Telegram dalam kenangan

Bumi yang kita diami telah dan terus menciut, karena jarak tak lagi relevan. Komunikasi dapat dilakukan secara instan dan langsung melalui berbagai media yang menghantar teks, suara, gambar diam dan gambar bergerak secepat kilat.

Kita demikian tergantung pada kenyamanan komunikasi super cepat itu. Begitu pemerintah membatasi layanan aplikasi sosial media utama seperti facebook, Instagram, Twitter dan Whatsapp, netizen kelimpungan. Pemerintah berdalih hal itu dilakukan untuk menghambat penyebaran hoax. Entah seberapa efektifnya, karena sembarang kabar hari ini, orisinil ataupun hoax, selalu menemukan jalan untuk menyebar.

Banyak netizen mengakali pembatasan ini dengan menggunakan jasa VPN (Virtual Private Network). Ramai pula yang hijrah ke Telegram, aplikasi penyampai pesan serupa Whatsapp. Entah berapa ratus notifikasi saya terima mengabarkan teman-teman yang bergabung ke Telegram. Telegram konon lebih powerful dan aman dari pada Whatsapp, namun kurang populer.

Namun kali ini saya tak hendak berpanjang lebar membahas Telegram yang ini. Anda download saja dan coba mainkan. Mari berbincang tentang telegram yang lain, yang eksis dan begitu populer puluhan tahun lalu.

Telegram adalah penyampai pesan tercepat yang tersedia dikampung kami pada masa itu, era 70-an hingga awal 90-an. Kami belum punya sambungan telepon, apalagi telepon seluler. Telegram adalah metode pengiriman pesan tertulis melalui kode morse yang ditansmisikan melalui kawat maupun satelit. Layanan telegram disediakan oleh Perumtel (sebelum jadi PT. Telkom), yang kadang juga bekerja sama dengan kantor pos alias Perum Pos dan Giro.

Source: alifis@corner

Untuk mengirim pesan melalui telegram, kami harus mendatangi kantor Telkom satu-satunya di ibu kota kabupaten, Sungai Penuh, tiga puluh lima kilometer jauhnya dari kampung kami. Disana kita harus mengisi formulir dengan menuliskan detail pengirim, detail penerima dan pesan yang hendak diantar. Formulir inilah yang akan digunakan oleh operator telegram untuk menghantarkan pesan melalui kode morse.

Tidak seperti surat, menerima telegram umumnya bukanlah hal yang menyenangkan. Karena kecepatannya, telegram umumnya dipakai untuk menyampaikan kabar darurat. Seringnya telegram digunakan untuk mengabarkan berita duka, kerabat meninggal atau sakit keras.

Ongkos berkirim pesan melalui telegram dikenakan per kata, dan terbilang mahal untuk ukuran masa itu. Karena itu, telegram biasanya benar-benar digunakan untuk pesan teramat penting atau perlu reaksi segera dari penerima. Untuk menghemat ongkos kirim, pesan telegram biasanya sangat singkat dan padat. Kata-kata tertentu juga tidak jarang dipersingkat. Ini adalah contoh pesan telegram yang lumrah “Bpk sakit keras, pulang sgr”.

Source: serbajadul.blogspot.com

Bila anda tinggal di tempat yang tidak jauh dari kantor Telkom, telegram mungkin diterima pada hari yang sama, diantar oleh petugas pengantar telegram dari Telkom. Tapi tidak demikian halnya dengan dusun kami. Telegram mungkin baru tiba esok hari dan tidak selalu diantar oleh petugas Telkom. Telkom bekerja sama dengan Kantor Pos yang mengantarnya kerumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s