Tak sekali lancung ke ujian

Kosa kata “Curang” telah menjadi trending topic semenjak pelaksanaan pemilihan umum pertengahan April 2019, bahkan sebelumnya. Kata itu paling banyak ditulis dan disebut diberbagai media.

Kecurangan pada Pilpres dan Pileg yang baru saja dilangsungkan sungguh telah menjadi buah simalakama bagi bangsa Indonesia. Serba salah. Dimakan Ibu mati, bila tak dimakan Bapak mati. Bila terbukti, ia jelas sebuah musibah. Bila tidak terbukti, ia adalah fitnah, yang hakikatnya musibah juga. Dan rakyatpun terbelah.

Apapun hasil akhir dari Pemilu ini, ia terlanjur menjadi cacat sejarah, yang mungkin sulit hilang dari ingatan, karena jejaknya yang bertebaran. Tak pelak, pemilu kali ini adalah yang paling kacau dan berantakan dari sisi pelaksanaan, setidaknya dalam dua puluh lima tahun terakhir, sejak saya pertama kali berpartisipasi menggunakan hak pilih di tahun 1992.  Lebih dari lima ratus jiwa berguguran, konon karena kelelahan.  Benarkah?

Sulit untuk mengatakan bahwa Pemilu kali ini berjalan jujur dan adil. Terlalu banyak sudah bukti penyelewengan dan kecurangan itu. Bahkan hingga ke negeri orang. Lima puluh ribu kertas suara yang telah dicoblos ditemukan disebuah gudang dipinggir Kuala Lumpur. Sebagian kertas-kertas suara itu bahkan berada didalam kantong-kantong diplomatik. Apalagi di tanah air, bukti-bukti kecurangan atau ketidakadilan membanjiri muka-muka media.

cheating culture dictiodotid
Source: http://www.dictio.id

Saya tak hendak memperpanjang perihal kecurangan Pemilu. Lebih baik saya ajak anda melihat kebelakang, yang mungkin sedikit banyak memberi petunjuk mengapa semua kekacauan ini bisa terjadi.

Biarkan saya memulai dengan pernyataan yang provokatif bahkan mungkin menyakitkan bagi sebahagian kita. Bahwa kita orang Indonesia yang mengaku berketuhanan, adil dan beradab sesungguhnya dari waktu-kewaktu sepanjang hidup bergelimang kecurangan. Ia sudah seperti udara yang mengitari kita. Demikian nyatanya dan dekatnya ia dengan kita, kecurangan itu seolah tak tampak lagi sebagai sesuatu keburukan. Ia terasa biasa sebagai realita lumrah kehidupan.

Mari saya tunjukkan buktinya.  Kita mulai dari hal yang kecil.

Antri

Masih kita temui dibanyak tempat, betapa sulitnya orang Indonesia antri menunggu giliran. Ada saja orang berinisiatif maju ke depan dan minta urusannya didahulukan. Tak lama kemudian antrian pun kacau karena semua yang lain pula minta hal yang sama. Manusia apa kita bila hal sekecil ini yang semut dan itik saja melakukannya dengan tertib, tidak bisa kita buat.

 

Terobos

Telah bertahun-tahun TransJakarta (busway) hadir di Jakarta. Dari semula telah di sampaikan bahwa lajur busway ekslusif untuk bus-bus TransJakarta saja, namun tiap hari kendaraan lain beraneka rupa ikut masuk memanfaatkan fasilitas, bahkan melawan arus, lalu terjebak didepan hidung Bus TransJakarta. Supir taxi online yang saya tumpangi pernah melakukan kebodohan ini.

 

Damai

Betapa banyak dari kita yang tertangkap tangan melakukan pelanggaran lalu lintas, lalu memilih penyelesaian ditempat. Memberikan uang tunai lima puluh ribu atau seratus ribu kepada petugas polisi, agar surat tilang tidak diterbitkan. Pak Polisi berlalu sambil sok bijak memberi nasehat “Lain kali jangan diulangi, ya. Hati-hati dijalan”.

 

Nota kosong

Suatu kali saya kebagian peran memesan makan siang untuk sebuah rapat atau seminar di kantor. Saya lupa detailnya. Yang jelas disepakati bahwa kita makan Nasi Padang. Saya telpon gerai terdekat dari sebuah restoran Padang yang sudah termasyhur seantero negeri. Satu jam kemudian pesanan puluhan kotak nasi Padang tiba.

“Ini rendang dan ini ayam, Pak ya. Dan ini notanya, Pak. Total semua sekian.” Kata Uda yang mengantar makanan.

Saya perhatikan nota yang diberikan, ada empat atau lima lembar, tapi semua kosong. Hanya ada stempel bundar restoran ditimpa paraf seseorang.

“Kok… nggak ditulis totalnya, Uda?” saya tanya.

“Biasanya sih gitu Pak, kita siapin nota kosong, nanti Bapak isi sendiri aja.” Jawabnya mantap dan lugu. Tanpa dosa.

Saya minta ia menuliskan jenis, kuantitas, harga per kotak dan total harga disalah satu nota itu. Sisanya saya kembalikan cepat-cepat kepada Uda itu, sebelum saya berubah pikiran. Saat itu, didalam diri saya ada malaikat yang bertarung dengan syaitan. Malaikat mulai terlihat kepayahan.

 

Disunat

Tahun 1992 saya menerima beasiswa dari Golkar. Dana beasiswa harus diambil sendiri oleh penerima di Kantor Golkar Kabupaten. Setelah tanda tangan tanda terima sebesar dua ratus ribu, kasir menyorongkan uang melalui lubang kecil dikaca jendela. Aku hitung, ternyata hanya seratus delapan puluh ribu. Aku dekatkan muka ke lubang kecil itu, disambut titah sang kasir “dua puluh ribu buat administrasi”. Tahun itu, di pemilu pertamaku, aku tidak jadi ikut pesan Ibu untuk memilih Golkar.

 

Bagito

Seorang kerabat arsitek dipercaya merancang dan merencanakan pembangunan atau renovasi sekolah-sekolah negeri. Ia dibuat sibuk oleh godaan-godaan untuk memainkan angka-angka atau meloloskan penggunaan material dibawah standar. Tapi ia tak bergeming. Tiba saat pembayaran honor. Yang sampai padanya hanya sepertiga dari haknya, konon selebihnya menyebar di Kementerian, Gubernur, Bupati, DPRD dan kantor dinas. Ini dikenal sebagai prinsip Bagito alias bagi roto. Kini ia tak mendapat order lagi, karena terlalu jujur, tak bisa diajak lancung.

 

Pelumas

Entah berapa kali mendengar kawan kerabat dan kenalan yang mengaku mengorek kantong jutaan rupiah untuk menggapai jabatan tertentu. Awal 90-an, Ibu yang waktu itu wakil kepala sekolah SMP pernah ditawarkan oleh Kantor Pendidikan Kabupaten untuk diajukan menjadi kepala sekolah. Syaratnya Ibu paling tidak harus menyediakan uang delapan juta rupiah untuk pelumas.  Uang segitu cukup untuk memastikan Ibu diberi jabatan kepala sekolah, tapi bisa saja ditempatkan dimana saja, hingga ke pelosok.  Bila ingin memastikan penempatan dilokasi yang nyaman, tentu ada tambahan biaya.  Ibu bilang “nggak usah, uang sebanyak itu baiknya untuk biaya anak saya sekolah saja”. Ibu tidak pernah jadi kepala sekolah hingga pensiunnya.

Jangan katakan fenomena pelumas ini tidak ada, sekedar isu yang dihembuskan oleh orang-orang berprestasi mediocre, yang tak mampu memegang jabatan apapun hingga pensiun. Ia bahkan telah menjadi industri jual beli jabatan, hingga di Kementerian Agama, yang semestinya paling bersih. Tak kurang dari Menteri Agama diduga berkomplot dengan ketua partainya.

Maraknya budaya pelumas ini yang dianggap wajar bukan dosa, sungguh merusak akal sehat. Adik bungsu saya pernah minta uang dalam jumlah besar. Akan ia pakai untuk memuluskan jalannya diangkat menjadi dosen dikampusnya. Padahal ia lulusan terbaik, namun hilang kepercayaan dirinya karena konon kandidat lain dan kisah sukses sebelumnya selalu pakai pelicin.

Untunglah saat itu syaitan sedang tak berkutik dikunci malaikat dalam diri saya. “Untuk keperluan lain aku punya uang, tapi tidak untuk sogok menyogok. Lebih baik tak diangkat dari pada seumur hidup nafkah tak berkah”, begitu kataku. Ternyata ia tetap diangkat menjadi dosen, meski tanpa pelumas.

2078959374_Pic-of-Bribery-corruption-money-under-table securetherepublicdotcom
Source: http://www.securetherepublic.com

Wani piro

Perihal jual beli suara bukanlah hal baru.  Saya mulai bekerja di tahun 1997, dimasa orde baru, selang beberapa bulan setelah pelaksanaan Pemilu. Pemilu yang lebih sebagai seremonial belaka karena jauh sebelumnya siapa pemenangnya telah dapat diduga dengan nyaris akurat, margin error yang sangat tipis. Hanya ada tiga peserta PPP, Golkar dan PDI. Selalu begitu sejak 1971, bahkan nomor urut mereka pun tak berubah.

Kantor pertama saya adalah sebuah perusahaan milik negara, yang baru saja lepas dari ancaman kebangkrutan. Karyawan masih sesekali membicarakan perihal Pemilu yang baru lalu. Saya menangkap aura kegembiraan setiap kali mereka membincangkan Pemilu.  Membuat penasaran.  Selidik punya selidik ternyata Pemilu itu membawa rezeki bagi seluruh pegawai. Mereka semua mencoblos dikantor. Rupanya sebelum pencoblosan, datang sebuah tawaran. Bila TPS kantor mereka mampu mencatat 100% suara untuk penguasa, maka bonus satu kali gaji telah menanti. Ternyata sapu bersih buat penguasa sungguh terjadi, dan janji pun ditepati. Satu kali gaji.

 

Dengan gelimang tipu menipu itu, bangsa ini tanpa sadar memandang kecurangan tidak lagi merupakan hal tabu. Kecurangan masif sekalipun didepan mata rasanya sulit menggerakkan nurani mereka untuk menegakkan keadilan, kecuali sebagian kecil saja dari mereka.  Disadari atau tidak kita semua telah terlalu permisif pada tindakan-tindakan koruptif dan manipulatif.  Curang dan dusta terasa biasa.  Pelakunya tak akan mendapat hukuman sosial dari korbannya, apatah lagi disisi hukum.  Pepatah “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak akan percaya”, sudah usang dan tak berlaku lagi.  Ia tersimpan rapi di naskah-naskah sastra.

Baik juga kita tutup perenungan ini dengan sepenggal firman Allah:

“Dan begitulah kami jadikan pemimpin sebagian orang-orang yang dzalim bagi sebagian lagi, disebabkan apa-apa yang mereka usahakan”. (QS. Al-An’am: 129)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s