Ucok, Petani Sayur di Kaki Sinabung

Namanya Agusti Lubis, tapi disekolah kami memanggilnya Ucok. Kini, di media sosial ia menggunakan nama beken Surbakti Asahan, tak tau aku apa sejarahnya nama itu. Ia pindah ke kota kecil kami dari kampungnya di Sumatera Utara dan tinggal bersama seorang kakaknya disebuah rumah kontrakan di Dusun Nek, Sungai Penuh. Aku satu kelas dengannya selama tiga tahun di SMA, kelas 1B serta 2 dan 3 Fisika.

Ucok dan kebun sayurnya

Ucok adalah typical orang Sumatera Utara. Suaranya keras membahana, banyak bagarah (bercanda) dan tentu saja menularkan keceriaan kesekitarnya. Sifat itu tak hilang hingga kini, Grup Whatsapp SMA kami selalu ramai olehnya. Bila Ucok sudah nimbrung, jempol yang lainpun seperti menemukan energi baru untuk terus menari diatas papan ketik gawai.

Selain tinggal bersama saudara yang hidupnya sederhana, saat sekolah dulu Ucok bergantung pada kiriman uang melalui wesel pos dari orang tuanya. Sayangnya wesel itu tak rutin datang saban bulan. Jadwalnya tak tentu. Kadang setelah dua tiga bulan baru tiba. Saat wesel tiba, keluar sombongnya. Beberapa kawan dekat akan ditraktir di kantin sekolah atau kedai bakso yang menempel di tembok pagar sekolah. Kami biasanya akan menolak halus, rasanya seperti memalak uang yang menjadi sambungan hidup sahabat kami itu. Namun Ucok akan memaksa dan membalas keengganan kami dengan berkata “Ayo lah, makan kalian. Banyak duitku, kaya aku sekarang!”. Sombong kali!

Ia pun lembut hatinya. Setiap weselnya tiba, ia tak lupa membelikan oleh-oleh untuk keluarga kakak yang ia tumpangi, terutama untuk anak-anak mereka. Beberapa kali aku menemani Ucok membeli oleh-oleh itu di pasar sepulang sekolah.

Kami dan Ucok, circa 1991

Suatu hari, Ucok bilang seragam sekolahnya sudah usang dan ia perlu yang baru. Ia bertanya apakah aku mau menjahitkannya. Ia tahu aku pandai menjahit baju dan celana, kepandaian yang diturunkan dari Abak yang pernah menjadi penjahit dengan brand “Teliti Tailor”. Tentu saja aku bilang bisa. Mana mungkin aku menolak permintaan sahabat dekat. Lagi pula itu artinya aku menemukan korban berikutnya untuk latihan meningkatkan skill memotong pola dan menjahitnya. Kepandaian yang memang harus diasah dengan banyak melakukannya.

Maka sore itu aku temani Ucok membeli kain bahan untuk dua stel putih abu-abu, satu stel seragam pramuka dan satu celana panjang putih untuk dipakai setiap hari Jumat. Kami membelinya di toko kain milik Ibu Yelmita Anis, guru Fisika kami, di Pasar Beringin, Sungai Penuh. Sepekan kemudian, seragamnya siap. Pekan berikutnya Ucok telah memakai seragam baru jahitanku. Aku yakin hasilnya tak sebaik penjahit profesional. Bahkan celananya salah potong, kependekan, sehingga terlihat senteng alias menggantung. Tapi siapa peduli, Ucok saja tak mempersoalkannya, ia tetap pakai seragam itu dengan bangganya.

Aku tak pernah bertemu Ucok lagi sejak kami sama-sama lulus SMA. Hampir dua puluh tahun, ia hilang seperti ditelan bumi. Sekali dua ada kawan berjumpa tak sengaja dengannya. Konon ia menjadi supir bus antar kota di Sumatera Utara.

Sekira lima atau enam tahun belakangan, Ucok mulai aktif di media sosial Facebook dengan nama Surbakti Asahan. Kamipun terhubung kembali. Sejak saat itu kawan-kawan alumni yang berdomisili di Medan sudah beberapa kali bertemu dengannya. Ia pun aktif di grup WA SMA dan ikut arisan alumni tiap bulan. Ia turut pula merencanakan Reuni Perak kelulusan SMA tahun lalu.

Sejak itu kabar darinya banyak mengalir melalui laman facebooknya, kabar baik maupun yang tidak selalu menyenangkan. Ucok kini telah menjadi petani yang sukses di Brastagi, dikaki Gunung Sinabung. Aku ikut berbahagia bila Ucok memposting gambarnya bersama tanaman sayurnya yang tumbuh segar dan menghijau. Atau kesibukan para pekerjanya memuat sayur mayur yang baru saja dipanen ke atas truk yang di bak belakangnya tertulis “Surbakti Asahan”. Tahun lalu ada postingan saat ia membeli truk baru. Alhamdulillah, usahanya semakin sukses.

Ucok dan hasil panennya

Namun, sesekali, ia kabarkan pula saat tanaman sayurannya yang dimakan hama, daunnya menguning dan berlubang-lubang. Atau, saat Sinabung batuk-batuk, ia posting foto tanaman yang daun-daunnya diselimuti abu dari gunung api yang sangat aktif itu. Pernah pula ia posting hasil panen yang melimpah, kalau tak salah cabai, namun harga jatuh terlalu jauh. Hingga ia kesal dan menulis siapa yang mau cabai gratis, silakan datang.

Bahwa Ucok menjadi petani dan sukses adalah kenyataan yang membanggakan, ia menjadi satu dari sedikit dari generasi kami yang memilih profesi yang sangat mulia itu. Ini juga seperti tamparan bagiku, aku yang juga anak petani dan alumni IPB, justru melakukan hal lain untuk menyambung hidup.

Ucok adalah manusia paling positif yang pernah aku temui, yang percaya setiap persoalan pasti akan menemukan jalan keluarnya, bahkan disaat kita tak tahu harus berbuat apa. Tak pernah aku lihat raut mukanya menampakkan cemas. Ia seperti tak ikhlas bila masalah apapun merenggut tawanya yang menggelegar itu. Ia memiliki karakter yang tepat untuk menjadi petani, profesi mulia namun beresiko tinggi.

Terbersit niat dalam hatiku, suatu hari aku akan beri Ucok kunjungan kejutan diladangnya di Brastagi. Toh, Medan tak jauh dari Kuala Lumpur dan banyak penerbangan lalu lalang setiap hari. Akan kupeluk badan tambun dan perut buncitnya itu, pelepas rindu puluhan tahun tak bertemu. Akan kucium tangannya, sebagai penghormatan atas pilihannya yang mulia, menjadi petani.

Namun, niat itu tak pernah sampai dan tak akan pernah. Pagi tadi ada posting di Facebook dari istrinya, meminta doa untuk kesembuhan Ucok. Petang ini, salah seorang puterinya memposting kabar duka, Allah telah memanggil Ucok pulang.

Selamat Jalan, Ucok! Beristirahatlah dengan tenang dalam dekapan kasih sayang Allah. Semoga Ia merahmatimu dengan pengampunan dan Syurga-Nya. Semoga istri, putera dan kedua puteri cantikmu menerima kenyataan ini dengan tabah dan iman yang bertambah. Sungguh setiap kami akan menyusulmu.

Advertisements

2 thoughts on “Ucok, Petani Sayur di Kaki Sinabung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s