Rak Sepatu 113

Rabu, 31 Juli 2019, musim haji 1440H, Masjidil Haram, Makkah.

Selepas Ashar, kantuk mendera begitu hebatnya, saya memutuskan untuk lelap sejenak. Risikonya jelas, saya akan terlambat menuju Masjid dan harus berjibaku menemukan celah untuk Shalat Maghrib yang selalu lebih ramai. Saya tinggalkan kamar hotel sekitar satu jam sebelum azan, benar saja, hampir semua pintu telah diblokir, didalam sudah sesak.

Saya terus berjalan kekiri menelusuri dinding Masjid, ternyata pintu no 84 terbuka, namun jamaah tak diperkenankan masuk ke lantai 1 (dasar) dan lantai 2, semua diarahkan ke rooftop (atap). Temperatur normal untuk Makkah dimusim panas, 44 C saja.

Saya dapatkan tempat diatas karpet disitu, lalu duduk menunggu azan.

Selepas Maghrib, saya perlahan bergerak turun ke lantai dua, yang kini aksesnya telah dibuka. Diatas terlalu panas, saya pikir lebih baik di lantai dua yang ber AC atau paling tidak berkipas angin dibagian tertentu. Lagi pula istri saya ada dilantai dua sekitar gate 74, lebih mudah untuk kami nanti bertemu selepas Isya. Sore itu ia berangkat ke Masjid lebih awal dari saya, demi dapat tempat di lantai 2.

Lantai 2 pun penuh sesak, saya terus menyisir ke kiri hingga pintu 74, masih penuh disitu. Saya belok kanan mengarah ke Ka’bah, biasanya lebih mudah mendapatkan tempat disekitar area tawaf lantai dua.

Dilorong menuju area tengah Masjidil Haram itu, seorang pria Arab tua, saya jangka sekitar 75 tahun, duduk santai diatas rak penyimpanan alas kaki jamaah. Tangan kirinya memegang benda berwarna kuning, rupanya itu adalah tumpukan kantong plastik. Tangan kanannya memegang selembar kantong plastik kuning, ia lambai-lambaikan. Dari mulutnya terucap “Haji, ya haji…”.

Rupanya, ia duduk diatas rak sepatu nomor 113 ditepi lorong perlintasan yang ramai itu untuk menemukan jamaah yang menenteng alas kaki, tanpa tas atau kantong. Begitu matanya menangkap jamaah dengan ciri itu, langsung ia panggil “haji” dan ia sorongkan satu kantong plastik kuning. Biasanya jamaah yang ‘tercyduk’ itu akan berhenti dan tertegun sejenak, lalu mengambil kantong itu. Lalu dari mulut mereka terdengar ‘shukran‘ atau ‘jazakallah‘ atau ‘thank you’ atau ‘terima kasih’. Bapak tua itu membalas dengan tersenyum. Begitu seterusnya, berulang-ulang.

Entah siapa Pak Tua Arab itu dikehidupan nyata. Bisa jadi ia orang biasa saja, namun bisa pula orang kaya raya atau berpangkat dan dihormati. Namun itu tak penting. Yang jelas, ia tahu bahwa ia sedang berada di tempat terbaik dimuka bumi untuk beramal, dimana ganjarannya berlipat ganda dari tempat lain. Maka tak boleh waktu berlalu tanpa digunakan untuk memungut pahala itu, meski dengan melakukan hal kecil yang terkesan remeh.

Tak sepatutnya kita meremehkan kebaikan, sekecil apapun nampaknya, karena boleh jadi ia sangat besar dimata Yang Maha Pengasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s