Riskonomics

Sadikin dan Jamila

Menjadi sakit adalah momok sangat menakutkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia selama puluhan tahun. Karena ia dapat menguras sumber daya finansial seseorang atau sebuah keluarga demikian ganasnya. Istilah Sadikin (Sakit sedikit langsung miskin) atau Jamila (Jadi miskin lagi) cukup representatif menggambarkan kondisi seseorang atau sebuah keluarga saat harus berurusan dengan sakit.

Solusi atas momok itu datang lima tahun yang lalu. Tepat 1 Januari 2014 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) resmi diluncurkan. BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara JKN, jumlah pesertanya meningkat drastis. Hingga 31 Desember 2013 lembaga yang sebelumnya bernama Askes itu hanya melayani Aparat Penyelenggara Negara dan keluarganya, yang jumlahnya sekitar 16 juta jiwa. Begitu terompet tahun baru berbunyi, jumlah yang harus dilayani oleh BPJS Kesehatan meningkat berlipat-lipat menjadi 133 juta jiwa. Dan mereka diberi waktu 5 tahun untuk dapat melayani 100% rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Peserta kuliah umum mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi dalam polling online melalui aplikasi Slido

Kehadiran BPJS disambut gegap gempita dan penuh eufeoria diseluruh negeri. Namun, lima tahun berlalu, JKN tidak putus dirundung masalah. Dari defisit yang kian melebar, rakyat kecil yang tak terjangkau layanan, layanan dari fasilitas kesehatan yang buruk, Rumah Sakit yang tak kunjung menerima pembayaran hingga bermacam-macam fraud atau penyalahgunaan yang dilakukan oleh berbagai elemen dalam ekosistem.

Sesi tanya jawab

BPJS Kesehatan telah menjadi buah bibir masyarakat dari setiap lapisan.  Menjadi topik yang selalu hangat diberbagai obrolan offline dan online, dari warung kopi hingga grup whatsapp.  Tidak terkecuali grup Whatsapp Alumni Statistika IPB lintas angkatan dimana topik ini sempat menghangat dipertengahan November 2019. Berangkat dari kesadaran bahwa debat di grup WhatsApp tak akan berpangkal berujung, jari pegal tanpa hasil, mencuatlah ide untuk mengadakan sesi offline untuk mendudukkan persoalan BPJS dan menelaah permasalahannya. Narasumber bukan masalah, karena ada dua orang alumni anggota grup whatsapp yang merupakan pakar autoritatif dalam hal JKN-BPJS. Satu dari internal BPJS Kesehatan, satu lagi pihak luar yang intens mengamati BPJS dan mengadvokasi para peserta.

Ide ini segera ditangkap oleh Ketua Jurusan Statistika IPB, Anang Kurnia, yang sigap menggerakkan timnya untuk merealisasikan ide ini.

Singkat cerita, bertempat di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Bogor pada Sabtu, 7 Desember 2019, terlaksanalah Public Lecture JKN-BPJS: antara harapan dan kenyataan yang dihadiri seratus orang peserta. Tampil sebagai nara sumber, Citra Jaya (Deputi Asisten Bidang Riset BPJS Kesehatan) dan Timboel Siregar (Koordinator Advokasi BPJS Watch).

Moderator Delil Khairat, Narasumber Citra Jaya dan Timboel Siregar bersama Anang Kurnia, Ketua Jurusan Statistika IPB University

Para peserta beruntung mendapat pencerahan dua orang yang menguasai JKN-BPJS luar dalam. Dalam sesi hampir tiga jam itu, keduanya telah mendudukkan dan menguliti berbagai aspek JKN-BPJS termasuk persoalan-persoalan yang membelitnya. Pandangan dan kritik mereka (bahkan dari pengamat external) berisi, masuk akal dan berimbang.

Dapatkan materi presentasi mereka melalui link dibawah ini.

Materi Public lecture JKN-BPJS: antara harapan dan kenyataan.