33. Alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah memfatwakan bahwa wakalah bil ujrah adalah salah satu akad yang dapat digunakan dalam skema asuransi syariah untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan asuransi sebagai operator dan para peserta. Lebih lanjut mengenai akad ini dapat dibaca di Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah.

Sementara itu, perikatan antar sesama peserta menggunakan akad tabarru’. Lebih detail di Membaca Fatwa no. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada asuransi syariah.

Cara kerja asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah sesungguhnya sederhana saja. Pada dasarnya kontribusi yang dibayarkan oleh setiap peserta dibelah menjadi dua bagian yaitu dana tabarru’ dan ujrah.

Dana tabarru’ adalah bagian kontribusi yang digunakan untuk membayar klaim dan ia dimasukkan ke dalam rekening dana tabarru’. Dengan demikian ia merepresentasikan besarnya estimasi kerugian.

Sedangkan ujrah adalah bagian kontribusi untuk membayar segala jenis biaya selain klaim, meliputi biaya eksternal, internal serta margin keuntungan untuk operator. Komisi untuk broker, agen atau perantara lain merupakan komponen utama dari biaya eksternal. Adapun biaya internal meliputi antara lain biaya operasional, cost of capital serta marjin keuntungan bagi operator.

Pembelahan kontribusi ini adalah implementasi konsep berbagi risiko (risk sharing) yang membedakan asuransi syariah dari asuransi konvensional.  Kerugian tidak ditanggung oleh perusahaan asuransi melainkan ditanggung bersama oleh seluruh peserta.  Itu sebabnya kontribusi untuk pembayaran klaim di pisah dari biaya-biaya lain yang ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Barangkali lebih mudah untuk dibayangkan bila menggunakan contoh. Misalkan seseorang mengasuransikan mobilnya senilai Rp. 300 juta dengan suku kontribusi 2%. Maka besarnya kontribusi yang harus dibayar oleh peserta adalah Rp. 6 juta (= Rp 300 juta x 2%). Apabila perusahaan asuransi mengenakan ujrah 30% (Rp. 1.8 juta), maka 70% lainnya (Rp. 4.2 juta) masuk kedalam dana tabarru’ dan disatukan dengan kontribusi dari pemilik mobil yang lain untuk pembayaran klaim.

Oleh perusahaan asuransi, sebagian dari ujrah mungkin dibayarkan sebagai komisi kepada perantara, bisa agen atau broker. Katakanlah besarnya 15%. Maka 15% lainnya akan digunakan untuk menutup biaya internal serta sedikit marjin keuntungan. Alur penyebaran kontribusi ini dapat digambarkan melalui diagram dibawah ini.

Skema alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s