34. Alur kontribusi pada reasuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Telah diuraikan dalam artikel sebelumnya Alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah bahwa kontribusi yang dibayarkan peserta dibelah menjadi dana tabarru’ dan ujrah. Bila skema asuransi menggunakan wakalah bil ujrah, maka secara alamiah akan lebih mudah dan efisien apabila reasuransi syariah juga menggunakan akad yang sama. Bagaimana penerapannya dalam praktek? Berikut uraiannya.

Dengan reasuransi, perusahaan asuransi mengasuransikan kembali sebagian risiko didalam portofolionya, yaitu bagian diatas retensi, kepada perusahaan reasuransi. Dari sinilah lahirnya definisi paling sederhana adalah bahwa reasuransi merupakan asuransinya asuransi. Lebih detail, klik Reasuransi: asuransipun perlu asuransi.

Dalam kontek asuransi syariah, reasuransi bermakna dana tabarru’ asuransi membagi sebahagian risiko yang ditahannya dengan dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan reasuransi syariah. Dengan demikian dana tabarru’ asuransi perlu memberi sebahagian kontribusinya kepada dana tabarru’yang dikelola oleh perusahaan reasuransi syariah. Besaran kontribusi yang perlu dibagi dengan reasuransi bergantung pada mekanisme reasuransi yang digunakan, apakah proporsional atau non-proporsional.

Nah, apabila perusahaan reasuransinya menggunakan model wakala bil ujrah, maka iapun memerlukan sejumlah ujrah atau fee untuk menutup biaya-biaya selain klaim. Siapa yang membayar ujrah itu, apakah dana tabarru’ atau dana perusahaan dari asuransi syariah? Bagaimana cara menghitungnya?

Dalam reasuransi syariah wakalah bil ujrah yang dipraktekkan di Indonesia, ujrah untuk perusahaan reasuransi diambil dari dana perusahaan. Dengan kata lain, ujrah reasuransi adalah bagian dari ujrah asuransi yang telah dikenakan oleh perusahaan asuransi terhadap peserta. Sekali kontribusi dibelah menjadi dana tabarru’ dan ujrah pada level asuransi, maka keduanya tak pernah tercampur lagi, sejauh apapun penyebaran risiko dilakukan dengan mekanisme reasuransi atau retrosesi (reasuransinya reasuransi).

Mari kita lihat praktek reasuransi dengan akad wakalah bil ujrah ini melalui contoh berikut. Kita ambil contoh yang digunakan dalam artikel Reasuransi fakultatif: suka sama suka.

Katakanlah ada sebuah gedung besar dengan nilai pertanggungan 100 miliar rupiah. Perusahaan asuransi ABC menetapkan retensinya pada Rp 25 miliar atau setara dengan 25% dari nilai risiko. Ia kemudian menawarkan kelebihan risiko sebesar Rp 75 miliar kepada sebuah perusahaan reasuransi yang menyatakan kesanggupan untuk menahan semua yang ditawarkan. Dengan demikian alokasi risiko ini adalah 25% ditahan oleh dana tabarru’ perusahaan asuransi syariah ABC dan 75% diambil alih oleh dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan reasuransi syariah, sebut saja XYZ, secara fakultatif proporsional. Alokasi risiko ini dapat kita gambarkan sebagai berikut:

Alokasi risiko fakultatif proporsional

Kini, mari kita misalkan suku kontribusi risiko ini adalah 1 per mil, bila ditranslasikan kedalam nominal menjadi Rp. 100 juta, yang merupakan besarnya kontribusi bruto yang dibayar oleh peserta kepada perusahaan asuransi syariah ABC.

Selanjutnya, misalkan perusahaan asuransi syariah ABC mengenakan ujrah 40% atau setara dengan Rp. 40 juta. Dengan demikian, besarnya kontribusi yang disalurkan kedalam dana tabarru’ yang dikelola ABC adalah sebesar 60% dari kontribusi bruto atau sejumlah Rp. 60 juta.

Mengingat risiko tadi dibagi 25% : 75% antara ABC dan XYZ, maka dana tabarru’ pun dibagi dengan proporsi yang sama. Jadi, 75% dari Rp. 60 juta, setara dengan Rp. 45 juta haruslah dibayarkan dari dana tabarru’ ABC ke dana tabarru’ XYZ.

Lalu, bagaimana dengan ujrah untuk reasuransi syariah XYZ? Sebagaimana asuransi ABC, reasuransi syariah XYZ berhak pula mendapatkan ujrah untuk upayanya dalam mengelola 75% dari risiko. Oleh karena itu, besarnya ujrah bagi XYZ diekspresikan sebagai persentase dari dana tabarru’ yang dikelolanya. Misalkanlah, XYZ mengenakan ujrah sebesar 20% dari dana tabarru’ yang diterimanya, 20% dari Rp 45 juta, sama dengan Rp 9 juta. Ujrah ini dibayarkan dari ujrah asuransi syariah ABC, bukan dari dana tabarru’ABC maupun XYZ. Dengan demikian, jumlah yang tertinggal dalam dana perusahaan (ujrah) ABC adalah sebesar Rp 31 juta (= 40 juta – 9 juta).

Selengkapnya alur kontribusi ini dapat digambarkan dibawah ini.

Alur kontribusi reasuransi proporsional dengan akad wakalah bil ujrah
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s