Kabacarito

Jadwal meeting dari Tuhan

Setiap berada di Jakarta untuk keperluan pekerjaan, saya berusaha memaksimalkan waktu untuk bertemu sebanyak mungkin klien, bisa lima atau enam janji pertemuan sehari, termasuk makan siang dan makan malam. Bahkan bisa tujuh bila tiba-tiba ada breakfast meeting. Tentu saja tidak mudah memampatkan agenda sebanyak itu dalam sehari untuk kondisi lalu lintas Jakarta. Diperlukan pengaturan urutan dan lokasi meeting yang presisi, kadang njelimet demi menyesuaikan jadwal klien.

Begitu pula dua hari itu, Kamis dan Jumat di pekan pertama Oktober 2019. Agenda Kamis berjalan lancar dengan lima pertemuan. Adapun hari Jumat, lima meeting telah dirancang, dua pagi, dua selepas shalat Jumat dan diakhiri dengan dinner.  Entah mengapa, hingga senja H-1, konfirmasi meeting slot kedua pagi sebelum shalat Jumat tak kunjung tiba. Akhirnya saya siapkan back up plan, parkir di kedai kopi bersama laptop untuk membunuh waktu.

Ternyata, tengah malam menjelang tidur, diterima kabar dibeberapa grup Whatsapp bahwa Ibu Ida Azwar Karim, Ibunda Bang Adiwarman Karim, berpulang.  Jenazah akan dikebumikan selepas shalat Jumat dan sebelumnya disemayamkan dirumah duka di Jalan Malang, Menteng. Inilah rupanya jawabannya mengapa tidak ada klien yang mengisi slot kedua. Allah telah membloknya agar saya dapat bertakziah melayat almarhumah. Demikianlah, selepas meeting pertama di kawasan Sudirman, saya meluncur ke rumah duka dan berkesempatan ikut menshalatkan almarhumah.

Bang Adi yang saya kenal sejak belasan tahun lalu saat ia membantu pendirian Divisi Syariah ReINDO bertanya setengah kaget. “Lho, sekarang sudah kembali ke Jakarta lagi, sejak kapan?” “Bukan Bang Adi, kebetulan dua hari ini saya sedang di Jakarta untuk urusan pekerjaan.” 

Dari rumah duka, meluncur ke masjid Bidakara yang letaknya dekat dengan lokasi meeting berikutnya. Selepas shalat Jumat dan quick lunch, agenda berlanjut dengan meeting tak jauh dari situ, selama sekira satu jam.

Dasi polkadot biru

Sambil berjalan menuju mobil, saya sempat mengecek whatsapp. Rupanya telah masuk pesan duka kedua hari itu. Kali ini, Pak Subandrio Suyono, Direktur Keuangan dan Umum saat saya bergabung ReINDO tahun 1997, berpulang. Informasi lanjutan menyebutkan bahwa keluarga telah memutuskan pemakaman Pak Ban, begitu mendiang biasa dipanggil, akan dilakukan hari itu juga, selepas Asar. Sebelumnya beliau disemayamkan dirumah duka, di Rawamangun.

Kabar susulan itu menyentakkan saya. Pasalnya, rumah duka ternyata hanya berjarak sekitar lima ratus meter saja dari tempat meeting saya berikutnya. Dalam perjalanan menuju Rawamangun, saya telepon Pak Syafrizal yang semestinya saya datangi di kantornya. “Pak Ban meninggal hari ini. Saya sekarang dirumah duka”, kata Pak Syaf diujung sana. “Baik Pak, saya juga dapat kabar. Sampai ketemu disana, Pak”.

Masih terngiang instruksi pertama Pak Ban pada tanggal 15 Oktober 1997 kepada 13 orang Management Trainees dihari pertama mereka masuk kerja, “Mulai besok kalian semua wajib pakai dasi, kecuali perempuan.” Bagi saya kata-kata itu terdengar seperti sambaran petir yang bersahutan-sahutan disiang bolong. Apa pasal? Karena dua hal. Pertama, saya tidak punya dasi. Kedua, saya tak tahu bagaimana cara mengalungkan dasi keleher. Waktu itu saya masih numpang tinggal di Asrama Mahasiswa Jambi, dibelakang Pasar Devries, Mantarena, Bogor.

Malam itu, begitu tiba di asrama, saya langsung menuju kamar Candra, dengan misi utama meminjam dasi biru polkadot miliknya. Dua pekan sebelumnya, dasi biru berbintik-bintik putih kecil itu saya pinjam untuk wisuda. Ia adalah satu-satunya dasi didalam bangunan kuno peninggalan Belanda itu. Saya langsung minta Candra memasang dasi itu dileher saya. Setelah pas, dasi itu saya lepas dengan melonggarkan kalungannya, namun simpulnya yang membentuk segitiga indah itu saya biarkan.

Dengan demikian, saya tak perlu senewen esok pagi, hanya karena simpul dasi yang tak menjadi. Selesai mandi dan memakai kemeja kerja, dasi itu langsung pula saya kalungkan, namun lidahnya disembunyikan dibalik baju. Lalu bergegas menuju stasiun kereta Bogor, mengejar KRL pertama. Hari masih gelap. Setiap kali teringat momen itu, saya tak mampu untuk tidak senyum-senyum sendiri. Ya, Allah… mengapa Engkau ciptakan hamba senorak itu?

Tiba di rumah Pak Ban saat keranda telah diangkat menuju masjid terdekat untuk dishalatkan. Saya beruntung berkesempatan memberi penghormatan terakhir dengan turut mengangkat keranda itu dan bergabung dengan jamaah shalat jenazah.

Mobil jenazah yang membawa Pak Ban ke peristirahatan terakhirnya bergerak perlahan, lalu menghilang dari pandangan. Pelayat yang tersisa, yang sebagian besar adalah sahabat dan mantan kolega ReINDO, bercengkerama sejenak sebelum berpisah. Saya bertemu Pak Syaf, tapi tentu tak ada pembicaraan bisnis sama sekali.

Malam itu dikamar hotel, lama saya duduk termenung, mengingat kejadian hari itu. Allah memblok dua slot meeting saya dan mengisi keduanya dengan kunjungan takziah. Rasanya itu bukan kebetulan. Allah sepertinya hendak mengingatkan bahwa akan tiba akhir perjalanan itu, cepat atau lambat. Kejarlah dunia, tapi jangan lupakan tempat pulang.