Bareh Solok vs Bareh Dolog

Tersiar kabar bahwa aparat negara, sipil dan militer, akan kembali menerima pembagian makanan pokok berupa beras. Konon keputusan ini diambil mengingat terlalu banyak beras menumpuk di gudang-gudang Bulog akibat beras impor yang tak laku dijual dipasaran. Apapun alasannya, ini mengingatkanku pada masa lalu sekitar tahun 80-an saat aparat militer dan pegawai negeri sipil menerima beras saban bulan dari pemerintah, disamping gaji dalam bentuk uang.

Saat itu bank belum lah sepopuler sekarang dan tidak semua orang punya rekening Bank. Tidak juga Ibu. Meski didusun kami ada BRI unit desa. Gaji Ibu sebagai guru SMP dibayar dalam bentuk tunai setiap awal bulan.

Adalah Pak Bastian Samad, barangkali merupakan sosok paling penting bagi sekolah tempat Ibu mengajar, melebihi Kepala Sekolah , bahkan Presiden sekalipun. Ia adalah bendaharawan sekolah. Setiap tanggal satu ia memacu sepeda motor Honda CG warna merahnya ke Sungai Penuh, ibu kota kabupaten. Paling tidak ia harus mendatangi dua kantor. Pertama adalah KPN (Kantor Perbendaharaan Negara) untuk menjemput uang tunai gaji semua guru di sekolah Ibu. Uang tunai itu ia simpan didalam tas hitam yang setia mendampinginya. Tas hitam itu ia jaga dengan nyawanya, terutama dalam perjalanan tiga puluh lima kilometer kembali ke sekolah.

Source: http://www.detik.com

Tempat kedua yang harus dikunjungi Pak Bastian adalah Depo Logistik atau Dolog yaitu gudang milik badan Umum Logistik (Bulog) untuk menyimpan bahan-bahan pokok terutama beras. Disitu Pak Bastian mengurus administrasi pengambilan beras jatah para guru dan pegawai disekolah Ibu. Setelah semua urusan administrasi beres, ia bergerak ke terminal bis untuk memesan satu bis yang akan berangkat ke dusun kami untuk menjemput beberapa karung beras di gudang Dolog dan mengantarnya ke sekolah. Karung-karung beras itu diletakkan di bagasi diatas atap bis dan diikat erat agar tak mengelundung jatuh selama perjalanan.

Bis-bis tiga perempat jurusan Sungai Penuh-Lempur biasanya sudah tahu bahwa karung-karung berisi beras masing-masing satu kuintal (100kg) itu diturunkan di ruang guru, bangunan disebelah laboratorium IPA, terpisah dari deretan kelas-kelas. Bis langsung masuk pekarangan sekolah dan berhenti didepan bangunan itu. Stokar (sebutan untuk kenek dikampung kami) menurunkan karung-karung itu dan menumpuknya ditengah-tengah ruang guru. Diruang itu, meja-meja para guru disusun menepi dikeempat sisi, menghadap ketengah ruangan. Formasi yang siap sedia untuk rapat guru kapanpun diperlukan. Sekolah kami tidak punya ruang rapat khusus. Hanya kepala sekolah dan staf-staf Tata Usaha yang memiliki ruang sendiri.

Adapun Pak Bastian, begitu tiba kembali di sekolah, ia akan langsung menuju mejanya di ruang tata usaha. Segera ia membagi tumpukan uang berbagai nominasi di tas hitamnya kedalam amplop-amplop putih bertuliskan nama guru atau staf penerimanya. Ia lakukan itu segera karena ia faham, para guru yang hari itu sedang mengajar atau duduk-duduk diruang guru, pastilah telah menantinya dengan harap-harap cemas.

Kembali ke tumpukan beras ditengah ruang itu. Biasanya bis pembawa beras tiba disekolah siang atau sore hari, saat kegiatan sekolah telah selesai untuk hari itu. Murid-murid dan sebagian besar guru telah pulang. Mungkin ada beberapa guru yang masih disekolah, menyelesaikan tugas yang tertunda. Ada pula guru-guru muda yang masih membujang, masih berada disekolah karena tak tahu harus kemana menghabiskan waktu menjelang malam.

Beras-beras dalam karung besar itu selanjutnya dibagi kekarung-karung lebih kecil untuk dibawa pulang oleh para guru. Setiap kepala mendapat jatah 10kg. Ibu yang punya tiga anak, mendapat jatah maksimal 50kg. Guru-guru muda bujangan itu hanya dapat 10kg, untuk dirinya sendiri. Guru yang punya banyak anak, hanya dapat 50kg saja, karena paling banyak hanya tiga anak yang masuk daftar gaji. Anak keempat dan seterusnya adalah anak-anak swasta, demikian mereka menyebutnya.

Source: http://www.ngalimpuro.com

Bila belum terlalu sore proses pembagian itu dilakukan hari itu juga, bila tidak ditunda keesokan harinya. Entah bagaimana ceritanya, ibu yang juga wakil kepala sekolah bertanggung jawab memastikan pembagian beras berjalan lancar tanpa kesalahan setiap bulan. Ibu dibantu oleh pesuruh sekolah, sebutan untuk staf yang bertugas sebagai pembantu umum, kerja serabutan membantu apa saja selain bertanggung jawab pada kebersihan dan keamanan sekolah.

Ada dua orang pesuruh sekolah yang kuingat. Yang pertama namanya Saliwon, karena lahir pada hari Sabtu Kliwon. Orangnya jenaka, berperawakan pendek dan berambut ikal. Ia tak lama bekerja disekolah, sekitar setahun atau lebih sedikit. Tak tahan berpisah dengan keluarganya yang tinggal di Kayu Aro, enam puluh kilometer jauhnya. Ia tak punya kendaraan sendiri. Pulang setiap akhir pekan dengan kendaraan umum terasa berat, sayang ongkosnya. Gajinya hanya 20 ribu atau 25 ribu saja sebulan.

Saliwon digantikan oleh Sutarno, juga berasal dari Kayu Aro, kawasan sejuk dikaki Gunung Kerinci yang termasyhur dengan perkebunan tehnya. Ia bertahan lama, bertahun-tahun, karena keluarga kecilnya ikut bersamanya. Mereka tinggal didalam komplek sekolah.

Sutarno berperawakan tinggi besar dan kekar. Mudah baginya mengendalikan karung-karung besar itu. Isinya dikeluarkan dan ditumpuk dilantai. Kemudian ditimbang dan dimasukkan ke karung-karung lebih kecil milik para guru, sesuai dengan jatah masing-masing. Sering kali aku ikut serta dalam prosesi pembagian beras itu, dengan tanggung jawab utama memegang pinggiran atas karung-karung kecil itu saat dituangkan beras kedalamnya.

Setelah semua guru dan staf mendapat bagian, menariknya selalu ada sisa beras yang seluruhnya akan diberikan kepada Sutarno. Lumayan banyaknya, cukup untuk makan sebulan Sutarno dan keluarganya. Rupanya memang itu tujuannya, kenapa Ibu tiap bulan mengawasi pembagian beras dengan ketat, agar ada sisa untuk pesuruh sekolah. Status mereka bukan pegawai negeri, hanya karyawan honorer bergaji 25 ribu perbulan dan tidak dapat tunjangan beras.

Menerima beras jatah pegawai negeri dimasa itu seperti berjudi karena kualitasnya yang tak menentu. Bila beruntung, berasnya cukup bagus, meski tak sebaik beras yang dipanen para petani. Seringkali kualitas beras yang diterima mengecewakan. Kadang banyak kerikil kecil, kadang berbau kurang enak dan menguning, mungkin terlalu lama tersimpan digudang. Kadang beras menggumpal.

Namun para pegawai negeri itu bersyukur dan tetap mengkonsumsi beras itu. Mereka berseloroh, orang kaya makannya bareh Solok, kalau kita cukuplah bareh Dolog. Bagi orang yang tinggal di Sumatera bagian tengah, Beras Solok dianggap beras paling enak dan berkualitas, karena itu harganya tentu mahal, tak terjangkau bagi pegawai negeri, apalagi guru yang gajinya saat itu pas-pasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s