Riskonomics

Kajian rutin MES Malaysia: Ushul Fiqh for Muamalah

Pengantar

Hari ini, Sabtu, 8 Jumadil Awal 1441H bertepatan dengan 4 Januari 2020M, diselenggarakan sesi pertama dari Kajian Rutin Ushul Fiqh for Muamalah MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Perwakilan Malaysia, dibawah bimbingan Ustadz Dr. Muntaha Artalim Zaim. Berikut ini adalah catatan ringkas dari kajian tersebut yang pada sesi pertama ini membahas Mukadimah Ushul Fiqh.

Sejarah Ushul Fiqh

Allah SWT tidak hanya menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi namun juga menurunkan Nabi-nabi untuk menjelaskan ajaran-Nya. Firman saja tidak akan cukup karena tidak seluruh umat bisa memahaminya, meski diturunkan dalam bahasa mereka. Apalagi Al Quran kadang menggunakan bahasa majas atau kiasan, misalnya pada Al Baqarah 187 berikut ini

” … وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ‌ۖ …”

Artinya: “…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…”

Bahkan setelah dijelaskan oleh Nabi, mereka masih bertanya, bisa jadi karena memang masih tidak tahu atau karena ingin tahu lebih banyak.

Fase Makkah dari dakwah Rasulullah adalah masa penekanan pada Aqidah, barulah fase Madinah mulai ada penekanan pada hukum. Pada fase Makkah, hukum masih sederhana. Shalat sudah ada, tapi masih sederhana, bahkan bisa sambil bicara atau melakukan gerakan-gerakan yang bukan gerakan Shalat.  Saat itu penduduk Makkah masih pula membawa hukum peninggalan Ibrahim khususnya untuk urusan agama atau pengaruh Yaman atau wilayah sekitarnya.  Selain itu ada hukum-hukum Kabilah yang mengikat orang Arab dengan kuat, bahkan hingga kini.

Peradaban pada masa Rasulullah sudah tinggi. Mereka telah mengenal sutera dan melakukan perjalanan dagang ke tempat yang jauh dimusim dingin dan musim panas sebagaimana disebut dalam surat Quraish …لِإِيلَـٰفِ قُرَيۡشٍ (١) إِیلَـٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ (٢) (Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. [yaitu] kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas ). Jadi mereka telah berinteraksi dengan dunia luar.

Setahun sebelum hijrah ke Madinah, Nabi mengutus Mus’ab bin Umair. Madinah adalah tahap penyempurnaan, misalnya mulai dilarang berbicara atau bergerak pada saat mengerjakan Shalat.  Jumlah rakaat juga disempurnakan, misalnya shalat Ashar dari dua menjadi empat rakaat.

Dimasa Nabi masih hidup, tidak ada Ushul Fiqh karena memang tidak diperlukan.  Yang ada adalah Fiqh atau hukum. Hal ini karena setiap kali umat ingin tahu atau mendapat penjelasan tentang hukum, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah.

Sumber hukum pada jaman Nabi adalah Al Quran, hadith dan pendapat Nabi. Nabi hanya melakukan amlan-malan yang wajib, sunnah dan mubah saja.  Nabi tidak pernah melakukan yang makruh apalagi haram, karena Nabi bersifat maksum. Allah yang menjaga Nabi-nabi untuk terhindar dari dosa-dosa besar, karena mereka adalah suri tauladan.

Menjalankan tugas kerasulan adalah sangat berat. Nabi langsung beruban setelah turunnya surah Hudd. Allah sendiri yang menempa utusannya dengan berbagai cobaan hidup. Rasulullah SAW misalnya ditinggalkan oleh semua anak-anaknya yang wafat sebelum beliau. Fatimah adalah satu-satunya anak Nabi yang wafat enam bulan selepas Nabi wafat. Sebelum Nabi wafat, Beliau telah diberitahu oleh Allah SWT bahwa cucunya Hasan dan Husain akan mati terbunuh.

Karena beratnya tugas kerasulan, dari 114,000 sahabat, hanya 130 saja yang menjadi mufti dan hanya 7 (tujuh) orang saja yang banyak berfatwa, 13 orang yang sedang-sedang saja dan selebihnya sangat sedikit berfatwa, satu atau dua fatwa saja. Sahabat-sahabat Nabi juga punya spesialisasi dan Nabi mengirim sahabatnya untuk berdakwah ke tempat lain dengan melihat kesesuaian antara mereka dengan tantangan yang mereka akan hadapi.

Dalam bab Aqidah, wahyu dan fatwa, Nabi tidak mungkin dan tidak boleh salah, karena semuanya berasal dari Allah.  Namun disisi perilaku sebagai manusia Nabi bisa salah, misalnya pada saat Nabi pernah lupa dan mengimami shalat zhuhur hanya dua rakaat. Lalu seorang sahabat mendatangi rumah Rasulullah menanyakan apakah telah turun wahyu yang mengurangi jumlah rakaat shalat Zhuhur. Rasulullah kembali ke Masjid, dan setelah mendpat konfirmasi dari shabat yang lain bahwa mereka Shalat baru dua rakaat, Rasulullah menyempurnakan shalat dengan manambah dua rakaat lagi dan diakhiri dengan sujud Sahwi.

Pada zaman sahabat, konsep Ushul Fiqh juga belum lahir. Pada zaman Tabi’in, para sahabat telah tersebar, ada 300 hijrah ke Mesir dan 1500 ke Kuffah.  Karena sedikitnya sahabat yang tersisa di Hijaz, lalu siapa yang menjadi rujukan ilmu?  Kekhawatiran ini yang membuat Umar bin Khattab pernah melarang sahabat-sahabat ahlul Badar (alumni perang Badar) berhijrah meninggalkan Madinah.

Di masa Tabi’in, Ibnu Abbas adalah mufti di Makkah. Sementara di yang menjadi mufti di Madinah adalah Aisyah, Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit. At Thabari (meninggal tahun 310H) mengatakan bahwa Ibnu Umar dan orang-orang di Madinah sesudahnya memutus hukum mengikut Zaid bin Tsabit. Sementara itu Abdullah Ibn Mas’ud menjadi mufti di Kuffah.

Pada masa itu, di Makkah dan Madinah, apabila ada pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan hukum, jawabannya selalu merujuk ke Al Quran dan hadith. Hal ini karena Hijaz adalah wilayah yang statis, tidak ada kemajuan sehingga tidak muncul persoalan-persoalan baru. Sementara itu, situasi di Kuffah adalah kebalikannya karena Kuffah adalah pusat peradaban baru yang dinamis dan berkembang pesat, sehingga lahirnya banyak-banyak persoalan baru yang tak dapat diselesaikan dengan merujuk hanya pada Al Quran dan Hadith. Sehingga lahirlah dua aliran yaitu Ahli Hadith (Ibn Umar) dan Ahlul Rai’ atau akal atau logika (Ibn Mas’ud).

Lahirnya persoalan-persoalan baru dari perkembangan peradaban inilah yang memunculkan perlunya Ushul Fiqh, yaitu ilmu yang menuntun kita dalam menggali hukum atau ilmu. Bila dianalogikan kedalam bahasa, maka fiqh adalah seperti bahasa itu sendiri, sedangkan Ushl Fiqh adalah Ilmu Tata Bahasa.

Kisah Rasulullah S.A.W dengan Muaz Bin Jabal

Dialog Rasulullah SAW saat mengutus Saidina Muaz bin Jabal ke Yaman merupakan landasan penting bagi ijtihad dan Ushul Fiqh. Rasulullah bertanya kepada Muaz sebagaimana hadith berikut:

كَيْفَ تَقْضِي ‏فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ ‏قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ قَالَ ‏ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏‏ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Artinya: Dengan apakah kamu akan berhukum? Maka Muaz menjawab: Aku akan berhukum dengan apa yang terdapat di dalam Kitabullah. Rasulullah bertanya: Sekiranya ia tidak terdapat di dalam Kitabullah? Maka jawab Muaz: Aku akan berhukum dengan Sunnah Rasulullah S.A.W. Rasulullah bertanya lagi: Sekiranya tidak terdapat di dalam Sunnah Rasulullah S.A.W ? Jawab Muaz: Aku akan berijtihad dengan pendapatku. Maka Rasulullah S.A.W bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah S.A.W. (H.R. Tirmizi – 1327)

Kitab Al Muwatha dan Al Risalah

Kitab Al Muwatha yang ditulis oleh Imam Malik merupakan kitab hadith yang pertama. Ia dinamakan Muwatha (kitab yang disepakati) karena begitu selesai ditulis langsung diberikan kepada 70 ulama di Madinah untuk diperiksa dan hasilnya semua ulama itu menyepakati kitab ini. Kitab ini ditulis atas pemintaan Khalifah Abu Ja’far Ibn Mansur yang meminta Imam Malik untuk menulis buku hukum yang jauh dari kesulitan/ekstrim Ibn Umar, terlalu mudahnya Ibn Abbas dan hal yang “aneh-aneh” dari Ibn Mas’ud.

Imam Malik sendiri adalah murid dari Nafiq dan Nafiq adalah murid dari Ibn Umar.

Sementara itu di Kuffah, Abu Hanifah adalah ulama yang paling menonjol.  Ia dianggap yang menghimpun ilmu-ilmu di Kuffah.

Adapun Imam Syafi’i lahir di Gaza dan ia sudah sangat piawai dalam ilmu sastra sebelum mendalami ilmu agama. Ia dan Ibunya hijrah ke Makkah dan berguru kepada Muslim Khalid Al Zanji. Ia lalu hijrah ke Madinah dan tinggal disana selama 13 tahun (dari usia 15 hingga 28 tahun). Di Madinah ia berguru kepada Imam Malik. Sebelum menemui Imam Malik, Imam Syafi’i terlebih dahulu menghafalkan kitab Al Muwatha yang ia tuntaskan dalam 9 malam. Dari Madinah, Imam Syafi’i hijrah untuk berguru ke Yaman dan Kuffah. Lalu pada usia 44 tahun ia hijrah ke Mesir.

Sementara itu, Imam Syafii meninggalkan murid yang sangat terkenal yaitu Ibn Hambal. Jadi dapat dilihat bahwa tiga dari empat Imam mahzab adalah guru dan murid, kecuali Abu Hanifah. Sanad Shalat Abu Hanifah, misalnya, adalah Abu Hanifah, Hamad hingga Ibn Mas’ud, Abu Bakar dan Rasulullah SAW.

Adapun Al Risalah adalah kitab Ushul Fiqh yg pertama berupa kumpulan surat-surat Imam Syafii kepada ulama Abdul Rahman Al Mahdi yang meminta beliau menulis tentang bagaimana cara menggali hukum. Surat-surat itu ia tulis saat berada di Kuffah dan disempurnakan saat telah hijrah ke Mesir.

Ada pertanyaan mengapa dalam hal ilmu fiqh seseorang ikut Imam Mahzab? Kenapa tidak langsung ikut sahabat atau langsung ke Nabi SAW?  Jawabannya adalah karena Imam Mahzab dan ulama-ulama murid-murid dan pengikutnya telah menghimpun, menulis dan menata hukum atau fatwa. Sedangkan fiqh sahabat tidak terkodifikasi.  Kita juga tidak tahu fakta-fakta penting disekitar fatwa-fatwa sahabat itu dan apakah akhirnya fatwa itu diamalkan atau tidak.

Tidak mudah bagi orang awam untuk memahami hadith. Untuk memahami agama, diperlukan ilmu bahasa Arab dan Ushul Fiqh. Hadith dapat menyesatkan, kecuali bagi ulama. Imam Malik, misalnya, banyak meninggalkan hadith shahih, karena ada hadith shahih yang tidak bisa diamalkan. Imam Syafi’i menganggap anjing adalah hadith, sementara Imam Malik tidak. Ijtihad inilah yang kemudian berkembang dan berpola membentuk Ushul Fiqh. Selanjutnya berkembanglah qiyas, ihtihsan dan sebagainya.

Ruang lingkup Ushul Fiqh

Ruang lingkup ilmu Ushul Fiqh meliputi empat hal berikut:

  1. Hukum
  2. Dalil. Ada 19 banyaknya, termasuk Al Quran. hadith, ijma’, qiyas, istihsan, urf dan sebagainya.
  3. Istinbath (cara menggali hukum)
  4. Ijtihad.

Sementara itu, kaidah dasar muamalah adalah الأَصْلُ فِي المُعَامَلَةِ الإِبَاحَةُ الاَّ أَنْ يَدُ لَّ  دَلِيْلٌ عَلىَ تَحْرِيْمِهَا, artinya hukum asal  semua bentuk muamlah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang Mengharamkannya.

Setidaknya ada empat hal yang membawa muamalah ke dalam haram yaitu Maysir, gharar, riba (disingkat Maghgrib) dan Zulum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s