Tambuah ciek: what you see, what you get

Tidak sekedar tentang quick count vs real count, rumah makan Padang mengajarkan banyak nilai-nilai positif yang bermanfaat dalam kehidupan, termasuk dalam hal penyelenggaraan pemilihan umum… eh 😊🙈

Transparansi

Salah satu pakem utama rumah makan Padang adalah semua makanan atau lauk yang mereka punya dipamerkan di rak display kaca dibagian depan rumah makan. Demikian pentingnya pakem ini, rumah makan padang tanpanya dapatlah dikategorikan sebagai “Padang sasek” (Padang sesat). Rak pajangan itu umumnya menjorok kemuka, melewati tembok depan bangunan. Diatasnya pula ada atap bagonjong (khas Minangkabau), membuatnya menjadi begitu stand-out dan eye-catching. Ia mestilah menjadi sasaran pandangan pertama dari setiap orang yang tiba atau berlalu lalang.

Yang dipajang disana bukanlah sekedar foto atau model makanan tiruan, melainkan benar-benar makanan asli yang dimasak dan untuk disajikan di meja-meja para tamu. What you see, what you get, literally.

Ini adalah ejawantah transparansi tingkat dewa yang menguntungkan semua pihak. Begitu tiba, calon pelanggan bisa langsung menuju ke depan rak pajangan itu, melihat apa saja yang tersedia, lalu mengambil keputusan masuk untuk makan atau berlalu. Tidak perlu anda mendatangi pelayan lalu bertanya “ada apa saja hari ini, Uda?” atau membuang waktu memplototi buku daftar menu yang kadang sulit dimengerti.

Begitu anda masuk, artinya berniat untuk makan, pelayan tak perlu bertanya lagi. Ia cukup mengikuti anda dengan sudut matanya sekedar untuk tahu anda duduk dimeja mana. Selanjutnya dia bisa langsung mengantar makanan kemeja anda.

Dimeja, transparansi maksimal terjadi lagi, karena lagi-lagi semua yang mereka punya ditebar diatas meja.

Efisiensi

Dengan asumsi bahwa semua orang datang untuk makan, maka begitu tamu melewati pintu, para pelayan segera bergerak mempersiapkan lauk-pauk dengan memasukkannya kedalam piring-piring kecil dan membawanya ke meja.

Proses mengantar makanan dari area persiapan disekitar rak pajangan ke meja merupakan langkah kritikal penentu kecepatan pelayanan. Pelayan menumpuk belasan piring berisi lauk pauk dilengan kirinya ditambah dua tiga dengan tangan kanan lalu berjalan cepat ke meja. Proses ini disebut “Manatiang piriang”, skill unik yang hanya dimiliki pelayan rumah makan Padang. Biasanya air minum berupa teh hangat tawar telah terlebih dulu tiba dimeja, diantar dari stasiun minuman dibagian belakang rumah makan.

Bila anda memerlukan sesuatu, anda tinggal mengangkat tangan maka pelayan segera menghampiri. Namun cara paling efisien adalah dengan meneriakkan apapun yang anda mau. Bila anda minta tambahan nasi, tinggal teriakkan “Tambuah ciek!”, maka beberapa saat akan tiba pelayang dengan nasi tambah dipiring kecil.

Tidak jarang, teriakan anda diulang atau di echo oleh kasir atau pelayan lain “Tambuah ciek meja limo!”, agar yang bertugas di area persiapan mendapat info lengkap.

Itu sebabnya rumah makan Padang sejati pastilah berisik oleh obrolan pelanggan, teriakan order dan request, ditingkahi dengan dentingan piring-piring kaca dan sendok garpu. Atmosfir ini mungkin tidak sepenuhnya nampak di rumah makan padang mewah di kota-kota besar. Namun, sesekali melawatlah ke Ranah Minang dan bertandanglah ke rumah makan tradisional didekat pasar atau dipesawangan (ditengah jalur perjalanan antar kota). Enjoy the ambiance!

Saling percaya

Setiap transaksi dirumah makan Padang adalah ekspresi saling percaya secara total dari kedua belah pihak. Jangan ada dusta diantara kita. Saat meletakkan semua makanan yang mereka punya diatas meja, pemilik rumah makan meyakini bahwa pelanggannya akan berlaku baik dengan hanya mengambil lauk yang ia makan saja dan tidak menyentuh yang ia sedang tak ingin. Mereka percayakan para pelanggan untuk menjaga keutuhan dan kebersihannya untuk pelanggan selanjutnya.

Pemilik rumah makan yakin pelanggannya tidak akan jahil, mencuil sedikit daging rendang, lalu mengaku menyentuhnya. Hal itu tentu bukan tak mungkin terjadi. Pelayan penghitung bill dengan mata jeli mestinya telah terlatih untuk menemukan itu. Bila pelanggan tetap ngotot, pelayan akan ikut saja. Selanjutnya mekanisme quality control yang bekerja, daging tercuil itu tak lagi disajikan kepada pelanggan berikutnya.

Pada kebanyakan kasus, pelanggan membalas kepercayaan itu dengan hanya menyentuh makanan yang ia ingin makan. Bahkan tidak jarang, setelah beberapa saat pelanggan meminta pelayan mengambil kembali beberapa piring berisi lauk yang ia tak ingin makan, agar terhindar dari kontaminasi selama ia menikmati hidangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s