Hui Kin Lap

Hui Kin Lap. Begitu namanya. Rambutnya telah putih belaka, saya jangka usianya paling tidak 65 tahun. Ia adalah supir taksi berwarna merah yang sore itu membawa saya dari Hong Kong International Airport menuju hotel di area Wan Chai.

Tidak ada yang istimewa sepanjang perjalanan. Kami juga tidak bercakap-cakap. Hingga saat taksi telah berada dikawasan Central Hong Kong, ia tiba-tiba membuka suara, dengan broken English beraksen Hokian kental, setelah taksi berjalan lurus melewati sebuah simpang empat.

I am sorry. I take wrong way. Usually we go this way, but today can not go this way.” Katanya, sambil tangannya memberi isyarat berbelok ke kanan.

I stop here.” Tangan kirinya menunjuk argo yang saat itu menunjukkan angka HKD 263 dan extra charges HKD 127. Maksudnya, argo dihentikan pada angka itu saja.

You pay only three hundred ninety. No more. I am sorry.”

“Sure. Thank you.” Saya jawab singkat.

“This is because of rally,” katanya lagi.

Sebenarnya ia tidak salah jalan, berbelok ke kanan disimpang empat tadi adalah jalur tercepat menuju hotel. Namun karena aktivitas demonstrasi (rally) penolakan atas Rancangan Undang-undang ekstradisi ke China yang berlangsung beberapa hari belakangan, beberapa ruas jalan ditutup dan berbelok ke kanan pada simpang itu tidak diperbolehkan.

Rupanya ia harus mengambil jalan yang cukup jauh untuk berputar balik. Empat atau lima menit kemudian, kami masih bergerak lurus di jalan yang sama, menjauh dari hotel yang dituju.

I am sorry. I am sorry.” Dia bersuara lagi, sambil menggeleng-geleng. Mungkin merasa tak enak, merasa telah mengakibatkan tertundanya ketibaan.

“Not a problem at all. You don’t need to feel bad. Not your mistake anyway. I am not rushing. No worries.” Saya coba meyakinkannya bahwa tidak ada masalah buat saya, karena memang tak ada yang dikejar.

Tiba di hotel, argo menunjukkan HKD 307, ditambah extra charges menjadi HKD 434. Biasanya memang tidak pernah melewati HKD 400. Saya berubah pikiran, rasanya tidak adil kalau ia harus mengeruk kantongnya sendiri untuk menutupi selisihnya. Apalagi bagi saya ini adalah business trip, semua biaya ditanggung kantor. Rasanya membayar lebih ongkos taksi sebesar HKD 44 saja belum akan membangkrutkan kantor saya.

Saya ulurkan empat lembar seratus dollar dan dua lembar dua puluh dollar kepadanya.

“Let me pay as written in the meter. I will claim back to my company anyway, as long as you issue me a receipt. You don’t need to cover the difference.”

No, no sir. Not me pay, sir. I will tell my boss. He will ok,” katanya sambil mengembalikan dua lembar dua puluh dollar. Lalu ia memberikan nota bersamaan dengan sepuluh dollar kembalian.

Kin Lap mungkin tidak sekolah tinggi. Ia tidak punya MBA marketing. Menjadi supir taksi barangkali adalah karir puncaknya. Namun ia mengajarkan arti pelayanan terbaik pada pelanggan. Customer satisfaction at its best. Ia bisa saja tak melakukan apapun saat akses belok kanan disimpang itu tertutup. Penumpang bagaimanapun harus membayar sejumlah yang tertera pada argometer. Saya tak paham jalanan Hong Kong, tak kan saya debat ia karena mengambil jalan memutar lebih panjang. Tapi ia berinisiatif going extra miles, melakukan sesuatu yang lebih agar tidak hanya ia dan perusahaan taksinya saja, melainkan pelangganpun, tidak dirugikan oleh penutupan jalan yang tak terduga itu.

Meski saya terkesan dengan tindakan yang diambilnya, Kin Lap tahu bahwa peluang saya menjadi penumpangnya lagi adalah sangat kecil. Jadi ia tak bisa mengharapkan keuntungan dalam bentuk apapun dari saya dimasa depan. Tapi ia sadar, tindakan kecilnya itu pastilah membawa efek positif pada persepsi publik, apalagi pelawat dari negara lain, terhadap layanan taxi Hong Kong. Sebuah refleksi kesetiaan pada profesi dan komunitas yang ia ada didalamnya.

Semoga semua supir taksi di Jakarta, Kuala Lumpur dan kota-kota lain sebaik Hui Kin Lap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s