Four eyes principle

Bagi yang berkarir diindustri asuransi, terutama underwriter, tentulah sangat familiar dengan istilah ini, four eyes principle.

Underwriter adalah seseorang yang menganalisa sebuah risiko lalu mengambil keputusan apakah akan mengambil risiko tersebut atau tidak. Ia pula yang menetapkan, bila keputusannya adalah mengambil risiko itu, terms and conditions (syarat dan ketentuan) untuk pertanggungan tersebut. Syarat dan ketentuan ini meliputi suku premi, level deductible (risiko sendiri), pengecualian dan sebagainya.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang underwriter di pandu oleh Underwriting Guidelines (Pedoman Underwriting) dan underwriting tools (alat atau perangkat) underwriting. Underwriting guideline sesungguhnya merupakan dokumentasi dari kebijakan underwriting perusahaan yang ditetapkan oleh manajemen. Ia merefleksikan risk appetite sebuah perusahaan, singkatnya tentang risiko apa yang disukai dan apa yang tidak. Underwriting Guidelines berisi pula petunjuk atau prinsip-prinsip terkait otoritas dan proses pengambilan keputusan underwriting. Biasanya SOP (Standard Operation Procedure) Underwriting diturunkan dari Underwriting Guidelines.

4-eye i-flip-flap-184343_960_720

Source: https://www.dicits.com/en/aktuelles/2016/08/19/vier-augen-prinzip/

Adapun underwriting tools adalah alat-alat atau perangkat tambahan yang membantu underwriter dalam melaksanakan tugasnya. Ini dapat berupa pricing tools, underwriting checklist, wording database dan sebagainya.

Mengingat yang menjadi objek analisa seorang underwriter adalah risiko atau ketidakpastian akan terjadinya kerugian, maka tugasnya banyak dibantu oleh ilmu peluang dan statistika.  Klik Antara judi dan asuransi bila anda tertarik pada diskusi tentang ketidakpastian dan asuransi.  Biasanya prosedur-prosedur atau metode-metode statistika telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pricing tool yang dipakai. Pada dasarnya, output utama dari setiap pricing tools adalah expected loss atau nilai harapan dari kerugian, yang merupakan ramuan dari berbagai teori dan metode statistika didalam pricing tools.

Namun bagaimanapun canggihnya, pricing tools tetaplah ia sebuah alat atau perkakas bantu yang mana kualitas outputnya sangat tergantung pada input dan user (penggunanya). Ungkapan ‘garbage in, garbage out’ tetap berlaku pada pricing tools perusahaan asuransi. Input umumnya berupa data dari berbagai aspek yang relevan, baik berasal dari risiko atau portfolio yang sedang dianalisa maupun berasal dari agregasi atau kumpulan data dari risiko-risiko lain dimasa lampau. Kualitas data sangat mempengaruhi hasil, maka setiap data yang masuk perlulah diverifikasi atau diuji terlebih dahulu.

Diatas semuanya, manusia sebagai user boleh dikata merupakan faktor paling signifikan. Karena secanggih apapun suatu pricing tools, ia tetap menyisakan ruang bagi judgment atau keputusan-keputusan underwriter disepanjang proses underwriting seperti penetapan asumsi-asumsi dan pemilihan metode.

Selain itu, tidak selamanya risiko atau portfolio yang sedang dianalisa tepat sama dengan data-data masa lampau yang digunakan pricing tools. Apalagi, underwriting memang selalu mencoba menduga masa depan menggunakan pengalaman masa lampau. Banyak hal dimasa depan dapat diduga tidaklah sama dengan masa lampau. Semuanya ini memerlukan adjusment atau judgement dari underwriter.

Dan, underwriter juga manusia, bukan mesin yang dingin dan kaku. Ia memiliki akal, rasa dan emosi yang disatu sisi berdampak positif mempertajam analisa. Namun, disisi lain, akal terutama rasa dan emosi menjadi sumber bias dan inkonsistensi. Selain itu, seorang manusia akan memandang sesuatu dari satu atau beberapa perspektif, namun mungkin luput melihat perspektif lain yang mungkin dapat menggiring pada kesimpulan berbeda atau paling tidak mengenhance kesimpulan awal.

Potensi bias, inkonsistensi dan keterbatasan perspekstif inilah yang memunculkan perlunya underwriter kedua. Tugasnya tidak untuk mengulang semua aktivitas underwriting yang telah dilakukan rekannya, melainkan melakukan review atas alur dan logika berfikir dalam penetapan asumsi dan pemilihan metode. Idealnya, proses review yang baik menghasilkan konsensus diantara keduanya.

Inilah yang disebut sebagai four eyes principle dimana setiap keputusan untuk mengambil risiko atau tidak mestilah dilihat oleh setidaknya dua pasang mata atau dua orang underwriter berbeda. Ia tentu tidak sepenuhnya mengeliminasi kesalahan atau luput dari mempertimbangkan suatu faktor, tapi yang jelas ia akan menguranginya secara signifikan sepanjang proses 4-eye atau review dilakukan secara jujur, netral dan independent.

Four eyes principle tidak hanya dipakai dalam pengambilan keputusan yang relatif kompleks seperti underwriting risiko atau portofolio asuransi, namun juga membawa manfaat dalam tugas-tugas yang lebih sederhana. Dalam hal entry data dari dokumen kertas ke dalam system komputer misalnya, ia dapat meningkatkan akurasi input data dengan signifikan.

Bahkan, apa yang terjadi di rumah makan Padang dalam artikel quick count vs real count, sesungguhnya adalah penerapan four eyes principle, yang secara bergurau di sebut sebagai quick dan real count.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s