Riskonomics

Menimbang adakah metode reasuransi excess of loss sejalan dengan Syariah

Note: English version of this article is available at Assessing Shariah compliance of excess of loss retakaful.

Pada suatu Jumat sore yang cerah, seorang kandidat PhD Islamic Finance yang masih muda datang untuk berdiskusi tentang metode retakaful (reasuransi syariah) non-proporsional. Ia membawa sebuah makalah ISRA yang secara singkat menyentuh topik ini, namun tanpa kesimpulan. Ia mendapat kesan bahwa penulis mempertanyakan kesyariahan dari metode reasuransi syariah excess of loss. Alasannya adalah bahwa tidak seperti metode proporsional, tidak ada pembagian yang riil (actual sharing) antara dana tabarru’ yang dikelola perusahaan asuransi dan dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan reasuransi syariah.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pernah mendiskusikan apakah non-proportional retakaful (reasuransi syariah non-proporsional) sejalan dengan syariah, yang mungkin berujung dengan keluarnya fatwa tentang masalah ini. Jika fatwa memutuskan bahwa reasuransi syariah non-proporsional tidak sesuai dengan syariah, ia dapat membawa dampak yang signifikan bagi pasar karena metode ini telah digunakan secara global.

Para Fuqaha di DSN-MUI sejauh ini cenderung berpendapat bahwa elemen pembagian risiko tidak ada dalam reasuransi syariah non-proporsional (setidaknya hingga versi bahasa Inggris tulisan ini diposting ke blog ini pada tanggal 31 Oktober 2017). Apa yang terjadi sebenarnya adalah adanya transfer atau pembagian kerugian, seperti yang disarankan oleh namanya, excess of loss. Apa yang kita belum pasti hingga tahap ini adalah seberapa dalam pemahaman para sarjana Syariah tentang metode excess of loss dan bagaimana cara kerjanya. Saya merasa, pada batas-batas tertentu, mungkin ada kesalahpahaman terhadap konsep-konsep kunci tertentu seperti risiko, kerugian, proporsional vs non-proporsional, pembagian risiko (risk sharing) vs transfer risiko (risk transfer), dan sebagainya.

Tulisan ini bertujuan untuk membahas masalah ini dan mudah-mudahan menjernihkan awan keraguan yang menggayut dengan memberikan pemahaman yang adil tentang reasuransi syariah non-proporsional. Mari kita mulai dengan menyelaraskan pemahaman kita semua pada konsep dasar metode reasuransi proporsional dan non-proporsional.

Resuransi syariah proporsional

Mari kita asumsikan sebuah rumah besar memiliki uang pertanggungan sebesar RM 100 juta. Pemilik memutuskan untuk mendapatkan proteksi asuransi syraiah dari Takaful Operator (TO) ABC. Ia membayar kontribusi sebesar RM 1.000 per tahun. Dana Peserta atau Dana Tabarru’ atau Risk Fund yang dikelola oleh Takaful Operator ABC (TO RF) mampu menahan kerugian hingga RM 25 juta saja. Maka, asuransi syariah ABC kemudian mendapatkan proteksi reasuransi syariah proporsional untuk kelebihan RM 75 juta, yang disediakan oleh Reasuransi Syariah atau Retakaful Operator (RTO) XYZ. Dengan kata lain, 75% dari risiko sekarang sebenarnya ditanggung oleh Dana Tabarru’ atau Risk Fund yang dikelola oleh Reasuransi Syariah XYZ. Sebagai konsekuensi dari melepaskan 75% risiko ke XYZ, ABC harus pula meneruskan 75% kontribusi ke XYZ (RM 750).

Inilah yang disebut reasuransi Quota Share, bentuk dasar dari metode reasuransi proporsional, sebagaimana yang digambarkan di bawah ini:

Reasuransi syariah excess of loss

Perusahaan asuransi syariah ABC sebenarnya memiliki pilihan lain dengan dampak yang sama yaitu membatasi kewajiban Dana Tabarru’ yang dikelolanya hingga RM 25 juta saja. Cukup dengan memutar gambar diatas 90 derajat berlawanan arah jarum jam, ia berubah menjadi skema reasuransi non-proporsional.

Dari metode reasuransi proporsional ke non-proposional

Meskipun tanggung jawab maksimum kedua belah pihak terbatas pada tingkat yang sama dengan Quota Share (yaitu RM 25m), mekanisme bagaimana risiko atau kerugian didistribusikan sesungguhnya sangat berbeda antara metode proporsional dan non-proporsional. Dana Tabarru’ asuransi syariah mulai mendapat manfaat dari proteksi retakaful non-proporsional hanya jika kerugian lebih tinggi dari RM 25 juta. Dana Tabarru’ reasuransi syariah akan membayar semua kerugian di atas RM 25 juta. Semua kerugian atau klaim hingga RM 25 juta harus ditanggung oleh Dana Tabarru’ asuransi syariah dan Dana Tabarru’ reasuransi syariah tidak membayar apa-apa. Dari contoh di atas, kerugian RM 5m dan RM 20m sepenuhnya ditahan oleh Dana Tabarru’ asuransi syariah. Dengan kata lain, tidak ada hubungan yang proporsional antara besarnya tanggung jawab Dana Tabarru’ asuransi syariah dan Dana Tabarru’ reasuransi syariah. Banyak yang menterjemahkan tidak adanya hubungan proporsional ini sebagai tidak adanya prinsip pembagian risiko (risk sharing). Pendapat ini mengarah pada kesimpulan serius bahwa reasuransi non-proporsional (excess of loss) tidak sejalan dengan Syariah. Apakah sesungguhnya benar demikian?

Saya punya pendapat berbeda

Saya pribadi tidak setuju dengan kesimpulan di atas bahwa reasuransi syariah non-proporsional (excess of loss) adalah bertentangan dengan Syariah. Pendapat ini didukung oleh setidaknya tiga argumen di bawah ini.

1. Tidak ada larangan secara eksplisit

Masalah utama asuransi konvensional dari sudut pandang syariah adalah kenyataan bahwa ia bekerja berdasarkan prinsip pemindahan atau pertukaran risiko (risk transfer), dimana risiko ditransfer dari tertanggung ke perusahaan asuransi. Risiko atau ketidakpastian dipertukarkan dengan premi. Syariah memandang ini sebagai perdagangan ketidakpastian, yang sama dengan perjudian.

Syariah mengakui adanya risiko atau ketidakpastian dan mengizinkan atau bahkan mendorong upaya untuk memitigasi atau mengelolanya. Manajemen risiko sepenuhnya sah menurut syariah. Satu-satunya masalah adalah bahwa syariah tidak membolehkan risiko atau ketidakpastian menjadi subjek dari pertukaran atau kontrak jual-beli atau kontrak komersial. Anda tidak boleh berdagang ketidakpastian.

Syariah melarang, namun juga memiliki solusi yaitu konsep berbagi risiko (risk sharing). Alih-alih mentransfer risiko kepada pihak lain, risiko kini dibagi di antara para pemilik risiko yang identik atau serupa berdasarkan pada prinsip saling membantu atau menjamin satu sama lain. Ia tidak lagi kontrak komersial, melainkan kontrak sosial atau not-for-profit.

Bagaimana tepatnya pembagian risiko dilakukan dalam praktik, baik secara proporsional atau non-proporsional, Syariah tidak memberikan panduan detail. Syariah juga tidak secara eksplisit melarang pembagian risiko non-proporsional. Ia diserahkan pada pertimbangan, inovasi dan kesepakatan di antara para pihak. Satu-satunya batasan adalah teknik apa pun yang digunakan dan disepakati, haruslah adil bagi semua pihak yang terlibat. Ini adalah kondisi baku untuk semua jenis perjanjian, bukan?

2. Keadilan

Jadi, pertanyaan selanjutnya, apakah metode reasuransi syariah non-proporsional adil untuk semua pihak?

Indikator utama keadilan di sini adalah apakah kontribusi yang diterima oleh masing-masing Dana Tabarru’ sepadan dengan tingkat risiko yang ditanggung masing-masing. Dalam metode Quota Share, hal ini sangat jelas terlihat, karena Dana Tabarru’ reasuransi syariah menanggung 75% dari setiap kerugian, ia layak menerima 75% dari kontribusi.

Untuk metode reasuransi non-proporsional, ia mungkin terlihat sedikit tricky karena Dana Tabarru’ reasuransi syariah hanya akan terlibat apabila kerugian lebih besar dari RM 25m. Ia tidak membayar apa-apa jika kerugian berada di bawah level itu. Ia tidak berpartisipasi dalam setiap kerugian.

Di sisi lain, Dana Tabarru’ asuransi syariah berpartisipasi dalam setiap kerugian, berapapun besar dan kecilnya. Ia bertanggung jawab atas kerugian dari nol hingga tingkat retensinya. Jadi, exposure atau paparan terhadap kerugian antara kedua dana tabarru’ ini adalah tidak sama. Paparan Dana Tabarru’ asuransi syariah terhadap kerugian lebih besar dari pada Dana Tabarru’ reasuransi syariah. Oleh karena itu, Dana Tabarru’ asuransi syariah berhak atas kontribusi yang lebih tinggi dari pada Dana Tabarru’ reasuransi syariah. Apakah ini skema yang adil? Saya pribadi percaya demikian.

3. Apakah deductible polis asuransi tidak sesuai dengan syariah?

Terlepas dari penerapannya dalam reasuransi dan reasuransi syariah, metode non-proporsional atau excess of loss telah digunakan di sebagian besar penutupan asuransi dan asuransi syariah. Ambillah polis asuransi mobil anda dan periksa apakah ada sesuatu yang tertulis disitu sebagai deductible atau excess atau retensi sendiri atau risiko sendiri.

Bagaimana cara kerjanya? Katakanlah anda memiliki polis asuransi mobil dengan nilai pertanggungan RM 200.000 dan deductible atau risiko sendiri sebesar RM 300. Itu artinya anda sebagai pemilik mobil akan selalu bertanggung jawab untuk membayar kerugian hingga RM 300. Perusahaan asuransi atau dana tabarru’ asuransi syariah anda hanya akan membayar kerugian di atas level itu. Jika kerugian nnda kurang dari RM 300, apa boleh buat, anda harus membayar semua dari kantong anda. Tidak ada yang dapat Anda klaim ke perusahaan asuransi atau asuransi syariah.

Kita bisa menggambarkan struktur ini di bagan berikut.

Deductible atau risiko sendiri dari polis asuransi

Coba perhatikan sebentar, apakah ini terlihat seperti skema non-proporsional? Ya, anda benar. Ia tidak hanya terlihat seperti, melainkan ia sesungguhnya merupakan struktur non-proporsional atau excess of loss. Jadi, penerapan deductible atau excess atau risiko sendiri dalam polis asuransi syariah pada dasarnya adalah skema non-proporsional.

Konsekuensinya, jika kita mengatakan bahwa metode reasuransi syariah non-proporsional tidak sesuai dengan syariah, maka kita harus pula mengakui bahwa semua polis asuransi syariah yang memiliki fitur deductible atau risiko sendiri adalah tidak sesuai dengan Syariah. Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s