Pencuri lugu yang mempesona

Jupi, sebut saja namanya begitu. Saban hari ia masuk keluar kampung dengan motor bebek merahnya. Bersamanya selalu ada sebuah tas hitam berisi dua kamera analog, lampu flash, beberapa gulungan film bermerk Fuji atau konica dan empat lembar kain berukuran kurang lebih 1.5m x 1.5m. Kain-kain polos itu berbeda-beda warna, ada merah tua, biru, hijau dan putih.

Ia perlu dua kamera, satu untuk foto berwarna dan lainnya untuk foto hitam putih, umumnya pas foto.  Film foto berwarna tidak sama dengan hitam putih.  Satu gulungan berisi 24 atau 36 frames, dengan bonus antara dua sampai empat.  Dua kamera diperlukan karena sekali gulungan film dipasang, tidak mungkin digonta-ganti hingga semua frames habis terpakai.  Bila dipaksakan maka film akan terbakar, gambar yang terlihat hitam belaka.  Adapun kain-kain polos itu digunakan sebagai latar belakang pas foto, bila ada ketentuan latar belakang warna tertentu.  Untuk pasfoto hitam putih, ia bisa pakai warna apa saja, kecuali putih.

Jupi adalah seorang fotografer amatir.  Sebutan yang sebenarnya menyesatkan mengingat menjadi tukang foto adalah pekerjaan utama Jupi dan dari situ ia menghidupi keluarganya.  Ia lakukan penuh waktu setiap hari, bahkan akhir pekan.  Jupilah sesungguhnya fotografer profesional, tidak ada bedanya dengan Darwis Triadi.

Nama Jupi sebagai tukang foto keliling sungguh masyur di kawasan Kerinci bagian Selatan, paling tidak meliputi dua kecamatan, yaitu kecamatan Danau Kerinci dan Gunung Raya.  Keuletannya menjelajah bersama motor bebeknya, keluar masuk kampung, hingga dusun-dusun yang jauh dipedalaman dan sulit dijangkau.  Ia lakukan semua itu meski belum tentu ada yang mau berfoto. 

Source: http://www.idntimes.com

Acap kali, orang yang semula tidak ada rencana berfoto, begitu melihat Jupi, langsung mau difoto.  Dikumpulkannya seluruh keluarganya, yang wanita berdandan seadanya, lalu berpose didepan rumah.

“Mau berapa petik ini, satu atau dua?”, pertanyaan standar dari Jupi.  “Dua boleh. Yang satu untuk semua, satunya lagi anak-anak saja.”

Hasil foto selesai dalam satu atau dua pekan, tergantung dari seberapa cepat film didalam kamera Jupi habis terpakai.  Maka seluruh keluarga berdebar-debar menanti bila Jupi akan tiba lagi dikampung mereka membawa hasil jepretannya.  Waktu beringsut terasa lama.  

Saat hari itu tiba, Jupi membunyikan klakson motornya dua kali, anak-anak berlarian keluar rumah.  Mereka mengerumuni jupi yang duduk diatas motornya namun tangannya sibuk memilah-milah tumpukan foto berwarna ukuran 3R, mencari dua foto keluarga itu.  Setiap foto dibungkus plastik bening dan dibelakangnya diselipkan potongan film negatif itu, untuk cetakan berikutnya. Begitu berjumpa, langsung disambar oleh tangan salah satu anak.

Keadaan selanjutnya riuh oleh berbagai komentar dan ekspresi.  “Wah..bagus ya.”, “Kamu kok merem…?, “Aku yang mana?” “Yah.. jemuran kita keliatan. jadi jelek deh.” “Hei liat, anjing kita Piko juga ikut difoto, tapi ekornya saja.” 

Sementara itu sang Bapak menyelesaikan pembayaran dengan Jupi.  Setelah anak-anak puas memandang dan mengomentari foto mereka, tiba giliran orang tua.  “Aduh… Ibu keliatan gemuk ya?“.  Begitu ekspresi Ibu.

Sementara itu, rumah kami berada dikompleks SMP, dibagian belakang.  Bila ada keperluan untuk berfoto, agak sulit untuk mencegat Jupi yang melintas di jalan raya. Ia tak punya waktu yang tetap mengunjungi dusun kami.  Oleh karena itu, kami biasanya menitip pesan di kedai Mak Gaek dipengkolan tak jauh dari SMP.  Jupi sering berhenti disitu untuk minum kopi.

Assalamualaikum buk, sia nan ka bafoto?”, begitu sapa Jupi didepan pintu kami.  “Iko adiak ang, untuak masuak SMP. Pasfoto hitam putiah sajo, tigo kali ampek” (Ini adikmu, untuk syarat masuk SMP.  Pasfoto hitam putih saja, ukuran tiga kali empat).  Mata Jupi berkeliling mencari tempat untuk mengambil foto dan posisi dimana kain latar akan digantung. Ia mendongak pula keatas, mencari dimana posisi matahari. Di dalam rumah, aku mengganti pakaian dengan baju kemeja putih sekolah dan dasi.  Lalu berjalan mendekat Jupi.  Layaknya fotografer handal, Jupi mengatur posisiku, mengubah kemiringan kepala.  Lalu ia mencabut sisir kecil dari kantung belakang celananya dan merapikan rambutku. “Alah siap? ciek, duo, tigo!”.  

Demikianlah Jupi.  Selain keuletan menjelajah berbagai negeri, ia pada dasarnya orang yang menyenangkan, ramah kepada siapa saja, senang berbagi cerita. Dimana ia berada, disitu ada keceriaan. Ia selalu membawa atmosfir positif. Ia tidak tampan, wajahnya cenderung lugu, namun selalu berpenampilan rapi, meski berambut gondrong ala Bang Haji Rhoma Irama saat main film Ani.  Rambutnya selalu disisir rapi, baju selalu dimasukkan kedalam celana, bersepatu kulit hitam dan tak lupa kaca mata hitam.  He’s simply adorable.  Everyone like him.

Hingga pada suatu hari, pecah kabar tak sedap bahkan mengejutkan.  Gempar.  Semua orang menggunjingkannya.  Seandainya saat itu sudah ada media sosial, pastilah jupi telah menjadi trending tropic diberbagai platform, IG, twitter, FB dan Youtube.   Jupi diciduk Polisi semalam dan  kini meringkuk ditahanan Polres di Sungai Penuh, ibu kota kabupaten kami. Apa pasal?

Selidik punya selidik, ia diduga terlibat komplotan pencuri ternak yang telah beroperasi bertahun-tahun di wilayah kami.  Mereka terbukti komplotan kriminal yang terorganisasi dan beroperasi dengan rapi.  Mereka menyasar ternak sapi, kerbau dan kambing penduduk yang diambil pada saat yang tepat lalu dinaikkan ke atas truk untuk kemudian dibawa lari keluar dari kabupaten kami, bahkan ke propinsi lain seperti Sumbar, Bengkulu dan Sumsel.

Adapun Jupi, ternyata berperan sebagai intel yang mengamati potensi ternak warga yang siap dijadikan target operasi. Dengan pesonanya, mudah baginya mendapat berbagai informasi dari interaksinya dengan warga.  Dan masyarakat pula berbagi cerita bahkan informasi penting cenderung rahasia dengan senang hati, termasuk tentang berapa ternaknya dan dimana kandangnya. Siapa sangka, keuletan Jupi berkeliling keluar masuk kampung dengan motor bebek merahnya sebagai tukang foto sesungguhnya adalah kamuflase belaka.  Penyamaran yang sempurna.

Banyak yang menyayangkan mengapa Jupi mengorbankan reputasinya sebagai tukang foto yang begitu cemerlang.  Ia tiada duanya di Kerinci bagian hilir.  Dengan itu saja ia dapat sukses secara finansial, sedikit lagi bisa punya studio foto sendiri.  Namun, silaunya godaan harta dunia tak mampu ia menepisnya, sehingga mengambil jalan pintas untuk cepat kaya.

Gunjingan kian tajam. Rakyat terbelah, antara kubu pendukung dan penentang Jupi. Kubu pendukung berusaha bijak berbaik sangka. Boleh jadi Jupi adalah korban fitnah. Semoga ia luat menghadapinya agar kian terangkat derajatnya. Adapun kubu penentang melampiaskan kekecewaannya pada Jupi dengan menyayangkannya, mencela hingga mengumpat.

Lepas dari pro dan kontra, kisah nyata Jupi ini meninggalkan hikmah. Usah percaya mata anda yang melihat dengan penampilan luar. Meski terlihat lugu, ia dapat menipu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s