedung pemerintahan, pagar-pagar hingga trotoar. Bahkan, Jembatan Merah yang tidak jauh dari asramaku juga di cat kuning. Sakit jiwa!

Pak Harto makin sepuh, namun ia terpilih lagi dalam Sidang MPR, ulah bujuk rayu Harmoko. BJ Habibie menjadi wakilnya. Dan krisis moneter kian parah. Pemerintah baru mati muda.

1999

Pemilu dengan banyak sekali partai, pening aku dibuatnya. Meski dengan persiapan singkat dan ekonomi terpuruk, Pemilu ini sukses terselenggara.

Aku sudah kerja di Jakarta, tapi nyoblos di Bogor, sesuai KTP. Saat itu pesona Amien Rais membiusku.

Di sidang MPR, Gus Dur terpilih menjadi Presiden mengalahkan Megawati dalam voting. Sebelumnya Yusril mundur dari pencalonan, demi memberi jalan Gus Dur.

2004

Nyoblos di Bekasi, baik untuk Pileg maupun Pilpres. Tidak ada yang istimewa yang kuingat. Kecuali, aku jatuh cinta pada partai baru yang didirikan dosen agamaku di IPB. SBY menjadi juara. Megawati terluka, memilih tak bertegur sapa.

2009

Aku nyoblos di Bahrain. Bahkan jadi anggota PPLN Kuwait dan Bahrain. Belum ada Kedutaan di Bahrain, masih berstatus Kantor Urusan Konsuler dibawah KBRI Kuwait.

Rapat penting persiapan pemungutan suara diadakan di KBRI Kuwait. Bimtek (Bimbingan teknis) di Jeddah, lumayan sekalian Umrah. Untuk pertama kalinya aku terbang dibayar uang negara, dilayani dengan protokoler Kemenlu. Tiba di airport Bahrain, sudah ditunggu petugas protokoler yang mengurus semuanya, check in, bagasi dan imigrasi. Awak tinggal melenggang saja naik pesawat. Setiba di bandara tujuan, pun demikian. Begitu pintu pesawat terbuka, sudah tegak menanti petugas KBRI, meminta paspor dan mengambil alih tas jinjing. Melenggang pulalah awak keluar, santai kayak di pantai.

Batinku, patutlah betah kali para diplomat dengan fasilitas itu. Paspor hitam merekapun sakti, keluar masuk negeri tak perlu visa. Sampai lupa mereka mengurus anak negeri berpaspor hijau, yang tak bisa masuk kemana-mana, kecuali negeri yang tak ingin kau kunjungi. Sementara pintu rumah sendiri dibukanya lebar-lebar untuk 169 negara. Bengak kali!

Malam itu di ruang rapat utama KBRI Kuwait, PPLN rapat panjang, hingga lewat tengah malam. Terkejut aku saat membuka pintu, didepan ruang rapat ramai sekali seperti barak pengungsi. Semuanya perempuan, tidur bersusun rapat diatas kasur busa tipis. Banyak pula yang masih terjaga dan bercengkerama. Kami harus hati-hati melangkah, agar tak ada kaki, bahkan kepala yang terinjak. Rupanya, pemandangan yang sama memenuhi semua koridor gedung KBRI yang empat lantai itu.

Seorang Diplomat KBRI Kuwait bercerita tanpa ditanya. Mereka adalah para Tenaga Kerja Wanita dengan beragam masalah, diusir majikan, disiksa majikan, kabur dari majikan dan lainnya. Mereka menunggu kelengkapan dokumen untuk dipulangkan. Saat itu ada lebih dari empat ratus jumlahnya. Rumah besar dibelakang KBRI yang disewa sebagai penampungan sementara tidak cukup lagi. Maka saban malam sebagian mengungsi tidur ke gedung KBRI.

Itulah Indonesia, bangsa yang mengaku besar tapi tak pandai menghormati perempuannya. Padahal perempuan adalah sokoguru rumah. Bila ia dicerabut, runtuhlah keluarga dan tatanan sosial karena suami kawin lagi, zina, anak tak terjaga, narkoba, mobile legend bahkan incest. Bangladesh, negeri yang jauh lebih melarat dari pada kita, dan rakyatnya ramai bekerja di negara lain. Namun, mereka lebih bermartabat, tak satupun perempuannya mereka kirim keluar negeri mengadu untung.

Penyelenggaraan Pemilu di Bahrain sukses, melalui pos maupun TPS di Kantor Urusan Konsuler. Meski hanya beberapa ratus saja yang mencoblos. Majikan baik hati mengantar pembantunya dengan mobil mewah. SBY juara lagi, dengan nyamannya.

2014

Pertama kali mencoblos di Malaysia. Pendaftaran online sekitar setahun sebelum hari H. Paling tidak sebulan sebelum hari pencoblosan, tiba surat undangan dari KBRI, mengkonfirmasi kami telah terdaftar sebagai pemilih dan pada TPS nomor berapa kami akan mencoblos lengkap dengan alamat dan petanya. Informasi tersebut tersedia pula online.

Untuk Pemilu Pileg, TPS kami berada disebuah Dewan atau Hall didaerah Gombak, diseberang kedai Nasi Kapau dan Ayam Pop.  Lupa aku nama Dewan itu.  Tidak banyak area tersedia untuk parkir, namun didalam Dewan semua tertata rapi.  Sejuk oleh AC yang memadai.  Pemilih yang membawa bayi dan anak kecil tidak perlu khawatir.  Terlihat PPPLN telah menyiapkan segalanya dengan baik.  Antrian tidak panjang.  Seluruh proses pencoblosan berlangsung cepat.  Apalagi diluar negeri kita hanya memilih anggota DPR saja untuk Dapil Jakarta 2.       

Sedangkan untuk Pemilu Pilpres beberapa bulan kemudian, TPS kami berada di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), di jalan Tun Ismail.  Pengelolaan pemungutan suara yang rapi kembali kami rasakan, serupa dengan Pileg.  TPS-TPS disebar di ruang-ruang kelas.  Halaman sekolah ditutup tenda raksasa bagi para pemilih untuk berteduh menanti giliran.  Meski begitu antrian tidaklah panjang. 

2019

Kali ini berbeda.  Si Sulung ikut memilih untuk pertama kalinya.  Setahun lalu kami mendaftar online melalui link yang disediakan PPLN.  Namun entah mengapa, pendaftaran online tidak diproses atau batal.  Akhirnya kami mendaftar dengan menitipkan data kepada kawan yang bekerja di KBRI.  Kawan itu kini telah dipecat karena berjualan kaos #2019GantiPresiden.  Aku adalah salah satu pembelinya.

Kami bertiga terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap).  Kami tenang.  Mendekati hari pencoblosan, hati mulai bertanya-tanya. Tak ada kabar berita di TPS mana kami mencoblos.  Surat undangan tak kunjung tiba, informasi online pun tiada.  Semua gelap.

Lalu pecah berita itu, lima puluh ribu surat suara asli yang telah dicoblos untuk calon tertentu ditemukan bertumpuk di dua gudang diluar Kuala Lumpur.  Bawaslu mengkonfirmasi bahwa kabar itu benar adanya, bukan hoax.  Istriku tiba-tiba viral karena salah satu photonya disamakan dengan ketua Panwaslu yang menggerebeg pencurian suara itu.

Aku cek online, tidak ada informasi mengenai TPS sama sekali.  Justru statusku berubah menjadi DPK (Daftar Pemilih Khusus) dan baru boleh mencoblos mulai pukul tiga sore.  Istri dan anak sulungku tetap DPT.  Bah! Macam mana pula ini?  DPK adalah kategori untuk pemilih yang telat mendaftar dan akan dilayani belakangan di TPS dengan risiko kehabisan surat suara.  Aku tanya melalui Whatsapp resmi PPLN, tak ada jawaban.  Aku colek PPLN di Facebook, tetap diam.  Aku putuskan untuk tetap datang pagi dan siap berdebat dengan petugas.

Bertanya kepada kawan yang menjadi petugas TPS pun percuma, baginya banyak hal juga gelap.  Hingga sehari menjelang pencoblosan mereka tak tahu bertugas di TPS mana dan bersama siapa.  Sebelumnya sudah ada beberapa kali Bimtek (Bimbingan Teknis) besar-besaran dihotel mewah, tapi kesannya hanya menghabiskan anggaran saja.  Makan lalu pulang.

Jelang tengah malam, PPLN merilis ralat pengumuman di media sosial bahwa TPS-TPS yang sedianya berjumlah lebih dari 200, diciutkan menjadi tiga lokasi saja, yakni KBRI, SIKL dan Wisma Duta (kediaman resmi Duta Besar).  Entah mengapa.

Semestinya pagi itu kami mengantar si bungsu dulu ke acara sport day sekolahnya di Cyber Jaya, siangnya baru ke TPS.  Namun mengingat situasi yang serba simpang siur, kami ubah rencana.  Sport day batal, kami langsung ke TPS, mengantisipasi antrian akan mengular panjang.  Kami pilih SIKL dengan pertimbangan area lebih lapang dan lebih banyak pilihan untuk parkir.  Diperjalanan menuju TPS, berhenti di sebuah pom bensin, membeli bekal beberapa botol air dan roti.

Benar saja, begitu tiba SIKL telah ramai sekali.  Aku membelok ke lorong Tun Ismail disebelah komplek sekolah mencari parkir.  Hingga ke ujung tak menemukan ruang.  Akhirnya parkir tak sempurna dengan setengah mobil menutup gerbang sebuah klub olahraga.  Aku tinggalkan kertas kecil bertuliskan nomor telepon dipojok dashboard.  Sementara itu, tepat didepanku sebuah kijang (di Malaysia disebut Unser) merah dan Myvi biru parkir nanggung.  Ruang diantara keduanya lebar, tapi tak cukup untuk satau mobil.  Benar-benar tak menenggang.

Parkir Nanggung

Lapangan sekolah telah dipenuhi para pemilih yang berdiri antri dibawah matahari yang kian terik.  Tidak ada tenda seperti lima tahun lalu.  Semakin lama semakin ramai.  Pendaftaran baru dimulai pukul sembilan lewat beberapa menit.  Semakin siang, udara semakin panas, semua yang berdiri berdesakan dihalaman sekolah bermandi keringat.  Untungnya, Ibu-ibu dengan bayi dan balita serta orang-orang tua didahulukan.  Sesekali terjadi saling dorong, namun dapat ditenangkan. 

Panitia sesekali mengumumkan bahwa yang berstatus DPK keluar saja dari antrian dan kembali setelah pukul tiga.  Tapi rasanya tak banyak yang menggubris.  Akupun tetap berbaris.  Setelah hampir dua jam berdiri antri dibawah mentari, posisi kami bertiga sudah dibarisan depan.  Mungkin hanya tiga atau empat orang dimuka kami.  Tiba-tiba ada pengumuman bahwa sistem PPLN down, pengecekan dan pencatatan akan dilakukan manual.  Aha! ini artinya mereka tak bisa membuktikan bahwa aku DPK.  Tak payahlah aku bersitegang urat leher dengan mereka yang pasti sedang stress pula.  Inilah barangkali yang orang-orang sebut sebagai “Rezeki orang ganteng shaleh”.

Benar saja.  Tanpa hambatan, aku mendapat nomor TPS and nomor urut.  Petugas menulis nama dan nomor paspor dengan tangan di borang kosong.  Aku menuju ruang kelas dimana TPS ku berada.  Ada sekitar 5 TPS disetiap ruang kelas.  Kini kami antri lagi didepan pintu kelas.  Tapi tak lama.  Tiba giliranku, petugas TPS kembali menulis nama dan nomor paspor dengan tangan di borang kosong.  Semua serba manual dijaman “onlen-onlen” ini. 

Petugas lalu menyerahkan dua surat suara yang langsung aku buka.  Salah satu petugas berkata, “dibukanya di bilik suara saja, Pak”

“Saya mau buka disini Mbak, supaya kita sama-sama menyaksikan apakah surat suaranya sudah dicoblos apa belum.”

“Pasti belum dicoblos, Pak”, katanya.

“Kok, Mbak yakin banget.  Apa karena yang udah dicoblos udah digerebeg digudang itu?”. Dia diam. Aku berjalan ke bilik suara.

Selesai mencoblos, kami keluar lewat gerbang belakang sekolah.  Saat berjalan menuju parkir mobil, berpapasan dengan Prof. Irwandi Jaswir dan istri yang datang terlambat.  Rupanya mereka sudah mengantri lama di KBRI, namun kemudian situasi menjadi tidak terkendalaidan antrian kacau.  mereka meutusakan pindah ke SIKL.

Demikianlah. Aneh sekali.  Entah apa sebabnya pelaksanaan Pemilu tahun ini berantakan sekali, sedari awal.  Sulit ditolak bahwa kenyataan memicu syakwa sangka.  Hanya dua kemungkinannya, penyelenggara yang mendadak kehilangan kecerdasan dan kemampuan mengelola.  Atau, ada sesuatu yang sedang dirancang atau disembunyikan.  Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s