Galau Asuransi Umum Syariah: Palu Gada & Ekslusifitas

Hari Jumat di awal April 2019, saya ambil cuti sehari dan terbang ke Jakarta untuk menyelesaikan beberapa urusan pribadi diakhir pekan.  Seperti biasa, berusaha menghabiskan waktu ditanah air dengan kegiatan-kegiatan positif, paling tidak berjumpa dengan kawan sambil ngopi.  Sore itu saya bertemu dengan seorang kawan dari industri asuransi yang telah bertahun-tahun aktif menjadi pialang reasuransi.

Seiring mendinginnya kopi tubruk dicangkir kami, perbincangan justru menghangat saat menyentuh perkembangan industri asuransi syariah.  Kami berbagi keprihatinan akan kelesuan industri asuransi umum syariah tanah air.  

Data IKNB Syariah dari OJK menunjukkan bahwa dua tahun berturut-turut sudah sektor asuransi umum syariah menunjukkan pertumbuhan negatif.  Total kontribusi bruto nasional terjun bebas 12% dari Rp 2.14 Triliun tahun 2016 ke 1.88 Triliun Rp 2017.  Tidak berhenti disitu, tahun 2018 kontribusi menurun tipis 2% ke Rp 1.84 Triliun.  Akankah tren ini berlanjut atau berbalik arah? Mengapa hal ini terjadi pada asuransi umum sedangkan sektor asuransi jiwa syariah tetap menunjukkan pertumbuhan yang menggairahkan?

Source: dcoopmedia.com

Pendapat paling masyhur menyalahkan status sebagian besar takaful operator Indonesia yang sebatas Unit Usaha Syariah (UUS) dari perusahaan asuransi konvensional.  Dengan status ini, UUS biasanya tidak mendapatkan pasokan sumberdaya yang memadai untuk bertumbuh dan melakukan penetrasi pasar, terutama segmen asuransi komersil.  Target bisnis yang diberikan dari tahun ketahun pun tidak pada level yang dapat memacu adrenalin tim UUS untuk bekerja keras.  Kesannya, UUS ini didirikan atas dasar prinsip Palu Gada (Apapun lu mau, Gua ada).  Tidak lebih.   Ini merefleksikan rendahnya komitmen terhadap industri asuransi syariah.

Pendapat kedua yang sering terdengar adalah bahwa kenyataannya perusahaan asuransi umum syariah dan UUS terlalu mengandalkan Bank Syariah dan Perusahaan Pembiayaan Syariah sebagai kanal distribusi utama.  Akibatnya, begitu pembiayaan syariah menurun, pendapatan kontribusi perusahaan asuransi umum syariah juga menciut dengan segera.

Pembiayaan syariah di tanah air saat ini masih didominasi oleh pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor, kepemilikan rumah serta pembiayaan pribadi.  Fakta ini menggiring komposisi bisnis asuransi umum syariah menjadi terlalu didominasi oleh lini asuransi personal terutama asuransi kendaraan bermotor, rumah tinggal, kecelakaan diri dan asuransi perjalanan.  Perusahaan asuransi umum syariah dan UUS terbukti loyo tak berdaya dalam persaingan lini asuransi komersil. 

Meski perbankan syariah mulai meningkatkan pembiayaannya ke sektor komersil, asuransi umum syariah tak mampu mengikuti dan tertinggal di belakang.  Akhirnya, asuransi untuk objek yang dibiayai oleh pembiayaan syariah terpaksa bocor ke asuransi konvensional.  Meski hal ini dibolehkan atas landasan darurat (emergency), fenomena ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut, bila kita tak ingin melihat sektor asuransi umum syariah mati dan menjadi fosil.    

Frustrasi dengan ketidakmampuan menembus lini asuransi komersil ditambah dengan penurunan bisnis lini personal, perusahaan asuransi syariah berpaling ke lini asuransi kredit (financial guarantee) yang selama ini merupakan domain Askrindo dan Jamkrindo.  Pada beberapa perusahaan asuransi syariah, lini bisnis ini mulai mendominasi, mengejar atau bahkan melampaui porsi asuransi kendaraan bermotor.  Persoalannya, portfolio asuransi kredit, yang memproteksi risiko kedit macet yang ditanggung bank, bukanlah risiko yang mudah dikelola dalam jangka panjang.  Ada elemen risiko sistemik didalamnya yang berkorelasi positif dengan kondisi perekonomian.  Oleh karenanya, untuk mengelolanya diperlukan kepakaran khusus dan dukungan modal yang besar.  Apakah sektor asuransi umum syariah memiliki prasyarat itu?

Expertise dan Ekslusifitas

Kembali ke kawan ngopi saya tadi.  Ia ternyata memiliki beberapa point yang menurut saya sangat menarik terkait fenomena gagalnya asuransi umum syariah menembus lini asuransi komersil.

Pertama, sektor asuransi umum syariah tidak memiliki underwriter risiko komersil dengan expertise dan pengalaman yang memadai untuk berkompetisi dengan pemain konvensional. Apatah lagi untuk memimpin suatu panel untuk suatu risiko besar. Hal ini membuat mereka tidak percaya diri mengambil risiko besar, akhirnya hanya menjadi follower dengan saham seadanya dan posisi tawar yang lemah.

Disisi lain, lemahnya kemampuan underwriting ini membuat industri reasuransi tidak confident untuk memasok kapasitas besar. Pun demikian dengan bank syariah dan tertanggung komersil, kepercayaan mereka kepada asuransi umum syariahpun menjadi rendah.

Fenomena serupa ia lihat pula pada tenaga pemasaran asuransi umum syariah yang tugas utamanya adalah memburu bisnis risiko asuransi komersil.  Mereka masih ketinggalan dalam hal product knowledge dan soft skill.

Faktor lain yang ia observasi, dan ini paling menarik bagi saya, adalah apa yang ia sebut sebagai ekslusifitas.  Ia mencoba menerangkan apa yang ia maksud dengan istilah itu.  Ini sesungguhnya persoalan mindset.  Ia mengamati bahwa banyak praktisi asuransi umum syariah yang seolah “too proud” dengan fakta bahwa perusahaan mereka adalah shariah compliant.  Mindset ini menghambat mereka untuk dapat terlibat secara aktif dalam komunitas risiko komersil.  Bahkan banyak yang berpendirian bahwa satu risiko haruslah sepenuhnya ditutup oleh kapasitas syariah.  Dengan kata lain, 100% panel ko-asuransi dan reasuransi haruslah perusahaan syariah.  Bila tidak, mereka lebih memilik untuk tidak ikut serta sama sekali.  Ini meningkatkan kebocoran risiko syariah ke sektor konvensional, selain ulah faktor pertama tadi. (Catatan: ini pernah saya bahas dalam artikel lain Galau Asuransi Umum Syariah: Susah bener ngangkatnya!)

Ia menilai komunitas konvensional sesungguhnya menaruh respek terhadap sektor asuransi syariah dan prinsip-prinsipnya.  Namun agar bisnis dapat berjalan lancar, diperlukan mindset yang lebih terbuka dari praktisi asuransi syariah, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariah itu tentunya.  Tidak hanya dalam hal perkawanan dan lapangan golf, namun ia lebih penting saat menyentuh pembicaraan atau kolaborasi bisnis.

Observasi kawan ini tentu boleh diperdebatkan dan diuji.  Namun bagaimanapun, ia layak dijadikan bahan muhasabah (instropeksi) bagi sektor asuransi umum syariah nasional.  Wallahu a’lam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s