Riskonomics

Apa yang salah dengan JS Saving Plan?

Note: Video terkait artikel ini: Apa yang salah dengan JS Saving Plan?

Produk-produk asuransi jiwa yang demikian banyak nama dan corak ragamnya dapat dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu tanpa investasi dan dengan investasi. Selanjutnya produk dengan investasi dapat dibagi dua yaitu yang investasinya dijamin dan tidak dijamin. 

Source: Merdeka.com

Produk tanpa investasi hanya memberi proteksi atas kematian saja dan jangka pertanggungannya relatif singkat.  Keterbatasan ini melahirkan jenis produk baru untuk menjawab permintaan pasar.  Produk baru ini memberi proteksi untuk jangka panjang, bahkan hingga usia 99 tahun.  Selain itu ia memberikan pula manfaat investasi.  Akan tetapi, hasil investasinya relatif rendah, apabila dibandingkan dengan pilihan-pilihan investasi lainnya.  Hal ini disebabkan perusahaan asuransi menjamin hasil (bunga) investasi pada level tertentu.  Dengan kata lain, perusahaan asuransi sepenuhnya menahan risiko investasi, disamping risiko mortalitas (kematian).  Menyadari investasi adalah aktivitas yang fluktuatif, maka perusahaan asuransi tentu harus mempertimbangkan risiko ini. Alhasil, tingkat bunga atau hasil investasi yang mereka janjikan relatif rendah.  Nasabah tentu tidak bahagia dengan kenyataan ini.

Maka lahirlah genre produk asuransi jiwa ketiga yang pada dasarnya merupakan modifikasi dari jenis kedua.  Perusahaan asuransi tidak lagi menjamin tingkat bunga investasi. Hasilnya sepenuhnya diserahkan pada performa pasar.  Dengan kata lain, perusahaan kini hanya menahan risiko mortalitas, namun tidak risiko investasi.  Nasabahlah kini yang menahan risiko investasi itu.  Dengan demikian, perusahaan asuransi dapat mengimingi-imingi (bukan menjanjikan atau menjamin) calon nasabah dengan hasil investasi yang tinggi.  Lebih detail pembahasan ketiga genre produk asuransi jiwa ini, silakan klik https://dkhairat.com/2019/06/18/31-mengenal-produk-asuransi-jiwa-asuransi-jiwa-berjangka-term-life-assurance/, https://dkhairat.com/2019/12/01/37-mengenal-produk-asuransi-jiwa-asuransi-jiwa-seumur-hidup-dan-endowment-assurance/ dan https://dkhairat.com/2019/12/27/38-mengenal-produk-asuransi-jiwa-variable-dan-universal-life-assurance/.

Ketiga genre produk asuransi jiwa ini dapat dirangkum dalam diagram dibawah ini:

Pengelompokan produk-produk asuransi jiwa berdasarkan jangka waktu pertanggungan dan investasi

Produk JS Saving Plan

JS Saving Plan adalah salah satu produk asuransi dengan investasi dari PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), perusahaan asuransi jiwa milik negara yang juga merupakan perusahaan asuransi tertua di Indonesia. Belakangan produk ini menjadi viral badai karena dikaitkan dengan kasus gagal bayar asuransi Jiwasraya. Produk ini dianggap sebagai biang kerok dari kerugian Jiwasraya yang mencapai belasan triliun.

Paling tidak dalam dua bulan terakhir, setiap kali saya posting artikel baru dalam blog ini, saya menerima banyak pesan WA yang membelokkan pertanyaan ke kasus Jiwasraya atau Bumiputera. Produk JS Saving Plan ini adalah salah satu topik paling populer. Oleh karena itu, saya pikir tiba waktunya saya perlu menulis khusus tentangnya.

Sesungguhnya Jiwasraya telah menghentikan pemasaran JS Saving Plan, sehingga tidak ada lagi informasi yang bisa diambil dari website resminya. Saya terpaksa menghimpun informasi mengenai fitur produk tersebut dari artikel-artikel media massa. Berikut ini adalah ringkasan fitur produk JS Saving Plan bersumber dari Kompas, Bisnis Indonesia dan BBC Indonesia.

Terlihat dari ringkasan diatas, JS Saving Plan adalah produk asuransi dengan elemen investasi. Dengan premi yang relatif mahal dan dibayar dimuka pula, produk ini jelas menyasar orang-orang kaya dengan uang nganggur (idle) yang banyak. Orang-orang ini hampir pasti sudah memiliki berbagai proteksi asuransi. Motivasi utama mereka membeli produk ini sudah jelas untuk investasi, bukan proteksi. Dengan demikian, peryataan yang lebih tepat sesungguhnya adalah JS Saving Plan adalah produk investasi yang berbalut proteksi asuransi. Proteksi asuransi disini hanya sekedar bonus saja. Mengapa ia harus ada? Karena Jiwasraya adalah perusahaan asuransi, maka untuk setiap produk yang diluncurkannya, wajib adanya unsur proteksi.

Produk ini tergolong produk bancassurance karena ia dipasarkan melalui bank-bank umum. Jiwasraya setidaknya menggandeng tujuh bank nasional, baik BUMN maupun swasta. Ini pilihan pintar karena Jiwasraya dapat dengan efektif menarik orang-orang kaya yang uangnya tersimpan di bank-bank tersebut dalam bentuk tabungan atau deposito. Mereka tentu tergiur dengan tawaran investasi yang menjanjikan return lebih tinggi. Namun konsekuensinya, Jiwasraya harus membayar fee kepada bank-bank ini yang merupakan komponen yang disebut sebagai biaya akuisisi.

Harus diakui bahwa fitur-fitur yang ditawarkan oleh JS Saving Plan sungguh menggoda bagi calon nasabah, hampir disemua segi. Meski jangka waktu pertanggungan dapat berjalan hingga lima tahun, nasabah diberi opsi untuk mencairkan uangnya berikut hasil investasi setiap tahun. Bila itu dilakukan, proteksi kecelakaan diri (Personal Accident/PA) tetap berjalan hingga lima tahun.

Dari sisi hasil investasi yang dijanjikan lebih dahsyat lagi. Level 9% hingga 13% per tahun adalah sangat tinggi, hampir dua kali lipat dari bunga deposito yang berkisar antara 5% – 7%. Hebatnya lagi, Jiwasraya berani menjamin hasil investasi itu. Ini adalah anomali dari uraian kita diawal artikel ini bahwa apabila perusahaan asuransi menjamin return investasi atau dengan kata lain menanggung risiko investasi, maka hasil investasi yang dijanjikan cenderung rendah. Barangkali dikisaran bunga deposito atau lebih rendah lagi. Dari perspektif tertanggung, return investasi rendah bahkan dibawah bunga deposito ini sebenarnya sudah bagus, karena produk asuransi selalu memberikan proteksi atas kematian atau kecelakaan, yang tidak dapat diberikan oleh produk-produk investasi perbankan atau reksadana.

Bila JS Saving Plan milik Jiwasraya ini diplot pada diagram pengelompokan produk-produk asuransi jiwa, ia akan terlihat seperti dibawah ini. JS Saving Plan adalah anomali dimana ia memiliki fitur-fitur dan fleksibilitas serupa produk-produk di kelompok ketiga, namun dengan menjamin tingkat return investasi yang tinggi, ia sejatinya tergolong kelompok produk kedua.

Fitur, fleksibilitas and bunga tinggi yang terjamin tentu sangat menarik dan menguntungkan bagi nasabah. Namun, sebaliknya bagi perusahaan asuransinya, karena ini berarti Jiwasraya menanggung beban risiko yang tinggi.

Janji pengembalian hasil investasi yang tinggi ini memaksa Jiwasraya menjadi sangat agresif dalam strategi investasinya dengan menanam banyak uang di saham-saham berkualitas rendah. Saham-saham itu memang dapat menawarkan return tinggi, namun mereka juga sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. High risk, high return.

Lebih parahnya lagi, dengan jangka waktu hanya lima tahun bahkan nasabah dapat mencairkan uangnya setiap tahun, praktis Jiwasraya kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan faktor waktu dalam meredam fluktuasi atau mengelola risiko investasi. Jangan lupa pula bahwa produk ini dipasarkan olek bank-bank, dimana fee untuk mereka juga tidak kecil. Produk JS Saving plan ini sungguh perjudian yang besar bagi Jiwasraya.

Akibatnya, saat nilai investasi terjun bebas sementara nasabah meminta pencairan polisnya, disadari atau tidak Jiwasraya terjerumus kedalam apa yang dikenal sebagai Ponzi Scheme. Sederhananya, Jiwasraya terpaksa menggunakan dana yang diterima dari nasabah yang baru bergabung untuk mengembalikan tuntutan nasabah lama. Itu berarti uang nasabah baru tidak sempat diinvestasikan. Ponzi scheme ini tentu tidak sustainable. Ia tidak menyelesaikan akar masalahnya dan cepat atau lambat pasti akan tiba pada batasnya dimana keburukan yang disembunyikan akan terbongkar.

Trus, aku kudu piye? Demikian tanya seorang kawan di sebuah group Whatsapp. Bagi anda yang terlanjur menjadi nasabah JS Saving Plan, semoga persoalan ini segera dapat terselesaikan. Untuk semuanya, kasus Jiwasraya dan Bumiputera, memberi hikmah bahwa bagaimanapun kita tetap harus berhati-hati dalam berinvestasi dan berasuransi. Adalah wajib hukumnya bagi kita semua untuk terus meningkatkan literasi keuangan agar dapat mengambil keputusan dengan risiko yang terukur. JS Saving Plan menunjukkan bahwa status perusahaan milik negara, brand yang kuat dan award yang banyak belum menjamin kualitas dan keamanan produknya. Terhadap apapun yang tampak “too good to be true”, kita hendaknya extra waspada.