35. Alur premi pada reasuransi konvensional

Selepas rilis dua artikel terakhir tentang alur kontribusi pada asuransi dan reasuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah, muncul ide untuk memaparkan pula bagaimana alur premi pada asuransi dan reasuransi konvensional. Dengan demikian pembaca dapat melihat atau membandingkan perbedaan kedua praktek yang merupakan implikasi dari perbedaan prinsip yang melandasi.

Sebagaimana telah dibahas pada artikel-artikel sebelumnya, asuransi dan reasuransi syariah berlandaskan risk sharing (berbagi risiko) antar para peserta. Konsekuensi paling penting dari prinsip ini adalah segregasi atau pemisahan kontribusi menjadi dana tabarru’ untuk membayar klaim dan ujrah bagi operator untuk menutup biaya-biaya lain. Untuk lebih detail, silakan baca kembali Membaca fatwa no.52/DSN-MUI/III/2006 tentang akad wakalah bil ujrah pada asuransi syariah dan reasuransi syariah dan Membaca fatwa no.53/DSN-MUI/III/2006 tentang akad tabarru’ pada asuransi syariah.

Disisi lain, asuransi dan reasuransi konvensional berlandaskan risk transfer dari tertanggung kepada penanggung. Segregasi premi seperti asuransi syariah tidak lagi diperlukan karena semua risiko ditanggung oleh perusahaan asuransi dan reasuransi. Bila kita ambil contoh yang sama dengan yang terdapat dalam artikel Reasuransi fakultatif: Suka sama suka, alur premi asuransi dan reasuransi konvensional adalah sebagai berikut.

Katakanlah ada sebuah gedung besar dengan nilai pertanggungan 100 miliar rupiah. Perusahaan asuransi ABC menetapkan retensinya pada Rp 25 miliar atau setara dengan 25% dari nilai risiko. Ia kemudian menawarkan kelebihan risiko sebesar Rp 75 miliar kepada sebuah perusahaan reasuransi yang menyatakan kesanggupan untuk mengambil alih semua risiko yang ditawarkan. Dengan demikian alokasi risiko ini adalah 25% ditahan oleh perusahaan asuransi ABC dan 75% diambil alih oleh perusahaan reasuransi, sebut saja XYZ, secara fakultatif proporsional. Alokasi risiko ini dapat kita gambarkan sebagai berikut:

Alokasi risiko fakultatif proporsional

Bila kita misalkan suku premi risiko ini adalah 1 per mil, bila ditranslasikan kedalam nominal menjadi Rp. 100 juta, yang merupakan besarnya premi bruto yang dibayar oleh peserta kepada perusahaan asuransi ABC.

Asuransi dan reasuransi konvensional tidak mengenal ujrah. Justru yang menjadi komponen penting, terutama dalam reasuransi proporsional, adalah komisi reasuransi, yang diberikan dari perusahaan reasuransi kepada asuransi. Komisi reasuransi pada dasarnya untuk mengganti bagian saham reasuransi dalam biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan asuransi seperti brokerage dan biaya operasi. Biaya-biaya ini biasanya telah dikeluarkan dimuka oleh perusahaan asuransi dan saat sebagian risiko disesikan secara proporsional on gross basis, maka biaya-biaya ini ikut terbawa dan mestilah dikembalikan dalam bentuk komisi reasuransi.

Misalkan komisi reasuransi pada penempatan fakultatif ini adalah sebesar 28% dari premi reasuransi bruto atau setara dengan Rp 21 juta. Alur premi selengkapnya dirangkum dalam diagram dibawah ini:

Alur premi reasuransi konvensional
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s