Riskonomics

Curhat nasabah Bumiputera

Senin, 11 November 2019. Sehari selepas hari Pahlawan.  Tidak ada yang istimewa.  Saya memposting link ke salah satu artikel diblog yang sempat saya update semalam.  Tidak istimewa.  Hanya terjemahan kedalam Bahasa Inggris dari artikel pendek tentang judi vs asuransi yang saya tulis beberapa bulan lalu dalam Bahasa Indonesia.

Tetapi, respon postingan itu disalah satu grup WA para sahabat lama terbilang istimewa.  Tiba-tiba salah seorang kawan curhat atas investasi yang tak kunjung cair dari salah satu produk Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera, meski telah jatuh tempo beberapa bulan lalu.  Semula dijanjikan cari bulan Juni, molor lagi, kini dijanjikan Desember tahun ini.  Sepatutnya sahabat ini berhak atas uang sebesar 35 juta rupiah yang cair tepat saat sang putra masuk kuliah.  Perancangan yang jitu.   Ternyata kawan ini tak sendiri, curhatan langsung disambut secara beruntun oleh empat orang lainnya, yang mengalami nasib serupa.

curhat
Source: Jamilazzaini.com

Apa hendak dikata.  Asuransi Bumiputera tempat harapan mereka gantungkan, ternyata tak mampu memenuhi janji.  Berulang kali mereka datangi kantor cabang terdekat, tak nampak ada titik terang.  Kepala Cabang bahkan telah angkat tangan, tak berani ia menjamin apakah nasabah apda akhirnya akan mendapatkan uangnya. 

“Kasihan mereka.  Muka mereka suram tak ada serinya.  Sama kelabunya dengan tembok kantor mereka,” begitu kata salah satu dari mereka.  Luar biasa.  Meski hak mereka tak kunjung tertunaikan, masih sempat terselip simpati untuk Bumiputera.  Sedikit banyak ini menyiratkan hubungan emosional, tak melulu transaksional, yang pernah terjadi.  Memang tak dapat dipungkiri, hingga paling tidak awal dekade 2000-an, brand Bumiputera menancap begitu kuatnya, terutama bagi mereka di daerah.  Pokoknya, asuransi adalah Bumiputera.

Seorang kawan, pengusaha tekstil sukses di Tanah Abang, sampai mutung pada asuransi.  Semua polisnya dari berbagai perusahaan asuransi ia batalkan.  Semula ia katakan bahwa asuransi tidak sejalan dengan ajaran agama.  Saya balas, “kan, ada asuransi syariah?”, Ia balas dengan “hehe…”.  Entah apa maksudnya.  Rupanya, kasus Bumiputera telah mencoreng arang kemuka industri asuransi secara umum.  “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” begitu kata pepatah.  Tapi, pernahkah asuransi benar-benar bercitra laksana susu? Jangan-jangan, ia nila sebelanga.

Memaklumi saya bekerja di industri asuransi, mereka bertanya, apa yang harus dilakukan?  Sejujurnya saya tak tahu apa jawaban terbaik untuk mereka.  Saya katakan bahwa kenyataannya memang asuransi Bumiputera selama bertahun-tahun sedang terbelit persoalan keuangan yang tak kunjung terurai, meski berbagai alternatif solusi telah diupayakan. 

Bila ikhtiar kepada Bumiputera tak membuahkan hasil, bahkan mereka sendiri telah menyerah, mungkin waktunya mencari jalan lain.  Saya sarankan mereka untuk mengadu ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan saya share tautan Layanan Konsumen yang ada di website OJK.  Saya katakan juga bahwa dari pada meratap sendiri-sendiri, barangkali akan lebih efektif bila bergerak bersama dengan para korban lain.  Mudah-mudahan suara mereka lebih didengar.

Semoga kemelut Bumiputera segera terurai.  Nasib kelabu para nasabah lugu dan tak berdosa itu segera kembali cerah.